Saat Terlalu Fatal

Mutaminah

 

“Mak, aku minta uang dong.” ujar Leni tepat ketika ibunya muncul di balik pintu.

“Buat apa tho, Nak? Emak lagi ga punya uang…” sahut seorang ibu paruh baya dengan tangan yang penuh oleh kresek-kresek hitam.

“Buat valentinan, Mak. Lima puluh ribu aja… Please…” bujuk Leni dengan muka memelas.

“Astagfirullah… Banyak amat, Len. Itu bisa buat biaya makan kita selama seminggu, Len. Emak ga punya uang segitu! Lagipula kata Pa Ustadz, valentine itu budayanya orang nasrani, tak baik merayakannya… ”

“Emak bohong! Kemarin Leni lihat Emak dapet arisan dari Ibu Haji. Minta lima puluh ribu aja ga ngasih! Emak pelit! Emak ga sayang lagi sama Leni!”

“Ya Allah Leni… Durhaka kamu bilang gitu sama Emak! Uang itu buat bayar hutang yang udah numpuk di warung Mba Sari…” ada kilat amarah yang terpercik jelas, membaur bersama airmata yang tergenang di mata Emak.

Leni mendengus kesal mengetahui niatnya tak terpenuhi. Segala macam pikiran buruk merasuk begitu saja dalam benaknya.

“Ah udahlah… Emak ini berdalih aja bisanya, bilang aja Emak ga mau ngasih uang buat Leni dan pengen ngeliat Leni jadi perawan seumur hidup!” hardik Leni membentak Emaknya.

Bergegas Leni meninggalkan Emaknya yang mulai berlinang airmata. Sungguh bukan inginnya berlaku seperti inipada Leni, penghasilannya sebagai seorang penjual nasi kuning tentu tidaklah cukup untuk mewujudkan semua keinginan Leni, putri semata wayangnya.

***

“Makasih sayang buat coklatnya…. Aku sayang kamu…” ujar Ahmad seraya mendaratkan sebuah kecupan di pipi Leni.

Melayang rasanya Leni diperlakukan seperti itu. Tak dipikirkannya sama sekali Emaknya yang menangis tersedu ketika tahu Leni telah menjual sepasang anting pemberian almarhum bapaknya hanya demi sebuah “valentine”.

“Sayang… Ini kan hari kasih sayang.. Boleh ga aku minta sesuatu dari kamu, sebagai simbol kasih sayang kamu ke aku.” sambung Ahmad lagi, berbisik di telinga Leni meski suasana sedang sepi karena tidak ada seorang pun di kostan Ahmad saat itu.

“Apapun buat kamu sayang…”

“Ikut ke kamar yuk….”

***

Dua minggu berlalu sejak hari itu, hari valentine yang membuat Leni sukar membedakan antara indah dan baik. Di tangannya sebuah benda yang semula belum pernah disentuhnya kini membuatnya bergetar hebat.

Dua buah garis berwarna merah terpampang jelas pada benda itu. Tanpa terasa tangis Leni pecah, semakin lama semakin deras. Leni sungguh tak tahu apa yang harus dilakukannya kini. Kakinya lemas, seolah tak lagi ada tulang belulang untuk menopang tubuhnya.

Tiba-tiba ingatan Leni kembali pada tanggal 14 Februari, di mana Ahmad meminta sesuatu darinya, yang katanya sebagai lambang kasih sayang di hari valentine tersebut. Dan dengan bodohnya Leni memberikan hal itu pada Ahmad, lelaki yang sekarang sama sekali tak diketahui keberadaannya. Ah, sungguh sesal itu kini bermuara di telaga hatinya, menguasai seluruh tetes darahnya.

Hari valentine, sungguh ia merasa sangat dibodohi oleh dua kata itu. Karena valentine yang dulu begitu didambanya, ia harus kehilangan sebuah mahkotanya, keperawanan. Parahnya seorang jabang bayi kini menetap di rahimnya. Leni terus megutuk dirinya yang tak mendengarkan semua kata-kata Emaknya. Kini semua sudah terlalu fatal untuk diperbaiki.

***

Bandung, 12 Februari 2011

 

23 Comments to "Saat Terlalu Fatal"

  1. [email protected]  12 August, 2011 at 16:32

    om DJ…. setuju, memang saya kan orangnya emang gini om DJ, gak suka ngomong, tapi gak dipikirin kok….
    kan masing2 orang punya pemikiran masing2… manusia gak ada yang sama.

    sooo…. kita santai aja

  2. Esti Yoeswoadi  12 August, 2011 at 16:28

    hiks, ga setuju banget euy, “budaya orng nasrani”…. hmmm but setuju sm pakde Dj mawon….

  3. Dj.  12 August, 2011 at 11:35

    [email protected] Says:
    August 12th, 2011 at 10:34

    “……..Lagipula kata Pa Ustadz, valentine itu budayanya orang nasrani, tak baik merayakannya…..”

    ini budaya orang nasrani atau budaya orang barat….. waduh…. gak bener jg nih pak ustadz. jadi sara tuh begini.

    Pambers….
    Ustad atau pendeta, juga manusia da bukan Malaikat….
    Bahkan banyak ustad yang juga berbuat yang tidak benar.
    Tenang saja, jangan banyak dipikirin….
    Salam Sejahtera dari Mainz

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.