Bertemu ‘Pramugari’ Logos Hope

Rosda

 

Hari Minggu  tanggal 27 Feb 2011, kami sekeluarga berangkat menuju corniche untuk melihat pameran buku terapung. Tiket masuk hanya QR 2/orang. Sesampainya di tempat penjualan tiket, terlihat begitu panjang antrian orang yang ingin melihat pameran buku tersebut. Panjang bak ular, meliuk-liuk. Karena suami harus kerja hari itu, melihat panjangnya antrian, kecil kemungkinan kami akan mendapat tiket dengan cepat. Waktu yang tersisa hanya 3 jam. Kami putuskan untuk meninggalkan tempat itu. Sempat aku datangi seorang petugas. Bertanya, kapan kiranya hari terakhir pameran. Dia mengatakan, mungkin sampai  tanggal 1 Maret 2011 masih ada kesempatan. (Ternyata kemudian LOGOS HOPE meninggalkan Qatar pada tanggal 7 Maret 2011 pagi).

Akhirnya kesempatan itu datang juga (Selasa  1 Maret  2011). Tidak terlalu banyak pengunjung, karena bukan hari libur. Antrian bergerak lambat-lambat. Seorang polisi wanita, memeriksa  pengunjung wanita satu persatu. Dengan alat deteksi. Setiap tas disuruh buka, diperiksa  juga. Demikian juga dengan para pria. Satu persatu diperiksa oleh polisi pria pula.  Sore itu, dengan penumpang bus yang berisi lebih kurang 25 orang, dengan ditemani seorang polisi pria, kami menuju dermaga dimana kapal LOGOS HOPE bersandar yang tidak terlalu jauh dari tempat penjualan tiket. Turun dari bus, angin laut menyambut dengan terpaannya yang  dingin.

Sebelum menapaki  tangga menuju ke atas kapal, dua orang petugas, pria dan wanita menyambut pengunjung, mengucapkan salam dan selamat datang. Tangga menuju ke atas kapal, tidak terlalu tinggi. Berupa lempengan yang diberi balok-balok berjarak 50 cm, pegangannya dari berupa tali kapal, sehingga kita bisa melangkah dengan mudah dan tidak akan terpeleset.  Selangkah di depan pintu masuk ke kapal, lagi, seorang petugas bertanya apakah kami sudah pernah berkunjung sebelumnya. Karena belum pernah, dia memberi penjelasan tentang harga buku. Bahwa harga yang tertera di tiap-tiap buku adalah harga persepuluh unit. Jadi harga sebuah buku adalah sejumlah nilai nominal yang tertera di buku itu, kemudian dibagi sepuluh. Selama diatas kapal, terdengar penjelasan yang sama dari pengeras suara.

Sebelum menuju ruang pameran buku, di dinding terlihat banyak foto-foto yang memperlihatkan perjalanan Logos Hope di berbagai belahan dunia. Di Afrika, di Papua Nugini, di Malta, Mesir dan banyak tempat lainnya. Dengan sendirinya aku bertanya dalam hati ” Ada nggak ya foto yang di Indonesia ?”. Tapi aku tak melihat foto kalau Logos Hope pernah singgah di Indonesia. Pada saat kami sekeluarga ingin berfoto bersama dengan latar belakang foto-foto itu, dengan senang hati seorang petugas menawarkan diri untuk menjepret kami. Awal pelayanan yang hangat dan tentu kami sangat menghargainya.

Suami, anak-anak dan aku dengan sendirinya terpencar selama melihat-lihat pameran buku di atas kapal tersebut. Masing-masing menuju rak buku yang diminati. Dua orang petugas informasi dengan senang hati memberi penjelasan kepada pengunjung yang bertanya. Aku jajaki ruangan itu. Ada banyak jenis buku-buku yang dijual. Kamus berbagai bahasa, atlas, buku tentang kesehatan, biographi, musik, dunia tumbuh-tumbuhan, dunia hewan, ketrampilan, masakan dan banyak lagi. Ada juga boneka, VCD, mainan anak-anak, gantungan kunci, tas dan pena. Tiga hal terakhir berhiaskan logo Logos Hope.  Disaat aku membalik-balik sebuah buku tentang ketrampilan jahit-menjahit, ada seorang ibu yang mencoba meraih buku-buku yang telah kuseleksi untuk dibeli.

“Maaf bu…, itu punya saya”

“Ohhh…sorry, saya nggak tau kalau ini punya ibu” katanya sambil melihatku.

Aku tersenyum, ternyata dia temanku.  “Achhh….saya pikir siapa. Heran aja, kenapa tumpukan buku ini ada ada di sini ? Rupanya punya ibu…” katanya sambil tersenyum. Kami bercipika cipiki. Bicara sebentar tentang buku-buku itu. Tak lama kemudian, dua jagoan si ibu dan suaminya muncul.

Puas melihat-lihat buku, akhirnya kami membeli beberapa buah buku, pena dan gantungan kunci. Padahal koleksi buku sudah banyak di rumah. Tapi tetap aja ada lagi buku yang ingin dimiliki. Hmmmm…ternyata lumayan berat juga nih buku-buku.  Sewaktu hendak membayar belanjaan, si kasir menyarankan agar kami sebaiknya beli tas…agar barang-barang yang dibeli ada wadahnya. Dia berhasil dengan rayuannyanya. Tas itu pun kami beli… :)

Keluar dari sana, kami melangkah mengikuti jalur selanjutnya. Ternyata menuju kantin. Jalannya berbelok-belok dengan dinding yang berhias gambar-gambar cartoon. Sebelum sampai di area kantin, disebalah kiri, tersedia laptop bagi para pengunjung untuk menyapa Kapten Kapal, atau menyampaikan kesan-kesan dan pesan selama berkunjung ke Logos Hope. Kami juga memanfaatkannya.

Mengambil tempat duduk tak jauh dari tempat memesan makanan ringan atau minuman, anak-anak, suami dan aku sendiri memesan beberapa diantaranya. Sambil ngobrol…tiba-tiba terlihat olehku dua orang gadis berpakaian yang berbeda dengan yang lain, yang satu memakai kebaya dan yang lain memakai baju kurung bercorak cerah. Pasti anak Indonesia, pikirku. Ku hampiri mereka….menanyakan pada si gadis berkebaya, apakah dia dari Indonesia. Ternyata benar !! Dan temannya yang memakai baju kurung berasal dari Malaysia.

Langsung mereka berdua ku ajak ke meja kami. Obrolan jadi rame, mereka berdua mengenalkan nama masing-masing….Sabrina Lee dan Laura Sujantoro. Kami juga menyebutkan nama kami masing2. Ternyata Laura, baru saja bergabung di Logos Hope selama enam bulan. Sedangkan Sabrina, sudah terlebih dahulu bergabung….bahkan dia sudah pernah bergabung dengan kapal sebelumnya, Doulos. Hari itu mereka lagi day off, jadi kami lumayan lama ngobrolnya. Apalagi, kemudian datang seorang gadis asal Hong Kong, Suanne Li.

Sebelum berpisah, aku menawarkan diri untuk mengajak mereka jalan-jalan mengitari Doha besok harinya. Ternyata mereka ada waktu dua hari mendatang untuk hang out. Hanya Sabrina dan Suanne yang bisa ikut, karena Laura sudah ada janji akan keluar juga besok dengan salah satu keluarga Indonesia yang kebetulan juga ku kenal, yaitu Kel. Pinontoan. Aku akan jemput mereka berdua, jam 15 pm, waktu Qatar.

Tanggal 3 Maret 2011, sepulang sekolah, anak-anak segera menyelesaikan PR sekolah. Jam 15 pm, kami sampai di tempat yang disepakati. Tak lama kemudian mereka muncul. Terlihat berbeda, karena semalam mereka mengenakan pakaian dari negaranya masing-masing.

“Ada yang mau dibeli di Doha ?” tanyaku pada mereka.

“Post card…untuk di kirim ke orang tua” kata mereka sepakat.

Kami meluncur menuju Carrefour City Centre…benar-benar hanya untuk beli post card. Tak ada yang tertarik untuk cuci mata. Meninggalkan tempat itu, kami meluncur ke Aspire Park yang cukup luas di belakang Khalifa Stadium. Ada kolam, bukit buatan yang hijau, pepohonan disana-sini dan hamparan rumput dimana-mana. Juga tersedia bangku-bangku dan jalanan untuk orang berolah raga. Banyak pengunjung hari itu, ada yang sendirian tapi kebanyakan bersama teman-teman atau keluarga mereka.

Kami duduk dekat kolam. Segera kami buka bekal yang kubawa dari rumah. Hanya makanan ringan. Angin bertiup kencang dan dingin….Tikar yang kami duduki, sebentar-sebentar diterpa angin, terangkat….whuuuaaaaa. Terpaksa kami harus duduk di tempat tertentu dan meletakkan bawaan kami disana sini mengelilingi tikar. Sebentar saja kami kedinginan, karenanya kami bergantian berdiri, jalan di tempat, menggerak-gerakkan badan, mengusir dingin. Rasanya bekal yang kami bawa terlalu sedikit. Karena terlihat olehku ada orang jualan tak jauh dari tempat kami duduk, sepertinya menjual air minum, aku menyuruh si sulung membelinya. Ternyata mereka menjual panganan panas. Lumayanlah untuk tambahan. Sabrina dan Suanne, sudah lama tidak makan kerupuk. Sebentar aja ludes. Menyesal aku kenapa tidak membawa kerupuk sebanyak-banyaknya…seandainya saja aku tahu.

Setelah menghabiskan makanan yang kami bawa dari rumah, kami berjalan-jalan mengitari danau buatan melihat ikan-ikan yang berenang dan mengamati bebek dan angsa yang bebas berenang dan bermain disana. Di tengah danau ada jembatan penyeberangan yang mirip “the great wall china”.

Dari kejauhan terlihat jelas menara Khalifa stadium yang dulu digunakan sebagai tempat obor Sea Games pada tahun 2006 yang lalu. Lalu Suanne dan Sabrina pun minta di jepret dan bergaya di sana.

Inilah Suanne Li yang cantik manis.

Inilah gaya nona Sabrina Lee yang selalu ceria.

Tak jauh dari situ, kami meluncur menuju Villaggio…berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

Menyusuri pinggir kanal buatan, seakan-akan berada  di Venice.

Ke Gondolania, tempat permainan anak-anak, ribut bukan main. Tak ada yang selera.

Tapi anak-anak pingin mejeng sebentar di dalam Gondolania.

Tanpa sengaja kami bertemu dengan kelompok crew Logos Hope yang lain. Tentu saja pertemuan tak sengaja itu kami abadikan.

Dan akhirnya kami berhenti di foodcourt…ada yang pesan sushi, mie goreng Mongolia racikan sendiri dan lain-lain.

Semakin akrab karena ketika makan saling berbagi…

Di saat itulah Suanne mengatakan “It’s as if we have known each other for so long”

Di tempat itu, Sabrina, menulisi kartu pos nya, menyerahkannya padaku untuk di pos kan.

Sepanjang jalan saat mengantar mereka pulang, pembicaraan yang akrab tiada henti-hentinya, malah pakai acara bernyanyi segala….heheheheee….bahkan Sabrina berhasil dengan pancingannya, si bungsu menyanyikan lagu Korea. Sebelum mereka kembali ke kapal, mereka mengundang kami makan malam, tiga hari yang akan datang. Horeeeee…bisa nambah pengalaman.

Syukurnya suamiku bisa hadir di acara makan malam itu (tanggal 6 Maret 2011). Di depan pintu menuju kapal, Sabrina dan Suanne sudah menunggu kami. Mereka membawa kami meninjau seluruh ruangan kapal. Ada 9 deck. Di deck paling atas, mereka menunjukkan pada kami dimana tempat kapten kapal, Dick Colenbrander, mengemudikan kapal.

Di deck itu juga, sebelah luar tersedia persediaan air minum, sekoci dan lain-lain. Ketika terlihat olehku karung-karung bertumpuk, aku bertanya pada Sabrina “Apa ini ??” “Karung pasir, untuk berlindung sementara dari bajak laut, mana tau mereka menembaki kami. Tapi sejauh ini belum pernah terjadi” “Semoga tak akan pernah” kataku.

Sambil naik turun deck menunjukkan berbagai tempat di dalam kapal, mereka juga memberi info bahwa semua crew dan staff yang ada diatas kapal adalah pekerja sukarela. Mereka berjumlah 500 orang, terdiri dari 51 warganegara. Ada dokter, montir, guru, dan lain-lain. Bahkan ada juga mahasiswa yang sedang training. Selain menjual buku, adakalanya jika mendarat di suatu tempat, mereka menyumbang buku, memberikan bantuan pengobatan  atau melakukan pekerjaan sosial lainnya. LOGOS HOPE mempunyai  semboyan ‘Bringing knowledge, help and hope to the people of the world’.

Suanne sendiri bertugas sebagai pengelola acara hiburan. Ya..tadi kami sempat melihat panggung dengan banyak sekali kursi-kursi di deck sekian. Ternyata, di hari pertama LOGOS HOPE mendarat di Qatar, mereka mengadakan hiburan bagi para pengunjung.

Biasanya, sebelum mereka mendarat di satu tempat, mereka telah diberi wejangan, apa dan bagaimana tempat yang akan mereka kunjungi. Bagaimana karakteristik penduduknya, apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan dan lain sebagainya.

Akhirnya kami sampai di ruang makan, sudah banyak orang di sana. Sabrina menyilakan kami mengambil menu, mana yang kami suka. Beruntung, malam ini menunya adalah masakan Korea. Semua orang bertepuk tangan ketika diumumkan. Terlebih anak-anakku yang lagi keranjingan serba Korea…heheheee. Tak lupa mereka mengambil kimchi.

Kami duduk di meja panjang, the Pinontoan, Laura dan seorang gadis Indonesia yang lain (volunter juga) sudah berada di sana. Makan sambil berbincang-bincang, menambah hangatnya suasana. Selesai makan, Mbak Lilik Pinontoan dan anak-anaknya pamitan duluan. Sabrina yang mengetahui bahwa anak-anakku lagi demen Korea memanggil beberapa temannya yang berasal dari Korea, untuk berkenalan dengan anak-anakku.

Terpatah-patah mereka berbicara dalam bahasa Korea. Ketika si bungsu menyanyikan lagu Korea (meskipun syairnya tak hapal semua), olalaa….salah seorang dari mereka, Hye Ji sampai terharu.

Sesuai waktu yang telah ditentukan, semua orang harus meninggalkan tempat itu, kembali ke tempat tugasnya masing-masing. Suanne dan Sabrina mengantar kami sampai di pintu kapal. Sebelum menapaki tangga, kami berpelukan erat-erat…kami akan berpisah…entah kapan akan bertemu kembali. Besok, jam 9 pagi LOGOS HOPE akan meninggalkan Doha, melanjutkan perjalan ke Sri Lanka, India dan negara-negara Asia lainnya. Akankah LOGOS HOPE ke Indonesia ?? “Belum ada schedule kesana..” kata Sabrina.

“Mama, pagi ini kita ke sekolah lewat corniche ya…kami mau lihat LOGOS HOPE ” kata si sulung. “Iya lah Nak.. ” Biasanya kami lewat dari belakang Emiri Diwan, kantornya Emir, HH the Emir Sheikh Hamad bin Khalifa al-Thani, yang megah bak istana. Dengan halaman luas ditanami rumput yang selalu terpelihara dan di bagian belakang bangunan ada masjid.

Beberapa menit kemudian, terlihatlah kapal ber-cat putih itu….dari  dalam mobil, serentak mereka mengatakan “Bye byeee kak Suanne…bye byee kak Sabrinaaaa….bye byeee LOGOS HOPEEE…..”

 

Qatar, 4 Agustus 2011

23:57 pm

 

53 Comments to "Bertemu ‘Pramugari’ Logos Hope"

  1. Oji  5 June, 2012 at 11:18

    Banyak typho ternyata,

    Terima kasih untuk berbagi, LOGOS mau datang ke Bitung, SULUT, bulan Agustus ini, jadi semakin penasaran mau lihat langsung

  2. Oji  5 June, 2012 at 11:17

    Termia kasih untuk berbagi, LOGOS mau datang ke Bitung, SULUT, bulan Agustus ini, jadi semakin penasran mau lihat langsung

  3. Rosda  15 August, 2011 at 13:42

    Mbak DA…bagaimana kalau aku kesana…biar ada teman setanah air…hehe
    Mudah2an tahun depan Mbak DA ketemu ama teman sebangsa disana…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.