Historical Sites of Indonesia (4)

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

14. Rel Kereta Api Pegangsaan. “A Tale of Two Cities”

Dari belakang rumahnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Presiden Soekarno serta keluarga juga Wakil Presiden Mohammad Hatta menyelinap diam-diam tanpa diketahui banyak orang naik kereta api yang sengaja di parkir di belakang rumah itu. Tanpa ada cahaya sedikitpun. Mereka naik kereta tersebut juga tanpa lampu. Gelap. Agar tak diketahui oleh pasukan asing. Mereka meninggalkan Jakarta yang makin tak aman dan menggelisahkan, menuju Jogjakarta atas kebaikan hati Sultan Hamengkubuwono IX. Esok pagi 4 Januari 1946, masinis Soedarjo berhasil membawa rombongan VIP itu tiba di Jogjakarta. Begitu Soekarno injak kaki di Stasiun KA Tugu, saat itu ibukota RI pindah ke Jogjakarta.

 

15. Gedung Agung Jogjakarta. “Don’t Let Me Down”

Minggu pagi 19 Desember 1948, Soekarno dan Hatta serta beberapa meteri mendapat “hadiah Natal” dari Belanda. Ibukota Jogjakarta diambil alih dan Soekarno di Gedung Agung serta menteri-menterinya ditawan Belanda. RI dianggap musnah. Ternyata…. tidak. Di hutan belantara Sumatera Barat, jiwa Indonesia masih ada dan tidak mati dengan dibentuk pemerintahan sementara.

 

16. Markas PBB New York. “We Are the World”

Untuk pertama kalinya di depan Gedung Majlis Umum PBB New York, bendera Sang Saka Merah Putih berkibar bersama bendera negara lain. Saat itu hari 25 September 1960, Indonesia diterima sebagai anggota PBB ke 60 sekaligus pengakuan dunia atas keberadaan Indonesia yang merdeka 17 Agustus 1945. Tampilah Indonesia di panggung dunia setelah selama 5 tahun dianggap negara jadi-jadian oleh banyak masyarakat dunia.

 

17. Wisma Tugu Cisarua. “First Love Never Dies”

Tak banyak yang tahu kecintaan Indonesia terhadap perdamaian dan pergaulan internasional pertama kali bersemi di sebuah rumah kecil di Desa Tugu, Cisarua (sekarang milik Kementerian Perhubungan). Pada bulan Maret 1954 diadakan rapat kecil yang menghasilkan ide penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika yang sangat monumenta dan membawa harum nama Indonesia di mata dunia.

 

18. Gedung Merdeka. “Out of Africa”

Di Gedung ini semua perwakilan bangsa-bangsa Afrika (juga Asia) berkumpul pertama kli di Indonesia . Tujuannya menggapai perdamaian dan ikut mendukung kemerdekaan negara-negara baru itu melalui sebuah konferensi internasional di Bandung pada 15 Agustus 1946

 

 

40 Comments to "Historical Sites of Indonesia (4)"

  1. Linda Cheang  14 August, 2011 at 13:30

    Pak ISK, masih kurang, tuh. Masih ada lagi yang akan abadi yaitu ROTI BAGELEN ABADI made in Bandung!

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  14 August, 2011 at 12:04

    Tidak perlu pusing memikirkan anak harus ke sekolah mana. Yang pusing bagaimana mendidik dia dirumah dengan cara mengembangkan sosial sensitifitasnya. Kalau hanya mengandalkan intelektual, takut kasihan jadi anti-sosial. Pinternya selangit tetapi tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Ya…terpaksa jadi peneliti di lab yang tak butuh tenaga orang lain.

    Kebanyakan orang2 hebat tidak cerdas dan tidak pintar. Mereka hanya bisa mengelola orang saja. Soal pinter, kan ada staf ahli. Dimana-mana orang bodoh kok yang berkuasa. Yang pinter dijadikan stafnya. Ini hukum alam…. hahahaha…

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  14 August, 2011 at 12:00

    Terima kasih Mawar untuk tidak mengutak atik “jempol” suami sedang tidur. Terima kasih atas pengertiannya.

  4. atite  13 August, 2011 at 23:54

    komen no. 23,
    he3x… bukan abis makan es krim mas, tp justru gemes & jengkel berat liat pendidikan di Indo… tdk ada yg memenuhi kriteria yg sy pingin! wkwkwkw… masalahnya sy sudah hrs mulai memikirikan anak mau lanjut sekolah dimana, & ternyata betul2 bikin pusiiiiing…!
    salam utk Mawar & Melati…

  5. Mawar09  13 August, 2011 at 20:06

    ISK: komentar No.25………….ha…ha…ha…. aku ngga utak atik jempol suamiku kok, kan lagi tidur….kasihan !
    Bagaimana kabar ‘kembaranku” Mawar? makin lincahkah dia? Semoga kalau mudik lagi bisa ketemu dengan kamu dan “kembaranku” ya.

  6. Mawar09  13 August, 2011 at 20:01

    Hennie: kabarku baik2 saja, terima kasih. Dinikmati saja tinggal di Beijing………… mungkin kamu bisa belajar masak disana atau tentang kebudayaan setempat, cari yang sesuai dengan keinginanmu. Salam!

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 August, 2011 at 12:09

    Sebenarnya Linda, Indonesia tidak akan abadi. Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali ABADI SOESMAN.

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 August, 2011 at 12:08

    Terima kasih Om Djoko..salamnya sudah disampaikan ke ibunya Mawar Melati….

    Selamat berlibur untuk Keluarga Mainz.

  9. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 August, 2011 at 12:06

    … juga menyanyikan lagu “Rinduku Padamu”, karya mahaadi karya Presiden RI…

  10. Handoko Widagdo  13 August, 2011 at 07:01

    Dan daku nyanyikan lagu “Sepasang Mata Bola”

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *