Cantik, Ya Cantik (2)

Yuni Astuti

 

Pagi yang sama. Tapi tak seperti biasanya. Iqbal masih di ruang kerja yang sama, yang membuatnya berbeda hanyalah Ar yang tidak berada di meja kerjanya. Komputernya teronggok bisu. Kertas-kertas dan tumpukan arsipnya menjadi dingin. Tiba-tiba saja Iqbal merasa kesepian. Gadis itu telah mampu membuat Iqbal kehilangan. Biar juga bagaimana, Ar adalah rekan kerja yang baik. Iqbal serasa menemukan sahabat yang tepat yang menemaninya dalam bekerja di kota ini..

Tiga tahun lalu ia datang dari sebuah kota perbatasan pulau Jawa dan Sumatra. Kota Cilegon yang telah membekalinya ilmu jurnalistik. Ke kota hujan ini, ia melangkahkan kaki dan memantapkan pijaknya. Mengais rezeki dari samudra kata dan berita. Di tempat inilah ia bertemu Arnalia. Gadis periang yang meja kerjanya bersebelahan dengan meja kerjanya. Ia sangat serius dalam bekerja, namun bisa begitu cair di luar jam kerja. Seringkali mereka jalan-jalan ke Kebun Raya, melepas penat di hari libur, sambil berdiskusi tentang tulisan. Ar begitu menyukai puisi, sama seperti Iqbal yang juga menyukai apapun tentang tulisan. Puisi dan novel bagaikan bunga di taman jurnalistiknya.

Ar sendiri adalah perempuan Solo yang kuliah dan bekerja di sini. Pembawaannya periang namun kadang galak. Tinggal di kosan bersama sahabatnya, Diani.

Kini seminggu telah berlalu sejak Ar pergi. Iqbal tak tahu akan seperti apa dunianya jika Ar, sahabatnya selama tiga tahun itu tak ada. Haruskah ia mengejar Ar? Tapi untuk apa?
Mencoba menutup mata dari meja kerja Ar, seolah gadis itu tersenyum anggun dari kursinya. Ingin rasanya Iqbal mengejar Ar ke Solo, meminta Ar tetap di sini. Tapi kenapa?

Iqbal menghela nafas, lalu kakinya dilangkahkan ke ruang tamu. Ada Mbak Sofia sedang menjawab telepon. Iqbal duduk di sofa seraya membuka koran hari ini. Matanya bergerak ke pintu saat tiba-tiba saja pintu itu terkuak. Iqbal terkesiap melihat sosok itu. Ayudya!

Iqbal segera berdiri demi menghampiri wanita itu. Ayudya tersenyum ramah. Iqbal tiba-tiba saja lupa akan pikirannya yang sibuk tentang Ar. Pesona Ayudya pagi itu mendadak membangkitkan semangatnya.

“Pasti mau ngambil honor nulis lagi kan Mbak?” Tanya Iqbal sok tahu.

“Tidak. Saya ke sini mau mengantarkan surat ini. Permisi Mbak, surat ini saya serahkan ke siapa ya?” begitu saja Ayudya langsung berbicara dengan Mbak Sofia, mereka asyik bertanya jawab mengenai surat itu. Iqbal tak henti-hentinya memerhatikan wajah Ayudya yang menurutnya sangat cantik. Putih, bersih tanpa ada jerawat atau bekasnya sekalipun. Pipinya penuh dan bening, melihatnya bagaikan melihat cermin. Bibirnya merah muda alami, ditemani deretan gigi putih yang rapi. Hidungnya mancung kecil dihiasi tahi lalat kecil di ujungnya.

Manis, sungguh manis. Tiap kali tersenyum, pipinya berlesung. Matanya bulat besar dan jernih, diiringi bulu mata yang tebal dan lentik tanpa mascara. Alisnya tak terlalu tebal tapi indah. Iqbal nyaris tak mampu berpaling dari memandangi rupa gadis itu. Membayangkan pertemuan pertama mereka ketika aksi beberapa waktu lalu. Wajah bagai porselen itu berpanas-panas di bawah teriknya matahari ketika unjuk rasa. Saying sekali, bisa retak nantinya. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Iqbal memotretnya saat sedang membawa spanduk aksi bertuliskan “Kenaikan TDL Sengsarakan Rakyat!”

Akhirnya, wajah manis yang agak berkeringat menjadi foto untuk liputan itu. Iqbal bahkan memotret berkali-kali untuk dijadikan koleksi pribadi. Kekagumannya semakin menjadi karena gadis itu tak hanya cantik tapi juga pandai menulis. Kata Mbak Sofia, Ayudya sudah berkali-kali datang ke kantor untuk mengambil honor menulis tajuk opininya.

“Assalamu’alaikum!” suara itu membuat lamunannya buyar. Beberapa detik kemudian ia benar-benar sadar karena wajah ayu yang sedari tadi dilihatnya kini telah tiada.

“Mbak, mana Ayu?”

Mbak Sofia senyum-senyum, “udah pergi dari tadi. Situ ngelamun terus. Kenapa, suka ya sama Mbak Ayu?”

“Hanya lelaki bodoh yang tak suka padanya, Mbak. Dia benar-benar mirip dengan bidadari. Matanya jeli, putih bersih bagaikan cermin…. Ah, dia seperti mutiara yang terlindung jilbab rapinya Mbak…. Solehah….”

“Huu…Memangnya kamu sudah pernah lihat bidadari?”

“Makanya Mbak, sekali-sekali ikut pengajian dong….” Cibir Iqbal seraya berjalan kembali ke mejanya. Seketika itu, bayangan keindahan Ayudya lenyap entah ke mana sebab ia melihat meja kerja Ar. Rasa kehilangan itu kembali menyeruak, merobek-robek hatinya yang rindu ingin bercengkrama dengan Ar.

“Ah! Kenapa aku kangen dengannya? Memangnya siapa dia? Duh….Ar…kamu kenapa pulang kampung selamanya sih? Bikin aku pusing saja….” Namun seketika juga, pikirannya berganti pada Ayu. Terus berganti-ganti akan kedua wanita itu. Mengingat Ayu, ia demikian mabuk akan kecantikannya. Mengingat Ar, bagai ada bagian dari dirinya yang hilang terbawa oleh langkah kaki Ar.

Iqbal kembali lagi ke meja Mbak Sofia. “Mbak, tadi Ayu ngasih undangan apa?”

“Oh…dia mau ngadain acara seminar kewanitaan. Saya dan karyawan wanita lainnya diundang, sebagai peserta.”

“Saya gak diundang?”

“Memangnya kamu wanita?” Mbak Sofia terkikik sambil merapikan kerudung mungil yang melilit kepalanya.

“Kapan Mbak? Saya akan datang meliput.”

Mbak Sofia menyerahkan undangan itu pada Iqbal. “Nih baca sendiri aja.”

Tak sabar Iqbal segera membacanya, ia ingat-ingat waktu seminarnya dan dia makin kagum melihat tanda tangan ketua OC acara itu. Ayudya Maharani Safitri. Bagai dihujani kembang setaman kala itu.

***

SEMINAR “JANGAN NODAI KECANTIKANMU” digelar pagi itu di aula sebuah perguruan tinggi terkenal di kota itu. Ayudya tengah berdiri di depan panggung dengan memakai jilbab hijau tua dan kerudung hijau muda yang panjangnya mencapai paha. Ia mengatur tata pentas agar tampak menarik. Meja dan kursi diatur setengah lingkaran. Tak lupa juga layer untuk memutar slide dan film pendek. Icha sudah siap di meja operator, yang akan memutarkan lagu-lagu dan slide yang dibutuhkan.

Mereka telah mempersiapkan acara ini sejak enam bulan lalu. Pesertanya dari kalangan pelajar, mahasiswi dan umum. Ruangan aula yang luas itu sudah dipasangi sound sistem dan sudah dicek berulangkali, termasuk juga property lainnya. Panitia mengenakan dresscode hijau, juga segala perniknya dalam ruangan itu. Seperti tirai jendela, tirai pintu dan pita-pita serta bunga-bungaan yang menghiasi ruangan. Serba hijau ditambah warna-warna khas lainnya yang disukai wanita.

Acara itu didesain dengan begitu cantik, manis dan lebih mirip acara walimahan daripada seminar yang sebenarnya pembahasannya amat berat karena berbicara tentang wanita. Amat mudah berbicara logika dengan pria, dibadingkan dengan wanita. Seperti yang telah Allah isyaratkan dalam sebuah hadits melalui Rasulullah saw bahwa wanita itu ibarat tulang rusuk yang bengkok. Bila meluruskannya dengan paksa ia akan patah, apabila dibiarkan maka bertambahlah kebengkokannya. Luruskanlah dengan kasih sayang.

Iqbal sudah stand by sejak panitia baru datang satu-dua. Ia ingin menangkap momen paling indah yakni melihat kedatangan Ayudya. Dan benarlah, akhirnya Iqbal berhasil melihat gadis itu lagi, yang baginya tampak seperti Nawangwulan berselendang hijau. Senyumnya tipis saja, saat Iqbal mendekat dan sambil menahan gemuruh di dadanya dan bepura-pura cool, ia sampaikan bahwa ia akan meliput acara itu. Ayudnya senang karena itu artinya masyarakat luas yang tak sempat menyaksikan acara itu akan tahu tentang tema yang mereka angkat. Tentang wanita. Wanita yang begitu cantik.

Waktu pun beranjak siang. Peserta mulai memenuhi kursi yang telah disediakan. Iqbal bersiap-siap meliput. Tatkala acara pembukaan dimulai, Ayudya naik mimbar untuk memberikan sambutan.

“Acara ini mengangkat tema tentang wanita, JANGAN NODAI KECANTIKANMU bertujuan untuk menyadarkan setiap wanita bahwa setiap wanita itu cantik. Cantik karena sesuai fitrahnya, wanita adalah makhluk yang sangat cantik. Di hati setiap wanita, Allah menumbuhkan cinta dan kasih sayang yang jauh lebih besar ketimbang yang dipunyai lelaki. Allah pun memuliakan wanita yang menjadi istri dan ibu. Di telapak kakinyalah Allah tempatkan surga. Karena itu, seorang ibu amat besar jasanya kepada suami dan anak-anaknya. Sebesar apapun kita sebagai anak berusaha membalas jasa beliau, sungguh kita tak akan pernah sanggup membayar jasanya. Gunung emas kita persembahkan untuk beliau, takkan bisa menggantikan setetes air susu yang diberikannya kepada kita dengan tulus dan ikhlas.

Allah melebihkan ibu, tiga kali sebelum bapak. Allah menyayangi wanita dengan begitu indahnya. Dan segala bentuk kasih sayang-Nya itu, Allah tuangkan dalam kitab-Nya. Al-Qur’anul Karim. Kecantikan wanita yang oleh sebagian lelaki dianggap sebagai makanan lezat, Allah perintahkan untuk kita menutupinya. Aurat yang tak ternilai harganya, yang bila kita abaikan akan membawa dampak negatif bagi masyarakat. Terbukti sekarang, begitu banyak wanita yang mengabaikan hal ini akhirnya terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan yang akan mengantarkan mereka ke jurang neraka, na’udzubillah….

Begitu pula, Allah memuliakan wanita dengan memberikan peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Mendidik putra-putri agar menjadi generasi Qur’ani. Itu pahalanya luar biasa ya Ukhty… Bahkan jika seorang wanita menaati suami, sholat dan puasa Ramadhan, ia bisa memasuki surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki. Subhanallah…semoga kita bisa menjadi wanita yang melaksanakan segala perintah Allah serta patuh pada suami selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Mungkin, yang paling berat adalah bagaimana kita bersyukur dan bersabar….”

Iqbal terkagum-kagum mendengar sambutan yang disampaikan Ayu. Retorikanya demikian indah dan membuat para pendengarnya terpesona.

“Begitu anggun….” Iqbal bergumam. “Seandainya wanita sholehah seperti ini bisa kumiliki, maka aku rela makan nasi hanya dengan garam…. Begitu saja aku sudah sangat bahagia…. Sungguh menentramkan jiwa.”

 

15 Comments to "Cantik, Ya Cantik (2)"

  1. Yuni Astuti  15 August, 2011 at 10:31

    terima kasih teman2…..

    semua wanita itu cantimk karena wanita adalah perhiasan dunia.
    perhiasan yg paling indah adalah wanita sholehah….

    cantik, mulia, terjaga, menutup auratnya dan santun perangainya

  2. Dewi Aichi  15 August, 2011 at 08:36

    Mas Jc, Pak DJ, ha ha…..kok pakai level segala lho….kayak main game aja…..sing waras ngalah…..level tingkat tinggi buat miss Kona saja……ngalah wis aku..!

  3. EA.Inakawa  14 August, 2011 at 23:09

    saya kagak berani Pak bilang Mbak DA & Ci Lani Sudrun eheheheh peace mami………

  4. Edy  14 August, 2011 at 22:53

    jadi teringat koko jadul di baltyra, ada yang ilang ‘ cantik itu relatif, jelek itu mutlak”

  5. Heisenberg  14 August, 2011 at 21:49

    ada yang bilang, kalau menilai kecantikan sebatas kulit luarnya saja, maka ketika kulit tersebut tidak ada, yang muncul adalah sesosok mahluk yang mengerikan.

    tapi yang namanya cantik, ya cantik aja, sama sepertinya judulnya. hhe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.