Dia Kekasihku

Dewi Aichi – Brazil

 

Malam telah larut ketika aku dan dia menelusuri jalan setapak.
Agak gelap memang.
Hanya sinar rembulan yang menerangi.
Cahaya -cahaya yang menembus celah-celah dedaunan, sekilas menerpa wajahnya.
Dan sekilas pula aku memandangnya.
Rindu.
Sangat rindu.

Dia tetap lembut, mesra dan hangat.
Rangkulan lengannya yang kokoh di atas pundakku, cukup membuatku nyaman berjalan berdua saat itu.
Malam itu, aku sangat menikmatinya.
Kehangatannya, membuatku merasakan bahwa malam itu terlalu cepat berlalu.

Langkah terhenti, aku dan dia duduk di atas batu besar yang berada di ujung jalan.
Di bawah pohon yang rindang, aku dan dia saling bicara, saling menatap, saling membelai.
Sesekali dia mengecupku.
Ahh…betapa selama ini aku sangat merindukannya.
Sangat menginginkan dia berada di sampingku.

Kini, semuanya telah menjadi kenangan indah.
Entahlah, kenapa tiba-tiba kerinduan itu hadir.
Melintas sekilas dalam hati, mengalir hangat menerpa wajah.
Membekas rasa yang tak mampu enyah

Dia, kekasihku.
Menghampiriku malam ini.
Mengajakku merasakan kembali yang pernah ada.
Dan kusambut dia.
Kudekap dia.
Kekasihku, di penghujung malam.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

54 Comments to "Dia Kekasihku"

  1. Dewi Aichi  22 August, 2011 at 08:44

    Gebe, aduh..terima kasih, bener nih??? Terima kasih telah memberiku semangat he he he..

  2. Dewi Aichi  22 August, 2011 at 08:43

    Lani, kalau aku sundel bolong, ya ngga ada yang takut….malah pada ngetawain..!

    Lani, kuntilanak bukannya dirimu? lha itu ketawamu sudah mirip..!Kumat piye to?

  3. Dewi Aichi  22 August, 2011 at 08:40

    Atite, samaaa….kangen juga ..halah tenane ..?

    Gimana sih Atite sama Elnino, bikin puisi susah susah malah kesannya horor wkwkkw….sensasinya ngga ilang ilanggg…!

  4. Dewi Aichi  22 August, 2011 at 08:38

    Kembangnanas, yoben to..wong puisi ya puisiku, mau dibawah pohon rindang kek, dibawah pohon ceplukan kek, dibawah pohon tomat kek, aku milih dibawah pohon beringin yang rindang, itu lho di alun-alun kidul he hee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.