Melihat Keragaman Pasar Tradisional di Flores

Dwi Setijo Widodo – Bali

 

Sebuah pasar tradisional di suatu daerah selalu menjadi objek wisata menarik untuk dikunjungi. Dari keragaman aktivitas sebuah pasar, kita dapat melihat langsung karakter adat dan budaya masyarakat setempat.

Ingin membuktikan? Bila dalam suatu perjalanan, Anda sempat berpapasan dengan aktivitas pasar tradisional, mampirlah. Begitu Anda masuk dan berinteraksi di dalam sebuah pasar, Anda dapat melihat perbedaan karakter antara masyarakat satu dengan masyarakat yang lain.

Mengunjungi pasar tradisional di Flores, berarti Anda mengunjungi pasar yang biasanya hanya diadakan seminggu sekali, saat hari pasar. Meskipun ada beberapa pasar juga tetap beraktivitas selama seminggu, namun biasanya pasar-pasar tersebut tetap mempunyai satu hari pasar khusus dalam seminggu dimana seluruh pedagang lengkap berkumpul di sana. Misalnya Pasar Alok di Maumere, Kabupaten Sikka District. Meski Anda bisa berbelanja ke sana hari apa saja, namun saat Selasa – hari pasarnya Pasar Alok – keramaian pada hari itu terasa berbeda dibanding hari-hari lainya.

Penjual Tenun Ikat Pasar Alok, Maumere

Di beberapa tempat, misalnya pasar di Desa Jopu, Kabupaten Ende, di luar hari pasar, area transaksi jual-beli itu hanyalah sebuah lapangan rumput luas. Tidak ada tanda-tanda sebuah pasar, seperti pasar daerah lain yang masih menyisakan bangunan non permanen dari bambu saat ditinggalkan.

Cara memajang dagangan juga demikian sederhana. Ada yang digelar di atas dipan bambu, namaun banyak juga yang cukup digelar di tanah dengan alas tikar, karung, bahkan kain dan daun pisang. Nah, untuk komoditi dagangan, dari hasil bumi, ternak, hingga kerajinan tangan seperti tenun ikat, bakul anyaman, parang, dan lain-lain. Arak dari  nira lontar pun – masyarakat lokal menyebutnya dengan “moke” – dapat diperoleh dengan mudah, misalnya di pasar di Desa Lekebai di Kabupaten Sikka District. Bila ingin menyaksikan transaksi barter, beberapa pasar tradisional masih melakukan praktek ini. Di antaranya adalah Pasar Geliting di Kabupaten Sikka District, pasar di Desa Deturia (Tiwu Sora) di Kabupaten Ende.

Penjual Tembakau di Geliting, Sikka

Pasar tradisional biasanya hanya berlangsung beberapa jam. Dimulai sejak subuh hingga paling lama pukul 12 siang. Jadi, bila Anda tidak ingin ketinggalan menyaksikan keseluruhan aktivitas pasar ini, terutama untuk transaksi barter, datangnya sejak pagi hari. Paling tidak, pukul tujuh Anda sudah berada di sana.

Satu informasi yang tertinggal, bila Anda mencoba untuk berkeliling mencari keriuhan pasar tradisional di hari Minggu, siap-siap untuk kecewa. Hari Minggu bagi masyarakat Flores kebanyakan merupakan hari libur. Bagi masyarakat Katholik dan Kristen, minggu adalah hari ibadah. Aktivitas toko-toko besarpun biasanya dibuka setelah pukul 12 siang. Sedangkan toko-toko kecil biasanya istirahat saat hari Minggu. Oleh karena itu, tak heran bila tidak ada “Pasar Minggu” di Flores.

Penjual Singkong Jumbo dari Roga, Ende

Bila Anda suatu saat berkunjung ke Flores, terutama di bagian timur, dan ingin mengintip aktivitas masyarakat di pasar tradisionalnya, berikut ini informasi lokasi pasar-pasar tradisional menurut hari pasarnya.

Senin: pasar di Desa Boru (Kabupaten Flores Timur), pasar di Desa Lela (Kabupaten Sikka District)

Selasa: Pasar Alok di Maumere (Kabupaten Sikka District), pasar di Desa Boru (Kabupaten Flores Timur), pasar di Desa Tana Rawa (Kabupaten Sikka District)

Rabu: pasar di desa Ndete (Kabupaten Sikka District), pasar di desa Nangablo (Kabupaten Sikka District), pasar di Desa Deturia (Kabupaten Ende), pasar di Desa Watuneso (Kabupaten Sikka District), pasar di Desa Oka (Kabupaten Flores Timur)

Kamis: pasar di Desa Jopu (Kabupaten Ende), pasar di Desa Talibura (Kabuapten Sikka District), pasar di Desa Waigete (Kabupaten Sikka District)

Jumat: pasar di Desa Wolowaru (Kabupaten Ende), Pasar Geliting (Kabupaten Sikka District), pasar di Desa Watuneso (Kabupaten Sikka District)

Sabtu: pasar di Desa Lekebai (Kabupaten Sikka District)

Penjual Kerajinan Anyam, Alok – Maumere

 

Penjual Kain Ikat di Pasar Jopu, Ende – Flores

 

Penjual Ikan Asin di Geliting, Kewapante – Flores

 

Pedagang Perhiasan di Pasar Lekebai, Sikka

 

Pasar Jopu, Kabupaten Ende, Flores

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Dwi Setijo Widodo di Bali. Satu lagi kontributor yang menambah wawasan timur Indonesia. Make yourself at home. Ditunggu tulisan-tulisannya yang lain.

 

57 Comments to "Melihat Keragaman Pasar Tradisional di Flores"

  1. J C  17 August, 2011 at 21:22

    Itsmi, itu bukan mematikan diskusi namanya. Kalau kamu bilang pasar tradisional diromantisasi dan aslinya bikin muntah, aku melihat sudut pandang yang sama kata “romantisasi” dan “bikin muntah”. Soalnya pasar di sini dan pasar di sana tidak bisa diperbandingkan. Aku memperbandingkan objek yang sama-sama diromantisasi dan sama-sama bikin muntah…

  2. Dwi Setijo Widodo  17 August, 2011 at 19:34

    Mbak Mawar, salam kenal juga ya.
    Ternyata seru juga temen2 di Baltyra.
    Mari berkunjung ke Flores. Tenun ikatnya sangat menarik. Berbeda motif untuk setiap daerah/suku, baik untuk perempuan maupun laki2nya. Saya akan bagikan informasinya nanti ya.

  3. Itsmi  17 August, 2011 at 16:02

    Jc, mematikan diskusi itu kalau kita sedang diskusikan mengenai pasar tradisional dan ini di bandingkan dengan Kalverstraat, station sampai kamar mahasiswa

    Lepas dari saya setujuh atau tidak setujuh dengan pendapat kalian mengenai Belanda.

  4. J C  16 August, 2011 at 22:08

    Itsmi, mana bisa dikatakan mematikan argumentasi. Seperti komentarmu sendiri yang bilang “tiap orang punya persepsi sendiri”. Bukan terus aku bilang “di Indonesia jalan lubang-lubang, di Belanda juga lubang-lubang”.

    Nah itu kamu bilang sendiri, rumah mahasiswa kacau dan berantakan kamu anggap wajar karena baru belajar mandiri. Justru yang aku tahu di sini tempat kost mahasiswa, dormitory, teman-teman yang aku kenal waktu jaman kuliah, di Salatiga, Bandung, Surabaya, Jakarta, secara umum kondisi di sini jauh lebih bersih dan beradab dibanding di Belanda.

    Kita harus bicara dan membandingkan dengan mahasiswa dengan status sosial ekonomi yang sama, jangan kamu bandingkan dengan mahasiswa Indonesia yang dari luar pulau, mendapat beasiswa dari pemerintah daerahnya. Mahasiswa begini hidup di perantauan sangat prihatin. Harga kost’nya saja bikin saya kaget sekali waktu saya ke tempat mereka. Satu bulan hanya bayar Rp. 10.000-15.000 (tahun 1990’an), padahal kost yang layak di tempat lain sudah sekitar 75.0001-120.000, bisa dibayangkan kondisinya. Nah yang begini tidak bisa dibandingkan.

    Sama halnya dengan aku yang dari Indonesia, memiliki gambaran bahwa di Eropa pasti bersih, rapi, bagus, terawat. Mendapati kenyataan yang jauh dari bayangan, jelas kaget dan tidak menyangka seperti itu.

    Ini jelas bukan mematikan argumentasi seperti kamu bilang.

  5. SU  16 August, 2011 at 21:33

    Dwi: pernah dalam suatu masa kehidupan sy, sy sering mengunjungi satu wilayah dimana anjing adl salah satu masakan istimewa. Aduh rasanya bagaimana gitu…..terus pas malam Natal, saya melihat banyak sekali anjing2 yang dikerangkeng diangkut oleh mobil2 utk dijadikan santapan Natal. Rasanya saya pengin beli semua anjing2 itu agar tdk disantap.

    Makan belalang goreng, serangga lainnya sih masih OK2 buat saya……

    Memang blusukan pasar tradisional itu seruuuuuuuuu

  6. Mawar09  16 August, 2011 at 21:29

    DSW : selamat bergabung di Baltyra dan salam kenal. Suka banget lihat tenun ikatnya, apalagi lihat singkongnya yang gede2 !! Terima kasih ya artikelnya dan ditunggu tulisan lainnya.

  7. Dwi Setijo Widodo  16 August, 2011 at 21:19

    Mbak SU,
    Ya, ada temen yg merasa kasihan melihat anjing2 lucu itu bakal jadi santapan. Tapi begitulah adat suatu tempat. Bahkan bila saya diundang dalam sebuah pesta dan makanan itu dihidangkan, sekarang rasanya saya menjadi biasa.

  8. Dwi Setijo Widodo  16 August, 2011 at 21:13

    Mas Itsmi,
    Sori kalo salah memanggil sebelumnya.
    Ya, buat saya tidak masalah bagaimana setiap orang memandang suatu hal berdasarkan pengalaman sebelumnya. Yang tidak bijak adalah bila kita selalu memberikan penilaian yang sama terhadap suatu hal yang mungkin berbeda. Kalo sudah demikian, berarti kita menutup diri kita untuk membuka wawasan. Mudah2an opini saya ini tidak sok ya… Hehe.

    Mbak Lani,
    Di bagian pasar hewan di Flores, biasanya, selain babi, juga dijual ayam (jumlahnya sedikit dan tergantung tempat), kambing, kuda, dan anjing. Yang terakhir, adalah makanan kesukaan dan selalu dihidangkan dalam setiap acara penting, plus moke, alias arak pohon lontar khas Flores.

  9. SU  16 August, 2011 at 20:57

    Singkongnya benar2 gode-gode

    Suami dan sy kalau mengunjungi suatu tempat n memungkinkan, senang mengunjungi pasar tradisionalnya. Walaupun bt saya yg cinta anjing, kdg bisa merasa mau pingsan kalau melihat sahabat manusia ini dijajakan juga…..

  10. Itsmi  16 August, 2011 at 20:44

    Moken, maksudmu tongkat Musa ? hahahahha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *