Terjebak di Pesta Sebuah Perkampungan

Mimin Mumet

 

Mimin terkejut sekali ketika terbangun dia melihat sekelilingnya penuh dengan penjual makanan. Matanya mengitari sekeliling yang penuh dengan orang orang besar. Sepanjang jalan terlihat toko toko makanan. Di liriknya setiap toko yang dilewatinya. Ada Hot Dog yang seakan melambai lambaikan kakinya minta di raih. Sebuah sayap ayam nangkring di warung sebelah. Seakan berkata ” Hai …putri kecil nan cantik, terbanglah bersamaku ”. Tiba-tiba perutnya melilit. Di rabanya gaunya, siapa tau ada uang yang menempel di sana. Tapi Mimin tak menemukan apa apa. Lalu ia berjalan menuju ke arah lain. Ah..itu di sana….sepertinya ada yang di parkir.

Mimin mendekati jajaran mobil yang di parkir. Di perhatikanya mobil itu dengan baik baik. Seorang setengah baya mendekati Mimin.

” Sedang apa kau nak di sini ?”

” Bapak, saya tersesat pak. Bolehkah saya kembali ke rumah dengan mobil ini.” Kata Mimin seraya menunjuk parkiran mobil. Mirip mobil yang di gunakan Paman Mimin saat bermain di lapangan Golf.

” Tentu saja tidak boleh, Nak. Mobil ini hanya bapak dan teman-teman bapak yang boleh menaikinya. Untuk keliling perkampungan sini. Tapi kalau kamu ingin menaikinya , kamu harus membayar $20 per jam. Gimana?”

Mimin menundukkan mukanya. Memandangi trotoar yang siapa tau ada sisa sisa dompet yang berceceran di sana. Mukanya sedih. Lalu dia pergi setelah mengucapkan terimakasih kepada bapak tua tersebut. Bapak berseragam polisi.

Dipelintirnya ujung baju yang dipakainya, ketika langkahnya terhenti di sebuah tempat penjualan mainan. Mata kecilnya terlihat bersinar memandangi warna warni mainan. Di sentuhnya beberapa mainan yang berkelap kelip. Di perhatikanya penjualnya yang juga tak mau kalah ikutan terpasang kelap kelip di tubuhnya. Di kepalanya ada topi lucu yang bisa berwarna warni. Ada payung cantiknya juga. Payung cina. Mimin memperhatikan sebuah balon berbentuk kucing dengan kumisnya yang manis.

” Pak , bolehkah saya memiliki balon itu. Tapi saya tidak punya uang ?” Tanyanya pada enjual balon yang masih kelihatan muda.

Lelaki itu memandangi Mimin. Gadis kecil dengan kuncir putihnya. Lalu dia tersenyum .

” Tentu saja boleh adik manis. Silahkan pilih balon apa ynag kamu sukai. Kakak akan memberikanya dengan senang hati.”

” Benarkah ? Kalau begitu saya akan membantu Kakak memasarkan balon ini dan sebagai upahnya saya hanya minta satu balon saja.”

Mulailah Mimin menawarkan dagangan si pemilik toko. Tiap mainan di jualnya murah dengan harga $1 – $10. Tak hanya anak anak kecil. Ynag dewasapun tertarik membelinya. Kemudian melekatkan mainan pada tubuhnya. Dan saat berjalan bisa kelap kelip di keremangan malam. Setelah di rasa cukup Mimin kemudian melanjutkan perjalananya. Dan si penjual pun menghadiahkan sebuah balon Hello Kitty kepada Mimin.

Tiba-tiba wajah Mimin pucat pasi. Pelan-pelan di dekatinya tempat itu. Terasa serem dengan pemandangan di pinggir jalan yang menakutkan. Haruskah aku melewati jalan itu. Badanya menggigil ketakutan. Matanya beradu pandang dengan penunggu jalan. Iiihhh…… Lalu Mimin kabur sekenceng kencengnya. Lari dari tempat yang menyeramkan itu. Nafasnya terengah engah. Bersandar pada sebuah dinding yang terasa dingin.

Ternyata Mimin sampai di tempat toilet umum. Celingukan di lihatnya sekitar. Orang orang berlalu lalang tidak peduli. Mimin berjalan menuju salah satu toilet. Di bukanya pintunya. Dan…sreeennnggg……..Mimin menahan nafas masuk ke dalamnya. Di dalam Mimin bingung. Mencari cari sesuatu. Barang kali ada air atau tisu yang bisa di gunakan. Dan ternyata Mimin tidak menemukan apa apa. Tapi ada tempat tisu yang sudah kosong. Keluar dari toilet Mimin memandang gedung megah di belakangnya. Sebuah museum.

Oh…..ternyata Mimin ada di sini. Duh senangnya…. akhirnya Mimin menemukan juga nama perkampungan ini.

Suara musik mengehentak hendak gendang telinga Mimin. Berlari lari kecil Mimin mencari arah sumber suara. Beberapa orang terlihat berjoget joget mengikuti sang penyanyi. Dua penyanyi yang sedang berkolaborasi nampak sangat semangat menghibur para penonton. Celingukan Mimin mencari cari barang kali ada yang di kenalnya di antara penonton. Tapi Mimin tidak menemukan siapa siapa. Dan Mimin tidak tertarik dengan panggung panggung musik yang ternyata bertebaran di sekitar area. Ada sepuluh panggung.

Dan Mimin menemukan ini. Mainan Mimin yang sangat disukainya. Di ikatkanya tali balon Hello Kitty ke pinggang mungilnya. Dengan gaya bak prajurit Mimin mengarahkan jari jarnya ke arah kaleng kaleng minuman. Seperti tengah benar benar mengikuti permainan game. Tapi tak berapa lama kemudian Mimin menghentikan aksinya. Langkahnya surut ke belakang. Di pandanginya langit langit dengan bintang bintangnya. Seakan berdoa. Lalu pandanganya beralih kepada beberapa bonekah yang bergelantungan di depan toko game. Ada genangan di sudut mata Mimin.

Mimin kemudian melanjutkan perjalananya. Ternyata di sekitar area sini juga ada banyak mainan anak anak. Ada kereta yang melungker lungker kayak ular. Ada yang seperti perahu terayun ayun ombak. Ada becak becak an yang bisa naik sampai ke atas. Tingggi sekali dan ngeri. Jeritan demi jeritan terdengar memekakkan gendang telinga. Si balon Hello Kitty yang tidak mau melihat Mimin sedih kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Mimin.

” Ikatkanlah taliku pada pinggangmu. Maka kamu bisa bermin main sepuas hatimu. Tanpa seorang pun bisa melihatmu.”

” Hai…… kamu bisa bicara ?” Mimin terkejut sekali. Di lihatnya bola kittynya yang sedang tersenyum. Lalu di ikatkanya tali bola tersebut ke pinggang Mimin. Dan mulailah Mimin bermain main sesuka hatinya. Naik dari satu permainan ke permainan lainya. Suara tawanya membahana . Membaur dengan keramaian di sekitarnya. Saking senangnya Mimin tidak memperhatikan ikatan tali bola Hello Kittynya yang perlahan lahan mulai mengendur. Seperti di ayun Mimin merasakan perutnya seperti pusing dan Gubrak…….!!!!

” Min…Bangun Min….Bossmu dah nunggu tuh di luar ma anaknya. Katanya hari ini kamu ada janji ma mereka mo ke bonbin. Dah di jemput tuh. ” Seorang temen kosan membangunkan Mimin.

” Kemana pesta dan bola Hello Kitty ku ” Tanya Mimin seraya mengucek ucek matanya.

Yang di tanya …####????####????

Tamat.

 

@@@

Semua gambara adalah hasil jepretan Mimin sendiri. Dari kamera pinjeman teman kos.

 

14 Comments to "Terjebak di Pesta Sebuah Perkampungan"

  1. mimin mumet  16 August, 2011 at 22:44

    hahahahahahaahahahahahah…… bu nuk..injjih ..itu kampungnya asli..hahahahahaha ceritanya juga asli….

    @mbak dewi aci
    hahhahahahahaha…..ketipruk dong….

    mbak mawar @
    he h eh ehe..ho oh..tibak e cewek..hahahahahahahahhhaah…thx buat koreknya yah #hug

  2. Mawar09  16 August, 2011 at 22:04

    Mimin: jadi tertawa baca artikelmu ini. Tapi aku sudah menebak kalau ini mimpi………. soalnya mana mungkin terbangun ditempat org2 menjual makanan dan lainnya. Terima kasih artikelnya dan salam kenal.

    Oh iya….mau kasih tahu bahwa. Imeii itu Mbak, bukan Mas. he…he….

  3. Dewi Aichi  16 August, 2011 at 05:00

    Terjebak sama Mimin Mumet nih aku, udah baca serius…ngga taunyaaaaa

  4. nu2k  16 August, 2011 at 04:41

    Terjebak “Pasar Malam” ala kampung mbak Mimin toch.. Ya bisa mumet, kalau pingin macam-macam tapi kantongnya kosong…..Ha, ha, haaaa…Su su en dag dag… Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *