Tinjauan Dunia Moneter dan Makro Ekonomi

Mpek Dul – Belanda

 

US$ Untuk Dibenci atau Dicintai?

Satu fakta yang tidak dapat diingkari di dunia, adalah peranan Amerika Serikat dalam bidang moneter internasional, macro-ekonomi dan militer saat ini yang masih mendominasi dunia dan menduduki tempat utama.

Lewat kesempatan ini, ingin saya mencoba sedikit memberikan analisa dan pandangan saya, berdasarkan data, literatur, laporan-laporan dunia keuangan internasional serta makro ekonomian yang saya dapati sampai saat ini.

Saya akan mencobanya dengan uraian semudah mungkin, meski ini bukan satu hal yang mudah untuk diuraikan, karena tidak semua pembaca mengenal latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan fiscal-, macro-, internasional-, dan last but not least, moral  ekonomi (factor penting yang sering dilupakan).

Mudah-mudahan sumbangan ini dapat memperluas pengetahuan kita dalam bidang-bidang ini, karena pengetahuan saya juga sangat kecil sekali.

Semoga uraian ini, – terlepas dari pandangan politik “pro dan anti barat atau timur”-, dapat sedikit memberikan gambaran tentang peranan AS dengan AS $ dan latar belakangnya yang berkaitan erat dengan dunia perekonomian dan moneter internasional.

Sekitar dua tahun yang lalu saya pernah memberikan pandangan yang berkaitan dengan adanya mondial krisis yang dimulai dari AS pada 12 Juni 2007 dengan jatuhnya Bear Stearn yang akhirnya membawa akibat yang sangat parah untuk perekonomian dan moneter dunia yang sampai saat ini, lebih dari empat tahun kemudian masih terasa getarannya. Lebih dari 65% perdagangan valuta di dunia saat ini dan lebih dari 50% dari export/ perdagangan di dunia masih berdasarkan perhitungan US$. Akir abad ke 20 hampir 4,7 bagian dari perdagangan valuta di dunia berdasarkan US$. Semua hutang-hutang dan kredit yang diberikan oleh IMF dan World Bank masih diperhitungkan dalam valuta ini.

 

APAKAH  ARTI  PERANAN  INI  DI DUNIA  INTERNASIONAL? 

Jika semua transaksi perdagangan di luar AS dalam US$, berarti uang US$ juga beredar di luar AS sendiri, tidak saja menjadi alat pembayaran, melainkan juga menjadi “alat investasi” dunia. Secara langsung maupun tidaknya, akan semakin banyak negara-negara, yang harus “melayani” AS dengan produk yang berupa barang-barang dan jasa untuk mendapatkan valuta sebagai cadangan devisa negara mereka, sedangkan untuk mencetak $ sendiri, AS tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos2 extra, karena $ merupakan mata uang negara itu sendiri.

Dengan kata lain, dipakainya $ sebagai alat pembayaran perdagangan dan jasa di dunia ini berarti bahwa AS sendiri mengimport semua ini dengan cuma-cuma. Banyaknya US$ yang beredar di luar AS sendiri inilah yang memungkinkan AS sampai sekarang tetap dapat mempertahankan defisit neraca perdagangan yang saat ini sudah mencapai sekitar US$ 70 miljard. Tujuh dari 10 miljarder di dunia adalah orang2 dari AS.  Bill Gates (US$ 40 milyard), Warren Buffet (US$ 33 milyard), belum lagi Larry Ellison (Oracle), The Waltons (Wal-Mart), Michael Bloomberg, The Kochs (Koch Industries).  Wang Chuanfu,  chairman BYD Auto, adalah orang terkaya di China dengan kekayaan harta “hanya”sekitar US $ 5.1 milyard, disusul oleh Liu Yongxing, $ 3.0 milyard (East Hope Group, Shanghai) dan Wong Kwong Yu, $ 2.7 milyard (Gome Electr. Beijing).

Faktor-faktor ini jugalah yang memungkinkan peranan AS di dunia perekomian saat ini masih  dominan dapat menduduki tempat tertinggi di dunia. Ini juga berarti bahwa AS mendapatkan “hutang” atau kredit dengan cuma-cuma dari dunia, dimulai dari negara-negara termiskin sekalipun sampai ke PR China, Jepang yang pada hakekatnya tanpa membayar bunga satu sen pun, dengan kata lain hutang AS ditanggung oleh kreditur yang terdiri dari China (kreditur AS terbesar), Jepang, negara-negara Asia, sedangkan E.U, betapa ironisnya pun juga, adalah salah kreditur AS terkecil !

Defisit anggaran belanja AS yang berpenduduk sekitar 300 juta berjumlah sekitar US% 14.800.000.000.000 (dan tiap harinya bertambah) tidak seimbang dengan produk domestic bruto (PDB) yang hanya sekitar US$ 13.000.000.000.000. atau US$ 47.000,- setiap penduduk (E.U dengan penduduk 500 juta, mempunyai PDB sekitar US$ 16.800.000.000.000 atau sekitar US$ 40.000).

Untuk memungkinkan membeayai semua hutang-hutang ini, AS membutuhkan sekitar US$ 2 miljard di pasaran modal bebas (capital market) di dunia setiap harinya, sehingga dengan demikian AS mempunyai status sebagai negara yang terbesar hutangnya di dunia. Bagaimana memungkinkan US$ yang begitu “lemah” kekuatan yang sebenarnya, dapat  menjadi mata uang perdagangan dan perbankan di dunia?

Jawaban yang singkat adalah: Karena sampai sekarang tidak ada mata uang alternatip di dunia yang dapat menggantikan peranan US$ di dunia yang sudah lebih dari 75 tahun sebagai monopolis.

Mata uang €uro yang meskipun baru resminya beredar sejak januari 2002, dan politik moneter dari  ECB jauh lebih ketat dari FED (Federal Reserve, central bank of US),  sehingga bahwa mata uang ini sudah terbukti “keras”, masih tetap belum dapat mengambil alih peranan US$. Banyak orang-orang dimulai dari Zimbabwe, dan negara-negara miskin di dunia sampai ke PR China, Jepang, Korea dan Indonesia masih tetap menyimpan US$ dan perdagangan dunia, dimulai dari minyak, bahan-bahan baku dan harga penjualan  berdasarkan perhitungan dalam US$, meskipun negaranya sering dimaki-maki habis-habisan,  tetapi Greenbacknya tetap diciumi dan dielu-elu, harus mulus murni, sedapat mungkin tintanya masih berbau, sehingga kalau ditukar agak terlipat sedikit sudah diberi harga penukaran yang berkurang. Gangguan imbangan antara logika dan emosi.

Dengan semakin banyaknya uang yang dicetak dan beredar di dalam satu negeri, maka  akan membawa akibat menurunnya nilai mata uang negara itu dan menaikkan inflasi, karena semua barang-barang import menjadi mahal. Dengan demikian, dunia merupakan satu permainan bebas moneter dunia, dimana AS yang mencetak US$, negara-negara lain memproduksi barang-barang dan jasa yang dibayar dengan US$. Uang yang mengalir beredar di luar AS, ini tidak membawa akibat negatip inflasi dalam negeri AS yang berarti sampai sekarang. Banyak negara-negara industri lain yang tidak berusaha berlomba untuk memperbaiki kwalitas hasil produk mereka lagi, melainkan lebih menekankan banyaknya barang yang harus diproduksi (kwantitas), semurah mungkin, hanya untuk mendapatkan US$ yang akirnya dipergunakan untuk membayar bahan-bahan baku dan melindungi mata uang negara itu sendiri, a.l. agar kekuatan dan nilai mata uang tidak terlalu tinggi dan dapat merugikan export negara itu sendiri.

Satu contoh yang jelas yaitu peranan politik moneter dari Central Bank dari PR China yang dihubungkan dengan US$ sehingga memungkinkan adanya perbandigan tetap antara nilai mata uang RM Yuan dengan US$ dan harga barang poduksi yang diexpor ke AS tetap stabil. Satu taktik moneter yang mudah dimengerti karena kurs yang tetap ini tidak menyebabkan naik atau menurun nilai tukar mata uang, sehingga kurang menarik untuk dijadikan alat spekulasi dan diperdagangkan di pasaran valas bebas.

Proteksi demikian ini jugalah yang memungkinkan mata uang Yuan tetap stabil, meski tidak sesuai dengan nilai interinsik mata uang ini sesuai dengan pasaran valuta bebas, dimana kekuatan nilai satu mata uang, a.l.  lain tergantung dari hukum permintan serta penawaran (Supply and demand).

Satu keuntungan untuk China yaitu negara ini tidak usah membentuk cadangan US$ untuk melindungi mata uang Yuan terhadap spekulasi, karena nilai tetapnya yang telah ditentukan oleh Bank Central China, tanpa pasaran valas dunia dapat mempengaruhinya (seperti kurs uang Roebel dimasa USSR). Proteksi ini di dunia moneter dikenal sebagai “dollar hegemoni”.

Seperti yang telah saya uraikan di atas, semua produk dimulai dari bahan baku minyak sampai produk terakhir untuk export sampai saat ini, masih diperdagangkan dalam US$.  Secara tidak langsung terbentuklah cadangan surplus modal di dunia perekonomian AS. Defisit neraca perdagangan luar negeri dan anggaran belanja AS, ditutup oleh surplus $ yang berada di negara-negara lain seperti Jepang, China dan negara-negara OPEC, Canada, Afrika, Amerika Latin, dan sebagian dari EU. Hal ini berarti secara tidak langsung AS memakai minyak sebagai bahan baku dengan cuma-cuma, alias gratis, karena dibeayai sepenuhnya dengan US$ yang beredar di luar AS sendiri.

Semakin banyaknya US$ yang beredar di dunia dan disimpan  oleh negara-negara lain, semakin kaya AS, dan bukan semakin miskin seperti yang diperkirakan oleh orang-orang yang tidak mengenal politik moneter dan makro ekonomi, dan hanya meninjau perkembangan demikian dari luar sepintas lalu. Istilah ini dikenal sebagai “double moneter profit”.

Alasan-alasan “praktis” inilah juga yang merangsang pemerintah AS untuk tidak mengambil tindakan yang tegas dalam mengatasi “defisit”, baik anggaran belanja maupun neraca perdagangan dengan luar negeri, karena ini tidak mempengaruhi perekonomian dalam negeri AS sendiri secara langsung. Keadaan demikian inilah yang membuat China, sebagai kreditur utama AS, berada di posisi yang serba sulit. Politik moneter uang RMB Yuan yang ditentukan oleh CB of China juga “menyumbang” akibat ini, akibat kesalahan sendiri. Bagaimana mungkin? Karena nilai intrinsik, sekaligus kurs Yuan tanpa tindakan ini di pasaran bebas sudah jauh lebih tinggi dari kurs sekarang ini sehingga bila US $ menurun, Yuan juga tidak ikut terdorong turun karena tidak berkaitan bergandengan  dengan US$.

Namun di pihak lain bila RMB Yuan dapat diperdagangkan di pasaran valas dunia, dan naik nilainya, berarti produk dari China juga sudah lama sekali bertambah mahal, meski barang-barang import lebih murah, tetapi China sendiri lebih banyak meng export dari pada meng import! Mungkin karena Central Bank of China saat itu “berjudi” dengan menjalankan politik moneter dikendalikan sepenuhnya, untuk melindungi RMB Yuan agar tidak dapat diperdagangkan di pasaran bebas, tetapi akirnya membawa akibat “Snowball”.

Tindakan apapun yang diambil, kedua-duanya tetap membawa akibat negatip untuk keuangan China. Selain itu “pattern of spending” para konsumen China berbeda sekali dengan AS dimana mereka masih lebih suka untuk menabung, sehingga secara tidak langsung akan menjadi kurban politik moneter pemerintahnya sendiri. Tidak ada satu politik moneter di dunia ini yang sempurna, baik sistim pasaran terbuka (freemarket, kapitalisme) maupun sistim tertutup (komunisme).

China pada saat ini tidak mungkin dan akan menjual cadangan US$ nya di pasaran bebas dengan begitu saja, karena ini hanya membawa akibat yang lebih negatif dan parah sekali. Jika 20% dari cadangan US$ China atau US$ 40 miljard, sekaligus dilempar ke pasaran valuta, ditukar Euro, berarti kurs US$ dan Yuan pada saat yang sama akan merosot setidaknya 10-15% dibandingkan Euro. Yuan dalam hal ini juga akan merosot dengan persentasi yang sama karena dikoppel dengan US$.  Dengan demikian cadangan valuta China setidaknya  menyusut 20%. Inflasi di  China akan melonjak sekitar 8-10%.

Dalam hal ini berlaku hukum: “Permintaan dan penawaran (law of supply and demand)”, karena kesimbangan antara kedua faktor ini terganggu. Ceteris paribus istilah Latinnya, disebabkan keadaan yang tidak stabil, dan sangat variable saat itu.

Meskipun semua negara-negara di dunia mengenal ironi dan mengetahui hal ini, namun mereka masih tetap banyak yang tidak (bersedia) menyadari kebodohan mereka sendiri, dengan tetap menyandarkan dan menyimpan US $ sebagai pegangan, karena ini adalah satu faktor psykologis dan berdasarkan emosi yang sudah puluhan tahun mendarah daging.

Contoh yang sangat jelas sekali, berapa orang-orang yang kaya di Indonesia dan di China sekalipun yang masih lebih suka menyimpan US $ daripada €uro? Politik sangat anti AS, tetapi $ nya menjadi pujaan. Munafik? Rakus ?  Loba? Membuta?

Sekalipun negara-negara yang membenci AS seperti Cuba, Korea Utara sendiripun menyimpan cadangan valuta negara-negara mereka dalam US$ !  Hanya Iran yang saat ini “selamat” karena tidak menggunakan $ sebagai cadangan valuta asing negara mereka, di samping mereka tidak menanam modal di AS akibat di boikot.

 

Apakah €uro merupakan faktor ancaman posisi US$ ?

Jawaban yang jelas adalah: Ya dan tidak. Untuk pertama kalinya posisi US$ terancam oleh mata uang ini yang pada awal mulanya kurang mendapatkan kepercayaan dari dunia sehingga nilainya merosot. Ketika €uro pada tgl 1 Januari 2002 beredar, kurs ditentukan oleh ECB € 1,00 = US$ 1,23. Tidak lama kemudian merosot mencapai US$ 0,86, hampir dari 30% €uro kehilangan nilainya. Saat ini lebih tinggi, dan stabil sekitar US$ 1,44

Tiga instrument politik moneter ECB yang dipakai untuk mengendalikan money market interest rate adalah: open market transaction, permanent facilities, reserve duties.

(Untuk tidak semakin ruwet, hal ini tidak saya bicarakan di sini).

Politik ECB sangat ketat sekali, dan tidak semua negara EU diperkenankan memakai Euro, sedangkan negara-negara Euro wajib mengambil tindakan bahwa defisit anggaran belanja negara tidak boleh lebih dari 3%.  Hanya negara-negara PIGS yang sedikit mengacau suasana dunia moneter, sedangkan susana saat ini di seluruh duni juga tidak tenang.

Saat itu hanya Jerman, Belgia, Nederland, Luxemburg, Perancis termasuk Monaco, Andorra, Republik Irlandia, Spanyol, Italia termasuk Vatican, San Marino Portugal, Austria, Finlandia, Cyprus, Malta, Yunani, negara-negara EU tertentu yang diperkenankan memakai €uro.

Dengan demikian €uro lambat laun, meski belum ada 10 tahun beredar telah dapat  membuktikan kekuatan nilai intrinsik mata uangnya, sehingga memperoleh kepercayaan dari negara-negara lain.  EU adalah blok ekonomi dari 27 negara (th 2004=15 negara) mempunyai penduduk 450 juta  dengan BNP sekitar US$ 9,8 milyard, sedangkan AS mempunyai BNP sekitar US$ 10,5 milyard dengan penduduk sekitar 280 juta.

Pemerintah EU berharap dengan beredarnya Euro, uang ini lebih mendapat kepercayaan serta diterima sebagai cadangan valuta dunia dan berharap dapat mendesak posisi US$, sehingga Eropa juga dapat ikut “menikmati” kenaikan modal dengan cuma-cuma seperti yang telah saya uraikan di atas.

Skenario demikian ini untuk AS sangat membahayakan. Tidak saja US$ akan kehilangan posisi monopoli mereka, dan negara-negara exportir bahan baku terpaksa memperhitungkan barang produksi mereka dalam Euro, dan mata uang $ akan merosot  nilainya, sehingga dengan demikian import ke AS akan lebih mahal, dan AS terpaksa harus menyimpan cadangan dalam Euro untuk dapat membayar semua hasil import itu. Persoalan ini tidak dapat dipecahkan saja oleh FED dengan mencetak US$ lebih banyak lagi, karena nilai US$ akan semakin merosot dan inflasi di dalam negeri akan semakin naik, karena kali ini uang beredar di dalam negeri. Satu kejadian negatip yang membawa akibat sebaliknya dari peristiwa pertama yang saya tuliskan.

Rintangan terbesar untuk Euro dalam bidang minyak, yang tidak saja merupakan produk industri terpenting, dan saat ini oleh OPEC masih diperhitungkan dalam US$. Mengapa? Karena di antara semua negara-negara importir minyak OPEC, AS adalah langganan mereka yang terbesar sampai saat ini, sehingga tidak mudah untuk dirubah begitu saja diperhitungkan dalam Euro. EU saat ini hanya mengimport 40% dari hasil OPEC (karena EU mempunyai cadangan minyak Brent-oil dari Northsea untuk kebutuhan sendiri dan tidak diexpor).

Sebetulnya tidak ada salahnya jika harga minyak di pasaran internasional diperhitungkan dalam Euro, disamping US$ sehingga dengan demikian ada keseimbangan di dalam moneter dunia. Jika US$ naik, Euro turun dan sebaliknya dan tidak seperti sekarang dimana AS mencetak petrodollar, yang praktis beredar di luar AS, tetapi dikirim kembali ke AS untuk ditanamkan sebagai modal di sana. Hanya Iran yang saat ini memperhitungkan dalam Euro dan pendapatan ini tidak ditanamkan di AS, tetapi di Eropa, demikian juga Libia.

Peranan negara-negara Euro di dunia perdagangan internasional saat ini jauh lebih besar dari AS. EU tidak menunjukkan neraca perdagangan luar negeri yang negatif dan tidak mempunyai hutang yang luar biasa seperti AS, tidak tergantung kepada kreditur China dan Jepang.

Selama masih banyak negara di dunia mempertahankan US$ sebagai alat pembayaran internasional, maka peranan AS dan US $ di dunia ini, -terlepas dari penilaian politik pro atau anti AS-, tetap akan menduduki posisi di atas. Ini adalah satu fakta yang tidak dapat diingkari, meskipun kita sering kali ingin mengingkari kenyataan ini.

Perlu saya tambahkan sedikit bahwa Euro itu dipakai menjadi mata uang resmi oleh 15 dari 27 negara-negara EU, dan latar belakang kebudayaan yang masih berbeda dan belum bersatu sepenuhnya serta faktor ekonomi dan politiknya yang tidak sama. Faktor-faktor inilah yang dapat merupakan aspek negatip, karena bila salah satu negara Eurozone mengalami gangguan moneter atau anggaran belanja dalam negeri, maka akan dapat mempengaruhi kepercayaan dunia keuangan internasional seperti halnya saat ini dengan Yunani, Spanyol dan Portugis yang menderita defisit anggaran belanja dalam negeri berhubung dengan adanya krisis lebih dari 8%, sehingga mata uang Euro akhir-akhir ini agak menurun nilainya dibanding US$, sekalipun EU tetap mengambil tindakan moneter yang  tegas dan ketat sekali tanpa kekeculian atau berdasarkan nepotisme.

Stabilitas mata uang adalah penting sekali untuk negara dan kepercayaan dari dunia moneter internasional. Bilamana OPEC kartel memutuskan untuk memakai Euro sebagai standar pembayaran,  maka  Brent Oil  Northsea yang saat ini diperdagangkan di Petroleum Exchange, London, juga akan dilepas dari gandengan  dengan US$, dan menambah kuatnya mata uang Euro, tetapi membawa akibat negatip lain yaitu barang-barang produksi negara-negara Euro semakin mahal.

Jika Euro berhasil berpegang peranan penting, menyaingi dan mengambil alih peranan US$, baru AS terpaksa akan mengambil tindakan yang nyata dalam mengatasi defisit anggaran belanja dalam negeri dan neraca perdagangan, bila mereka ingin mempertahankan posisi hegemoni (monopoli) mereka.

Itulah yang menyebabkan AS sangat marah ketika Irak tahun 2004 di dalam rancangan “Food for oil ” yang semula diputuskan Euro sebagai alat pembayaran minyak Irak. Ketika Saddam Hussein juga memutuskan untuk mengganti perhitungan harga minyak dalam Euro, akirnya dia juga membeli dengan nyawanya, karena saat itu G.W. Bush (yang mempunyai hubungan erat dengan oil club Texas memutuskan menyerbu Irak dengan alasan karena “Irak mempunyai simpanan senjata kimia”,  satu alasan yang sangat kotor dan tidak berdasar, sehingga pemerintah Irak di bawah pimipinan Al Maliki memakai US $ lagi sebagai harga minyak.

Bilamana OPEC memutuskan untuk menukar Euro sebagai transaksi pembayaran minyak, maka skenario yang demikian ini merupakan satu “nightmare” untuk FED, karena inflasi di dunia mungkin susah akan terbendung berhubung dengan tidak adanya cengkraman lagi untuk FED sendiri. Belum lagi akibat besar bilamana China yang mempunyai cadangan lebih dari US$ 200 milyard juga sebagian atau seluruhnya ditukarkan ke Euro. Atau Rusia juga memperhitungkan harga export minyaknya dalam Euro.  Nilai US $ akan menurun lagi 20 – 40%, banyak modal akan ditarik dari AS dan US$ akan kehilangan kepercayaan di dunia perdagangan internasional.

Dalam hal ini ada kemungkinan dunia mengalami krisis yang jauh lebih parah dari 2007 dengan akibat yang tidak terkira! Penyerbuan AS di Irak dan Kuwait adalah sekaligus merupakan satu peringatan untuk negara-negara di regio itu dan OPEC agar tetap memakai US $ sebagai mata uang dunia.

Dengan diturunkannya status kemampuan kredit AS oleh S & P, saat ini hanya ada 14 negara di dunia yang masih mempunyai status AAA dalam bidang kredit. Negara-negara ini adalah Canada, Denmark, Jerman, Finlandia, Perancis, Luxemburg, Nederland, Noorwegia, Austria, Singapura, Swedia, Swiss,  Britania Raya. Lebih dari 85% terdiri dari negara-negara Eropa dan E.U.

Internationaal Monetair Fonds (IMF) telah memerhitungkan bahwa saat ini krisis moneter mondial telah menelan beaya US$ 11,9 trilyun = 11.900.000.000.000. atau sekitar $ 2.969 yang harus ditanggung oleh setiap penduduk di dunia mulai dari bayi sampai jompo, tanpa terkecualian.  Siapa mau menyusul?

Mpek Dul

 

 

53 Comments to "Tinjauan Dunia Moneter dan Makro Ekonomi"

  1. Lani  17 August, 2011 at 00:14

    Kementerian2 di Indon itu kerjaan nya apa sih? Sayang sekali negara terkaya dan tertinggi potensi nya didunia masih tergolong negara yang berkembang. Apalagi jika dibandingkan India, China, Brasilia, sekalipun Thailand dan Malaysia. KESADARAN – DISIPLIN – JUJUR dan TIDAK KORUP – KERJA KERAS – BERANI MENGKOREKSI DIRI SENDIRI, tanpa bedakan suku, agama, warna. inilah pondamen membangun negara yang kuat. AS itu juga dibangun oleh para imigrant. Indonesia mempunyai 500 suku2 dan bahasa dialek, seharusnya lebih dapat maju. Sudahlah kalau mikirin begini malah jadi stress, dan nggak bisa tidur seperti burung hantu saja. Malam mata kedip2 terus…… kaya Lani aja, bisa mumet, mumet
    ++++++++++
    Mpek DUL : tuh saya kutipkan komentar mpek utk NEV…di alinea plg bawah, namaku kau sebut2 lagi wakakk…..nampaknya mmg mpek mulai sayang neh ame ratu yg nungguin Kona hahahah sok tau aja…..harap2 cemas…….
    Mpek sapa bilang, mataku kedip2 tiap malam kg bs tidur? Mpek pinter ngarang ya hahaha……
    Saya itu klu bau bantal aja langsung tek-sek spt org mati kkkkk…..bangun2 udah pagi, dan siap jd satpam Kona. Nanti klu mpek mampir Kona, bs nemenin ngiter2 Kona, jgn2 mpek suka mbangkong kkkkk
    mpek……ini ngimpi??????? nglindur????? td malem ngimpi apa mpek?????? –> MIMPI KENA PANAH KOPET dari KONA, gara2 semalaman bicarakan panah COPED
    mpek, nulisnya jgn di plesetke to……dr cupid…..jd kopet dan coped itu artinya apa????
    Nulis sambil ngakak2 sendiri nih mpek….nampaknya mpek suka humor ya? Bagus, drpd ndak bs ketawa, lbh baik mati ketawa ya mpek……
    Drpd stress buat apa? Hidup cm sekali kok dibkn stress……
    ++++++++++++++
    YANG BENER DONG NGGAK ADA YG KATAIN KAMU PEMALAS. KAN CUMA NULIS TIDURNYA MALAM BANGUNNYA SORE, MANA ADA TERTULIS MALAS? BUSSEET MAIN TUDUH LAGI INI NGENYEK BANGET WISSSSS…. EEEEH BADAN SAMPE GEMETER, NULIS DIMEJA SAMPE MEJA NYA IKOOT GEMETER JUGA.

    +++++++++++++++++
    Wakakak……..ketawa lagi, mmg kusengaja dgn pancinganku mengena horeeeeeeeee honje…..
    Lo….lo…..kenapa mpek kok ampe gemeterrrrrran????? Apa belon makan? Apa krn ketakutan? Apa krn kena panah cupid lageeeee……
    Klu mejanya ikutan gemeter itu mah mpek nulisnya pake tenaga dalam/gweekang ya mpek nek ora salah, tp boleh tanya JC dia kan suka komik silat………hahahah
    ++++++++++++++++++
    mpek udah sarapan belon?????? MANA BISA MAKAN KALAU BELON2 UDAH DITUDUH YANG MACEM2, SEKARANG KEPALA GUE YANG JADI MUMET. MAKANAN NGGAK BISA MASOK DOANG.
    +++++++++++++++++++
    Kasian amat mpek ampe kaga bs makan krn ketularan Mimin mumet……ya mpek jgn marah2 dunk nanti tuanya dipercepat lo…..
    Skrng lagi ngapain mpek? Melamun ya? Apa lagi membayangkan kena panah cupid lagi hehehe….
    Ok dah sebentar lagi Q mo keluar menikmati mentari yg bersinar sgt cerah di Kona.
    Gmn ditempat mpek, dingin ya? Hehehe klu kedingian melolo pindah aja mpek ke Hawaii yg sll anget dan banyak yg bening2 hahahah…..
    Jgn dimarahin lagi ya mpek, nanti kubikin pusing 13 keliling lo……

  2. Straight_Line  16 August, 2011 at 21:33

    ampe mata gw keluar bacanya *dipahami dan dipelajari satu per sati*

  3. nevergiveupyo  16 August, 2011 at 20:50

    mpek… tarik nafas dulu mpek…. minum air hangat biar legaa…. (apa hubungannya ya??)

    ya itulah negeri ini… kalau nanya kerjanya para pejabat apa.. ya kalau boleh ngawur sekarang sih para birokrat itu sangat sibuk… sibuk melobi dan mengakomodasi para “WAKIL RAKYAT” yang merupakan politikus tidak ulung (mayoritas hanya mencari keuntungan dan benar untuk diri sendiri)
    lhasil, fungsi kontrol-nya jadi salah kaprah.. harusnya terhadap REALISASI program kerja/pembangunan malah lha ini belum sampai kerja para birokrat sudah bingung gmn cari upaya agar program segera disetujui.. bisa dilaksanakan..berdampak positif kepada masyarakat…

    belakangan marak di kampung2 program bioenergi (bio methan..dari fermentasi kotoran ternak/sapi) yang sudah terbukti bisa digunakan untuk masak..murah energi dan mengurangi emisi CO… tapi masih saja masyarakat swadaya sendiri. kalau dari pemerintahan sebatas jargon dan program saja…
    salah satu dugaan masalah adalah bahwa pemerintah masih banyak yang asal adopsi suatu program yang berhasil di wilayah (negara) lain tanpa melakukan riset apakah masyarakat sudah siap ataupun sungguh butuh teknologi/program tersebut…
    program pengembangan ekonomi maupun pembangunan negeri ini secara umum berjalan tanpa arah mpek… (apakah rencana jangka menengah pembangunan negeri ini? mau dibuat seperti apa negeri ini dalam jangka panjang??)
    saat ini rasa-rasanya setiap pergantian penguasa berarti program/rencana baru… bukannya melanjutkan pencapaian baik dr pemimpin sebelumnya.. dengan kata lain, selalu memulai dari titik O di setiap episode… (nah..kapan mau mencapai ke titik 1 atau 2 atau 3 dst,nya?? )

    *nah mpek, saya tidur dulu..mbesok pagi ada upacara hari kemerdekaan. ndak boleh kesiangan nih… salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *