Monday, 15 August 2011
Mpek Dul – Belanda
US$ Untuk Dibenci atau Dicintai?
Satu fakta yang tidak dapat diingkari di dunia, adalah peranan Amerika Serikat dalam bidang moneter internasional, macro-ekonomi dan militer saat ini yang masih mendominasi dunia dan menduduki tempat utama.
Lewat kesempatan ini, ingin saya mencoba sedikit memberikan analisa dan pandangan saya, berdasarkan data, literatur, laporan-laporan dunia keuangan internasional serta makro ekonomian yang saya dapati sampai saat ini.
Saya akan mencobanya dengan uraian semudah mungkin, meski ini bukan satu hal yang mudah untuk diuraikan, karena tidak semua pembaca mengenal latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan fiscal-, macro-, internasional-, dan last but not least, moral ekonomi (factor penting yang sering dilupakan).
Mudah-mudahan sumbangan ini dapat memperluas pengetahuan kita dalam bidang-bidang ini, karena pengetahuan saya juga sangat kecil sekali.
Semoga uraian ini, – terlepas dari pandangan politik “pro dan anti barat atau timur”-, dapat sedikit memberikan gambaran tentang peranan AS dengan AS $ dan latar belakangnya yang berkaitan erat dengan dunia perekonomian dan moneter internasional.
Sekitar dua tahun yang lalu saya pernah memberikan pandangan yang berkaitan dengan adanya mondial krisis yang dimulai dari AS pada 12 Juni 2007 dengan jatuhnya Bear Stearn yang akhirnya membawa akibat yang sangat parah untuk perekonomian dan moneter dunia yang sampai saat ini, lebih dari empat tahun kemudian masih terasa getarannya. Lebih dari 65% perdagangan valuta di dunia saat ini dan lebih dari 50% dari export/ perdagangan di dunia masih berdasarkan perhitungan US$. Akir abad ke 20 hampir 4,7 bagian dari perdagangan valuta di dunia berdasarkan US$. Semua hutang-hutang dan kredit yang diberikan oleh IMF dan World Bank masih diperhitungkan dalam valuta ini.
APAKAH ARTI PERANAN INI DI DUNIA INTERNASIONAL?
Jika semua transaksi perdagangan di luar AS dalam US$, berarti uang US$ juga beredar di luar AS sendiri, tidak saja menjadi alat pembayaran, melainkan juga menjadi “alat investasi” dunia. Secara langsung maupun tidaknya, akan semakin banyak negara-negara, yang harus “melayani” AS dengan produk yang berupa barang-barang dan jasa untuk mendapatkan valuta sebagai cadangan devisa negara mereka, sedangkan untuk mencetak $ sendiri, AS tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos2 extra, karena $ merupakan mata uang negara itu sendiri.
Dengan kata lain, dipakainya $ sebagai alat pembayaran perdagangan dan jasa di dunia ini berarti bahwa AS sendiri mengimport semua ini dengan cuma-cuma. Banyaknya US$ yang beredar di luar AS sendiri inilah yang memungkinkan AS sampai sekarang tetap dapat mempertahankan defisit neraca perdagangan yang saat ini sudah mencapai sekitar US$ 70 miljard. Tujuh dari 10 miljarder di dunia adalah orang2 dari AS. Bill Gates (US$ 40 milyard), Warren Buffet (US$ 33 milyard), belum lagi Larry Ellison (Oracle), The Waltons (Wal-Mart), Michael Bloomberg, The Kochs (Koch Industries). Wang Chuanfu, chairman BYD Auto, adalah orang terkaya di China dengan kekayaan harta “hanya”sekitar US $ 5.1 milyard, disusul oleh Liu Yongxing, $ 3.0 milyard (East Hope Group, Shanghai) dan Wong Kwong Yu, $ 2.7 milyard (Gome Electr. Beijing).
Faktor-faktor ini jugalah yang memungkinkan peranan AS di dunia perekomian saat ini masih dominan dapat menduduki tempat tertinggi di dunia. Ini juga berarti bahwa AS mendapatkan “hutang” atau kredit dengan cuma-cuma dari dunia, dimulai dari negara-negara termiskin sekalipun sampai ke PR China, Jepang yang pada hakekatnya tanpa membayar bunga satu sen pun, dengan kata lain hutang AS ditanggung oleh kreditur yang terdiri dari China (kreditur AS terbesar), Jepang, negara-negara Asia, sedangkan E.U, betapa ironisnya pun juga, adalah salah kreditur AS terkecil !
Defisit anggaran belanja AS yang berpenduduk sekitar 300 juta berjumlah sekitar US% 14.800.000.000.000 (dan tiap harinya bertambah) tidak seimbang dengan produk domestic bruto (PDB) yang hanya sekitar US$ 13.000.000.000.000. atau US$ 47.000,- setiap penduduk (E.U dengan penduduk 500 juta, mempunyai PDB sekitar US$ 16.800.000.000.000 atau sekitar US$ 40.000).
Untuk memungkinkan membeayai semua hutang-hutang ini, AS membutuhkan sekitar US$ 2 miljard di pasaran modal bebas (capital market) di dunia setiap harinya, sehingga dengan demikian AS mempunyai status sebagai negara yang terbesar hutangnya di dunia. Bagaimana memungkinkan US$ yang begitu “lemah” kekuatan yang sebenarnya, dapat menjadi mata uang perdagangan dan perbankan di dunia?
Jawaban yang singkat adalah: Karena sampai sekarang tidak ada mata uang alternatip di dunia yang dapat menggantikan peranan US$ di dunia yang sudah lebih dari 75 tahun sebagai monopolis.
Mata uang €uro yang meskipun baru resminya beredar sejak januari 2002, dan politik moneter dari ECB jauh lebih ketat dari FED (Federal Reserve, central bank of US), sehingga bahwa mata uang ini sudah terbukti “keras”, masih tetap belum dapat mengambil alih peranan US$. Banyak orang-orang dimulai dari Zimbabwe, dan negara-negara miskin di dunia sampai ke PR China, Jepang, Korea dan Indonesia masih tetap menyimpan US$ dan perdagangan dunia, dimulai dari minyak, bahan-bahan baku dan harga penjualan berdasarkan perhitungan dalam US$, meskipun negaranya sering dimaki-maki habis-habisan, tetapi Greenbacknya tetap diciumi dan dielu-elu, harus mulus murni, sedapat mungkin tintanya masih berbau, sehingga kalau ditukar agak terlipat sedikit sudah diberi harga penukaran yang berkurang. Gangguan imbangan antara logika dan emosi.
Dengan semakin banyaknya uang yang dicetak dan beredar di dalam satu negeri, maka akan membawa akibat menurunnya nilai mata uang negara itu dan menaikkan inflasi, karena semua barang-barang import menjadi mahal. Dengan demikian, dunia merupakan satu permainan bebas moneter dunia, dimana AS yang mencetak US$, negara-negara lain memproduksi barang-barang dan jasa yang dibayar dengan US$. Uang yang mengalir beredar di luar AS, ini tidak membawa akibat negatip inflasi dalam negeri AS yang berarti sampai sekarang. Banyak negara-negara industri lain yang tidak berusaha berlomba untuk memperbaiki kwalitas hasil produk mereka lagi, melainkan lebih menekankan banyaknya barang yang harus diproduksi (kwantitas), semurah mungkin, hanya untuk mendapatkan US$ yang akirnya dipergunakan untuk membayar bahan-bahan baku dan melindungi mata uang negara itu sendiri, a.l. agar kekuatan dan nilai mata uang tidak terlalu tinggi dan dapat merugikan export negara itu sendiri.
Satu contoh yang jelas yaitu peranan politik moneter dari Central Bank dari PR China yang dihubungkan dengan US$ sehingga memungkinkan adanya perbandigan tetap antara nilai mata uang RM Yuan dengan US$ dan harga barang poduksi yang diexpor ke AS tetap stabil. Satu taktik moneter yang mudah dimengerti karena kurs yang tetap ini tidak menyebabkan naik atau menurun nilai tukar mata uang, sehingga kurang menarik untuk dijadikan alat spekulasi dan diperdagangkan di pasaran valas bebas.
Proteksi demikian ini jugalah yang memungkinkan mata uang Yuan tetap stabil, meski tidak sesuai dengan nilai interinsik mata uang ini sesuai dengan pasaran valuta bebas, dimana kekuatan nilai satu mata uang, a.l. lain tergantung dari hukum permintan serta penawaran (Supply and demand).
Satu keuntungan untuk China yaitu negara ini tidak usah membentuk cadangan US$ untuk melindungi mata uang Yuan terhadap spekulasi, karena nilai tetapnya yang telah ditentukan oleh Bank Central China, tanpa pasaran valas dunia dapat mempengaruhinya (seperti kurs uang Roebel dimasa USSR). Proteksi ini di dunia moneter dikenal sebagai “dollar hegemoni”.
Seperti yang telah saya uraikan di atas, semua produk dimulai dari bahan baku minyak sampai produk terakhir untuk export sampai saat ini, masih diperdagangkan dalam US$. Secara tidak langsung terbentuklah cadangan surplus modal di dunia perekonomian AS. Defisit neraca perdagangan luar negeri dan anggaran belanja AS, ditutup oleh surplus $ yang berada di negara-negara lain seperti Jepang, China dan negara-negara OPEC, Canada, Afrika, Amerika Latin, dan sebagian dari EU. Hal ini berarti secara tidak langsung AS memakai minyak sebagai bahan baku dengan cuma-cuma, alias gratis, karena dibeayai sepenuhnya dengan US$ yang beredar di luar AS sendiri.
Semakin banyaknya US$ yang beredar di dunia dan disimpan oleh negara-negara lain, semakin kaya AS, dan bukan semakin miskin seperti yang diperkirakan oleh orang-orang yang tidak mengenal politik moneter dan makro ekonomi, dan hanya meninjau perkembangan demikian dari luar sepintas lalu. Istilah ini dikenal sebagai “double moneter profit”.
Alasan-alasan “praktis” inilah juga yang merangsang pemerintah AS untuk tidak mengambil tindakan yang tegas dalam mengatasi “defisit”, baik anggaran belanja maupun neraca perdagangan dengan luar negeri, karena ini tidak mempengaruhi perekonomian dalam negeri AS sendiri secara langsung. Keadaan demikian inilah yang membuat China, sebagai kreditur utama AS, berada di posisi yang serba sulit. Politik moneter uang RMB Yuan yang ditentukan oleh CB of China juga “menyumbang” akibat ini, akibat kesalahan sendiri. Bagaimana mungkin? Karena nilai intrinsik, sekaligus kurs Yuan tanpa tindakan ini di pasaran bebas sudah jauh lebih tinggi dari kurs sekarang ini sehingga bila US $ menurun, Yuan juga tidak ikut terdorong turun karena tidak berkaitan bergandengan dengan US$.
Namun di pihak lain bila RMB Yuan dapat diperdagangkan di pasaran valas dunia, dan naik nilainya, berarti produk dari China juga sudah lama sekali bertambah mahal, meski barang-barang import lebih murah, tetapi China sendiri lebih banyak meng export dari pada meng import! Mungkin karena Central Bank of China saat itu “berjudi” dengan menjalankan politik moneter dikendalikan sepenuhnya, untuk melindungi RMB Yuan agar tidak dapat diperdagangkan di pasaran bebas, tetapi akirnya membawa akibat “Snowball”.
Tindakan apapun yang diambil, kedua-duanya tetap membawa akibat negatip untuk keuangan China. Selain itu “pattern of spending” para konsumen China berbeda sekali dengan AS dimana mereka masih lebih suka untuk menabung, sehingga secara tidak langsung akan menjadi kurban politik moneter pemerintahnya sendiri. Tidak ada satu politik moneter di dunia ini yang sempurna, baik sistim pasaran terbuka (freemarket, kapitalisme) maupun sistim tertutup (komunisme).
China pada saat ini tidak mungkin dan akan menjual cadangan US$ nya di pasaran bebas dengan begitu saja, karena ini hanya membawa akibat yang lebih negatif dan parah sekali. Jika 20% dari cadangan US$ China atau US$ 40 miljard, sekaligus dilempar ke pasaran valuta, ditukar Euro, berarti kurs US$ dan Yuan pada saat yang sama akan merosot setidaknya 10-15% dibandingkan Euro. Yuan dalam hal ini juga akan merosot dengan persentasi yang sama karena dikoppel dengan US$. Dengan demikian cadangan valuta China setidaknya menyusut 20%. Inflasi di China akan melonjak sekitar 8-10%.
Dalam hal ini berlaku hukum: “Permintaan dan penawaran (law of supply and demand)”, karena kesimbangan antara kedua faktor ini terganggu. Ceteris paribus istilah Latinnya, disebabkan keadaan yang tidak stabil, dan sangat variable saat itu.
Meskipun semua negara-negara di dunia mengenal ironi dan mengetahui hal ini, namun mereka masih tetap banyak yang tidak (bersedia) menyadari kebodohan mereka sendiri, dengan tetap menyandarkan dan menyimpan US $ sebagai pegangan, karena ini adalah satu faktor psykologis dan berdasarkan emosi yang sudah puluhan tahun mendarah daging.
Contoh yang sangat jelas sekali, berapa orang-orang yang kaya di Indonesia dan di China sekalipun yang masih lebih suka menyimpan US $ daripada €uro? Politik sangat anti AS, tetapi $ nya menjadi pujaan. Munafik? Rakus ? Loba? Membuta?
Sekalipun negara-negara yang membenci AS seperti Cuba, Korea Utara sendiripun menyimpan cadangan valuta negara-negara mereka dalam US$ ! Hanya Iran yang saat ini “selamat” karena tidak menggunakan $ sebagai cadangan valuta asing negara mereka, di samping mereka tidak menanam modal di AS akibat di boikot.
Apakah €uro merupakan faktor ancaman posisi US$ ?
Jawaban yang jelas adalah: Ya dan tidak. Untuk pertama kalinya posisi US$ terancam oleh mata uang ini yang pada awal mulanya kurang mendapatkan kepercayaan dari dunia sehingga nilainya merosot. Ketika €uro pada tgl 1 Januari 2002 beredar, kurs ditentukan oleh ECB € 1,00 = US$ 1,23. Tidak lama kemudian merosot mencapai US$ 0,86, hampir dari 30% €uro kehilangan nilainya. Saat ini lebih tinggi, dan stabil sekitar US$ 1,44
Tiga instrument politik moneter ECB yang dipakai untuk mengendalikan money market interest rate adalah: - open market transaction, - permanent facilities, - reserve duties.
(Untuk tidak semakin ruwet, hal ini tidak saya bicarakan di sini).
Politik ECB sangat ketat sekali, dan tidak semua negara EU diperkenankan memakai Euro, sedangkan negara-negara Euro wajib mengambil tindakan bahwa defisit anggaran belanja negara tidak boleh lebih dari 3%. Hanya negara-negara PIGS yang sedikit mengacau suasana dunia moneter, sedangkan susana saat ini di seluruh duni juga tidak tenang.
Saat itu hanya Jerman, Belgia, Nederland, Luxemburg, Perancis termasuk Monaco, Andorra, Republik Irlandia, Spanyol, Italia termasuk Vatican, San Marino Portugal, Austria, Finlandia, Cyprus, Malta, Yunani, negara-negara EU tertentu yang diperkenankan memakai €uro.
Dengan demikian €uro lambat laun, meski belum ada 10 tahun beredar telah dapat membuktikan kekuatan nilai intrinsik mata uangnya, sehingga memperoleh kepercayaan dari negara-negara lain. EU adalah blok ekonomi dari 27 negara (th 2004=15 negara) mempunyai penduduk 450 juta dengan BNP sekitar US$ 9,8 milyard, sedangkan AS mempunyai BNP sekitar US$ 10,5 milyard dengan penduduk sekitar 280 juta.
Pemerintah EU berharap dengan beredarnya Euro, uang ini lebih mendapat kepercayaan serta diterima sebagai cadangan valuta dunia dan berharap dapat mendesak posisi US$, sehingga Eropa juga dapat ikut “menikmati” kenaikan modal dengan cuma-cuma seperti yang telah saya uraikan di atas.
Skenario demikian ini untuk AS sangat membahayakan. Tidak saja US$ akan kehilangan posisi monopoli mereka, dan negara-negara exportir bahan baku terpaksa memperhitungkan barang produksi mereka dalam Euro, dan mata uang $ akan merosot nilainya, sehingga dengan demikian import ke AS akan lebih mahal, dan AS terpaksa harus menyimpan cadangan dalam Euro untuk dapat membayar semua hasil import itu. Persoalan ini tidak dapat dipecahkan saja oleh FED dengan mencetak US$ lebih banyak lagi, karena nilai US$ akan semakin merosot dan inflasi di dalam negeri akan semakin naik, karena kali ini uang beredar di dalam negeri. Satu kejadian negatip yang membawa akibat sebaliknya dari peristiwa pertama yang saya tuliskan.
Rintangan terbesar untuk Euro dalam bidang minyak, yang tidak saja merupakan produk industri terpenting, dan saat ini oleh OPEC masih diperhitungkan dalam US$. Mengapa? Karena di antara semua negara-negara importir minyak OPEC, AS adalah langganan mereka yang terbesar sampai saat ini, sehingga tidak mudah untuk dirubah begitu saja diperhitungkan dalam Euro. EU saat ini hanya mengimport 40% dari hasil OPEC (karena EU mempunyai cadangan minyak Brent-oil dari Northsea untuk kebutuhan sendiri dan tidak diexpor).
Sebetulnya tidak ada salahnya jika harga minyak di pasaran internasional diperhitungkan dalam Euro, disamping US$ sehingga dengan demikian ada keseimbangan di dalam moneter dunia. Jika US$ naik, Euro turun dan sebaliknya dan tidak seperti sekarang dimana AS mencetak petrodollar, yang praktis beredar di luar AS, tetapi dikirim kembali ke AS untuk ditanamkan sebagai modal di sana. Hanya Iran yang saat ini memperhitungkan dalam Euro dan pendapatan ini tidak ditanamkan di AS, tetapi di Eropa, demikian juga Libia.
Peranan negara-negara Euro di dunia perdagangan internasional saat ini jauh lebih besar dari AS. EU tidak menunjukkan neraca perdagangan luar negeri yang negatif dan tidak mempunyai hutang yang luar biasa seperti AS, tidak tergantung kepada kreditur China dan Jepang.
Selama masih banyak negara di dunia mempertahankan US$ sebagai alat pembayaran internasional, maka peranan AS dan US $ di dunia ini, -terlepas dari penilaian politik pro atau anti AS-, tetap akan menduduki posisi di atas. Ini adalah satu fakta yang tidak dapat diingkari, meskipun kita sering kali ingin mengingkari kenyataan ini.
Perlu saya tambahkan sedikit bahwa Euro itu dipakai menjadi mata uang resmi oleh 15 dari 27 negara-negara EU, dan latar belakang kebudayaan yang masih berbeda dan belum bersatu sepenuhnya serta faktor ekonomi dan politiknya yang tidak sama. Faktor-faktor inilah yang dapat merupakan aspek negatip, karena bila salah satu negara Eurozone mengalami gangguan moneter atau anggaran belanja dalam negeri, maka akan dapat mempengaruhi kepercayaan dunia keuangan internasional seperti halnya saat ini dengan Yunani, Spanyol dan Portugis yang menderita defisit anggaran belanja dalam negeri berhubung dengan adanya krisis lebih dari 8%, sehingga mata uang Euro akhir-akhir ini agak menurun nilainya dibanding US$, sekalipun EU tetap mengambil tindakan moneter yang tegas dan ketat sekali tanpa kekeculian atau berdasarkan nepotisme.
Stabilitas mata uang adalah penting sekali untuk negara dan kepercayaan dari dunia moneter internasional. Bilamana OPEC kartel memutuskan untuk memakai Euro sebagai standar pembayaran, maka Brent Oil Northsea yang saat ini diperdagangkan di Petroleum Exchange, London, juga akan dilepas dari gandengan dengan US$, dan menambah kuatnya mata uang Euro, tetapi membawa akibat negatip lain yaitu barang-barang produksi negara-negara Euro semakin mahal.
Jika Euro berhasil berpegang peranan penting, menyaingi dan mengambil alih peranan US$, baru AS terpaksa akan mengambil tindakan yang nyata dalam mengatasi defisit anggaran belanja dalam negeri dan neraca perdagangan, bila mereka ingin mempertahankan posisi hegemoni (monopoli) mereka.
Itulah yang menyebabkan AS sangat marah ketika Irak tahun 2004 di dalam rancangan “Food for oil ” yang semula diputuskan Euro sebagai alat pembayaran minyak Irak. Ketika Saddam Hussein juga memutuskan untuk mengganti perhitungan harga minyak dalam Euro, akirnya dia juga membeli dengan nyawanya, karena saat itu G.W. Bush (yang mempunyai hubungan erat dengan oil club Texas memutuskan menyerbu Irak dengan alasan karena “Irak mempunyai simpanan senjata kimia”, satu alasan yang sangat kotor dan tidak berdasar, sehingga pemerintah Irak di bawah pimipinan Al Maliki memakai US $ lagi sebagai harga minyak.
Bilamana OPEC memutuskan untuk menukar Euro sebagai transaksi pembayaran minyak, maka skenario yang demikian ini merupakan satu “nightmare” untuk FED, karena inflasi di dunia mungkin susah akan terbendung berhubung dengan tidak adanya cengkraman lagi untuk FED sendiri. Belum lagi akibat besar bilamana China yang mempunyai cadangan lebih dari US$ 200 milyard juga sebagian atau seluruhnya ditukarkan ke Euro. Atau Rusia juga memperhitungkan harga export minyaknya dalam Euro. Nilai US $ akan menurun lagi 20 – 40%, banyak modal akan ditarik dari AS dan US$ akan kehilangan kepercayaan di dunia perdagangan internasional.
Dalam hal ini ada kemungkinan dunia mengalami krisis yang jauh lebih parah dari 2007 dengan akibat yang tidak terkira! Penyerbuan AS di Irak dan Kuwait adalah sekaligus merupakan satu peringatan untuk negara-negara di regio itu dan OPEC agar tetap memakai US $ sebagai mata uang dunia.
Dengan diturunkannya status kemampuan kredit AS oleh S & P, saat ini hanya ada 14 negara di dunia yang masih mempunyai status AAA dalam bidang kredit. Negara-negara ini adalah Canada, Denmark, Jerman, Finlandia, Perancis, Luxemburg, Nederland, Noorwegia, Austria, Singapura, Swedia, Swiss, Britania Raya. Lebih dari 85% terdiri dari negara-negara Eropa dan E.U.
Internationaal Monetair Fonds (IMF) telah memerhitungkan bahwa saat ini krisis moneter mondial telah menelan beaya US$ 11,9 trilyun = 11.900.000.000.000. atau sekitar $ 2.969 yang harus ditanggung oleh setiap penduduk di dunia mulai dari bayi sampai jompo, tanpa terkecualian. Siapa mau menyusul?

Mpek Dul
August 15th, 2011 at 21:15
Lho kok ngece gimana toh? Serius ini, aku kalau ngerti bilang ngerti, kalau masih bingung ya bilang masih bingung. Masalah emas-emasan belum bisa nangkap seluruhnya…
August 15th, 2011 at 21:05
duh garuk garuk kertas mimin kalau udah itung itungan soal duit menduit begini …
encok langsung kumat
August 15th, 2011 at 21:03
hayah..hayah..ngeceee…
ini kan lagi belajar sama si mpek. kuliah gratisan sama muridnya keynesian…
ini lagi nyoba riset emas2an… moga bisa dirangkum nanti ya…
(ntar klo mpek dul ngeluarin edisi berikut sapa tau bisa jadi suplemen… )
August 15th, 2011 at 20:59
mpek dul Says:
August 15th, 2011 at 16:51
Nev. Apa BI masih punya cadangan emas atau dijual lewt pintu belakang?
–> setahu saya masih mpek…. bukan BI yang punya.. tapi INDONESIA. BI itu kan yang dipercaya menyimpan dan mengelola plus mengamankan cadangan devisa negeri ini.
kalo tidak salah jumlahnya sekarang masih sekitar 73 ton (masih sangatttt jauh dibandingkan amerika kan?? ndak sampai 1% -nya) wlo gitu, kabarnya jumlah cadangan emas kita masih lebih banyak dibanding tetangga yang ngakunya serumpun….
(fakta bahwa Garsberg di papua merupakan tambang emas TERBESAR di dunia..harusnya cadangan emas kita juga terbesar lho..sayang yang menguasai justru si paman)
oya, nanti kalo mau dijual lewat pintu belakang saya mau ikutan antri ah… hehehe
August 15th, 2011 at 20:52
Nev, matur nuwun tambahan keterangannya. Mari kita tunggu pencerahan dari si Mpek, lanjutan tulisan ini tentang emas-emasan…
asik bener, ini namanya sesuai “field of interest” dan “field of professional” dikau ya, sampai mecungul bolak-balik…mantap, mantap… 
August 15th, 2011 at 20:42
J C Says:
August 15th, 2011 at 14:10
Nev, aku tetap bingung, kalau memang cadangan emas Amrik sa’eram-eram, kenapa mereka sekarang kelimpungan ora karuan? Berantakan semua ekonominya di sana?
—->
oom…ngelepas cadangan emas itu jd opsi terakhirrrrr… soalnya kalo suatu negara melepas cad. emas itu akan dibaca negara lain sebagai suatu bentuk “desperado”. mengapa? krn kan msh ada instrumen lain yg lbh likuid dan dianggap sebagai hal yang wajar untuk dijadikan jalan keluar dlm suatu masalah moneter (contohnya : surat2 utang negara, dll). ketika surat utang itu masih diterima pihak luar (asing) berarti masih ada kepercayaan terhadap kemampuan perekonomian negara tsb. kalo surat utang sampai tidak laku barulah cadangan emas yang dilepas…
alhasil… alih2 kondisi membaik… melepas cad. emas justru membuat kepercayaan negara lain akan turun… sehingga kondisi negara makin memburuk… oleh karenanya, melepas emas akan (sebisa mungkin) dihindari oleh negara2 (apalagi emas di bumi kan makin menipis)
malah nambah bingung ndak? moga tidak ya…. hehe…
August 15th, 2011 at 20:05
HennieTriana Oberst Says:
August 15th, 2011 at 19:36
Mpek Dul, maaf ya saya cuma mau mengutip komentar untuk Lani saja. Boleh numpang senyum kan?
Apa iya Lani kurang tingginya dari 1,5 meter?
Huuusssh, jangan keras2 ngomongnya, ntar dia bangun bisa jadi marah, gue dilabrak kalo ketemu di sjoping mol Kona (menurut mpek kok Lani nggak ada 1,5 m).
Boleh numpang senyum kan? Hennie, Für mich egal ! Asal kepalamu nggak panas toh? kok mau numpang senyum2 sendiri? Ya ampun. kok pake .de segala. Dulu dimana? Saya Univ di Cologne 3th.
August 15th, 2011 at 19:36
Mpek Dul….
Terimakasih untuk artikelnya…
Kelihatan mpek Dul, orang pinter….
Ini Dj. hanya mau kasi cerita….
Ada tourist orang Jogja, masuk Restaurant Indonesia di Amsterdam….
Dia pesan gudeg dan sat makan, dia sangat kaget dan bilang ke kokinya…
Bagaimana mungkin ini gudeg, lebih enak dari yang di Jogja…???
Si Ko-Ki : Kalau yang di Jogja, kan gori ( nangka muda ) nyna tidak import…???
Kalau yang saya masak, gorinya import….!!!
Tourist itu, langsung nanya….. Import darimana….???
Ko-Ki : Ya dari Jogja….!!!
Mudah-mudahan nyambung ya….
Salam,
August 15th, 2011 at 19:36
Mpek Dul, maaf ya saya cuma mau mengutip kometar untuk Lani saja. Boleh numpang senyum kan?
Apa iya Lani kurang tingginya dari 1,5 meter?
August 15th, 2011 at 19:21
August 15th, 2011 at 18:51
Dul, dengan turunnya nilai $ dalam jangka pendek itu efektif untuk mendorong ekspor USA.
Itu teori nya. memang ADA betulnya kalau ada produk yang diexpor ! Coba barang produk apa ygn sekarang Made in USA kecuali High Tech knowledge? Siapa dapat memberi tahu?
Mesin pembuat Chips didunia yang dipakai untuk Intel, AMD, Texas Instrument, Motorola, Apple Mac, Black Berry didunia ini hanya diproduksi oleh NIKON (Jepang) dan ASML (NEDERLAND), Chips nya hampir semua made in China, Taiwan, Textile made in India, Food: import dari South Amerika, Mobil dari Jepang yg diproduksi di US dan tidak diexpor ke Asia, hampir tdak da yg di expor ke Eropa karena boros2 dan pinggulnya lebar2 sehingga pakenya bensin juga banyak, cuma sedikit ke Asia.dan import dari Italy, Jerman: Ferarri, Mercedez, Porsche, Rolls Royce, Lamborghini, Audi/VW Boeing juga tidak tiap hari dapt order, saingan ama Airbus. Pernah ke Silicone Valley California? sekarang seperti kota hantu. AS itu masyarakat yg meng konsumsi bukan lagi mem produksi. Meski hutangnya buaanyak tetapi AS sendiri hampir tidak membayar satu senpun, karena pada hakekatnya yang membayar itu negara2 yg pake $$$ seperti China, Korea, Jepang, apalagi kalau $ maunya harus yg mulus, nggak boleh yang terlipat sebab harga tukar dikurangi (stupid standpoint) dilihat serie nya kalau ditukar: A.B.C.D segala seperti Indonesia. Negara2 ini ygn pada hakekatnya mencicil hutang2 AS sampe mencicil.
Europa? Meski ada mini krisis di gede-gedekan seperti Tsunami melanda benua yg mempunyai 500 juta penduduk, hutangnya kecil sekali, hasil produksi untuk diexport ada dan potensi pembeli di E.U, besar, inflasi rendah sekitar 2,5 % dan pengangguran RATA2 dibawah 10% kecuali Espanyol. Yunani, Ah negara2 ini sudah lama dihidupi oleh big brothers Jerman, Perancis, Nederland, Belgia, Luxemburg, Austria.
Jangan dilupakan: menurut S&P, Moody, IMF didunia ini hanya ada 14 negara yang mempunyai status AAA dalam bidang kredit dan 10 dari negara2 ini anggauta E.U. Selebihnya Canada, Norway, Jepang, Singapore.
Baca saja tulisan saya selanjutnya.