17 Agustus 1945 – 64 Tahun Yang Lalu

Anwari Doel Arnowo

 

13 Agustus 2009, 23:50

Sebelum dan setelah 17 Agustus 1945 saya melihat banyak para pemoeda berkumpul di kediaman ayah saya di jalan Genteng Kali, di paviljoen sebuah gedung yang lumayan besar setelah pindah dari rumah mungil bersejarah milik nenek ayah di Gang Genteng Arnowo, tepat di sebelah kanan Rumah Bupati yang waktu itu adalah Bapak Moesono. Di antara para pemoeda itu ada Soetomo yang sebelumnya dengan setia mengantar koran setiap terbit, ke rumah ayah saya, yang kemudian sekali dengan sebutan populer: Boeng Tomo dan sudah diakui sebagai pahlawan.

Ada seorang yang bernama Loekitaningsih yang berpakaian mirip seragam serdadu Jepang warna coklat, berjalan tegap dan membawa senapan laras panjang, seorang pemoedi yang cantik rupawan. Saya juga pernah melihat dia dari jarak dekat menembakkan senapannya ke udara. Saya amat terkejut dan bergetar hati saya karenanya. Ibu Loeki ini kemudian menjadi Nyonya dr. Irsan Radjamin bermukim di kota Palembang. Ada mas Hadi yang ganteng, yang berhasil medapatkan sebuah Jeep merek Willys dengan atap terbuka. Saya juga pernah diajaknya, tanpa ijin dan pengetahuan ayah ibu saya pada sekitar bulan Juli 1945, ke daerah Jembatan Merah jauh hari sebelum peristiwa Mallaby, ketika tiba-tiba terjadi banyak tembakan tidak menentu arah dan tujuannya, mas Hadi tergesa-gesa mengajak dan menarik tangan saya, kembali ke Jeepnya. Ada pak Kapten Wahab yang jalannya timpang karena cacat kakinya, teman ayah saya, sering bersama bepergian bersama ayah entah ke mana dan apa urusannya.

Saya sendiri meskipun masih anak kecil berumur 7 tahun, tetapi cara berpakaian mereka, para pemoeda pejoeang itu tidak saya lupakan.

Sebagian besar adalah mereka yang mengenakan pakaian sitaan dari pasukan Jepang yang dilucutinya, ada yang mengenakan hanya sepatu lars yang tingginya selutut, atau hanya memakai tali kulit melintang tergantung di sebelah bahu kanan dan melintang ke pinggang kiri di mana tergantung sebuah Katana (pedang Jepang yang panjang) yang terlihat kepanjangan, karena badannya malah lebih pendek dari badan serdadu Jepang. Ujung Katana ini akan lebih sering terseret dan menggesek tempat dia berdiri daripada tergantung di bahunya.

Bung Tomo juga seperti itu; seperti semua sudah maklum Boeng Tomo itu sosoknya juga pendek, tetapi di pinggang kanannya tergantung sepucuk pistol revolver. Malah ketika saya sudah duduk di SMP kelas tiga saja, tubuh saya sudah lebih tinggi dari Boeng Tomo. Boeng Tomo memiliki sinar mata yang tajam dan berwibawa, kalau memandang dengan langsung kita bisa terpesona dan kalah wibawa. Dia berpidato di RRI, setelah diijinkan oleh Ketoea KNIP Jawa Timoer Yang dijabat oleh Doel Arnowo, ayah saya, dengan berapi-api dan suara yang meggelegar.

Pidatonya selalu dimulai dan diakhiri dengan ritual yang sama. Lagu Tiger Shark, sebuah instrumental menggunakan Hawaiian Guitar yang beriama cepat dan menggugah semangat. Kata-kata pidatonya juga dimulai dan diakhiri dengan seruan Allahu Akbar sebanyak 3 kali dan kata salam nasional Merdeka berkali-kali. Di kemudian hari, setahun kemudian setelah Surabaya di duduki oleh Sekutu dia memasukkan kata-kata BERONTAK dalam banyak pidatoya di mana-mana, menggugah semangat kita berjuang berhadapan dengan Nica (Netherlands-Indies Civil Administration).

Saya juga melihat seseorang yang sedang memamerkan Katana yang berdarah dan, kata dia, itu adalah darah serdadu Jepang dari siapa dia rampas pedang Katana itu. Seorang Tokoh lain yang tidak terlupakan adalah Bu Dar Mortir, yang terkenal dengan Dapoer Oemoemnya. Pemoeda pejuang saat itu pasti mengenal tokoh yang berbadan subur dan jalannya seperti tokoh Semar itu, yang hampir selalu menyugi sirih di mulutnya.

Ada dr. Suwandi yang bekerja di Roemah Sakit Simpang (sekarang menjadi Surabaya Plaza di jalan Pemuda), juga menonjol menjadi salah satu tokoh. Saya juga sering melihat pak Djarot Soebijantoro yang kemudian menjadi anggota TNI AD berpangkat Letnan Kolonel.

Ayah sayapun termasuk yang sibuk, selaku Ketoea KNIP (Komite Nasional Indonesia Poesat) di JAWA TIMOER mengatur para pemoeda, berhubungan amat sering menggunakan telepon interlokal dengan pemerintah Poesat di Djakarta, dengan Bung Karno dan Mr.(Meester in de Rechten) Soebardjo (Menteri Luar Negeri) dan lain-lain.

Seorang India yang sudah lama menjadi saudagar jual beli kain di jalan Toenjoengan, bernama Kundan Das, juga sering bersama ayah saya, terutama setelah tentara Sekutu yang dipimpin oleh Tentara Inggris mendarat. Dalam perundingan-perundingan dengan Sekutu inilah peran pak Kundan amat berguna selaku penerjemah di samping ada juga Bapak Roeslan Abdulgani yang aktif berunding langsung di gedung Internatio di Jembatan Merah.

Kolonel Soengkono juga tokoh yang sering saya lihat bersama ayah saya ke sana kemari di dalam kota Soerabaia. Yang tidak jelas adalah apa peran drg. Moestopo, yang pangkatnya sering berganti-ganti seingat dan semau beliau sendiri. Hari ini beliau mengusung 4 bintang (dua di kiri dan dua di kanan) di atas kedua  pundaknya: Majoor Generaal, keesokan harinya menjadi Overste atau orang Jawa menyebut dengan kata Obrus (Letnan Kolonel). Kemudian sekali (1969 s/d 1972) saya bertetangga dengan Pak Aboe, yang lama ikut pak Moestopo, sebagai ajudan, sering di ajak ikut naik sebuah gerbong kereta api yang ditarik ke mana-mana.

Nah, pak Aboe ini yang masih Prajurit itu kadang-kadang diperintah memakai pangkat Kapten, karena beliau Bintang Dua jadi tidak pantas ajudannya berpangkat rendah. Saya kalau dekat dengan beliau beberapa kali terutama pada tahun 1952 sampai1955, sering bingung mengikuti arah (itupun kalau memang dianggap ada arahnya) pembicaraannya. Pak “Dokter Gigi” ini pada masa pasca G-30-S beliau berhasil mendirikan sebuah Universitas Kedokteran Gigi di Bandung. Universitasnya yang banyak meghasilkan dokter gigi yang terkenal ada di daerah Senayan, Jakarta, bernama: Universitas Drg. Moestopo (Beragama). Saya sampai sekarang tidak bisa berpkir dan juga tentu saja tidak bisa  mengerti apa hubungannya gigi dengan agama? Jadi amat terasa aneh namanya karena ditambahi dengan kata Beragama di belakangnya. Setelah dua puluh tahun lamanya pangkat beliau juga masih Majoor Generaal atau Djendral Major dan Mayor Jenderal.

Angka 64 dalam budaya Jawa dikenali dengan istilah delapan windu; satu windu berarti delapan tahun, dan seperti lazimnya orang Jawa maka angka yang bagus selalu dikutak- katik, dan 64 diberi julukan tumbuk windu, windu bertemu dengan windu, delapan dengan delapan. Angka delapan bagi budaya China juga berarti sesuatu yang ada kaitannya keberuntungan. Lihat saja nomor mobil di Hong Kong yang angkanya terdiri dari angka-angka delapan, harga mendapatkan nomor seperti itu semahal jutaan dollar. Seperti halnya orang China angka 64 maka untuk peringatan Hari Peringatan Proklamasi, kali ini saya kaitkan dengan harapan keberuntungan persis seperti budaya China dan saya mengharapkan segala kebahagiaan dan keberuntungan bagi negara dan juga bangsa dalam lingkup Republik Indonesia yang akan berusia 64 tahun, pada tanggal 17 Agustus 2009. Saya sungguh merasa kurang rela kalau negara kita ini masih saja terlalu amat jauh tertinggal dalam banyak kemajuan dan kondisi  kehidupan para warga-negaranya, apalagi bilamana  dibandingkan dengan negara-negara lain yang umur masa merdekanya kurang lebih sama panjangnya.

Bukankah negara yang kita kenal dengan nama Jepang dan Jerman, mengalami masa merdeka yang lamanya hampir bersamaan dengan kita, yakni setelah Perang Dunia Kedua usai? Ya mereka itu memang secara politik internasional terlihat lemah, akan tetapi etos serta kerapian kerja otak dan fisiknya tak tertandingi. Mereka telah menjadi raksasa ekonomi selama bertahun-tahun, terjadi pada tidak lama setelah merdeka.

Yang saya ingat sejak tahun 1945, negara kita telah mengalami banyak peristiwa dan didera dengan segala jenis penderitaan demi penderitaan dalam menjaga persatuan. Juga melakukan perlawanan atas agresi pemerintah belanda. Mengapa disebut agresi? Karena kita telah menyatakan dengan cara memproklamasikan kemerdekaan kita sejak tahun 1945 dan belanda masih memandang wilayah Nusantara ini sebagai jajahannya dan tidak mengakui proklamasi kita yang telah kita lakukan pada tanggal 17 Agustus 1945 !! Pengakuan belanda  terhadap peristiwa sakral bagi bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, sampai dengan hari ini, selama 64 tahun kemudian, masih belum juga mau mengakuinya.

Untuk mendalaminya anda bisa membuka Wikipedia dengan subject: Indonesian National Revolution. Khusus untuk hal ini, pada umur saya yang telah 70 tahun, telah ikut serta dalam melakukan demonstrasi dan protes di Kedutaan belanda, di jalan Rasuna Said, Jakarta pada tahun lalu. Saya tahu banyak orang Indonesia yang kurang atau malah tidak peduli dengan pengakuan dari pemerintah belanda ini.

Saya sebaliknya, sampai dengan suatu saat nanti belanda mau mengakui hari kemerdekaan itu saya akan tetap tidak mau berdamai dengan pemerintah belanda dan telah mempraktekkan protes pribadi saya sendiri: Tidak Mau Menginjakkan Kaki Saya di belanda. Saya juga akan selalu menulis belanda dimulai dengan huruf kecil. Saya sudah mengetahui dan mengalami ditertawakan dan diteriaki sebagai bertindak yang tidak akan ada artinya. Saya bisa menyatakan di sini: justru saya tidak akan menggubris mereka yang tidak sama pendiriannya dengan saya seperti itu. Pemerintah belanda itu adalah pemerintah zalim dan telah membunuhi saudara-saudara kita. Mereka yang menjadi korban itu bukan saja anggota APRI (Angkatan Perang RI). Mereka juga rakyat jelata, orang sipil yang tidak bersenjata. Ingatlah perang di Sulawesi Selatan dengan pembunuhnya bernama Westerling yang kejam dan masih dia lanjutkan lagi dengan peristiwa APRA di Bandung. Bersambung dengan peristiwa-peristiwa serupa, besar maupun kecil, di seluruh Indonesia, di Rawa Gedeh Jawa Barat tidak jauh dari Jakarta, lebih dari 400 orang dibantai begitu saja….

Menyangkut hal-hal seperti ini belanda hanya mengingat kekejaman Jerman di bawah Adolf Hittler dalam perang dunia kedua, tetapi tidak bisa mengingat kekejamannya sendiri di Indonesia, yang saya nilai lebih kejam dari Nazi. Mereka telah menerima permintaan maaf dari Jepang terhadap perlakuan pasukan pendudukan Jepang terhadap tawanan-tawanan warganegara belanda di Indonesia, akan tetapi ajaib sekali mereka (pemerintah belanda) sedikitpun tidak pernah berniat dengan tulus meminta maaf, atas tindakan mereka di Nusantara selama 350 tahun lamanya menjajah, sambil terus menerus tanpa henti mencuri (bukan berdagang) kekayaan Nusantara, dan menggunakan tenaga-tenaga kerja bangsa Nusantara yang dibayar amat murah, malah banyak sekali yang tidak dibayar sama sekali.

Saya duga pemerintah belanda itu amat takut kalau sampai mengakui sebagai agressor (karena mengakui 17 Agustus 1945 itulah akibatnya) maka akan ada susulan permintaan pampasan perang, itu baru untuk periode 17 Agustus 1945 sampai Penyerahan Kedaulatan 27 Desember 1949. Kalau dihitung sampai selama belanda melalui VOC dan para Gubernur Jenderalnya, maka akan mencapai berapa jumlah kompensasinya?? Saya menduga jumlah Pampasan (Reparation) akan mampu  memusnahkan seluruh kekayaan belanda, tak akan bersisa. Sekian besarnya dosa-dosanya. Silakan bandingkan dengan besarnya angka kompensasi Pemerintah Italia beberapa bulan lalu atas penjajahan di Libya yang dibayarkan kepada Libya. Billion of Dollars. Saya sendiri tidak tertarik dengan masalah War Reparation ini, yang saya minta justru hanya:

1.    Minta maaf atas segala kesalahan nenek moyangnya di area Nusantara yang dijajah dan dihisapnya sampai masa kemerdekaan Repoeblik Indonesia.

2.    Mengakui bahwa Repoeblik Indonesia itu berdiri pada tanggal 17 Agustus 1945. Bukan karena “dihadiahi” dengan penyerahan kedaulatan (27 Desember, 1949) versi belanda itu.

Kalau dua hal ini mau dikerjakan oleh pemerintah belanda dengan cara-cara diplomasi yang resmi, saya akan hentikan protes a la saya tersebut di atas.

Republik kita ini juga telah mengalami guncangan-guncangan terhadap upaya pecahnya persatuan dan kedaerahan serta isme-isme yang selama penjajahan belanda dahulu yang berada dalam kondisi yang rendah intensitasnya. Mereka muncul dalam isme komunistis, sosialis, dan juga agama yang ingin berperan di dalam pemerintahan resmi, padahal seharusnya kita mengisi kemerdekaan dengan positif sebagai warga negara tanpa memandang ras dan kepercyaan serta agamanya, juga isme politisnya. Mereka ini malah banyak ditunggangi oleh kepentingan yang  bukan sama sekali kepentingan langsung bagi negara dan bangsa Indonesia.

Pemberontakan demi pemberontakan kecil-kecil terjadi, tetapi telah merugikan rakyat dalam upaya mengisi kemerdekaan. Berkali-kali, puluhan kali, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno, tetapi tak satupun yang berhasil.

Beberapa granat tangan meledak, dan banyak kaki-kaki kecil mungil berlarian serta suara teriakan anak-anak yang luka  mejadikan jumlah mereka amat banyak sekali. Berpuluh-puluh korban luka-luka telah terjadi terhadap anak-anak murid Perguruan  Tjikini, Jakarta, tetapi Bung karno telah selamat, tidak cedera barang sedikitpun. Saya diberi masukan kejadian ini agak detil dari seorang korban luka langsung, yang sekarang sudah berusia mendekati 70 tahun, anak dari dr. Djamaluddin, berumah di Jalan Surabaya, tidak jauh dari tempat insiden itu terjadi.

Boeng Karno juga pernah ditembak langsung dari jarak kurang dari 10 meter, waktu sedang sembahyang Iedul Adha di Istana Negara. Meleset, tidak kena sama sekali.

Sungguh peristiwa yang menyedihkan hati kita, Bung Karno telah meninggalkan kita dengan cara yang amat menekan perasaan seluruh rakyat  seperti yang telah kita ketahui dan alami bersama.

Kita maklum bahwa hal-hal yang bukan semestinya telah terjadi selama 64 tahun di dalam arena percaturan politik, sikap hidup dan disiplin selaku warga negara Republik yang kita cintai ini. Disiplin hidup ini bukan hanya diharapkan dari rakyat jelata saja, tetapi justru dari para pimpinan yang duduk di tingkat pucuk pimpinan, sejak Presiden, para legislator di MPR dan DPR serta semua Lembaga Pemerintah lain serta siapapun yang secara rutin menerima penghasilan dan atau gaji dari uang pajak yang didapat dari segala kegiatan rakyat. Mereka membeli rokok, dan makanan serta minuman, bahkan air tanah serta udara yang masih kotor saja, juga dipajaki. Berjalan melalui jalan umum yang tidak aman juga membayar pajak. Kesehatan yang tidak dibayari oleh Negara saja, malah masih diperas lagi secara berlebihan oleh para pelaku pelayanan kesehatan.

Saya setuju dengan demokrasi yang sehat dan sekarang telah diwujudkan dengan upaya ke arah itu, meskipun masih banyak sekali kekurangan serta keteledoran baik sengaja maupun tidak, saya minta agar masalah politik tidak lagi menjadi menu harian media dalam memberitakannya kepada rakyat. Demikian juga dengan mengatur agar media itu segera meng-upgrade seluruh pelaku media agar berperilaku yang tidak akan merugikan rakyat banyak, seperti yang telah diberikan secara demonstratif sebagai tontonan harian selama ini.

Ajaklah mereka, rakyat Indonesia ke suasana bekerja keras dan gunakanlah kekuatan tenaga bekerja keras yang dimiliki seluruh lapisan rakyat pekerja, agar dapat menyumbangkan kondisi yang lebih baik kepada bangsanya  dan negaranya.

Bagi para pimpinan yang menguasai pemerintahan, terutama sekali yang sedang bertengkar atau tidak mempunyai ke-tidak-serasi-an dengan lawan politiknya atau dengan rekan sekerjanya, selesaikanlah secara langsung dan secara laki-laki atau secara wanita yang anggun dan mempunyai kehormatan harga diri. Jangan perbedaan yang ada mencuat ke media dan rakyat ikut  mengetaui, toh mereka tidak akan mampu berbuat apapun. Sekarang sudah ada sarananya: tele conference, email, sms, atau bertemu langsung di dalam ruang tertutup yang bebas penyadapan dan selesaikanlah. Jangan lagi-lagi menggunakan sarana berdemonstrasi yang anarkis, dengan menggunakan tangan orang lain untuk menempeleng. Langsung saja tempeleng sendiri, menggunakan tangan sendiri. Demi ketenangan kita  bernegara, itu bukan dosa. Melanggar undang-undang, mungkin, melanggar HAM, mungkin, tetapi bukan berdosa. Bukankah secara undang-undang dan HAM bisa deselesaikan prosesnya.

Beranikanlah diri menjauhi sikap pengecut yang selama ini, berpuluh-puluh tahun, telah dipamerkan secara nista.

Bangunlah Badannya 

Bangunlah Jiwanya

Untuk Indonesia Raya …

Anwari Doel Arnowo

13 Agustus, 2009

 

41 Comments to "17 Agustus 1945 – 64 Tahun Yang Lalu"

  1. suluh  1 September, 2011 at 17:03

    nuwun sewu …… adakah yang punya foto2 bapak doel arnowo bersama teman2nya semasa perjuangan di surabaya 10 november. seandainya ada bisa dikirim di email saya. sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.