[Cinta di Atas Awan] Suatu Ketika

HennieTriana Oberst – Jerman

 

Pesawat baru saja mengudara dan lampu tanda pemakaian sabuk pengaman baru saja padam. Penerbangan kali ini aku duduk di bangku pinggir dekat jendela. Posisi yang paling tak kusuka, apalagi kalau terbang jauh seperti ini, Hongkong – Vancouver yang biasa ditempuh sekitar 11 jam lamanya. Duduk di sebelahku sepasang suami istri umur pertengahan lima puluh, (ini hanya taksiranku saja). Pasangan yang sangat ramah dan bersahabat. Ah, paling nanti aku bisa bertanya kepada air crew yang bertugas, memohon untuk pindah duduk apabila ada bangku kosong yang memungkinkan. Aku hanya bisa bergumam dalam hati.

Hi, young lady, silakan ikut saya“, tiba-tiba aku mendengar suara seorang Pramugara yang kebetulan melintas. Aku menengadah mencari tahu untuk siapa kalimat tersebut ditujukan. Seorang lelaki bertubuh tinggi dan langsing yang kebetulan bertugas di penerbangan ini tersenyum ke arahku.

Aku?”, tanyuku tersenyum sambil menunjuk diriku sendiri.

Yup, benar kamu“, jawabnya dan menganggukkan kepalanya meyakinkanku.

Akupun beranjak dari kursi mengikuti si Pramugara, diiringi senyum pasangan di sebelahku. Mereka pasti merasa lega, paling tidak ada ruang sedikit di kursi kosong yang kutinggalkan yang bisa mereka bagi di perjalanan panjang ini.

Aku paling tidak suka kalau penumpang ditumpuk di satu barisan, sementara masih ada bangku kosong di tempat lain. Semua penumpang membayar sama, kenapa tempatnya mesti dibeda-bedakan“, lelaki manis tersebut menggerutu sendiri tapi tetap tersenyum sambil kemudian mempersilakanku duduk di barisan tengah yang memilik 4 bangku. Aku duduk di bangku kiri lorong dan bangku sebelahku kosong. Sementara di lorong kanan duduk seorang lelaki muda, dan bangku di sebelahnya juga kosong. Jadi masing-masing kami mendapat jatah dua bangku.

Alangkah baiknya di Pramugara ini, gumamku dalam hati. Aku kemudian mengucapkan terima kasih, dan berbisik kepadanya

Hey, aku terbang ini bisa dibilang gratis lho“.

Ah, tetap saja aku tak suka melihat penumpang berhimpit“, jawabnya sambil tetap tersenyum.

Diapun pamit, dan ternyata ia bertugas di kelas bisnis untuk penerbangan ini. Nasib penumpang kelas ekonomi sepertiku, mesti pasrah duduk di bangku sempit. Hanya kali ini jatah makanan yang aku terima adalah dari kelas bisnis. Si Pramugara rajin sekali main ke sekitar tempat dudukku, memperkenalkan dirinya dan berusaha mengobrol denganku tiap ada kesempatan.

Akhirnya seorang Pramugari membiarkannya melayaniku selama penerbangan tersebut. Lelaki yang bernama Marc itu memberikan kartu namanya dan memintaku menghubunginya kalau perlu apa-apa, jika aku berada di kotanya, Vancouver.

~~000~~ 

Penerbangan lanjutanku dari Vancouver adalah ke Edmonton, salah satu kota di provinsi Alberta. Aku akan mengunjungi salah satu teman dan mungkin hanya beberapa hari saja menginap di sana. Tak mungkin rasanya bisa berlama-lama di sana, setahuku Alberta adalah salah satu provinsi yang suhunya relatif dingin bagiku. Liburanku kali ini memang sengaja waktunya fleksibel, tak ada rencana istimewa, jadwal bisa aku rubah kapan saja. Aku hanya ingin jalan-jalan dan menjumpai teman-teman, dan seperti biasa aku terbang selalu sendiri. Keputusanku untuk berlibur sendiri adalah juga untuk mengatur waktu dan menghabiskan masa liburan dengan santai dan menyesuaikannya dengan keadaan hati dan keadaan kantong juga.

Aku pasti akan menghubungimu nanti di Vancouver, Marc“, kataku di sela-sela obrolan kami. Memang aku akan mampir ke Vancouver sebelum kembali ke tanah air nantinya, karena ada dua orang temanku yang akan aku kunjungi di sana.

Kapan kembali ke Hongkong?”, tanya Marc kemudian.

Begitu aku katakan jadwalku, dia langsung menyarankan terbang sesuai jadwal terbangnya ke Hongkong, jadi bisa terbang bersama lagi, begitu maksudnya.

Kalau aku terbang bersama dengan jadwal tugasmu, nanti aku duduk di kelas bisnis ya?” tanyaku sambil tersenyum.

Oh, itu sudah pasti“, jawabnya meyakinkanku.

Oke, aku setuju kalau begitu“, lanjutku kemudian sambil tertawa. Jadi waktu liburanku di Vancouver bisa lebih lama, ditambah ada tour guide gratis (tetap mencari peluang yang bagus dalam setiap hal).

Marc mengajakku menuju satu meja petugas penerbangan begitu mendarat di bandara Vancouver. Dia menyerahkan catatan jadwal terbangku dan memohon kepada wanita yang bertugas tersebut untuk mengubah tanggal keberangkatanku ke Hongkong.

~~ to be continued~~

127 Comments to "[Cinta di Atas Awan] Suatu Ketika"

  1. nevergiveupyo  11 November, 2011 at 11:32

    ketinggalan deh…..

  2. HennieTriana Oberst  21 August, 2011 at 19:26

    Meita, wadohhh…. virus yang satu itu memang harus diiringi kesabaran mencarinya. Nggak pake ketawa tapi pake senyum ya
    Nanti kalau sudah terjerat si virus yang istimewa itu baru deh kita rayakan dengan tertawa-tawa tentunya

    Pasti Lani setuju juga.

  3. Meitasari S  21 August, 2011 at 18:15

    lha piye to mbak heni n mb lani kok ra ngguyu, melihat n membaca para virus ber koment…. he he. trus kalo aku milih ada gak virus yg cakep baik hati n kaya n tentu saja mau ama aku??????(gak pake ketawa nih…

  4. Lani  19 August, 2011 at 21:34

    120 nah, semakin pinter aja kamu Meita……..disini mah banyak virus……..mau kulakan sgl macam virus ada dan sll tersedia……tinggal milih aja, mo ambil kursus yg mana? gurunya jg ber-beda2, tempat tinggalnya, mo ambil yg cowo ada, yg cewepun banyak…….ayo2…..monggo jgn ampe ketinggalan kereta…….dan jgn cm ngakak2 doank dunk………entar kaga mudenk loh

  5. HennieTriana Oberst  19 August, 2011 at 21:03

    Lani, wah aku selalu siap sedia kok.

    Meita, kamu siap nggak dilatih?
    Jangan kebanyakan ketawa sendiri ya hehehe

  6. HennieTriana Oberst  19 August, 2011 at 20:57

    Pams, lanjutannya…coming soon hehehe…

  7. HennieTriana Oberst  19 August, 2011 at 20:50

    Elnino, SU hahaha… beneran lho ntar si Itsmi datang dan ngejitak

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *