Seikat Mawar Ungu Untuk Bunda

Hilda Rumambi

 

Bunda,
Hari ini adalah hari peringatan perjuangan beribu-ribu, tidak..berlaksa-laksa,
bahkan berjuta-juta manusia
Untuk pembebasanmu yang telah berlangsung 66 tahun lamanya
Dan hari itu hadir lagi hari ini, Bunda.

Kembali diri ini terkenang
Segala daya raga, perjuangan penuh darah dan airmata
Dari seluruh anak-anak pembebas
Dari tanah-tanah
Dari pulau-pulau
Dari puak-puak
Yang tak mengenal satu sama lain
Berbeda zaman dan masa
Telah mereka lakukan dengan ikhlas dan rela
Demi membebaskanmu dari penjajahan, Bundaku
Seluruh cerita mereka tertulis dalam kitab-kitab perjuangan
Telah dibaca oleh anak cucumu sampai hari ini
Dikagum dan hormat oleh segenap rakyat dan dunia

Wahai Bunda, kuberikan seikat mawar ungu padamu hari ini
Dengan rasa hati penuh luka
Sepenuh-penuhnya menangis
Bersusah hati berlinang air mata…
Mendendang kidung lara nan nestapa
Untuk bundaku tercinta:

“…kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati
air matamu berlinang mas intanmu terkenang
hutan gunung sawah lautan simpanan kekayaan
kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa…”

……………………………………..

benar, Bunda sayang…
ini seikat mawar ungu tanda berduka,
karena melihat bunda menangis,
semua kekayaanmu, mas intan, hutan, gunung, sawah dan lautan
semuanya hampir punah dan habis
direnggut tikus-tikus kotor dan rakus
yang tidak pernah merasa kenyang…
mereka ada dimana saja Bunda
dari pulau-pulau,
dari desa-desa
sampai ke kota-kota
mereka telah menguasai rumah kita…

bundaku sayang…
seikat mawar ungu ini
kuberikan bagi bunda tanda lara
karena anak-anakmu disini mati kelaparan,
walau padimu berlimpah-limpah di lumbungmu
karena anak-anakmu tidak bisa melanjutkan sekolah,
walau ada aturan 9 tahun pendidikan gratis
karena anak-anakmu banyak yang mati sakit,
walau telah banyak dokter dan rumah-rumah sakit
karena pemimpin-pemimpinmu tidak punya hati
menjajah kembali anak-anakmu dengan mencuri uang mereka

ah Bunda…
6 pemimpin telah memimpin rumah ini
Namun kami tetap merasa tidak terbebaskan
Karena pemimpin yang tidak peduli
Dengan penderitaan anak-anakmu
Walau mereka telah berteriak-teriak hingga parau
Teruna-terunamu hampir setiap hari turun ke jalan
Untuk mengetuk hati nurani mereka
Namun mereka melenggang tak peduli
Dan berjalan seakan kami hanya seonggok daging tanpa jiwa
Dan kembali tikus tikus rakus itu menggerogoti kekayaanmu
Tanpa malu, berkongsi, bersekongkol, berkomplot…
Mencuri dan mencuri lagi…
Tanpa ampun….

Bunda,
Kuberikan seikat mawar ungu padamu
Tanda kami ikut merasakan pedih perih hatimu
Melihat hancurnya rumahmu perlahan-lahan
Pondasi sudah goyah,
Dinding-dinding dimakan lumut,
Lantaimu pun berdebu tak pernah disapu

Ah,
tiada lagi pemimpin yang mampu bangkit
Penuh keberanian,
penuh karisma,
penuh strategi jitu
dan menjadi panutan negeri

sampai kapan anak-anakmu harus berharap
akan datangnya hari pencerahan itu?
Dimana kami merasa benar-benar bebas merdeka
Dan nyaman tinggal di rumahmu
Sehat, sejahtera, adil dan makmur
Seperti impianmu dahulu pada saat membangun rumah ini

ya Bunda,
semoga Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sahrir dan Tan Malaka
mengampuni anak-anakmu, Bunda
karena tidak mampu menjaga rumahmu dan penghuninya dengan baik
dan tidak mampu menyenangkan hati Bunda…
sehingga hari ini, engkau harus menangis lagi

Maaf Bunda,
Terimalah seikat mawar ungu ini,
Untukmu, Bunda….

Dalam perenungan 66 tahun Indonesia Merdeka, 17 Agustus 2011
@hammer city untuk Bunda Pertiwi

 

 

30 Comments to "Seikat Mawar Ungu Untuk Bunda"

  1. Hilda  21 August, 2011 at 01:42

    halo mawar09
    makasih ya udah mampir di tulisanku ini, ya,kita semua yg ada di rumah Ibu Pertiwi ini memberikan bunga “mawar ungu” yg dalam penuh makna…sedalam kegelisahan dan kesedihan hati kita krn rumah yg tdk terawat lagi sekarang ini mbak Mawar…

    salam manis utkmu

  2. Mawar09  20 August, 2011 at 03:43

    Hilda : terima kasih ya untuk seikat mawar ungu nya. Ibunda Pertiwi pasti senang menerimanya, karena bunganya cantik. Salam kenal.

  3. Hilda  19 August, 2011 at 13:17

    hi Linda, wah ada ya?? keren sekali…
    jadi pengen sekali2 membelinya, aku menikmati bunga, tp gak bisa nanemnya aja hehehehe
    meskipun dulu wkt di Tentena mencoba menanam anggrek hutan, jadi siiih keren n bagus2 lg, eh pas pindah Palu, mati deh semuanya….kepanasan kali ya..

    lucu ya namanya…mawar belang, asal jgn deket2 hidung belang aja ya… hahahaa

  4. Linda Cheang  19 August, 2011 at 00:50

    Hilda, enggak usah jauh-jauh ke Belanda. Di Indonesia sudah ada jenis Mawar Belang yaitu hasil silangan mawar berbagai warna, dan hasilnya mawar yang kelopaknya belang-belang aneka warna ibarat pelangi : merah, kuning, hijau di langit yang biru dan di balik awan putih, hehehe. Aku menemukannya dulu bibitnya di jual di koperasi eks kantorku dulu, cuma sayang aku enggak beli saat itu karena waktu itu aku tidak ada cukup kesempatan untuk mengurus tanaman.

    Bibit Mawar Belang itu dijualnya mahal, karena jarang sekali ada mawar yang belang-belang

  5. Hilda  18 August, 2011 at 17:03

    @ Om Jack Sutopo.. : makasih udah mampir ya om..hehehe
    jauh2 dari Kompasiana datang berkunjung…
    teman2, si Om Jack ini tinggalnya di AS, namun sangat bangga dgn Indonesia-nya.. tulisan2nya tentang Indonesia sangat provokatif terutama ttg pemerintahan sekarang ini namun membangunkan spirit kita deh…

  6. Hilda  18 August, 2011 at 16:59

    Om Dj, iya om, saya tau juga kalo di negara2 barat sono yg namanya tanah air pasti fatherland hehehe..
    emang beda sih Indonesia ya om, dari dulu sudah dibilang Ibu Pertiwi…mengacu kepada feminin…malah seharusnya bangga dunk, Ibu Pertiwi menandakan perempuan mempunyai harkat yg tinggi, yg harus dibela dan diperjuangkan (tapi juga ternyata lemaaah sekali) dan disayangi…

    coba tuh om, kalo ada yg pahlawan atau orang penting yg meninggal pasti kata2nya begini, kami kembalikan beliau, sang pahlawan..ke haribaan Ibu Pertiwi….kalo maskulin jadinya Bapak Pratowo dunk ya…wkwkwkwk…jeleeek kedengerannya om…hahahaha

    salam dari Hammercity

  7. Hilda  18 August, 2011 at 16:53

    itsme dan JC, ya karena agama banyak orang berantem, bahkan antar negara pula…selalu isu agama dihembus2kan, tdk terkecuali di Indonesia..bukan agamanya utk ku yg peru dihapuskan melainkan sistem dalam negara dan ketegasan pemerintah aja…dulu seblm reformasi, jarang sekali kita konflik krn agama..
    saya waktu kecil pernah tinggal dlm satu desa dimana cuma keluarga kami sendiri yg agamanya berbeda, dan tdk pernah tetangga2 kami itu menyerang dan memusuhi kami, semuanya hdp toleran dan saling mengasihi…

    nah utk kesetaraan jender terutama perempuan, saya pikir bukan hanya karena agama saya cenderung lebih ke budaya…hrs diakui budaya kita di Indonesia adalah budaya patriaki, shg dimana2 akhirnya terjadi ketidaksetaraan jender spt yg Itsme katakan, tapi sudah ada kemajuan sekarang, di kota2 besar, sdh banyak perempuan bisa berkarir dan bekerja bersama2 suaminya…
    dlm tatanan budaya jawa dan budaya sulawesi misalnya, saya lihat perempuan sulawesi lebih bebas dalam mengekspresikan keinginan dan tindakan2nya tdk terlalu dikekang spt kebanyakan perempuan Jawa (apalagi yg dulu2… ooops…hehehe…

    dan yg saya tahu (dari temen2 yg pernah belajar ttg hal itu), di Amerika pun msh juga terjadi ketidak setaraan jender utk perempuan…meskipun scope-nya mungkin sdh berkurang.
    Saya pernah menulis artikel tentang jender ini di blog saya, kalo sempet mampir ya..hehehe
    http://tinutuanskaledo.wordpress.com/2011/06/10/kisah-mala-di-negeri-maya/

    menarik kata JC, apakah agama yg menyelamatkan kita? atau iman dan perbuatan kita di dunia ini? hehehe…
    refleksi yg mendalam ya?…

    waaah…jadi berat euy diskusinya ini….hehehe…agama, budaya…jender…Indonesia banged deh mslahnya

  8. Dj.  18 August, 2011 at 16:43

    Mbak Hilda…
    Terimakasih….!!!
    Kalau dalam bhs Jerman, negara itu bukan bunda , tapi malah banci dan bumi itu ibu.
    Orang menyebutnya ” DAS VATERLAND UND DIE MUTTER ERDE ”
    Karena Der Vater itu ( laki ) , tapi Das Land ( banci ) —-> Das Vaterland ( Maskulin bukan dan feminin juga bukan ).
    Maaf bukan mau nngajari, hanya sekedar sharing saja; mungkin jadi ingat pelajaran bhs Jerman dulu kan.

    Tapi kalau dalam bhs Indonesia, jujur Dj. baru sekarang dengar, negara disebut “bunda”.
    Terimakasih, jadi tau.
    Tapi kalau dari lagu ” Kulihat Ibu Pertiwi ” benar juga ya….

    Juga baru lihat ada mawar ungu, mudah-mudahan Mawarnya mas Iwan tidak dibikin ungu, kan kasihan.
    Salam manis dari Mainz.

  9. Itsmi  18 August, 2011 at 16:43

    Jc, surga itu bikin sendiri…. jadi saya sering menikmatinya….
    .

  10. Itsmi  18 August, 2011 at 16:41

    Hilda, kalau soal bunga di Belanda serba bisa, pokoknya kalau ada permintaan dari pasar, itu juga mereka buatkan, yang penting Euro, Mertua pun di jual hahahaha

    Bunga warna hitam pun ada…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.