Dalam Mihrab Cinta, kenapa tak ada jalan keluar?

Dinanda Nuswantara Buwana

 

Sebuah lagu yang dilantunkan oleh Afgan, betul betul  menyentuh kalbu.  Penghayatannya atas sebuah lagu, dan suaranya yang mempunyai timbre yang berbeda dengan penyanyi kebanyakan di negeri ini membuat lagu itu semakin berisi.  Dalam Mihrab Cinta, terdengar di telingaku dari Handphone yang  terhubung melalui sebuah Headset.

Lagu ini merupakan OST dari sebuah Filem dengan Judul yang sama dan diangkat dari Novel yang sama pula karya Penulis Novel  Islami  yang sohor dalam satu dekade ini, yaitu Habiburrahman El Shirazi, atau yang akrab disapa Kang Abik. Kang Abik memang jagonya sebagai penulis Novel  Islami dan mendapat respon yang luar biasa dari khalayak.  Judul-judul  novelnya kebanyakan mempertautkan antara Terminologi  keislaman dengan kata Cinta. Sebut saja Novel  Ayat-ayat Cinta, yang mana  OST beserta Filem layar lebarnya sangat fenomenal dan  meledak di pasaran. Selanjutnya Novel  Ketika Cinta Bertasbih, Di Atas Sajadah Cinta,  dan Takbir Cinta Zahrana. Terminologi keislaman pada judul-judul itu seakan-akan untuk memperkukuh bahwa ini adalah Novel Islami, dan bukan Novel Cinta picisan.

Ketika teman-temanku menyanyikan lagu Dalam Mihrab Cinta, aku sempat bertanya pada mereka apakah tahu artinya Mihrab?  Sebagian mengetahuinya , tapi banyak juga yang tidak. Mihrab atau Maharib (dalam bentuk Jamak) adalah   sebuah cekungan kecil yang berada pada bagian depan bangunan Masjid, Mushola, atau Surau.  Cekungan kecil ini menjadi pemandu  arah kiblat sekaligus tempat Imam memimpin Sholat berjama’ah, juga sekaligus tempat meletakan Mimbar.  Jika dilihat dari luar, maka Mihrab akan terlihat seperti bagian yang menjorok keluar dari bagian utama bangunan.

Alih-alih menghayutkanku pada erotika cinta, lagu  Dalam Mihrab Cinta-nya Afgan  justru membawaku melayang pada  sosok seorang guru mengaji di pinggiran sebuah Kota di Kalimantan, dan tentu saja  beserta sebagian kenangan masa kanak-kanak di sana.

***

Sebuah Langgar di seberang jalan Kompleks perumahan tempat tinggalku,  Jalan itu adalah jalan Trans Kalimantan, dengan kanal di sebelah kanan, dan kirinya.   Artinya antara Langgar  dan rumahku dihubungkan oleh dua buah jembatan. Langgar itu berupa bangunan  berdimensi  5m x 5m, dengan konstruksi pondasi berupa panggung, seperti halnya bangunan-bangunan lain di daerah rawa pasang surut ini. Tiang-tiang panggung dan lantainya adalah kayu Ulin atau kayu Borneo (Afzelia bijuga), dari celah lantai, aku dan teman-teman bisa megintip ikan-ikan yang berenang pada bagian kolong masjid, karena bagian kolongnya adalah air. Adapun atap Langgar  berupa sirap yang berbahan kayu Borneo juga, sedangkan dindingnya adalah papan dari kayu Ramin  (Gonystylus bancanus) dengan 4 buah jendela jalusi  yang besar-besar.

Selain sering diajak Sholat berjamaah oleh bapak, aku juga belajar mengaji di Langgar itu setiap sore, 3 kali sepekan.  Aktivitas itu dimulai saat aku sudah duduk dibangku kelas III SD. Guru mengajiku bernama Pak Usup, nama sebenarnya sih Yusuf Asnawi.  Seorang ustadz kampung, yang juga sekaligus sebagai kaum, penampilannya bersahaja,  berpeci hitam, memakai sarung, berkaos oblong putih  cap Cabe dan ditimpah baju kampret, seperti yang biasa dikenakan para petani.  Jaman itu memang belum ada trend busana muslim seperti Kopiah beraneka corak, Baju Koko beraneka model, ataupun Gamis yang sering kita liat dikenakan oleh para da’i ataupun ustadz beken di layar Televisi sekarang ini, yang kemudian busana-busana itu menjadi trendsetter, dan menjadi mode-mode yang dicari di pusat perbelanjaan.

Pak Usup dengan tekun mengajari kami mulai dari Alip-alipan . Pada masa itu belum ada sistem Iqro sebagai metoda belajar membaca huruf Arab seperti jaman sekarang. Selain mengajar mengaji , dia juga memberi kami pengetahuan agama lainnya, walau dia tidak menerima bayaran sama sekali.

Oh iya, aku rupanya belum tuntas menceritakan tentang keadaan Langgar itu. Langgar itu mempunyai Mihrab yang pada bagian kirinya ada sebuah pintu yang tak pernah terkunci, jika kita keluar melewati pintu itu, maka kita akan menemui titian kayu yang menghubungkan kita ke sebuah batang, dan juga bagian pintu masuk  Langgar.

Saat itu aku sudah menginjak kelas VI SD. Suatu sore saat usai mengaji aku beranikan diri untuk  bertanya  pada pak Usup tentang fungsi pintu keluar itu.

Itu lawang gasan Imam kaluar amun inya batal, Nda ay” Jawabnya.

(itu pintu untuk Imam keluar kalau dia batal)

Jadi menurut pak Usup, jika seorang Imam ketika sedang memimpin sholat berjamaah batal wudhunya, atau mungkin dia kepingin buang hajat, maka dia dapat keluar lewat pintu itu dan posisinya akan digantikan oleh salah seorang ma’mum di belakangnya. Imam yang batal itu kemudian melewati titian untuk menuju  batang, (lalu buang hajat jika memang kebelet), berwudhu, dan kembali bergabung dalam sholat berjamaah tapi posisinya sebagai ma’mum dan bukan sebagai Imam lagi.

Seingatku, sepanjang  melakukan perjalanan di berbagai Kota-kota di pulau Jawa, Baik kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, juga kota-kota kecil seperti Sumedang, Sukabumi, Purwerejo, Banyuwangi, dan juga selama berdomisili di Bandung, jarang sekali aku  menemukan Mihrab dengan pintu keluar seperti itu . Memang kadang ada pintu di sebelah kiri atau kanan Mihrab, tapi itu menuju ruangan sound system, atau  juga gudang tempat menyimpan gulungan karpet dan sajadah.

Rupanya tidak itu saja penjelasan pak Usup,

Imam tu pamimpin kalo, ma’mum tu rakyatnya jar”.

(Imam itu sebagai pemimpin kan, dan ma’mum itu adalah rakyatnya)

Iya betul, analoginya adalah Jika sholat berjamaah adalah suatu periode kepemimpinan, maka imam sebagai pemimpin,  dan ma’mum adalah rakyatnya. Jika seorang pemimpin itu, baik dalam lingkup yang kecil, misalnya sebuah organisasi masyarakat, lembaga, maupun lingkup yang besar seperti pemerintahan, batal dalam periode kepemimpinannya, maka dia dipersilahkan untuk keluar melalui pintu itu, kembali bersuci dengan berwudhu, dan bergabung kembali sebagai rakyat atau anggota biasa. Dia harus sukarela posisinya diganti, agar roda organisasi atau pemerintahan tetap berjalan.

Tidak terbayang jika Mihrab tanpa pintu keluar. Apakah sebelum memimpin sholat seorang  Imam yakin bahwa dia tidak akan batal? Lalu jika ternyata dia batal, apakah dia langsung saja menabrak barisan ma’mum dibelakangnya? Atau yang lebih parah jika Imam itu kentut, dan mihrab itu tak ada pintu keluar. Mungkin saja Imam itu akan berpura-pura tidak batal, sampai menyelesaikan roka’at Sholat. Sementara bau kentut itu sudah menyebar kemana-mana, dan ma’mum tak mungkin menutup hidungnya.

***

Suara khas Afgan begitu syahdu dan menyentuh….., Bagian akhir syair lagu Dalam Mihrab Cinta kembali menggiringku ke masa sekarang, meninggalkan indahnya masa kecil di Banjarmasin.

 

# Suatu hari kau kan mengerti

Siapa yang paling mencintai

Dalam Mihrab Cinta ku berdoa’a padaNya

Semoga, semoga.

 

Kampoeng  Srempet, Bogor Agustus 2011

 

Keterangan :

Batal:                    Batal disini bukan berarti cancel, atau tidak jadi, tapi tidak dalam keadaan sah untuk melanjutkan ibadah.

Batang:                Dermaga kecil di pinggir sungai atau kanal, tempat menambatkan perahu, sekaligus juga berfungsi sebagai tempat mandi, mencuci, dan berwudhu.

Kaum    :               Merbot. Penjaga dan pengurus kebersihan masjid/Mushola .

Langgar:              Masjid kecil, klasifikasinya sama dengan Surau, Tajug, atau Musholla.

 

9 Comments to "Dalam Mihrab Cinta, kenapa tak ada jalan keluar?"

  1. ilhampst  23 August, 2011 at 14:44

    Apa hukumnya sembahyang di langgar?
    Coba tanya sama orang yang berbahasa Banjar. Jawabnya bisa lain-lain. Malah OOT

    Yang saya heran koq kalo sholat taraweh pada ngebut ya rata2? Malah jadi capek jadi makmumnya.
    Gak kalah cepat sama taksi Banjar-Hulu Sungai

  2. dinanda  21 August, 2011 at 20:31

    Hehehe sebenarnya tulisan ini tidak membahas dunia filem atau persinetronan….,hanya tentang Serpihan kenangan masa kanak-kanak di Daerah Rawa, Pemimpin yang kentut dan tentang jalan Keluar…
    @Paspampres : Betul Sebaiknya Tontonan juga bisa jadi tuntunan, bukan hanya menjual Mimipi….,(sesama Gunners kah?? )
    @Moken : Sami-sami, hanya berbgai pengetahuan …
    @Mas Handoko : sama-sama, Betul sekali….,padahal banyak Pemimpin/imam yang batal dan ya? hehehehe
    @Mas Inakawa : Terimakasih pujiannya, Do’kan juga saya ya,,,, syukurlah kalo bertambah pengetahuan dan wawasan tentang Mihrab. Salam sejuk Juga…
    @Mbak Daisy; Waj kualat tuch guru/Ustadz kok dibilang Marmoot, buru-buru minta Ampun tuh, heheheh
    @Mas JC : Sebenarnya artikel ini bukan tentanf Sinetron kok…, tapi tentang pemimpin yang kentut… \
    @Mas Sumonggo : yup bethul pisan …., Malah jadi Lebay dan terbawa arus dan irama beliau jawara sinetron ya?beda sama produksi Bang Jack, eh Bang deddy….Achmad Zakaria….

  3. Sumonggo  20 August, 2011 at 09:20

    Habiburrahman El Shirazi, saat di novel bagus, film layar lebar bagus. Sayang, tergoda untuk di-sinetronkan. Novel yang bagus, setelah dibuat sinetron, malah terbawa dengan genre sinetron ala Punjabi, yang dipenuhi adegan lebay. Mungkin perlu belajar pada Deddy Mizwar (Kiamat sudah dekat, Para pencari Tuhan), bagaimana membuat tayangan religi tanpa keberatan simbol religi.

  4. J C  20 August, 2011 at 08:31

    Terima kasih artikelnya, jadi sedikit tahu sinetron ini…

  5. Daisy  19 August, 2011 at 16:13

    Jadi teringat juga pada guru ngajiku waktu kecil (jaman TK-SD). Namanya Ustad Mahmud, tapi aku sering nggodain beliau dengan memanggilnya Ustad Marmut (marmut = hewan kayak kelinci itu lho… )

    Pengen banget ketemu beliau lagi, tapi nggak tahu sekarang dimana…

  6. EA.Inakawa  19 August, 2011 at 14:35

    Dinanda : Terima kasih sudah berbagi kisah yang menggiring saya juga mengingat masa kecil dikampung halaman,artikelnya bagus,tentang Mihrab saya juga baru tau kalau itu namanya…..salam sejuk

  7. Handoko Widagdo  19 August, 2011 at 10:26

    DNB, thanks untuk sharingnya. Kita perlu bangga sebagai negeri dengan penduduk Islam terbesar di dunia. namun sayangnya, nilai-nilai Islami belum sepenuhnya dipakai oleh para pemimpin kita.

  8. T.Moken  19 August, 2011 at 10:07

    Sekarang saya tahu bahwa itu namanya Mihrab. Thanks DNB sudah sharing artikelnya.

  9. [email protected]  19 August, 2011 at 09:15

    andaikan… andaikan….
    sinetron indonesia itu bisa merakyat seperti ini, gak perlu menebarkan kebencian, kemarahan, kemewahan…

    ahhh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.