Merantau

Edy Harjito

 

Nasihat Iman Syafei ra:

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tidak akan mengenai sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa, jika di dalam hutan

 

Sebelum merantau ke timur tengah, saya tidak mengetahui nasihat Imam Syafei ini, tidak sengaja saya membacanya dari status teman di FB. Padahal dulu banyak mengkaji kitab-kitabnya Imam tersebut. Ya tentu saja, sebagihan besar umat Islam di dunia ini mengikuti madzab imam tsb.

Cukup lama saya tercenung dengan kalimat kalimat tersebut, ingatan saya jadi melayang ke masa lalu yang telah berpindah pindah dari kota, desa, negara lain. Bertemu denagn berbagai macam orang, budayanya, bahasanya, standardnya, dari yang marah bila terpegang kepalanya sampai mau bunuh-bunuhan gara-gara tersenggol pantat nya atau pundaknya. Dari perbenturan budaya tersebut makin membuat kaya pengetahuan, social life, empaty , humor, dll nya.

(by: Lauren Manning)

Secara tidak sengaja karena terbentur keadaan, takdir pastinya, saya telah dan sedang mengikuti nasihat nasihat Imam tersebut, menghabiskan masa kecil di desa gunung berkapur di Wonogiri sana, masa remaja di metropolitan Jakarta, hingga merasakan pahit getirnya sekolah di kota nya bulek Probo Jogja, setelah itu merantau ke ujung barat pulau Jawa, selanjutnya merintis karir di kota baja tersebut, lalu berpindah ke Timur Tengah, Qatar.

Sempat semangat aplikasi RP ke OZ, bayar initial fee dan ikut presentasi berbagai agent, namun urung karena terbelalak melihat potongan pajak di gaji. Akhirnya 2 bulan ke depan memilih kembali ke bumi pertiwi, tapi tidak akan berleha-leha, tetap mau produktif berkarya, menularkan pengalaman ke generasi penerus. Memilih bersama-sama kembali dengan keluarga besar. Walaupun melihat kondisi tanah air yang carut marut, kriminalitas yang tinggi, lalu lintas yang semrawut, listrik yang byar pet, intrik politik yang membuat geram di hati, dll nya. Hal itu semua tidaklah sepadan dengan kebahagiaan bertemu keluarga. Saya tidak tau apakah ini perantauan terakhir saya. Rezeki adalah rahasia Allah, seperti halnya jodoh, lahir dan mati; tidaklah menutup kemungkinan saya melanglang buana lagi.

Selama merantau mendapat saya mendapat pengganti kerabat dan kawan di tiap kota, persis seperti dalam nasihat tersebut. Bisa merasakan dingin nya cuaca padang pasir di kala winter yang terkadang mencapai 2 derajat, hanya bermandikan cahaya bintang, bisa merasakan panasnya matahari yang mencapai 53 derajat di kala musim panas, serta bermandikan keringat di kala peralihan cuaca, walau sekedar berlalu di luar rumah.

Pengalaman merantau saya tidak lah berlebihan dibanding para Baltyrans dan Baltyrawati di sini yang merantau kemana-mana, seperti pak Djoko yang berpuluh-puluh tahun tinggal di Mainz, Dewi yang merantau ke negri samba, bu Nunuk di Holand, jeng Lani di Jerman/Hawaii, mbak Dedushka yang harus berpuasa lebih dari 20 jam, dan bahkan malah ada yang tinggal di Alaska sana, tempat buangan para pejabat Amerika yang nakal, yang harus menggali tumpukan salju di jalanan ke rumah nya, yang harus memakai baju berlapis-lapis sebelum keluar rumah, dll nya.

Berbahagialah dan banggalah yang bisa merantau, kalian tidak merugi walau harus merasakan pahit getirnya kehidupan, harus mengalami gegar budaya. Mari tularkan ke anak cucu kita untuk gemar merantau, bekali mereka kemampuan berbahasa dan berinteraksi yang fleksibel, yang mudah beradaptasi, yang open minded.

Buat yang belum merasa merantau, merantaulah hehehehehe.

 

Berikut photo-photo para TKI/TKW

 

TKW Hong Kong di akhir pekan (Saya jepret di Victoria Park). Saya yakin mereka tidaklah saling kenal sebelum nya, di sana mereka bak saudara hubungannya.

 

TKI di gurun Qatar saking rindu nya bersepeda di tengah badai pasir (Saya motret nya sambel merem daripada klilipan pasir).

 

Kepater di gurun yang habis tergenang air laut, pengalaman yang hanya bisa diperoleh bila merantau.

 

Akhirnya mari nikmati indahnya sunset di tepi pantai gurun.

 

Rgds, Edy

 

 

31 Comments to "Merantau"

  1. ilhampst  24 August, 2011 at 16:50

    Saya baru 11 tahun merantau. Masih di Indonesia sih, tapi lumayan sebagai awal melangkahkan kaki ke tempat yang lebih menantang lagi

    Terimakasih sudah berbagi cerita Mas Edy

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.