Tengah Malam Ini Aku Ingin Bercerita Kepadamu (Lagi)

Fahri Asiza

 

Tiba-tiba saja aku ingin bercerita padamu lagi, Kawan… tentang si anak manusia yang malam ini tak bisa memejamkan matanya. Ya, tentang si anak manusia.

Cerita ini kumulai dari kejadian sekitar 25 tahun yang lalu, ya 25 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1986. Pada saat si anak manusia itu duduk di bangku SMA, setelah pindah dari sebuah sekolah di daerah Minangkabau. Kepindahannya itu ternyata membawa berkah yang cukup panjang. Dia pun akhirnya bersekolah di sebuah SMA Negeri di bilangan Jakarta Pusat.

Sejak duduk di bangku kelas satu SMP, anak manusia ini sudah gemar menulis cerita pendek dan kebetulan sebuah cerita pendeknya pernah dimuat di harian Suara Karya, ya saat dia duduk di bangku SMP. Lalu ketika dia duduk di bangku SMA, dia mulai memberanikan diri menulis sebuah novel. Novel itu jadi hanya dalam waktu tiga hari, dengan hasil ketikan mempergunakan mesin tik bermerk Royal. Novel yang diarahkan untuk anak-anak.

Meski bersekolah di bilangan Jakarta Pusat, dia tak pernah sadar, kalau di belakang sekolahnya ada sebuah penerbit besar (Gramedia) yang banyak menerbitkan karya-karya penulis ternama. Karena tidak mengetahui hal itu, draft novel itu pun dikirimkannya melalui pos.

Setelah satu bulan (kira-kira), ada jawaban yang menggembirakan dari penerbit, bahwa novel itu akan diterbitkan dengan harus mengoreksi dua halaman saja. Dia ingat betul, yang harus dikoreksi itu halaman 47 dan halaman 63. Ketika dia diminta datang ke penerbit, dia terkejut karena penerbit itu tepat berada di belakang sekolahnya. Lepas sekolah dan masih berseragam, dia datang ke penerbit itu dan berjumpa dengan seorang wanita yang ramah, baik hati dan selalu diingatnya, (almarhumah) Mbak Listiana.

Kontrak pun didapat dan uang muka sebesar 20% (kalau tidak salah) berhasil dikantonginya. Namun yang hingga saat ini tak dimengertinya, sebuah penerbit besar, mau menerbitkan sebuah novel karya seorang anak SMA, yang seiingatnya ketika datang ke sana, celana seragamnya ada tempelan tensoplast di bagian belakang.

Betapa besar anugerah itu. Dari sana atas kebaikan Mbak Listiana, si anak manusia itu diberi kesempatan untuk menjadi korektor dari para penulis besar. Honornya pun besar, Rp 22.000 (bayangkan, 25 tahun yang lalu). Semangatnya pun kian membara, hingga tanpa disadarinya cerpen-cerpennya pun menghiasi surat kabar dan majalah.

Ada hal lain yang diingatnya, anak manusia ini enggan untuk masuk pada sebuah komunitas kepenulisan. Saat itu dia berpikir, bila dia masuk ke sebuah komunitas, namanya akan didongkrak oleh orang-orang dalam komunitas itu dan saat itu entah kenapa sangat tidak nyaman untuknya. Hingga dia tetap bersolo karier dalam menjalankan semangatnya menjadi seorang penulis.

Tapi sempat pula dia tergugah dengan Kelompok Poci, sebuah kelompok yang saat itu bermarkas di Bulungan. Karena tetap enggan masuk ke dalam komunitas, dia pun membentuk kelompok sendiri. Bernama Kelompok Jingga, yang hanya hidup dua bulan dan beranggotakan hanya empat orang. Kelompok Jingga tamat tanpa pernah menghasilkan karya.

Ketika dia duduk di bangku kuliah, dia pun mengirimkan noveletnya ke penerbit Aries Lima, yang digawangi oleh Bang Foeza Hutabarat. Uang Rp 150.000 didapatkannya dari perjanjian novelet itu akan diterbitkan dalam bentuk buku saku. Tapi uang sudah habis, novelet itu tak pernah terbit hingga saat ini.

Namun semangat anak muda ini terus bergerak. Anak muda itu tau, untuk berkenalan dengan seorang penulis besar saat itu begitu susahnya. Nama-nama besar itu seolah begitu angker, berbeda dengan sekarang, hanya melalui fesbuk, siapa pun bisa menjadi teman dan ngobrol dengan para penulis besar.

Alhamdulillah, seorang ayah yang baik, seorang penulis besar bernama Kurnia Usman (K. Usman) mau membimbingnya menjadi penulis. Dia selalu mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya itu dalam bidang tulis menulis. Dan untuk gagah-gagahan, dia pun menulis puisi yang banyak dimuat di majalah dan surat kabar. Suatu ketika, entah tahun berapa, saat itu ada meeting di PDS HB Jassin. Kebetulan datang seorang sastrawan Korrie Layun Rampan pada acara itu. Si anak muda ini pun dengan semangatnya menulis sebuah puisi dan memberikannya kepada Pak Korrie dengan harapan akan mendapatkan pujian. Tapi Pak Korrie hanya tertawa dan bilang, “Ini bukan puisi.”

Astaga! Si anak muda tercengang mendengarnya, tapi itu justru mencambuknya menjadi semangat yang berlipat ganda. Dari Pak Korrie dia banyak mendapatkan pembelajaran tentang sastra, khususnya puisi.

Dua nama besar itu, K. Usman dan Korrie Layun Rampan, benar-benar hidup dalam pikirannya. Anak manusia itu ingin menjadi seperti mereka. Alhamdulillah, kedua penulis besar yang sangat dihormati anak manusia itu, banyak memberikan pembelajaran, terutama langsung dari karya-karya mereka.

Anak manusia itu pun menuntut ilmu dari sastrawan angkatan 66, almarhum Mansur Samin yang terkenal dengan puisinya berjudul “Perlawanan.” Dia sering menginap di rumah beliau. Meski sebenarnya lebih banyak untuk bermain-main saja. Lalu satu pagi, ketika si anak manusia sedang menginap di sana, pintu digedor keras menyusul teriakan beliau, “Janganlah kalian dibangunkan oleh matahari, tapi mataharilah yang harus kalian bangunkan!”

Kesadaran demi kesadaran kian bertumbuhan. Kata-kata itu masih diingatnya hingga saat ini. Dan si anak manusia akhirnya mulai berdiri lagi, kembali pada tujuannya semula, kembali pada niat asalnya untuk menjadi seorang penulis, baik itu cerpen, novel atau pun puisi.

Mengapa aku ingin menceritakan perihal anak manusia ini pada kalian? Karena, sungguh, di era fesbuk ini seharusnya kalian bisa dengan mudah menimba ilmu dari para penulis besar. Kalian bisa untuk berteguh dan tak gampang marah ketika sebuah tulisan dikritik. Tak gampang ngambek lantas memutuskan pertemanan ketika karya kalian didedel habis-habisan. Kita sering makan tempe, tapi semangat kita bukan semangat tempe. Era fesbuk memberikan kegairahan tersendiri bagi para penulis pemula. Bahkan si anak manusia yang telah dua kali meninggalkan dunia kepenulisan (tahun 1997 – 2003) dan (tahun 2007-2009) kembali untuk menulis lagi, belajar lagi, belajar lagi dan belajar lagi.

Pada kembalinya si anak muda ke dunia penulisan yang pertama, tahun 2003, setelah dia tergugah membaca kumcer Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa. Dia sungguh malu pada dirinya, dengan apa-apa yang selama ini ditulisnya. Melalui tiga sahabatnya, Boim Lebon, Gol A Gong dan Ahmad Mabruri, dia mengenal sebuah komunitas kepenulisan Forum Lingkar Pena (FLP). Kalau dulu dia enggan untuk masuk pada sebuah komunitas penulis, justru dia sangat ingin bisa bergabung. Alhamdulillah, dia pun akhirnya bergabung dan mendapat kehormatan sebagai anggota Majellis Penulis FLP pada era kepemimpinan M. Irfan Hidayatullah.

Ya, hanya itu yang kini aku ceritakan pada kalian, karena entah kenapa, ingatan pada Mbak Listiana, K. Usman, Korrie Layun Rampan dan Mansur Samin begitu besar malam ini. Ada kerinduan besar ingin berjumpa lagi dengan mereka, kembali menikmati masa-masa dulu ketika “bermanja” dalam pembelajaran. Mudah-mudahan, Ayah K Usman dan Pak Korrie Layun Rampan, masih ingat padanya.

Maaf bila ada kata atau cara berpikir yang salah, karena ini hanya sebuah cerita saja.

Tak lebih.

 

“Janganlah kalian dibangunkan matahari, tapi matahari yang harus kalian bangunkan.”

 

Mutiara Duta

8 Agustus pukul 24.20 WIB

Inilah karya pertamanya ketika dia duduk di bangku SMA

 

 

6 Comments to "Tengah Malam Ini Aku Ingin Bercerita Kepadamu (Lagi)"

  1. taufikul  24 August, 2011 at 13:19

    DA: Huehehehe, di sini aja… hanya sibuk nulis u yg lain. nanti deh nulis lagi di sini …

  2. Dewi Aichi  22 August, 2011 at 08:51

    mas Fahri…..seneng, saya jadi tau sedikit sejarah ini he he…salam selalu untuk istri yang selalu cantik.

  3. Dewi Aichi  22 August, 2011 at 08:50

    Taufikul….ke mana ajaaaa??? mana nih tulisannya?

  4. Dewi Aichi  22 August, 2011 at 08:49

    Ya ampun…mas JC, malah sudah mengenal tulisan mas Fahri dari dulu ya…siapa sangka sekarang tulisan-tulisan mas Fahri bisa dibaca di baltyra…..senengnyaaa…

  5. taufikul  21 August, 2011 at 14:16

    Halo, assalamualaikum ^^ ikut baca ya… lama tidak ke sini.

  6. J C  21 August, 2011 at 09:33

    Mas Fahri, ternyata buku di masa kecil yang aku baca adalah salah satu kontributor Baltyra sekarang. Selain buku ini aku juga suka serial Noni dari Bung Smas. Yang Noni ini sangat suka karena setting’nya adalah kota Semarang…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.