Anggur, Kisahku…

Linda Cheang – Bandung

 

Anggur.

Apa yang terpikirkan dari sebuah kata tersebut?

Buah anggur merah dan hijau yang rasanya manis sedikit asam namun segar atau anggur berupa minuman berkadar alkohol tertentu yang disajikan berpasangan dengan makanan tertentu pula atau diminum begitu saja, disebut wine. Sebuah lagu berjudul Bila Kau Seorang Diri, ataukah Opus 333 walza Wien, Weib und Gesang karya Johann Strauss II yang memang enak didengar sambil membayangkan menarikan walza mengitari ruang dansa? Ataukah pula sebuah adagio *) yang menyatakan “Who loves not wine, women and song remains a fool his whole life long.” , meski saya tidak terlalu setuju dengan adagio tersebut.

Kutuliskan tentang anggur ini sebagai “nota protesku” atas pendapat-pendapat menghakimi dari beberapa rekan di suatu komunitas mengenai angggur, yang intinya menyampaikan bahwa menikmati anggur adalah sebuah “kesalahan” alias dosa.

Kisahku dengan anggur yang benar-benar wine dimulai ketika seorang rekan mengajakku makan malam di sebah tempat yang memiliki wine cellar ‘) sambil mencicipi sebotol kecil anggur merah dari jenis Merlot, karena saat itu tiada tersedia Cabernet Suvignon. Sebelum perjumpaan dengan wine, aku hanya tahu anggur “wine” berupa minuman yang dibuat dari jus buah anggur dari merek sirup tertentu yang diberi sdikit Wincarnis untuk mengadakan kadar alkoholnya diminum sebulan sekali di satu acara sakremane perjamuan kudus di gereja. Selain “wine” itu, aku hanya tahu “wine” China berupa jiu merek tertentu yang berupa minuman kaleng bergambar buah anggur putih. Itupun aku meminumnya beberapa tahun lebih awal dari usia 18 tahun, usia yang diperbolehkan untuk menikmati minuman beralkohol.

Pengalaman dari perjumpaan pertama dengan si wine tersebut? Rupanya menuangkan anggur ke gelas tidakah seperti menuangkan air mineral botol yang langsung tuang, tetap ada tekniknya. Meminumnya pun harus pakai tata cara “ningrat”, wine yang tertuang di dalam gelas harus diputar dulu untuk mengetahui banyak tidaknya kadar gula di dalamnya, kemudian hirup dulu harumnya, teguk pelan-pelan dan kulum dulu tegukan anggurnya di lidah untuk mencecap rasanya sebelum ditelan. Saat itu aku berpikir, alangkah ribetnya minuman ini, lha, harumnya saja mirip arak ketan hitam yang kelewat matang dari proses fermentasi, tapi minumnya harus pakai gaya a la aristokrat begitu? Halah!

Ternyata sebotol kecil red wine isi 12 cl sudah cukup membuatku mulai merasakan pandangan yang berputar dengan kepala yang rasanya mulai pusing dan rasa-rasanya, wajahku terasa hangat mulai panas dan caraku berjalan sudah mulai tidak lurus, meski aku masih sadar. Buktinya, aku tidak salah masuk mobil temanku yang akhirnya mengentarkanku puylang denga selamat. Sungguh, bukan suatu pengalaman indah yang patut dikenang, namun lebih pantas jadi bahan candaan mengejek diriku sendiri kalau aku sempat berlaku macam ndeso…

Berikutnya, aku mulai mencoba memilih anggur untuk dibeli dan dinikmati bersama adikku. Keberuntunganku pada suatu ketika berhasil membeli sebotol 75 cl anggur merah Cabernet Sauvignon produksi Chile buatan tahun 2001 dengan harga yang sangat murah untuk ukuran anggur merah, ternyata rasanya amat enak, seperti rasa anggur mahal yang harganya mencapai jutaan rupiah. Namun sayang, setelah itu, aku jarang lagi mendapatkan anggur enak yang murah. Keberntunganku yang lain, beberapa kali beli anggur sendiri, aku belum pernah mendapati anggur yang corked, yaitu anggur yang sudah tercemar oleh noda cocok gabus penutupnya, yang bisa diketahui dengan cara wine tasting. Semoga aku selalu beruntung, ya.

Beberapa teman warga asing keturunan Kaukasia yang tahu bahwa aku menikmati anggur, mulai memberikan berbotol-botol anggur merah dan anggur putih sebagai hadiah. Ada yang menjadikannya sebagai hadiah ulang tahunku, ada juga yang menjadkannya sebagai tanda pertemanan kami, sebagai oleh-oleh hasil kunjungan ke suatu negara atau sebagai balasan atas hadiah yang kuberikan kepada mereka. Terbanyak dari Australia, kemudian Perancis, lalu ada juga sebotol anggur produksi Swiss dan pernah mendapaktan sebotol kecil rose wine dari Afrika Selatan.Kepingin, sih, kepingin bisa mendapatkan anggur dari Napa Valley, Amerika Serikat, lalu anggur buatan Jerman, Italia dan Hungaria. Sepertinya ada teman-teman di negara-negara tersebut yang perlu dirilik, nih. Dari lokal, aku kepingin bisa mencicipi anggur produksi Bali, hanya kesempatannya belum ada.

Selama adikku masih membujang, aku pasti ada teman minum anggur sampai habis sebotol berdua. Namun semenjak adikku pindah ke rumahnya sendiri setelah berkeluarga, praktis kini di keluargaku, hanya aku sendirian yang bisa minum anggur dan aku tidak pernah sanggup menghabiskan 1 botol 75 cl sendiri. Sedangkan sekali botol anggur dibuka, maka udara yang masuk akan mengubah cita rasa anggur, kemudian anggur menjadi asam. Tidak enak rasanya. Terpaksa anggur-anggur yang ada aku simpan. Beberapa aku berikan untuk dijadikan anggur pada sakramen perjamuan kudus di gereja, tetapi lebih banyak kusimpan. Untuk menikmatinya aku mesti menunggu kepulangan sahabat baikku. Dia yang mengatakan bahwa anggur itu untuk diminum, bukan untuk dimuseumkan. Iya, benar sekali, itu!

Perihal anggur ini menjadi sensitif ketika di sebuah komunitas, beberapa anggotanya “menyerangku” dengan pendapat yang cenderung menghakimi bahwa minum anggur itu sama halnya berdosa. Utamanya alasan mereka adalah dalam ajaran agama, ada ayat yang melarang minum anggur. Alasan lainnya lagi, bahwa minum anggur bisa menyebabkan kecanduan dan itu akan sulit lepas. Belum lagi mabuk yang akan membuat sulit akan penguasaan diri. Aku sampai heran, ada beberapa anggota yang belum tahu manfaatnya minum anggur untuk kesehatan, tetapi sudah merasa yakin dengan “penghakimannya”.

Berani minum anggur memerlukan keberanian untuk sadar akan tanggung jawab dari konsekuensinya. Buatku juga, minum anggur bukan haram, sebab yang haram itu adalah mabuknya. Jika sedang tidak ada atau tidak bisa minum anggur pun, aku tidak pernah memaksakan diri untuk harus ada dan bisa meminumnya. Menurutku, lebih baik minum anggur daripada minum obat, karena anggur adalah obat untuk mencegah sakit jantung, bila kita menjalankan pola hidup sehat. Two glass of wines after meals, keep the doctors away. Bagi yang tidak bisa minum anggur, alangkah eloknya untuk tidak menghakimi orang-orang yang bisa meminumnya.

Hal minum anggur saja bisa jadi kontroversi. Tapi dari kontroversi itu, aku jadi makin menyukai anggur. Makin seru juga mencoba beberapa pairing, memadukan anggur merah dan anggur putih dengan makanan. Anggur merah tak mengecewakan ketika pairing dengan daging putih dan anggur putih sah-sah saja pairing dengan daging merah. Apalagi jika bisa menikmatinya bersama sang sahabat baik. Inilah yang kutunggu. Menikmati anggur bersama di tengah udara sejuk, di atas bukit sambil menatap bulan.

Sahabat baikku, lekaslah kembali……

Cibeureum, medio Agustus 2011

 

*) peribahasa

‘) lemari atau gudang penyimpan anggur

 

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

26 Comments to "Anggur, Kisahku…"

  1. Linda Cheang  15 September, 2011 at 05:37

    nev yah. boleh bawa sopinya, deh.

    Juwita anggur yang dimuseumkan tidak selamanya mantep. lho. malah kualitasnya bisa jadi rusak.

  2. Juwita  15 September, 2011 at 05:06

    Anggur yang udah dimuseumkan, paling mantep mestinya ya…

  3. nevergiveupyo  14 September, 2011 at 15:44

    eh..iya.. ada beberapa alasan kenapa baru bisa “terbit”
    salah satunya ya karena alasan…

    hahaha

    belum ya? nanti tak coba deh bawain dikit kalo berkesempatan ke jkt… enak kok.. bener

  4. Linda Cheang  14 September, 2011 at 15:34

    nev : eh, dirimu baru muncul?

    belum pernah minum sopi, jadi enggak bisa komentar gi mana rasanya. yang pernah minum itu sake, dari beras, sama soju dari ubi. keduanya enak, tapi menakutkan kalau sampai kita jadi mabuk, hahaha…

  5. nevergiveupyo  14 September, 2011 at 15:26

    hai..ada pelajaran ttg anggur ya…
    wah, asyik..jadi tau.. saya anggur taunya cuma yang dipake untuk perjamuan ekaristi (biasanya ngembat sisa anggur yg dipake perjamuan itu..hehehe)

    klo sopi gmn lind? mau ndak?? bening…traditionally processed bahannya dari nira aren hehe.. enak kok

  6. Lani  25 August, 2011 at 11:59

    AKI BUTO : 17 waaaaah, klu liat aki sampai ambrukkkkkk…….malah repot kudu telponin crane utk mengangkatnya…….saking gede dan abote hahahha………

    LINDA : ya, juice anggur wuenaaaaaaaaak, ada yg white dan merah jg…….segerrrrrrr and no alcohol

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.