Ibu, Aku Bahagia

Meitasari S

 

Sejenak kutatap wajah murung itu, sebelum aku menyapa murid-muridku. Entah mengapa wajah itu mengusik hati. A si wajah sayu adalah murid yang nilainya dibawah rata-rata untuk mata pelajaran yang aku ampu. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan nilainya, tapi wajah sayunya itu membuatku gelisah dan penasaran.

Sampai suatu saat, aku memanggilnya saat jam istirahat. Aku ingin berbicara dari hati ke hati dengannya. Tapi saat aku bertanya, ia hanya menatap ku dan menggeleng pilu, aku melihat air mata yang menggantung di bola matanya. Aku tahu ada banyak hal yang tak mampu disampaikannya dengan rangkaian kata-kata.

Akhirnya aku mengetahui persoalan keluarganya dari rekan guru. Rekanku bercerita bahwa ibu si A ini berselingkuh dengan pamannya (aku juga baru tahu kalau ayahnya menderita cacat di kaki dan bekerja di Jakarta). Pernah suatu kali temannya bercerita padaku : bu Meita, si A itu seringkali ingin bunuh diri. Ia merasa hidupnya sia-sia. Tenggorokanku tercekat, hatiku tersentak mulutku terkunci tak tahu harus apa mendengar laporan teman A ini.

Malamnya aku merenungkan peristiwa itu dan merasakan remuknya hati seorang anak kecil yang tak tahu harus berbuat apa. Aku juga tak dapat memahami sebesar apa beban berat A sehingga ia berkeinginan mengakhiri keceriaan masa kanak-kanaknya.

Lalu, aku mulai menuliskan surat untuknya.

A anakku, tahukah kamu bahwa Tuhan sangat mencintaimu. Engkau sangat berharga dimataNya. Ibu tahu kesedihan dan bebanmu. Tapi maukah kamu melupakan kesedihanmu. Banyak hal yang bisa kau lakukan. Buatlah dirimu berguna paling tidak bagi dirimu sendiri dan keluargamu. Percayalah selalu ada yang mendoakanmu dan ingin melihatmu kelak sukses dan bahagia yaitu saya. Percayalah Dia akan menopang hidupmu……Dia akan memberimu, yang terbaik dan semuanya akan indah pada waktuNya.

Keesokan paginya kuserahkan surat itu dan memintanya membaca dirumah. Hari berikutnya aku merasa lega karena A datang dengan wajah yang berbinar. Aku bisa kembali melihat canda tawanya.

Sejak itu A meraih kemajuan yang luar biasa untuk pelajaranku. Aku tak menyangka bahwa selembar kertas mampu merubahnya sedemikian rupa. Aku bersyukur boleh ambil bagian dalam perubahan hidupnya. Aku sangat bangga karena suatu ketika adiknya datang padaku dan berkata,

” Bu Meita ulangan Inggrisku bagus nilainya, kakak senang sekali mengajari aku pelajaran bahasa Inggris.”

Oh Tuhan…. Bukan main bangganya aku. Ternyata A memperhatikan nasehatku agar ia berguna paling tidak untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

Saat kelulusan A datang padaku untuk mengucapkan terimakasih dan mengatakan bahwa ia tak akan melupakanku. Sesekali aku memantau perkembangan A. Entahlah sepertinya terjalin rasa untuk melindungi dia. Tapi aku tahu bahwa ibunya tidak suka padaku. A mengatakan padaku,

“Bu jangan telepon kerumah, ke HP saja.”

Sejak saat itu aku tidak lagi menghubungi dia. Sampai suatu saat dia meneleponku dan mengirim sms padaku. Sekali lagi ia mengatakan dan menulis bahwa ia tak akan pernah melupakan aku. Itulah terakhir kali ia menghubungi aku. Sepertinya sejak itu ia pindah ke Jakarta mengikutinya ayahnya. Aku tahu bahwa keluarganya ada masalah lagi yang cukup rumit sehingga A dan adik-adiknya harus mengikuti ayahnya. Tapi biarlah itu menjadi proses hidup A si guru kehidupanku.

Aku menulis catatan ini untuk mengenang A, merenungkan betapa hebatnya ia. Walau saat itu tergolong anak-anak, ia mampu menyimpan kepedihan hatinya, keburukan ibunya, beban keluarganya. Ia hanya menyimpan semuanya itu di matanya bahkan air mata pun tak sempat menetes dari matanya yang bening.

Jika suatu saat A membaca catatan ini, ketahuilah nak, ada orang yang masih dan selalu mendoakanmu . Ia menantimu datang, tersenyum dan berkata, Ibu aku bahagia…………..

Semarang, 14 April 2010

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

28 Comments to "Ibu, Aku Bahagia"

  1. Meitasari S  26 August, 2011 at 13:14

    DJ : Nah ya ketahuan dah pengen kenalan tuh ama si namanya selingkuh… wkwkwk…… duh kemaren aku melihat foto2 DJ liburan di Bandung th lalu, cakep2 sekali itu hartanya. Tapi wajah mamanya kok gak diliatin. apa aku yang kelewatan ya ngeliat???? ha ha ha….. Salam hangat dari kota semarang. Ntar kukirim gambar lumpia ya…………… ha ha ha….

  2. Meitasari S  26 August, 2011 at 13:10

    Mb Probo : ahhhhhhhhhhhhh tidak itu…… ha ha ha….. tx anyway….. Tapi sungguh buat saya, A itu sangat hebat, tidak pernah sekalipun keluar dari mulutnya menjelek2kan ibunya. Walau mungkin dia sakit. Tapi dia bisa menyimpan semuanya dalam hati. Pengorbanan yang luar biasa.

    Kalo gurunya…. jauhlah dari A ini… ha ha ha…..Salam

  3. Dj.  25 August, 2011 at 18:32

    Meitasari S Says:
    August 24th, 2011 at 11:58

    DJ : tak takut kah ketemu ma selingkuh? beneran nih pengen ketemu? ntar aku kenalin deh wkwkwk

    Mbak Meita….
    Sama setan juga tidak takut, apalagi sama selingkuh….
    Nanti kalau sudah ketemu, selingkuhnya Dj. khotabahi, biar sadar…hahahahahaha….!! ( Dj. yang sok tau )
    Emang selingkuh , rumahnya dimana…???

  4. probo  25 August, 2011 at 18:03

    gurunya (bu meita) pun amat hebat!

  5. Meitasari S  25 August, 2011 at 13:12

    JCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCcccccc : ah ngarang aja…. kelas berat apa? aku bukan petinju… ha ha ha…. kelas bulu kaliiiiiii yang ditiup bisa kabur saking ringannya…..

    TX JC sudah baca tulisanku…

  6. Meitasari S  25 August, 2011 at 13:10

    Mb Esti : terimakasih atas apresiasinya…. senang bisa berbagi,,,,,,

  7. J C  24 August, 2011 at 22:56

    Meitasari, ini “kelas berat” punya artikel…dalam sekali…terima kasih banyak untuk artikel yang luar biasa ini…

  8. Esti Yoeswoadi  24 August, 2011 at 15:25

    mba Meita, thanks u/ share ceritanya. Terenyuh saya membayangkan anak se kecil itu bisa menahan emosinya dgn tidak menangis, beratnya beban yg dia sendiri mungkin tidak faham…. Alangkah Indah nya hidup bisa menajdi berkat untuk sesama spt yg mba Meita lakukan thdp anak murid ibu ini. Semoga Kasih+Berkah Tuhan juga selalu mengiringi langkah A yg masih panjang…Amin

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.