Anakku Cerminan Hidupku

Sakya Sugata

 

Inilah persoalan anak melihat persoalan rumah tangga….

Seorang anak bertanya kepada mamanya,

Mengapa mama menangis setelah bicara dengan papa?

Mengapa mama berteriak kencang-kencang,

Apakah papa tidak bisa mendengar suara mama, kalau mama bicara pelan?

Mengapa papa pergi sambil membanting pintu rumah?

Mengapa papa jarang pulang?

Mengapa papa bersikap kasar kepada mama?

Apakah mama menderita karena perlakuan papa?

Atau papa yang menderita terhadap sikap mama?

Mengapa aku tidak seperti anak orang lain yang bahagia?

Ada anak bertanya kepada papanya

Mengapa papa sangat sayang sama mama?

Papa lebih sayang sama aku atau sama mama?

Apakah cinta itu? mengapa setiap setiap orang butuh cinta?

Apakah cinta itu bisa berubah?

Mengapa mama juga menangis setiap mendapat hadiah dari papa?

Mengapa mama sangat perhatian sama papa?

Kekuatan cinta tuh seperti apa?

Ada anak yang bertanya kepada mamanya

Mama dari mana aku dilahirkan?

Mengapa aku dilahirkan?

Sebelum aku lahir aku ada dimana?

Setelah aku lahir aku bisa menjadi seperti apa?

Bisa seperti mama yang baik hati?

Atau seperti papa yang pandai dan bijaksana?

Mama, apa tujuan hidup ini?

Mengapa ada perbedaan dari yang kaya, miskin, ganteng, jelek,  cacat?

Mama mengapa dunia ini penuh penderitaan?

Mengapa banyak perang didunia ini?

Mengapa banyak anak yang terlantar?

Bila saja ada anak kecil yang memiliki pertanyaan seperti di atas?

Apakah anda berpikir anak itu berasal dari 3 keluarga yang berbeda?

Atau satu keluarga yang sama?

Apakah pengaruhnya pada perkembangan jiwa sang anak kemudian?

Jawabannya ada pada penilaian masing-masing?

Seandainya kita telah menjadi orang tua apa jawaban kita terhadap pertanyaan tersebut

 

Ilustrasi: chakpak.com, epakistantimes.blogspot.com

 

15 Comments to "Anakku Cerminan Hidupku"

  1. SU  25 August, 2011 at 09:33

    Terima kasih banyak Dewi dan JC.

    Saya memang punya beban hati yang lebih terhadap anak2 dan wanita. Terlalu banyak anak2 yang lahir dibumi dan orang yg kudunya melindungi malah jadi monster dalam kehidupan mereka. Kasus ayah yg memperkosa anak2nya dari usia balita sampai dewasa terjadi dimana-mana.

    Kasus ayah yang cuma mau ambil peran membawa mereka kedunia, tapi tidak mau meluangkan waktu bermain dengan mereka sama sekali. Apalagi meluangkan waktu mengajari mereka.

    Ada ibu2 yang sibuk arisan sana sini, ikutan gym/aerobik/dll, anak2 dibiarkan sama pembantu/org lain.

    Atau kasus2 spt ini:http://sg.news.yahoo.com/blogs/singaporescene/5-old-boy-found-dead-choa-chu-kang-065333333.html

    http://www.bernama.com.my/bernama/v5/newsgeneral.php?id=610084

  2. J C  24 August, 2011 at 23:04

    Ini mantap dan mendalam sekali. Benar dan setuju juga dengan komentar Silvia…

    Dan pemilihan kata-katanya itu lho, muantep: “cuma berperan membuat mereka hadir di bumi, tanpa mau bertanggungjawab”

  3. Dewi Aichi  24 August, 2011 at 21:53

    Ahhh….Silvia, komentarmu tajam, menyejukkan, benar sekali, aku sepakat denganmu.

  4. SU  24 August, 2011 at 21:44

    Mendidik anak-anak itu bukan tanggung jawab pembantu/guru disekolah/guru agama/kakek nenek/ibunya anak2 saja/bapaknya anak2 saja….tapi tanggung jawab kedua orang tuanya kalau memang masih hidup.

    Anak-anak tidak pernah minta dilahirkan. Jangan cuma berperan membuat mereka hadir dibumi tanpa mau bertanggung jawab buat mereka.

  5. Dewi Aichi  24 August, 2011 at 21:27

    Pak Edy…belum, lha sampeyan gimana sih, jadi asistenku kok malah tanya…?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.