Mereka Bilang Saya Kafir

Wesiati Setyaningsih

 

“MEREKA BILANG SAYA KAFIR”

Judul itu tertera di sebuah buku yang terselip di rak buku di rumah teman saya. Judul yang sangat provokatif karena kata ‘kafir’ dan ‘murtad’ adalah kata yang ‘mengerikan’. Tanpa ijin (karena yang punya rumah sedang pergi) buku itu saya ambil untuk saya baca saat itu juga.

Buku ini ternyata tentang seorang bernama Muhamad Idris yang sempat masuk kelompok agama yang ingin menjadikan negara Indonesia ini sebagai negara agama tersebut. Kata kafir yang ‘mengerikan’ bagi orang-orang Islam, menjadi semacam kata kunci untuk memprovokasi. Si Idris ini awalnya diajak pengajian, lalu ditanya apakah dia menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidupnya.

Ketika Idris mengiyakan, maka serta merta dia disebut ‘kafir’. karena harusnya yang menjadi pandangan hidup bagi Idris sebagai orang Islam adalah Qur’an dan hadist. Idris menjadi sangat ketakutan dan mulai bersedia mengikuti apapapun kata ustadnya. Saya tersenyum membaca bagian ini. Betapa mudahnya orang mengatakan orang lain kafir, dan betapa mudahnya orang lain terprovokasi dengan kata kafir.

Kata ‘kafir’ yang mengerikan karena membuat seorang muslim serta merta terdaftar menjadi penghuni neraka membuat Idris jengah dan kemudian mau saja diminta melakukan ini itu sesuai apa perintah atasan dalam kelompok agama tersebut. Idris mulai bingung ketika sang ustad menyuruh untuk mencelakai orang lain.

Beruntung Idris masih mampu mendengarkan kata hatinya. Dengan kesadarannya akhirnya dia keluar dengan berbagai resiko yang mesti dia tanggung (dikucilkan banyak orang yang tau dia dulunya anggota kelompok tersebut dan  tidak punya penghasilan). Kehidupan baru kemudian dia jalani, hanya kali ini dia menggunakan kata hati.

Begitulah. Kata ‘kafir’ memang seperti cap yang mudah diberikan pada orang dengan pemahaman agama berbeda. Setahu saya sebagai orang Islam yang rendah ilmu agamanya, gelar kafir diberikan pada orang yang tidak punya agama. Lalu karena agama yang terbaik menurut orang Islam ya Islam itu sendiri, maka orang dengan agama selain Islam bisa juga disebut kafir. Dosa seorang kafir adalah masuk neraka terdalam dan tidak akan mungkin keluar lagi.

Itu menurut pengetahuan saya. Entah bagaimana sebenarnya, pasti teman saya yang guru agama dan yang tau banyak tentang agama bisa menjelaskan lebih jauh. Tapi tulisan ini tidak untuk membahas istilah ini. Tetapi bahwa hal ‘kafir’ ini juga memenuhi pengalaman hidup saya.

Saya adalah seorang dengan pengalaman hidup yang cukup berwarna sehubungan dengan agama. Masa kecil saya cukup ribet karena orang tua saya ribut melulu karena urusan agama. Bapak saya saja tiba-tiba mengatakan tidak sudi menjadi Islam karena warisan saja. Dan beliau memutuskan untuk mencari kebenaran lebih dulu sebelum menyatakan diri sebagai orang Islam. Ibu saya marah besar karena sebagai orang Islam, pantang mengatakan seperti itu.Padahal waktu itu  ibu saya belum rajin sholat dan belum bisa membaca huruf arab di Qur’an.

Kemudian mulailah saya menjadi saksi atas perjalanan bapak saya. Semua buku Kristen, Katolik, Hindu, Budha, bergantian berada di tangan bapak saya untuk dibaca. Saya ikutan marah-marah karena menurut guru agama di SD membaca buku seperti itu haram hukumnya. Saya takut bapak saya masuk neraka. Tapi bapak saya toh tetap membacanya. Semua majalah tentang spiritual, dibeli bapak. Seiring dengan itu silih berganti datang orang ke rumah untuk diajak ngobrol tentang agama dan ketuhanan. Suatu ketika datang orang dengan pemahaman ‘kepercayaan’. tiba-tiba bapak tertarik.

Inilah awal kekacauan di rumah saya. Bapak mulai gencar bilang, ‘aku bukan orang islam lagi’. dan ibu saya tambah marah. sementara saya makin ketakutan bapak saya masuk neraka. Saya masih SD kelas 5 waktu itu. Rumah sering dipake untuk pertemuan teman-teman bapak sealiran. Itu berjalan cukup lama, tapi saya lupa berapa tahun. Entah apa sebabnya, setelah lama berada di aliran ini akhirnya bapak tidak aktif lagi. Dan mulailah bapak saya, ‘tanpa agama’ lagi. Tidak sholat, tapi tidak juga aktif dalam aliran kepercayaan lagi.

Saya lupa bagaimana awalnya, tapi tiba-tiba bapak mulai belajar sholat lagi. dan tiba-tiba sholatnya sangat tepat waktu. Begitu adzan tiba, segera bapak mengambil air wudlu. Bapak mulai mau belajar mengaji juga. Dengan lidah yang sudah kaku karena belajar ngaji menjelang tua, bapak ikut tertawa saja kalo pengucapannya ditertawakan teman satu kelompok pengajian. Beberapa tahun kemudian bapak naik haji. dan tahun depannya bapak meninggal.

Begitulah masa kecil saya yang penuh dengan ‘kekacauan’ tentang agama. semua kata-kata bapak tanpa sadar tertanam dalam benak saya. Buku-buku bapak, tak jarang saya baca juga meski ibu marah-marah dan bilang tidak boleh. Buku-buku itu bagus-bagus. Mengajarkan cinta sesama. Jadi apa salahnya? Tidak ada kalimat di buku itu yang meminta pembacanya untuk mengikuti agamanya dengan iming-iming surga dan ancaman neraka. Hanya ‘kasih sayang’ pada sesama saja yang dibahas.

Waktu itu orang-orang juga pasti mengatai bapak saya kafir. Karena saya tau bapak tidak lagi diundang dalam pengajian-pengajian. Begitu ada perbedaan sedikit, orang bisa saja mengatakan itu ‘syirik’, lalu murtad, lalu kafir. Begitu mudah muncul penghakiman ketika ada pemahaman-pemahaman yang berbeda dari pemahaman yang dimiliki kebanyakan orang. Dan memberikan cap kata-kata itu barangkali menjadi sangat menyenangkan.

Saya tahu perjalanan keimanan saya juga sedang berjalan ke arah yang ‘aneh’ bagi banyak orang. Tapi dengan pengalaman hidup yang pernah saya jalani, sungguh saya tidak takut untuk pergi ke arah manapun. Saya tidak takut menjalani evolusi apapun meski orang mengatai saya ‘kamu seperti monyet’ sekalipun.

Saya tau kemana arah saya. Saya melihat sendiri bagaimana bapak saya menemukan keyakinan dalam dirinya. Dan entah kenapa, dengan perjalanan bapak saya yang muter-muter dan tidak takut dikatai apapun itu, ternyata ketika bapak saya kembali ke Islam, beliau justru lebih bagus dalam ibadahnya dibanding ibu saya yang ‘enggak kemana-mana’. sampai bapak saya balik lagi dan menjadi sangat rajin sholat, ibu saya ya ‘gitu-gitu’ aja.

Dengan pemahaman yang luas, wacana yang penuh warna, bapak saya mampu menghargai orang lain dan lebih toleran. Dia sendiri sudah pernah berjalan kemana-mana jadi kalo orang lain menempuh jalannya sendiri, bapak tau pasti, suatu ketika orang tersebut akan menemukan jalannya sendiri. Sementara sampai sekarang ibu saya masih saja mudah menghakimi orang-orang yang menurut beliau ‘kurang rajin beribadah’.

Saya, adalah produk ‘kekacauan’ agama. Kalo saat ini saya tampak seperti ‘kacau’, saya rasa itu baik saja. Saya senang mengalami ini semua. Karena saya tau, dibalik sebuah kekacauan, akan ada sebuah kejernihan yang saya dapatkan sendiri. Bukan kejernihan semu yang didapat dari pemahaman orang lain. Jadi, saya kira sayapun tak khawatir kalo ‘mereka menyebut saya kafir’.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

123 Comments to "Mereka Bilang Saya Kafir"

  1. wesiati setyaningsih  1 September, 2011 at 16:11

    (*ngowoh)

  2. alfred tuname  30 August, 2011 at 17:02

    Itsmi: hahaha… tentang melihat Tuhan. percuma saja saya menjelaskan tentang itu kepada Anda sebab iman kita berbeda ekstrim. dan jika saya menjelaskan secara analitis dan kritis, saya pun tidka punya kapastitas untuk itu. silakan tanyakan kepada orang yang lebih tepat. apa yang saya punya adalah apa yang saya simpan untuk keimanan saya. analoginya, pikiran kita ini hanyalah sekumpulan air dalam tempurung. jadi, tidak bisa kita pakai untuk melihat dan memahami Sang Ilahi yang seluas samudera dan dan lebih lagi dari itu… dan sederhanya, saya melihat (kasat mata) Sang Ilahi dalam diri imanensi manusia-manusia lain. seperti, diri Anda juga, sebagai imago Dei. sayangnya Anda tidak mengakaui-Nya dan Anda lebih manruh hati pada setan. yo wes, itu urusan Anda.

    lantas, pertanyaan Anda itu masuk dalam kategori Kantian (Emanuel Kant) sebagai “antinomies of pure reason”. sayangnya, pikiran Anda dan hampir semua pemain atheis lebih senderung masuk dalam rel kreta skeptisme. lalu, semakin jauh perjalanan skeptisme itu, semakin masuk dalam area “euthanasia of pure reason”. salam.

  3. alfred tuname  30 August, 2011 at 16:49

    T. Moken: hehehe saya bukan seorang pastur. saya masih seorang mahasiswa, jurusan ilmu ekonomi. tetapi memang saya senang bermain-main diksi dan bahasa-bahasa “ibu tiri” (supaya tidak disebut bahasa asing). ya, hanya untuk mempersingkat dan mempermudah pemahaman. wah asik ya, punya keluarga dan sahabat para pastur. saya juga senang berdiskusi dengan para pastur. filsafat dan teologi mereka sangat memberi saya pemahaman yang dalam…. salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *