Pernak Pernik Dunia SMA

Ida Cholisa

 

CINTA SESAAT

 

Aku mengajar di sekolah menengah atas itu. Sekolah negeri di mana aku ditugaskan sebagai guru PPL selama dua bulan. Hm…, bertemu para siswa berseragam putih abu-abu, sedikit menciut nyaliku.

“Morning, students….”

“Morning, Mom….”

Clegukkk!!! Duileh…., busyet, ini murid apa murid? Gede-gede badannya, gagah perkasa, wuizzz….., mendadak aku teringat sang idola, seorang taruna yang telah menjelma menjadi perwira.

“Kenapa bengong, Bu?” Takut ya ama kita-kita…?”

Aku tersentak. Alamak, kenapa aku jadi keder gini, ya? Konsentrasi Ida…, konsentrasi…., kata hatiku memperingatkanku.

Maka mengalirlah kalimat-kalimatku. Semua murid tanpa kecuali menyimak keteranganku, mencatat dan menyalinnya di buku mereka. Sepuluh menit sudah menerangkan dan memberi tugas. Kini saatnya aku duduk di kursi guru. Kujatuhkan pantatku, kusandarkan punggungku. Hiyah, uwenaknyaaaa….! Kupandangi satu persatu para murid itu. Sejenak ingatanku melayang ke masa silam, masa di mana aku mengenakan seragam putih abu-abu…

Saat itu aku gadis remaja bertubuh gempal berkulit gelap. Dengan wajah pas-pasan, dengan rambut njegrak aku tak masuk sama sekali sebagai murid “top” di sekolah. Sedikit yang mengenalku barangkali. Bahkan untuk urusan cinta, aku pun masih awam sekali. Sumprit, aku tak pernah jatuh cinta pada kawan SMA. Aku disibukkan dengan belajar, belajar dan belajar saja. Thok till. Berkawan dengan teman pria pun karena aku ingin mencuri ilmunya. Datang ke rumah para teman pria sekedar ingin belajar kimia, matematika atau fisika. Biasa, cari gratisan, daripada belajar di tempat les yang butuh biaya, hehehe…

Satu-satunya yang membuatku selalu dag-dig-dug yakni soal taruna. Hehe, taruna idaman, taruna idola yang gagah perkasa…

“Bu, nglamun, ya?”

Gelagapan aku. Seorang murid membuyarkan lamunanku. Kubuang jauh-jauh lamunan itu. Seperti bangun dari mimpi, aku pun kembali mengajar. Sambil menerangkan pelajaran mataku menyapu seluruh ruangan. Tak ada wajah yang terlewat. Tak ada kepala yang tertunduk. Tak ada mata yang mengantuk. Semua siap sedia, posisi tetap siaga. Haha, apa lagi kalau bukan karena omelanku saat kujumpai siswa yang tak mennyimak penjelasanku. Ampuh ternyata. Muka sangarku cukup membuat para murid tetap membelalakan mata.

Kulirik jam di pergelangan tanganku. Hm, sepuluh menit lagi bel pulang berbunyi. Asyiknya! Kupercepat mengajarku. Hari ini materi tentang conditional sentences mesti tuntas-tas-tas….

“Teeeet….teeeet….teeeet….teeet…..”

Bel tanda pulang berbunyi. Cepat-cepat kuakhiri sesi mengajar, berdoa, dan segera aku menghambur keluar. Merdeka! Tugas mengajar hari pertama usai sudah. Saatnya pulaaaaang……! Tralalalaaaa….

“Ibu, pulangnya ke mana?”

Aku menghentikan langkah. Ciuuuuuut….deg! Alamak, brondong tampan berdiri di depanku. Badannya tinggi besar. Hidungnya mancung. Matanya tajam. Kulitnya bersih. Dan senyumnya, hm……, bikin deg-deg-plassss!!!

“Ehm, ke Jebres, belakang kampung UNS,” jawabku singkat.

“Oh, dekat tempat tinggal saya, Bu!” ia sedikit berteriak.

“Memang kamu tinggal di mana?”

“Kentingan, Bu, depan kampus UNS. Gimana kalau Ibu bonceng saya aja? Kita kan sejalur, Bu?”

Aku mendelik. Ditawarin bonceng bareng brondong? Alamak, sapa takut???!

Meski awalnya aku menolak halus tetapi akhirnya aku menclok juga di atas sadel sepeda motornya. Werrrrr….., motor bebek yang dikemudikan olehnya pun terbang merajai jalan.

Tak sampai dua puluh menit sampailah aku di tempat kostku.

“Udah, sini aja. Tuh tempat kost Ibu dah kelihatan. Makasih, ya?” aku pun melambaikan tangan padanya.

Sungguh, pengalaman pertama kali mengajar sudah disuguhi tumpangan gratis si brondong. Dalam hati aku bertanya-tanya, ada apa gerangan ia mengajakku berboncengan? Duh, mendadak ingatanku melayang pada sang letnan pujaan. Muridku yang gagah itu sepintas mirip benar dengan letnan pujaanku. Seandainya ia didandani ala taruna atau ala perwira, pastilah mereka bagai pinang dibelah dua. Pikiran “ngeres”ku pun timbul. Haha, nggak dapat letnan pujaan nggak apa-apalah, toh di sini ada brondong yang siap mencuci mata, hahaa….!

Esok harinya aku kembali mengajar. Untuk kali ini aku mengajar di kelas lain, bukan kelas 2 Biologi di mana bercokol wajah manis si brondong. Uhui, jaman segitu belum ada istilah kelas XI kayak jaman sekarang. Bahkan untuk jurusan IPA pun ada dua, Fisika dan Biologi. Kalau kurikulum sekarang yang ada kan cuma IPA, nggak dipisah jadi Biologi atau Fisika. Nah…, ini hari aku kena jadwal ngajar di kelas Fisika. Lumayan jauh jaraknya dengan kelas Biologi. Tapi demi si brondong yang menawan hati, kulangkahkan kaki menuju kelas yang terletak di ujung dekat lapangan basket. Kelas Biologi, kelas si brondong!

“Eh, Bu! Ngajar di kelas mana?” teman PPL-ku, Tuti, bertanya kepadaku.

“Ssssst…., kelas Fisika, ” jawabku singkat.

“Tapi kenapa ke sini?” ia bertanya lagi.

“Ada urusan bentar. Emang gak boleh?” aku mengerjipkan mata.

Kutinggalkan Tuti. Kuburu kelas Biologi di mana duduk manis sang brondong yang menawan hati. Aku telah menyusun strategi. Pura-pura menitipkan catatan pada si brondong, tugas untuk hari Jumat di mana ada jadwal aku di kelas tersebut.

“Assalamu’alaikum…” aku mengucapkan salam.

“Waalikumsalam….., Ibu…, sekarang bukan jadwal Ibu….,” beberapa anak mengingatkanku.

“Iya…, Ibu tahu. Itu temanmu siapa tuh, yang duduk di pojok belakang itu? Ke mana anaknya?” kepalaku celingukan ke sana ke mari.

“Oooo….., Aldi ya, Bu? Dia nggak masuk Bu, sakit katanya…”

“Sakit? Sakit apa?” aku bertanya.

“Katanya sih usus buntu. Akhir-akhir ini ia sering mengeluh sakit pada bagian perutnya, nggak tahunya ia sakit buntu. Udah parah katanya, Bu. Harus segera dioperasi.”

Mataku nanar mendengar penuturan para murid. Kutanyakan pada mereka, kapan mereka akan menjemput Aldi, brondong tampan yang dalam sekejap membuatku jatuh hati.

“Besok kita ramai-ramai ke rumah sakit, Bu,” jawab mereka.

Hatiku bimbang. Haruskah aku turut serta bersama anak-anak itu, menengok Aldi ke rumah sakit? Tapi apa kata wali kelasnya nanti, kan aku bukan apa-apanya kelas 2 Biologi 1. Guru PPL lagi! Aku nggak punya kepentingan apa-apa dengan kelas tersebut, apalagi baru satu kali aku mengajar mereka. Sepertinya koq aku sok peduli banget ya sama mereka? Ah, nggak ah, aku malu sama wali kelas mereka. Guru bau kencur sepertiku koq sok akrab. Nggak, ah!

Dua hari kemudian aku bertemu dengan teman-teman sekelas Aldi.

“Ibuuu…., ada salam dari Aldi. Dia nanyain Ibu.”

“Oh, ya?” aku berbinar. Hatiku bergetar tidak karuan.

“Sepertinya Aldi berharap agar Ibu bisa menengoknya. Kalau mau, nanti kita temani Ibu,” mereka memberi usul kepadaku. Aku menyanggupinya. Maka begitu bel pulang sekolah berbunyi, aku mengikuti langkah murid-muridku menuju rumah sakit di mana Aldi dirawat.

Aku mengetuk pintu kamar rawat. Seorang Ibu membuka pintu dan melempar senyum kepadaku.

“Silahkan masuk.”

Kami, aku dan lima teman Aldi berdiri mengelilingi ranjang Aldi. Murid yang baru kukenal dua hari yang lalu itu tersenyum gembira melihat kedatanganku.

“Terima kasih Ibu,” ia menyambut uluran tanganku.

“Kapan kau akan masuk ruang operasi?” aku bertanya.

“Besok pagi, Bu. Hari ini jadwal periksa jantung dan paru-paru,” ia menjawab lemah.

“Semoga cepat sembuh, ya?” kuberi ia doa dan semangat.

Aldi menggenggam tanganku erat. Kami berpamitan pulang. Sesaat sebelum kutinggalkan kamar rawatnya, aku menangkap tatapan Aldi yang tak biasa. Ah, ada sesuatu dalam bola mata itu. Tapi entah apa itu…

Detik-detik operasi usus buntu Aldi aku iringi dengan segenap doa dari jauh. Sungguh aku berharap ia akan segera mendapat kesembuhan. Entah mengapa aku rindu dibonceng olehnya. Aku rindu bertegur sapa dengannya. Aku rindu mengajar ia, rindu semuanya. Ah, normalkah aku? Seorang guru PPL merindukan brondong yang nota bene seorang murid? Bodo amat, aku menepis semua pikiranku.

Hari Jumat aku kembali mengajar. Belum sampai kakiku menginjak ruang kelas, sebuah berita menyambar telingaku. Aldi meninggal beberapa jam sebelum masuk ruang operasi! Ususnya terlanjur pecah hingga organ dalam tubuhnya mengalami keracunan. Nyawa Aldi tak bisa ditolong!

Aku berdiri lemas di tembok luar kelas. Pandanganku kabur. Kepalaku pusing. Tiba-tiba saja aku terjatuh.

“Bu Lisa…., Bu Lisa pingsan….!” sayup kudengar teriakan para muridku. Selanjutnya, aku tak ingat apa-apa lagi.

Dalam pingsanku aku melihat Aldi tersenyum kepadaku. Dalam balutan pakaian serba putih Aldi berbisik lembut;

“Ibu Guru, Aldi cinta Ibu. Maafkan Aldi,” ia berusaha menjangkau tanganku. Tapi sebuah kekuatan menariknya perlahan, hingga ia terus menjauh dariku, jauh dan semakin jauh….

“Aldi……., Aldi………….!” aku terus memanggilnya, tapi ia lenyap entah ke mana….

Setengah jam kemudian aku siuman. Kudapati sepucuk surat di tangan kanan.

“Dari Aldi, Bu. Kemarin ia menitipkan surat itu untuk Ibu,” salah seorang temannya memberitahuku.

Aku tak membukanya. Hatiku berendam duka tiada tara…***

 

Solo, 1996-

 

23 Comments to "Pernak Pernik Dunia SMA"

  1. bagong julianto  27 August, 2011 at 18:00

    Jaman Gita Cinta dari SMA dulu juga ada Edwige Fenech……..
    Terus di satu SMA Negeri di Solo juga ada seorang Ibu Guru Bahasa Indonesia yang suka mbhledhehke satu kancing baju atasnya…..
    Gayeng tenan…..

    Suwunnnn..

  2. atite  27 August, 2011 at 00:48

    mbak Ida, ini kisah nyata? ayo bu, bangun… pingsannya jgn lama2… buruan dikelari ceritanya…! bikin penasaran berat! he3x… mudah2an Aldi meninggalnya cuma dalam mimpinya bu Ida… (berharap…

    salam

  3. Dj.  25 August, 2011 at 19:54

    Straight_Line Says:
    August 25th, 2011 at 12:16

    wah…sad ending, tapi guru-nya cepetan jatuh cinta gitu, baru juga 2 hari xixixixi

    Straight_Line ….

    Kan ini pelajaran “cinta” , jadi gurunya yang harus memberi contoh duluan….
    baru nanti anak-anaknya nyontoh, bagaimana cara yang peling cepat untuk jatuh cinta.
    2 hari sudah terlalu lama, kalau mungkin malah pada pandangan pertama….
    Salam Damai dari Mainz…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.