Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Beijing Selayang Pandang

Friday, 26 August 2011

Viewed 3672 times, 1 times today | 102 Comments |

HennieTriana Oberst – Jerman

 

Hallo sahabat Baltyra semua, semoga kabarnya baik dan sehat selalu.

Tulisan ini merupakan catatan yang tertunda, perjalanan ke Beijing musim semi yang lalu. Artikel mengenai Beijing sepertinya sudah cukup banyak ditulis di Baltyra, jadi kali ini hanya foto-fotonya saja yang berbicara. Cerita tentang Beijing mungkin akan dilanjutkan lagi kapan-kapan.

Pemandangan di kota ini hampir selalu buram, abu-abu. Langit kota terlihat diselubungi kabut tipis. Yang membuat nyaman adalah rasa aman yang aku rasakan selama berada di sana. Kesan pertama berada di ibukota negeri Panda ini seperti berada di Jakarta. Lalu lintas yang padat, dan kemacetan pada jam-jam sibuk tertentu ditambah cara sebahagian orang mengendarai kendaraan mereka, bisa mendahului kendaraan dari jalur kiri ataupun kanan. Banyak juga yang menyetir di jalan bebas hambatan yang menggunakan jalur darurat untuk melancarkan perjalanan mereka. Walaupun kabarnya denda yang harus mereka bayar tinggi jika tertangkap.

 

Kuil Surga (Tian Tan)

Kesempatan untuk jalan-jalan sebisa mungkin aku lakukan walaupun hanya berdua dengan Chiara. Dengan modal peta dan alamat tujuan di tangan ditambah bahasa tarzan, aku berharap supir taxi akan mengerti dan mengantar kami ke tempat yang akan dituju. Supir taxi di Beijing banyak yang sering menolak penumpang, dengan alasan (mungkin) jarak terlalu dekat, atau mungkin saja mereka sedang malas mengangkut penumpang. Bahkan sering mereka maunya menjalankan taxi tanpa menggunakan Argometer (taximeter), hal yang mengingatkanku akan supir taxi seperti mereka yang banyak terdapat di Medan.

Menuju suatu tempat yang banyak dikunjungi oleh wisatawan seperti Temple of Heaven ini tentu tidak sulit. Tetapi untuk alamat lain seperti nama hotel atau restoran tidaklah selalu berjalan lancar. Pernah sekali waktu ketika sedang berada di jalur antrian taxi aku berkenalan dengan seorang Ibu asal Indonesia dan dua orang putrinya yang sudah dewasa. Beliau sedang bertugas di KBRI Beijing. Untung Ibu yang baik tersebut membantuku menyebutkan nama hotel yang akan kutuju kepada supir taxi (terima kasih sekali lagi ya, Bu). Padahal telah kutunjukkan kartu nama dari hotel tempatku menginap pada si supir, tapi tetap saja dia tak mengerti tujuanku. Aku hanya bisa memaklumi, dan menyayangkan kenapa aku tidak bisa berbahasa negeri setempat.

 

Kota Terlarang

Salah satu tujuan wisata yang termasuk juga dalam rencana jalan-jalanku adalah mengunjungi Forbidden City. Memanfaatkan waktu yang tidak terlalu panjang, hanya dua minggu, jadi rencana harus disesuaikan juga dengan kondisi fisik putri kecilku. Mengunjungi tempat bersejarah seperti ini berdua dengan putri balitaku dan satu stroller cukup merepotkan. Lokasi yang kukunjungi penuh dengan tangga naik turun, ditambah dengan banyaknya pengunjung yang datang, betul-betul membutuhkan tenaga ekstra dan kesabaran. Putriku merajuk dan langsung minta pulang begitu dia tahu banyak pengunjung dan tentu saja bukan tempat bermain yang mungkin sebelumnya ia bayangkan. Akhirnya aku mengambil tawaran jasa seorang pemandu wisata, laki-laki yang cukup ramah. Lumayan juga selain mendengarkan ia menerangkan sejarah tempat tersebut dia juga bisa membantuku untuk mengangkat stroller.

 

Tembok Raksasa China

Wisata kali ini aku lakukan pada akhir minggu, bertiga bersama suami dan Chiara. Lokasi yang kami tuju adalah Great Wall di Mutianyu. Perjalanan menuju lokasi lumayan memakan waktu yang agak lama, karena supir mobil yang kami sewa ternyata tidak mengetahui ke arah mana dia harus mengendarai mobilnya. Ia menggunakan navigasi di mobilnya tetapi entah navigasinya yang tidak benar atau ia yang salah menuliskan alamat tujuan. Akhirnya navigasi yang dipakai adalah orang-orang yang dijumpai di jalan, yang bisa memberikan keterangan ke arah mana sebenarnya menuju Mutianyu Great Wall tersebut. Untungnya supir taxinya ramah, tidak menggerutu sepanjang jalan, jadi alasan untuk kesal juga kurang tepat. Aku malah mensyukuri karena bisa melihat daerah lain yang sebenarnya bukan tujuan kami, dianggap bonus pemandangan yang dilihat (seperti contoh di foto orang berbincang).

Tak kami sia-siakan jasa cable car yang tersedia untuk naik menuju Tembok Raksasa terkenal ini. Cable car ini bisa menampung sekitar 6 orang penumpang. Pemandangan di atas benar-benar menakjubkan, serasa masih bermimpi bisa menjejakkan kaki tempat ini yang tercatat sebagai satu dari 7 Keajaiban Dunia tersebut. Cuaca pada saat kami tiba sedikit sejuk, tetapi karena berjalan naik dan turun tangga yang jumlahnya entah berapa itu membuat lebih hangat, ditambah sinar matahari yang menyengat saat itu akhirnya membuatku kepanasan. Setelah cukup lelah menyusuri jalur yang cukup panjang kami kembali menggunakan cable car untuk turun dari tempat yang lumayan tinggi tersebut. Cable car pengangkut turun ini lebih menyerupai Ski-lift, bisa menampung dua penumpang duduk berdampingan (cukup juga untuk duduk bertiga dengan Chiara). Perjalanan yang sangat berkesan ini juga melelahkan kaki, karena selama dua hari rasa pegal baru hilang.

Masih banyak sekali tempat-tempat di sekitar Beijing yang bisa aku kunjungi. Semoga suatu hari nanti bisa terlaksana.

Terima kasih untuk redaksi dan juga sahabat Baltyra yang telah mampir membaca.

 

Salam hangat.

 

 

Share This Post

Posted by Friday, 26 August 2011 on 07:01.

Categories: Lensa & Fotografi. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

102 Responses to “Beijing Selayang Pandang”

Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »

  1. 20
    HennieTriana Oberst Says:

    Tammy, iya benar yang kamu tulis. Di China nggak perlu repot ngasih tip. Supir taxi dikasih sisa kembalian yang cuma RMB 2,- aja sudah tundak-tunduk bilang terima kasihnya. Terus lagian mereka selalu kasih receipt, taxi gelap sekalipun kalau diminta tanda terima mereka kasih. MEmang ada kolega suamiku yang bilang kalau di SH jangan pakai taxi yang warna tertentu, tapi hampir nggak pernah aku ketemu, sepertinya oke-oke aja waktu di sana, walaupun bawa-bawa anak kecil dan stroller.
    Kolega suamiku yang dari SH kalau tugas di Bejing sering ngomel, sebel..

    Satu memang mereka nggak mau bawa penumpang muter-muter, benar memang. Aku pernah tuh naik taxi entah dari mana (lupa) mau balik ke apartemen. Begitu beberapa meter jalan supir taxi bilang harga tertentu, aku bialng nggak mau, mau pake meter. Dia ngomel-ngomel tapi jalan juga

    Sayangnya di shopping mall jarang ada tempat tunggu antrian taxi. KAlo nggak pasti nyaman banget utnuk penumpang ya. Tapi yah menurutku dan juga kolega-kolega suamiku, di China ini aman. JAdi kalau jalan juga nggak ketakutan walaupun sendirian.

    Terima kasih Tammy, tips dan keterangan tambahannya.

  2. 19
    tammy Says:

    Hennie: iya kalo di SH jarang. Tp di tempat2 tertentu sering juga gitu, yg aku tau tuh di depan Superbrand Mall Lujiazui. Pd rebutan taksi. Krn yg nyari banyak, mrk ogah kalo cuma deket2 aja. Skrg jauh lebih tertip ada yg ngatur dan ada tempat antrian. Yg paling susah cari taksi pas ujan. Kayak cari jarum di tumpukan jerami, udah dapat masih mesti rebutan.

    Kalo aku perhatikan, yg lbh sering terjadi di SH itu sopir taksi gak mau nyeberang (Puxi to Pudong ato sebaliknya) pada jam2 macet. Alasan yg sering dipake: aku nggak familiar sama daerah Puxi/Pudong.

    Pas terakhir ke SH, aku ke fabric market pas jam macet. Nah krn cuma mau ambil aja, aku suruh taksi tunggu. Suamiku tunggu di taksi, aku masuk toko. Pas balik sopirnya suruh kita cari taksi lain. Alasannya: ke Huaihai Lu macet. Terus dia ngomel panjang lebar. Aku diam aja. Krn dia ngomel gak berenti2, akhirnya aku muntap. Aku bilang: Kalo macet gak mau jalan, jangan jadi sopir taksi! Akhirnya dia diam, kita diantar juga. Pas udah nyampe, dia minta maaf. Mungkin takut aku laporin.

    T.Moken: Wah kalo mnrtku sih jauh lbh mending taksi di China deh. Kalo mau ngantar krn dikasih tip kan sama aja kayak taksi gelap yg Hennie bilang itu. Ya masalah nego aja. Lebih mending gitu kan, dari awal udah dirunding berapa. Drpd taksi di Indo, gak pake bilang dr awal, udah nyampe baru ngetok minta segini/segitu. Yg paling bikin sebel tuh ada tarif minim yg gak tertulis. Trs “pembulatan” ongkos argo yg seenak udelnya. Heran aja sama perusahaan taksi Indo, kenapa gak langsung aja dibikin peraturan tertulis tarif minim sekian. Trs kenaikan tarifnya 1000 per sekian km. Pokoknya angka yg bulat2 aja, toh dimintai kembalian juga gak bakal ada. Kalo di China udah jd kewajiban tukang taksi utk selalu sedia kembalian. Kalo gak punya kembalian customer berhak tidak bayar. Dan biasanya sopir taksi lumayan jujur, gak bakalan sengaja muterin penumpang, krn kalo penumpang sampe komplen ke perusahaan, bisa dipecat tuh sopir taksi. Yah gitu deh, kebanyakan gak berani macem2, wong yg cari kerjaan banyak.

  3. 18
    nu2k Says:

    Wouwwww, mbak Triana….. Mungkin lain kali bisa membuat cerita “Sehari bersama sang bonekaku -Chiara”.
    Cantiiikkknya… Seperti boneka.Jepang. Mbak di salah satu majalah Belanda pernah dituliskan tentang kesamaan model rambut, cara berpakaian, cara bergaya dan kesamaan wajahnya…. Mengapa tidak mengirimkan cerita mama dan gadisnya…

    Saya belum pernah betul-betul mblusak mblusuk Beijing.. Waaaahhh, fotonya membuat mata jadi terbuka lebar…. Cantik-cantik, secantik yang ada di foto terakhir …. Ha, ha, haaaaa…….Groeten, Nu2k…

  4. 17
    nu2k Says:

    Wouwwww, mbak Triana….. Mungkin lain kali bisa membuat cerita “Sehari bersama sang bonekaku -Chiara”.
    Cantiiikkknya… Seperti boneka.Jepang. Mbak di salah satu majalah Belanda pernah dituliskan tentang kesamaan model rambut, cara berpakaian, cara bergaya dan kesamaan wajahnya…. Mengapa tidak mengirimkan cerita mama dan gadisnya…

    Saya belum pernah betul-betul mblusak mblusuk Beijing.. Waaaahhh, fotonya membuat mata jadi terbuka lebar…. Cantik-cantik, secantik yang ada di foto terakhir …. Ha, ha, haaaaa…….Groeten, Nu2k…

  5. 16
    aimee Says:

    Wuahhh chiara cantik nya….mau donk anak kedua cewe cantik kayak chiara…hihihi ngareppp

  6. 15
    HennieTriana Oberst Says:

    CHIARA LILLIFEE

  7. 14
    HennieTriana Oberst Says:

    Elnino, iya bener juga ya, yang ditulis tak mewakili
    Mungkin kalau nggak di tengah kota Beijingnya lebih sering langitnya biru.
    Tapi memang jarang banget langitnya biru, bisa jadi karena industri dan kelembaban udara yang sangat tinggi.
    Iya ntar kalo ketemu Pams pasti aku bawa body guard untuk jaga Chiara
    Di China juga mesti jagain Chiara baik-baik, nggak cuma difoto aja (ngalahin artis) tapi juga ditowel-towel. Chiara suka sebel kalo diajak ke tempat ramai.

  8. 13
    HennieTriana Oberst Says:

    Mas Sumonggo, senang juga sudah mampir di sini, terima kasih.
    Tukang sapunya memang nggak berhenti bekerja. Kadang sebel juga banyak yang masih suka buang sampah sembarangan. Tapi memang hebat di China tukang sapu di mana-mana. Pemulung botol bekas malah ada lagi, tapi mereka mungkin mengumpulkan botol bekas untuk dijual.

  9. 12
    elnino Says:

    Hennie, fotonya keren-keren banget… Katanya suram, kelabu, tapi di foto justru keliatan cerah banget

    Wuehehe… Pampam girang betul ada idolanya…hehehe… Nanti kalo bener ketemuan, jagain Chiara tuh Hen, takut diculik Pampam

  10. 11
    HennieTriana Oberst Says:

    zai jian, Linda ikut-ikutan aja.

Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)