HennieTriana Oberst – Jerman
Hallo sahabat Baltyra semua, semoga kabarnya baik dan sehat selalu.
Tulisan ini merupakan catatan yang tertunda, perjalanan ke Beijing musim semi yang lalu. Artikel mengenai Beijing sepertinya sudah cukup banyak ditulis di Baltyra, jadi kali ini hanya foto-fotonya saja yang berbicara. Cerita tentang Beijing mungkin akan dilanjutkan lagi kapan-kapan.
Pemandangan di kota ini hampir selalu buram, abu-abu. Langit kota terlihat diselubungi kabut tipis. Yang membuat nyaman adalah rasa aman yang aku rasakan selama berada di sana. Kesan pertama berada di ibukota negeri Panda ini seperti berada di Jakarta. Lalu lintas yang padat, dan kemacetan pada jam-jam sibuk tertentu ditambah cara sebahagian orang mengendarai kendaraan mereka, bisa mendahului kendaraan dari jalur kiri ataupun kanan. Banyak juga yang menyetir di jalan bebas hambatan yang menggunakan jalur darurat untuk melancarkan perjalanan mereka. Walaupun kabarnya denda yang harus mereka bayar tinggi jika tertangkap.
Kuil Surga (Tian Tan)
Kesempatan untuk jalan-jalan sebisa mungkin aku lakukan walaupun hanya berdua dengan Chiara. Dengan modal peta dan alamat tujuan di tangan ditambah bahasa tarzan, aku berharap supir taxi akan mengerti dan mengantar kami ke tempat yang akan dituju. Supir taxi di Beijing banyak yang sering menolak penumpang, dengan alasan (mungkin) jarak terlalu dekat, atau mungkin saja mereka sedang malas mengangkut penumpang. Bahkan sering mereka maunya menjalankan taxi tanpa menggunakan Argometer (taximeter), hal yang mengingatkanku akan supir taxi seperti mereka yang banyak terdapat di Medan.
Menuju suatu tempat yang banyak dikunjungi oleh wisatawan seperti Temple of Heaven ini tentu tidak sulit. Tetapi untuk alamat lain seperti nama hotel atau restoran tidaklah selalu berjalan lancar. Pernah sekali waktu ketika sedang berada di jalur antrian taxi aku berkenalan dengan seorang Ibu asal Indonesia dan dua orang putrinya yang sudah dewasa. Beliau sedang bertugas di KBRI Beijing. Untung Ibu yang baik tersebut membantuku menyebutkan nama hotel yang akan kutuju kepada supir taxi (terima kasih sekali lagi ya, Bu). Padahal telah kutunjukkan kartu nama dari hotel tempatku menginap pada si supir, tapi tetap saja dia tak mengerti tujuanku. Aku hanya bisa memaklumi, dan menyayangkan kenapa aku tidak bisa berbahasa negeri setempat.
Kota Terlarang
Salah satu tujuan wisata yang termasuk juga dalam rencana jalan-jalanku adalah mengunjungi Forbidden City. Memanfaatkan waktu yang tidak terlalu panjang, hanya dua minggu, jadi rencana harus disesuaikan juga dengan kondisi fisik putri kecilku. Mengunjungi tempat bersejarah seperti ini berdua dengan putri balitaku dan satu stroller cukup merepotkan. Lokasi yang kukunjungi penuh dengan tangga naik turun, ditambah dengan banyaknya pengunjung yang datang, betul-betul membutuhkan tenaga ekstra dan kesabaran. Putriku merajuk dan langsung minta pulang begitu dia tahu banyak pengunjung dan tentu saja bukan tempat bermain yang mungkin sebelumnya ia bayangkan. Akhirnya aku mengambil tawaran jasa seorang pemandu wisata, laki-laki yang cukup ramah. Lumayan juga selain mendengarkan ia menerangkan sejarah tempat tersebut dia juga bisa membantuku untuk mengangkat stroller.
Tembok Raksasa China
Wisata kali ini aku lakukan pada akhir minggu, bertiga bersama suami dan Chiara. Lokasi yang kami tuju adalah Great Wall di Mutianyu. Perjalanan menuju lokasi lumayan memakan waktu yang agak lama, karena supir mobil yang kami sewa ternyata tidak mengetahui ke arah mana dia harus mengendarai mobilnya. Ia menggunakan navigasi di mobilnya tetapi entah navigasinya yang tidak benar atau ia yang salah menuliskan alamat tujuan. Akhirnya navigasi yang dipakai adalah orang-orang yang dijumpai di jalan, yang bisa memberikan keterangan ke arah mana sebenarnya menuju Mutianyu Great Wall tersebut. Untungnya supir taxinya ramah, tidak menggerutu sepanjang jalan, jadi alasan untuk kesal juga kurang tepat. Aku malah mensyukuri karena bisa melihat daerah lain yang sebenarnya bukan tujuan kami, dianggap bonus pemandangan yang dilihat (seperti contoh di foto orang berbincang).
Tak kami sia-siakan jasa cable car yang tersedia untuk naik menuju Tembok Raksasa terkenal ini. Cable car ini bisa menampung sekitar 6 orang penumpang. Pemandangan di atas benar-benar menakjubkan, serasa masih bermimpi bisa menjejakkan kaki tempat ini yang tercatat sebagai satu dari 7 Keajaiban Dunia tersebut. Cuaca pada saat kami tiba sedikit sejuk, tetapi karena berjalan naik dan turun tangga yang jumlahnya entah berapa itu membuat lebih hangat, ditambah sinar matahari yang menyengat saat itu akhirnya membuatku kepanasan. Setelah cukup lelah menyusuri jalur yang cukup panjang kami kembali menggunakan cable car untuk turun dari tempat yang lumayan tinggi tersebut. Cable car pengangkut turun ini lebih menyerupai Ski-lift, bisa menampung dua penumpang duduk berdampingan (cukup juga untuk duduk bertiga dengan Chiara). Perjalanan yang sangat berkesan ini juga melelahkan kaki, karena selama dua hari rasa pegal baru hilang.
Masih banyak sekali tempat-tempat di sekitar Beijing yang bisa aku kunjungi. Semoga suatu hari nanti bisa terlaksana.
Terima kasih untuk redaksi dan juga sahabat Baltyra yang telah mampir membaca.
Salam hangat.
Pages: « 11 10 9 [8] 7 6 5 4 3 2 1 »
Pages: « 11 10 9 [8] 7 6 5 4 3 2 1 »
August 27th, 2011 at 15:58
HennieTriana Oberst Says:
August 27th, 2011 at 14:38
Mbak Hennie, yg mbak maksud copy mengcopy itu Window of the World yah??? Yg di Shenzhen??? Yah memang mereka membangun hampir seluruh keajaiban dunia sich…Borobudur aja ada tuch miniaturnya di WOW….The Grande Palace Bangkok juga ada…sama bangunan2 di Eropa sich …semuanya berupa miniatur …
Katanya sih menurut penuturan mereka dibangun untuk menunjukkan kepada anak-anak sekolah di China bahwa bangunan2 bersejarah di dunia itu banyak lo…bukan cuma Great Wall Beijing….pas ke sana berkunjung malah yg banyak datang anak2 TK,SD,SMU dll hahahhaha kayaknya pengunjungnya didominasi orang China juga deh….
Kalo ke sana ada yg namanya Splendid China, Folk Song Culture apa gitu….menonton acara kayak Opera China gitu deh…bagus banget acaranya…kalo nga salah sekali masuk untuk 2 jam saja sekitar 120RMB kalo nga salah yah hehehhe….
August 27th, 2011 at 14:43
Lani, JC gak bakalan banting dirimu. Malah jangan-jangan ditimang-timang
August 27th, 2011 at 14:40
Lani, iya nih sampe hati JC bilangin aku medeni :’(
Aku sampe ngakak
August 27th, 2011 at 14:38
JC, wah awalnya muji-muji Chiara. Tapi lanjutannya gak enak banget.
Kok aku dibilang medeni karena pake kacamata item…wah payah deh…
Aku suka banget liat bangunan-bangunan lama dan bersejarah di China ini… hebat..banget.
Satulagi hebatnya orang China dalam hal copy mengcopy. Ada tuh daerah yang rumah-rumahnya dibangun mirip dengan ERopa.
Tp sampe sekarang aku belum jalan2 ke sana, lokasi masih ditutup. Pingin ambil fotonya. Menarik banget.
August 27th, 2011 at 14:29
HENNIE : lah, dia kan buto Hen…….aku dicengkewing……langsung dibanting ambyaaaar brodollllll balungku…….pating kriwil…….hahahah…ndak ada wong gemblunk meneh disini
August 27th, 2011 at 14:27
Lani, lho kalo dibaca bener-bener pasti ada arti tersembunyi di kalimatmu itu hahaha. Tapi emang enakan yang vulgar gitu dinikmati berdua aja kan. Masak sih Suhu bisa banting dirimu? mana berani dia
August 27th, 2011 at 14:25
AKI BUTO, HENNIE : Hen…….aki buto bilang kowe pake kacamata medeni…….tp menurutku, aki le wedi malah mendekat……nyedak-i ngono………wekekeke buto kok wedi sama cewe pake kacamata????? ampunnnnn………
August 27th, 2011 at 14:13
Chiara luar biasa cakep…(kalau orang Jawa bilang “menik-menik” = imut, mungil, cantik). Kalau mamanya pakai kacamata item gitu keliatan “medeni”, ketemu di jalan jangan coba-coba wis…

Wuiiiiiihhh itu detail gentengnya luar biasaaaaa…
bikinnya gimana ya…
Temple of Heaven memang luar biasa indah. Forbidden City kabarnya juga sangat impresif. Dengar-dengar kalau mau menyusuri seluruh ruangan Forbidden City tidak akan habis dalam seminggu…
Kapan-kapan kudu ke Beijing juga…selain ke Xinjiang dan Tibet yang jadi impian…
August 27th, 2011 at 13:44
HENNIE : 53 kata2ku yg mana memancing????? memancing ikan????? ato memancing huru hara?????? wakakak…….
51????? ndak ada critanya Hen, krn terlalu vulgar………nanti aku bs kena banting sama aki buto krn server Baltyra bs ambyaaaaaaaaar…………wakakakak……..jd cukup dinikmati berdua saja…….spt kamu tulis kulum mengulum wahahaha……..hajar blehhhhhhhh……….tralala trilili……..
August 27th, 2011 at 13:33
Rosda, terima kasih sudah mampir.

Dia yang mau naik dan difoto duduk di atas gitu. Ada yang jaga kok, papanya hehehe..
Kadang kalau lagi centil, dia mau bergaya kalau difoto, tapi seringnya sulit…
Salam hangat.