Memberikan Peringkat Pada Anak, Pantaskah?

Yeni Suryasusanti

 

Waktu saya masih kecil, Ibu saya sering berkata bahwa meskipun perempuan semua dan lahir dari rahim yang sama, ketiga putrinya tidak seorangpun memiliki sifat yang serupa serta kecerdasan di bidang yang sama.

Secara sifat, kakak pertama terkenal dengan sifat galak dan cueknya, kakak kedua terkenal sifat rajin dan penurutnya, sedangkan saya sebagai anak bungsu terkenal dengan sifat keras hati dan keras kepalanya :D

Mengenai pelajaran sekolah, kakak pertama seingat saya menguasai hampir semua bidang, kakak kedua menyenangi ilmu sosial, dan saya menyenangi pelajaran yang berkaitan dengan angka :)

Namun alhamdulillah kami dikaruniai kedua orang tua yang bijaksana.

Meskipun saya dikaruniai sederet sifat yang kurang baik, Ibu tidak pernah putus asa menghadapi tingkah laku saya.

Masih jelas dalam ingatan saya ketika kami SD, kakak kedua saya selalu menjadi ranking 1 di kelasnya. Kakak kedua saya itu memang sangat rajin, selalu belajar meski tidak ada ulangan dan PR. Sedangkan saya, seringkali hanya mengandalkan ingatan ketika guru menjelaskan pelajaran di kelas. Saya baru belajar hanya jika ada PR dan ulangan heheheh… *Ifan, Fian, jangan ditiru yaaaa…hihihihi*

Ibu selalu berusaha mengangkat semangat belajar saya dengan berkata, “Yeni itu nggak belajar saja sudah dapat ranking 3, kalau rajin belajar seperti Ceu Yes, pasti jadi juara 1!”

Dalam beberapa kesempatan berkumpul dengan teman-teman yang sudah memiliki beberapa anak, saya sempat mendengar beberapa teman berkomentar tentang anak-anaknya, “Anak gue si A itu lebih pintar dari si B. Si A selalu belajar sendiri, nggak pernah tuh nunggu gue ngajarin dia. Si B udah gue ajarin bolak balik sampe gue stress sendiri nggak nangkap juga. Pusiiiinnggg…”

Ya, tanpa sadar, terkadang kita sebagai orang tua memberikan “Peringkat” kepada anak-anak kita secara global :(

Ketika telah memiliki 2 orang putra, saya sendiri pun harus mengakui bahwa ucapan Ibu saya sungguh benar.

Ifan dan Fian, memiliki sifat dan kemampuan yang bisa dikatakan cukup jauh berbeda :)

Mengenai sifat, hingga saat ini (pada usia hampir 11 th) Ifan cenderung memiliki bersifat penurut. Ifan selalu berkata “Iya, Bunda…” atas instruksi saya meskipun terkadang berlama-lama dalam pengerjaannya, dan tidak pernah berkata “Tidak mau, Bunda…”, meskipun rasa tidak suka terlihat nyata dari ekspresi wajah dan nada suaranya :D

Sedangkan Fian (yang saat ini berusia 3 th), sepertinya akan tumbuh menjadi anak yang sangat tegas :D

Fian akan berkata “Tidak mau, Bunda…” jika tidak setuju, dan baru berkata “Oke, Bunda…” jika setuju dengan instruksi yang saya berikan.

Mengenai cara belajar, Ifan dan Fian pun memiliki cara berbeda.

Ifan cenderung belajar dari literatur. Dia akan menyerap informasi dari yang dibaca baik itu dari ensiklopedi dan majalah atau yang didengar dari saya, suami saya, guru atau lainnya, kemudian mengkorelasikannya dengan kesimpulan akhir.

Ketika saya pergi membesuk salah seorang teman yang sedang baru menjalani tindakan ESWL di RS Premier Jatinegara sepulang dari kantor, Ifan menghubungi saya melalui telepon menanyakan mengapa saya belum tiba di rumah :D

Saya berkata bahwa saya membesuk teman yang sedang sakit.

“Sakit apa, Bun?” tanya Ifan.

“Sakit akibat kurang minum,” jawab saya secara tidak langsung.

“Oh… sakit ginjal ya Bun,” Ifan seketika menarik kesimpulan.

Cukup mengejutkan saya, karena Ifan ingat peringatan yang saya sering sampaikan karena Ifan sering malas minum air putih. Memang ketika naik ke kelas 5 Ifan meminta mengambil ekskul Dokter Kecil :)

Fian, terlihat mulai ahli dengan learning by doing. Rasa penasaran mendorongnya untuk tidak putus asa berusaha meski awalnya menemui kegagalan. Dengan motorik yang sangat bagus, Fian mampu membongkar dan memasang kembali segala benda kecil yang dieksplorasinya tanpa minta diajari. Senter, Tutup botol, remote TV dan lain-lain. Dalam beberapa kesempatan Fian menyerah setelah beberapa lama berusaha, memberikan barang yang sedang dieksplorasinya kepada saya, “Bunda aja deh yang pasang,” namun dengan cermat dia memperhatikan saya merakit kembali barang yang telah dibongkarnya. Tak lama kemudian Fian akan kembali membongkar barang tersebut, dan secara luar biasa berhasil merakitnya kembali :)

Sedangkan Ifan, yang motoriknya memang kurang baik dibanding anak seusianya, seringkali cepat putus asa dalam merakit dan mengandalkan contoh tindakan langsung dari saya, bahkan terkadang meminta saya saja yang memasang kembali sesuatu yang tidak berhasil dipasangnya.

Ketika laci Ifan patah rel-nya, sebenarnya laci tersebut masih bisa menutup, namun dengan sedikit trik :)

Beberapa kali mencoba menutup laci dengan rapat dan gagal, Ifan menyerah dan berkata, “Ifan nggak bisa, Bun…”

Mencoba mendidik Ifan tidak mudah putus asa, saya berkata, “Ifan perhatikan cara Bunda ya… Bunda kasih contoh bahwa memang laci ini bisa ditutup, trus Ifan coba sendiri lagi. Jika berhasil, khusus hari ini boleh main game di facebook setelah belajar. Tapi kalau nggak bisa ya facebooknya seperti biasa di akhir minggu…” :D

Saya kemudian memberikan contoh dengan perlahan bagaimana trik menutup laci itu, dan segera menarik laci kembali hingga terbuka sambil tersenyum.

Setelah beberapa kali berusaha sambil mengingat cara yang saya contohkan, Ifan berhasil menutup lacinya :D

Kesamaan sifat Ifan dan Fian adalah mereka suka “membela” teman. Namun, caranya berbeda :D

Fian membela secara spontan. Jika ada yang disakiti, maka Fian saat itu juga akan membela atau membalaskan tindakan yang menyakitkan orang yang dibelanya.

Sedangkan Ifan, menggunakan cara yang berbeda. Pernah waktu kelas 2 SD, saya dihubungi guru wali kelasnya melalui telepon. Ifan berkelahi dengan salah seorang siswa. Awalnya terkesan Ifan yang mulai terlebih dahulu. Namun ternyata ketika ditelusuri penyebabnya, Ifan memukul karena pada pagi harinya teman Ifan ada yang diganggu oleh siswa tersebut. Karena siswa itu berbadan cukup besar, dan teman yang diganggu tidak berani bertindak, Ifan membalaskan sakit hati temannya. Hanya saja, Ifan menunggu siswa tersebut lengah. Akhirnya, keduanya sama-sama dihukum menulis.

Saya menjelaskan kepada Ifan, meskipun dari sisi strategi memang dibutuhkan perencanaan, namun ada perbedaan dari sisi hukum ketika hal itu menyangkut pembelaan diri secara spontan atau membalas dengan perencanaan :)

Kembali kepada “Peringkat”, saya tidak akan pernah bisa membandingkan mana yang lebih pintar ataupun hebat : Ifan atau Fian. Mereka tidak bisa dibandingkan, karena pembandingnya bukan apple to apple. Masing-masing memiliki keunggulan di bidang yang berbeda.

Apalagi tidak pintar pun bukanlah sebuah dosa dan kejahatan. Justru setiap keterbatasan Ifan dan Fian seharusnya menjadi pemacu bagi saya dan suami untuk lebih mencintai dan membantu mereka, bukan malah merendahkan dan menghakimi.

Jangan pernah melupakan dahsyatnya doa orang tua, terutama doa seorang Ibu. Jadi, daripada kita memberikan peringkat dan mengeluhkan anak-anak kita, bukankah lebih baik jika kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengajari dan mendoakan mereka? Insya Allah kita bisa :)

 

Jakarta, 23 Agustus 2011

Yeni Suryasusanti

 

12 Comments to "Memberikan Peringkat Pada Anak, Pantaskah?"

  1. Rosda  29 August, 2011 at 02:08

    Mbak Yeni…jika banyak orang tua seperti Mbak dan suami, beruntunglah anak-anak mereka.
    Lha…seorang teman saya, jelas-jelas lebih memanjakan salah satu anak perempuannya yang cantik dibandingkan dengan anak perempuannya yang lain. Katanya, sejak anak perempuannya yang cantik itu lahir (bungsu), membawa rejeki bagi keluarga mereka. Sakit hati kalau punya ibu kayak gini…

  2. J C  27 August, 2011 at 14:06

    Yeni, untungnya di sekolah anak-anak tidak ada ranking-ranking’an lagi. Pemahaman untuk tidak mementingkan akademis tertentu sudah mulai banyak. Kalau dulu jaman kita, anak yang nilai matematika 8 dianggap lebih pintar dibanding yang nilai matematika 6 tapi nilai olahraga atau kesenian (musik/menggambar) 9.

    Terima kasih untuk sharing’nya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.