[Serial de Passer] Astari dan Si Blirik

Dian Nugraheni

 

Bulan Puasa, Ramadan, telah tiba. Di kampung tempat Astari tinggal pun, terasa juga aroma suasana Ramadan ini. Orang-orang yang berpuasa, akan merayakan kemenangan mereka di hari itu ketika adzan Maghrib tiba, yaitu dengan menyegerakan berbuka puasa dengan hidangan khas berupa kolak, buah, dan makanan-makanan manis lainnya.

Astari kecil pun telah mulai belajar berpuasa. Kata Mbah Kakungnya, orang-orang yang sedang belajar berpuasa, bolehlah puasa bedug, atau puasa setengah hari dan berbuka ketika bedug Dzuhur tiba, tapi kalau sudah kuat, ya sebaiknya diteruskan hingga Maghrib.

Hampir setiap sore, Mbah Lukito Putri selalu berusaha menyajikan makanan terbaik buat cucunya ini, kadang dibuatnya kolak pisang yang dicampur dengan singkong, atau telo munthul, ubi pendem yang berwarna keunguan, dan sedikit kolang-kaling. Pisang dan ubi didapat dari kebun samping rumah, sedangkan kolang-kaling harus dibeli di pasar.

Hidangan ini dibuat tidaklah banyak, sedikit saja cukup, hanya sebagai makanan pembuka. Itu pun Astari sudah luar biasa senang. Kira-kira sepuluh menit menjelang buka puasa, selalu Astari sudah selesai mandi, dan duduk rapi di depan meja makan. Ditatapnya semangkuk kecil kolak buatan Mbah Lukito Putri, sambil sedikit-sedikit dia bertanya pada Mbah Lukito Kakung, “jam berapa ini, Kung…, berapa menit lagi bukanya..?”

“Sebentar lagi Astari, lima menit lagi…,” jawab Mbah Lukito Kakung. Dan kembali Astari duduk sambil meletakkan kedua tangannya di meja makan.

Dan ketika adzan Maghrib dikumandangkan dari satu-satunya langgar, surau kecil di kampung itu, wajah Astari akan langsung tersenyum lebar, berbinar, sambil bergegas meraih mangkuk kolaknya. Tak lupa Astari berdoa, dan segeralah dia santap kolak itu dengan lahap. Mbah Lukito Kakung dan Putri tersenyum puas menyaksikan Astari yang makan dengan penuh semangat.

Menjelang adzan Isya, Astari sudah akan bersiap untuk shalat taraweh. Biasanya Entik dan Witri akan menjemputnya, kemudian, bersama-sama mereka akan berjalan beriringan menuju langgar. Demikianlah riuh dan semaraknya bulan Puasa di kampung Astari.

Tak terasa, tujuh hari lagi sudah akan tiba Hari Raya Idul Fitri, Lebaran akan segera tiba. Teman-teman Astari sudah banyak yang membicarakan tentang berapa buah baju baru yang akan mereka dapatkan di hari Raya ini. Astari hanya terdiam, karena dia tau, bahwa dirinya tidak boleh terlalu berharap untuk mendapatkan baju baru. Embahnya tak punya banyak uang, jangankan untuk membeli baju baru, untuk keperluan sehari-hari pun mereka harus ketat berhitung.

Dua hari menjelang Lebaran, Hari Raya Idul Fitri, malam itu, sayup-sayup Astari mendengar percakapan antara Mbah Lukito Kakung dan Mbah Lukito Putri, “Pakne.., Lebaran kali ini, apakah kita juga akan masak opor..? Tidak mungkin kita beli ayam potong, tidak ada banyak uang untuk itu..,” kata Mbak Lukito Putri.

“Ya kalau tidak ada yang buat beli ayam, ya tidak usah masak opor. Kita ambil saja nangka dari pohon, dimasak gudeg bersantan saja. Bikin kupat secukupnya, sudah cukup, kan..?” begitu kata Mbah Lukito Kakung.

“Kasihan Astari, tentu saja dia juga ingin makan kupat dengan Opor..,” gumam Mbah Lukito Putri lirih. “Apa kita potong saja si Blirik, ya, Pakne..? Hanya si Blirik yang sudah tua, lain-lainnya masih agak kecil, belum banyak dagingnya kalau harus dipotong,” lanjut Mbah Lukito Putri lagi.

“Jangan…, jangan potong si Blirik. Itu babon kesayangan Astari..,” sergah Mbah Lukito Kakung cepat.

Begitu mendengar si Blirik akaan disembelih untuk dijadikan opor, mata Astari yang sudah mengantuk, tiba-tiba menjadi segar kembali, jantungnya berdegup lebih keras, tiba-tiba otaknya berpikir keras, memikirkan si Blirik.

Si Blirik adalah ayam betina, babon, yang sudah tua memang. Dia sudah terlalu banyak memberikan telor buat Astari, juga sudah punya banyak anak, dan anak-anaknya sekarang sudah menjadi ayam-ayam remaja. Tapi, mana mungkin Astari akan melepaskan si Blirik untuk dibunuh, dimasak..? Sedangkan hampir setiap pagi, dia selalu merayu-rayu Embahnya untuk minta sedikit beras, khusus untuk makan si Blirik..?

Tapi bilang sama Embahnya, untuk mengurungkan niat menyembelih si Blirik, juga bukan perkara gampang, karena Astari pun tidak ingin Embahnya kecewa. Astari paham, selayaknya merayakan Lebaran, sudah menjadi kebiasaan bahwa hidangan utama yang selalu ada adalah Kupat dan Opor Ayam….

________

Nanti malam adalah malam Takbir. Anak-anak kecil dan remaja di kampung Astari sudah bersiap akan berpawai keliling kampung, membawa obor, lampu yang terbuat dari batang bambu, yang diisi minyak tanah, dan diberi sumpal gombal di ujungnya, yang berfungsi sebagai sumbu. Nahh, bila dibakar, maka jadilah sebuah Obor. Dengan penerang Obor ini, dan seruan-seruan Takbir, acara keliling kampung tentu akan sangat meriah.

Tapi Astari sudah tidak mampu lagi berpikir soal Takbiran malam nanti. Pukul 2 siang, Astari sudah mengendap-endap untuk mencari si Blirik. Astari menuju kebon samping rumah, sambil membawa segenggam beras yang diambilnya tanpa minta ijin dulu, dari tenggok kecil, tempat beras yang terbuat dari anyaman bambu, di dapur Embahnya.

Dengan sangat lirih, Astari mencari-cari si Blirik. “Blirik…, Blirik…’ kemari…, aku bawakan beras buatmu.., kemarilah…, aku mencarimu…”

Beberapa saat kemudian, muncullah si Blirik, dengan pelahan, Astari buka tangannya, dan si Blirik langsung mematuk-matuk beras dari tangan Astari. “Sini Blirik…, kita akan pergi jauh, kamu nggak boleh mati…” kata Astari. Seperti tau rencana Astari, si Blirik yang biasanya berpetok-petok gaduh, kali ini tampak tenang. Dia menurut begitu saja ketika ditangkap dan digendong oleh Astari.

Sambil menggendong si Blirik, Astari berjalan pelahan menuju arah Mbelik, sumber air di mana orang kampung selalu pergi ke sana untuk mandi, mencuci, dan keperluan lain yang berkaitan dengan kebutuhan akan air. Dia akan ke rumah Mbak Pawiro. Mbah Pawiro punya banyak ayam, maka Astari ingin menitipkan si Blirik kepada Mbah Pawiro.

Di pintu dapur rumah Mbah Pawiro, Astari mengetuk pelan, “Mbah…., Mbah Pawiro…, Mbah lagi apa..? Boleh aku masuk, Mbah..?” kata Astari.

Kemudian seseorang menyahut, “Siapa itu di luar..? masuk saja, pintunya tidak Mbah grendel…” itu suara Mbah Pawiro Putri.

Segera Astari masuk, memandang Mbah pawiro Putri sejenak. “Lha kok kamu nggendong si Blirik itu mau kamu bawa ke mana, Astari..?” tanya Mbah Pawiro Putri.

Astari terdiam, masih menggendong si Blirik, Astari mendudukkan dirinya di dingklik depan luweng, kompor yang terbuat dari tanah liat. Ditatapnya Mbah Pawiro yang sedang menganyam janur bakal kelontong kupat.

“Mbah Pawiro masak kupat..?” tanya Astari.

“Yaa, besok kan Lebaran, semestinya ada kupat, juga opor, sebentar lagi Mbah Pawiro Kakung akan menyembelih 2 ayam babon. Ayam Mbah sudah banyak, tidak masalah kalau hanya berkurang 2 ekor…” jawab Mbah Pawiro Putri.

“Mbah Lukito juga masak Opor kan, juga bikin kupat..?” tanya Mbah Pawiro Putri. Astari terdiam.

“Kamu kena apa Astari, kok malah bengong..?” tanya Mbah Pawiro Putri lagi.

Kemudian, Astari berkata, “Mbah, boleh aku titip si Blirik di kandang ayam Mbah Pawiro..? Sampai habis hari Raya saja, nanti habis hari Raya, si Blirik aku jemput lagi..”

“Lha kenapa kok dititipkan Embah..?” tanya Mbah Pawiro Putri bingung.

“Si Blirik mau disembelih buat bikin Opor, Mbah, aku nggak boleh, si Blirik kan ayamku, kasihan dia sudah tua, si Blirik nggak boleh mati,” berkata begitu, mata Astari berkaca-kaca dan menahan isak tangisnya.

“Oalahhhh, begitu to masalahnya.., ya sudah, sana masukkan si Blirik ke salah satu kandang yang kosong di belakang rumah…” kata Mbah Pawiro Putri.

Dan dengan lega, sangat bersenang hati, Astari mengantar si Blirik ke kandang belakang rumah Mbah Pawiro. “Blirik, kamu aman di sini, nanti kalau aku pulang, kamu nggak boleh ribut yaa, besok sesudah Lebaran, kamu aku jemput lagi..,” begitu kata Astari sambil mengelus bulu-bulu si Blirik. Si Blirik menatap sayang pada Astari.

Menjelang jam 5 sore, sesudah membantu Mbah Pawiro Putri mengisi beras ke kelontong kupat, Astari pamit pulang. Sampai di rumah, didengarnya sedikit ribut di dapur, “mosok to, Pakne, kamu nggak berhasil menemukan si Blirik. Lha kalau tidak ketemu ya kita batal masak opor..” kata Mbah Lukito Putri.

“Ya sudah, wong nggak masak opor juga nggak apa kok Bune.., gudeg nangka sudah cukup buat teman makan kupat, jangan memaksakan diri kalau memang tidak ada…,” kata Mbah Lukito Kakung.

“Kasihan Astari to, Pakne…'” sahut Mbah Lukito Putri lagi.

Mendengar percakapan itu, Astari segera memasuki dapur dengan perasaan yang ditenang-tenangkan, “aku nggak pengen makan opor, kok, Uti.., aku mau makan kupat sama gudeg aja. Bikin sambel yaa, sama krupuk.., pasti enak…”

“Bener Astari, kamu nggak pengen makan Opor..? Nanti kalau kamu ditanya teman-temanmu, apa tidak malu kalau kita tidak masak Opor..?” tanya Mbah Lukito Putri.

“Enggak, Uti, nggak usah pake ayam, aku juga nggak akan malu kalau teman-temanku bertanya soal ini..,” jawab astari lagi.

“Lha ya sudah, nggak masak opor juga nggak apa-apa, tapi cari si Blirik, Astari, sudah hampir Maghrib dia belum ngandang, biasanya kan sudah ada dekat kandangnya sana, dicari-cari sama kakungmu kok nggak ketemu..,” kt Mbah Lukito Putri.

“Biar aja lah Uti, paling si Blirik lagi main, nanti juga pulang sendiri, nanti biar aku yang tutup kandangnya kalau dia sudah pulang..” jawab Astari.

Mbah Lukito Putri segera kembali sibuk, meneruskan memasak gudeg bersantan, dan menyiapkan sambel trasi goreng pesanan Astari.

Setelah mandi sore, berbuka puasa seadanya, Astari segera masuk ke kamar, berbaring-baring sambil membaca buku cerita yang dipinjamnya dari Farah. Dia sudah memutuskan, tidak akan ikut pawai keliling kampung untuk takbiran. Astari mau istirahat saja di rumah.

________________

Malam hari, kira-kira jam 8 malam, pintu depan diketuk, ada tamu, dan tamu itu ternyata Mbah Pawiro Kakung. Tau hal itu, dada Astari berdegup demikian kencangnya, “Aduhhh, kenapa juga Mbah Pawiro Kakung datang kemari, apakah dia akan melaporkan tentang si Birik yang aku titipkan di kandang ayamnya, ataukah dia mengembalikan si Blirik..? wahh, Bliriiiik…kamu nggak boleh mati…” Astari menangis di kamar, sambil sedikit-sedikit mencuri dengar apa yang diperbincangakn Mbah Pawiro Kakung dan mbah Lukito Kakung.

“Pak Lukito, maaf, malam-malam saya sowan, ini, mau nganter ayam, sudah saya bersihkan, nanti Bu Lukito biar masak opor buat Astari…,” kata Mbah Pawiro Kakung.

“Lho.., kok repot-repot to Pak Pawiro.., sedianya kami juga akan masak opor, mau sembelih si Blirik, tapi Bliriknya malah ngilang…,” jawab Mbah Lukito Kakung.

Kemudian, Mbah pawiro berkata-kata sangat pelan pada Mbah Lukito Kakung, entah apa yang dibicarakannya, karena tak lama kemudian, Mbah Pawiro Kakung pamit pulang. Tak lupa Mbak Lukito Kakung mengucapkan terimakasihnya.

“Buuu…, Buuu, ini lho, pak Pawiro kok malah nganter ayam potong, tinggal masak, buat Astari katanya…” seru Mbak Lukito Kakung sembari menuju dapur.

“Wahh, lha kok repot-repot to Pak Pawiro ini..,ini rejeki buat kita, Pakne…, rejeki buat Astari…”

___________________

Kemudian Mbah Lukito Kakung menuju kamar Astari, “Astari… kamu sudah tidur..?”

Didekatinya cucunya yang terbaring dikasur, mukanya ditutup bantal, Astari menangis. “lho kenapa kok menangis, bukannya ikut takbiran malah di rumah saja..”

Astari sudah tak mau berbasa-basi, “Kakung, Mbah Pawiro tadi ngantar ayam kan, apakah itu si Blirik yang disembelih..?”

“Ha..ha..haa.., Astari.., tadi Mbah Pawiro sudah cerita banyak tentang kamu yang menitipkan si Blirik tadi siang. Ya sudah, wong Kakung juga sebenarnya nggak boleh kalau si Blirik disembelih. Kakung tau kamu pasti tidak memperbolehkannya. Itu ayam potong yang diantar Mbah Pawiro, bukan ayammu si Blirik, si Blirik masih dikandang di rumah Mbah Pawiro.., Mbah pawiro cuma sayang saja sama kamu, Astari, maka dia mengantar ayam potong buat kau…”

“Benar, Kung, bukan Blirik kan..?…huuu..,”Astari masih saja menangis nelangsa.

“Bukan.., besok pagi, tengoklah si Blirik, bawa kembali pulang yaa.. Oya, besok kan Lebaran, siapkan bajumu yang paling bagus, besok dipakai halal bihalal keliling kampung sama teman-temanmu…, kali ini, Kakung tidak bisa belikan baju baru. Jangan kecewa yaa, kapan-kapan Kakung akan belikan baju baru buatmu, segera setelah punya uang…”

Astari mengangguk-angguk. Dia bangkit menuju lemari pakaiannya. Ditatapnya tumpukan bajunya dari atas ke bawah, tak ada yang nampak baru. Kalau pun ada, baju-baju itu juga sudah banyak yang sempit. Yang tidak sempit hanyalah baju-baju seragam sekolah, dan beberapa potong baju rumah sehari-hari. Astari menggeleng, “Nggak ada yang bagus, Kung. Besok Astari di rumah saja, Astari nggak akan keliling kampung…, asal Blirik jangan dipotong…”

Mbah Lukito Kakung mendekat pada Astari, dipeluknya cucunya beberapa saat lamanya. Astari menangis tersedu-sedu, tambah nelangsa kedengarannya. Dalam hati Astari, dia teringat Ibunya.., semua serba menyedihkan, semua serba gelap, semua serba terasa bagaikan hujan di senja hari, dengan langit kelabu dan petir menyambar-nyambar. Suasana itu yang mengantar kepergian Ibunya beberapa tahun lalu.

“Sudah, Astari kalau capek, tidur saja yaa, Kakung mau bantuin Mbahmu Putri masak kupat…”

Astari mengangguk, siap membaringkan diri di kasurnya lagi, tepat ketika sekali lagi, pintu depan diketuk, berarti ada tamu lagi. Mbah Lukito Kakung beranjak ke depan membukakan pintu, tapi sesaat kemudian suaranya memanggil-manggil cucunya, “Astariii..kemari Nak, lihat siapa yang datang ingin bertemu denganmu…”

Astari segera melangkah ke ruang tamu, dan sama sekali tidak menduga ketika didapatinya, Farah, dan Ibunya, Bu Barkah, datang mencari Astari. Sambil tersenyum gembira, Farah mendekat dan memeluk Astari, “Astari, kenapa tiga hari ini tidak main ke rumah..? Aku bawakan buku cerita lagi, sama…, ini.., ini buat kamu. Buka sekarang juga..” kata Farah. Bu Barkah memandang kedua anak kecil itu sambil tersenyum. Astari dan Farah masuk ke kamar Astari, sementara Mbah Lukito Kakung dan Putri, duduk di ruang tamu menemani bu Barkah mengobrol.

Di kamar Astari, “Astari, aku beli baju baru buat Lebaran besok. Lihat, ini dua buah buat kau, dua buah buat aku, modelnya sama persis, hanya warnanya saja yang berbeda. Kamu warna merah jambu dan biru, aku warna hijau dan oranye. Juga ini mukena buat shalat Ied di lapangan kota besok. Kita berangkat sama-sama yaa..?” kata Farah bersemangat. Astari hanya melongo, tak tau harus bagaimana. Dua hari ini rasanya banyak hal yang membuat otaknya sesak, membuatnya menangis sedih, tak tau harus bagaimana. Tapi tiba-tiba, semuanya mendapatkan jalan keluarnya. Mbah pawiro mengantar ayam, Farah mengantar baju lebaran dan mukena.

Kemudian kedua anak kecil ini bersama-sama ke ruang tamu, mendapatkan para orang tua yang sedang berbincang.

“Sudah Farah..? Sudah selesai rembugan dengan Astari..? kalau sudah selesai, mari kita pulang, sudah malam. Astari, jangan lupa besok kita shalat Ied sama-sama yaa..,” kata Bu Barkah.

Sekali lagi, tak lupa, Mbah Lukito Kakung Putri, dan Astari, mengucapkan terimakasih atas oleh-oleh yang diberikan Bu Barkah dan Farah kepada Astari.

“Jangan terlalu dipikirkan, Pak, Bu, Lukito, ini kami lakukan karena kami sayang pada Astari, Astari sering main ke rumah kami, bermain sama Farah, membaca buku. Astari anak yang baik…rumah kami selau terbuka untuk Astari…”

________________________

Mbah Lukito Putri kembali ke dapur meneruskan memasak hidangan Lebaran. Mbah Lukito Kakung mengantar Astari ke kamar. Astari membaringkan tubuh dan otaknya yang lelah di kasur, sambil sedikit membayangkan, bahwa besok dia akan memakai baju baru seperti kawan-kawannya yang lain. Bibirnya sedikit tersenyum…

Seperti biasa, Astari meraih tangan Mbah Lukito Kakung untuk dijadikan bantalan di pipinya, dan kembali Mbah Lukito kakung menyenandungkan uro-uro, senandung tembang berbahasa Jawa. Ini adalah hipnotis paling kuat untuk mengantar Astari ke alam mimpinya. Dan besok pagi, bukanlah lagi mimpi, Astari akan mandi pagi, memakai baju baru, menenteng mukena baru, dan bersama-sama Farah dan Bu Barkah pergi ke lapangan kota untuk shalat Ied.

 

Virginia,
Dian Nugraheni
24 Agustus 2011, jam 9.39 malam..
(rindu suara sorak sorai kemenangan, takbiran menjelang Lebaran di negeriku, Indonesia..)

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

15 Comments to "[Serial de Passer] Astari dan Si Blirik"

  1. Dian Nugraheni  31 August, 2011 at 04:33

    Kepada Mbak Lani, Bagong Julianto, JC, Mbak Rosda, Mbak Linda, Pak DJ, Mpiet, Mbak Hennie Triana Oberts, Somonggo, Dewi Aichi, dan PasP4mPr3s (nama ini paling sush nulisnya, mesti dieja satu2..he2..), terimakasih banyak share komennya yaa…salaaam…..

  2. Dian Nugraheni  31 August, 2011 at 04:29

    all my frens di baltyra…maaf bangets baru bisa hadir saat ini…sebelumnya, saya ucapkan Selamat Idul Fitri bagi yang merayakan, dan saya secara pribadi mohon dimaafkan atas segala salah bila itu terjadi…

    terimakasih banyak juga share komennya di kisah Astari kali ini…sangat…, sangat berarti buat saya.., dan masukan2 ini akan menjadi bekal saya untuk mengedit sedikit-sedikit kisah ini…termasuk Lebaran nggak harus baju baru, betul sekali mbak Linda…, dan nantinya, dengan pengalaman tersebut, memang Astari dewasa, mengajarkan pada anak2nya tentang hal ini, bahwa lebaran bukanlah identik dengan baju baru, atau harus masak opor, dan hal2 fisik lainnya…he2…

    Dan memang kali ini saya juga enggak masak opor ketupat, soalnya jauh dari kampoeng halaman, trus kalau masak2 beginian kan lama bikinnya, trus yang makan cuma kami sekeluarga aja, mana makannya pada dikit2, he2…nanti nungguin acara Halal Bihalal di Wisma Indonesia, washington, DC aja…kan banyak teman Indonesia berkumpul…jadi makan2 masakan ini (semoga ada Opor dan Lontong), akan tambah seru kalau rame2…(he2..judulnya ngarep banget deh…

  3. Dewi Aichi  28 August, 2011 at 08:24

    Duh…mewek

  4. Lani  28 August, 2011 at 01:50

    crita yg berakhir happy ending………blirik ora sido mati disembelih……….Astari mendptkan berkah kado dr bu Berkah…….tak terkira bahagia hati Astari bs berlebaran dgn apa yg diimpikan……pucuk dicinta ulam tiba…….

  5. Lani  28 August, 2011 at 01:47

    wadoooh……..moco artikel iki atiku dadi nelongso………njur nangis gero2…….pie iki???

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *