Juwita

Ida Cholisa

 

“Kau seperti angin yang bertiup lembut,” Juwita memujiku.

Berdesir hatiku. Tak seperti biasanya kekasihku merangkai kata. Bahkan tak seperti biasanya ia bergelayut manja.

“Aku ingin terus melajukan layar bersamamu, sebesar apapun gelombang itu.Percaya penuh padaku, tak akan aku meninggalkanmu.”

Juwita mendekat padaku, sangat dekat. Hingga pucuk hidungnya menyentuh bulat hidungku. Dadaku berdegub kencang. Nafasku memburu. Tersengal aku. Terus Juwita…, terus…, jangan berhenti….

“Tunggu aku di sini, saat purnama nanti,” ia menarikku, menenggelamkanku dalam pusaran cinta yang menghentakkan seluruh jiwa ragaku.

Bagai dibawa mimpi aku terbang menjelajah awan, tinggi tak terperi. Mendaki gunung hingga puncak mampu terjejak kaki. Aku lelaki sejati, aku lelaki sejati…

Terjaga mataku. Juwita tlah tak ada di sampingku. Ia pergi menyisakan jejak cinta yang membekas tanpa mampu aku melupakannya, sebesar apapun aku berusaha melakukannya.

Dua purnama telah lewat, Juwita tak lagi pernah mendekat. Saat purnama tiba, selalu aku menantinya di tempat di mana cinta itu terpahat. Tapi Juwita tak pernah terlihat.

Aku lelah menunggunya, menunggu tanpa kabar berita, tanpa kepastian yang memenuhi relung jiwa.

“Abang,” aku tersentak. Suara itu, ya suara itu, sungguh aku mengenalnya, teramat mengenalnya…

“Juwita!!” aku berteriak. Kusongsong hadirnya, penuh suka cita.

Aku melumatnya tanpa jeda, seberingas yang mampu aku melakukannya. Malam itu rinduku bertempur dengan rindunya, tak terperikan, luar biasa, luar biasa…

Kami bercinta tanpa batas, lepas dan lepas…

Juwita membawaku ke sebuah tempat. Kembali kebuasanku meluluhlantakkan semuanya.

“Kau sungguh perkasa.”

Tersanjung aku. Terlelap aku dalam hembus lembut ucapnya.

“Tidurlah. Aku kan selalu menemanmui.”

Ia mengecup mataku. Tertidur aku…

***

Deru angin membangunkanku. Di mana aku? Tak ada rumput tempat semalam aku bercinta. Tak ada semua yang semalam mendesirkan dada. Tak ada Juwita yang semalam mengajakku bercinta. Di mana ia? Di mana ia?

Aku diam membisu. Serasa beku seluruh jiwa ragaku. Di pinggir sebuah pusara aku terpaku. Juwita! Mataku nanar menatap pusara di sampingku. Juwita telah tak ada. Ia tinggal sebuah nama.

Masih terasa nikmat bercinta, saat ia melumatku begitu buasnya. Siapa, siapa yang semalam mengajakku bercinta? Sapa, siapa yang membawaku terlelap di samping pusaranya?

Juwitakah???

***

Bogor, Agustus 2011-

 

9 Comments to "Juwita"

  1. Handoko Widagdo  28 August, 2011 at 16:14

    Juwita malam…dari bulankah tuan?

  2. Dewi Aichi  28 August, 2011 at 07:21

    BU Idaaaa…haduh hororrr….suatu saat mau cerita yang lucu juga ahh bu..request ya..

  3. Mawar09  28 August, 2011 at 06:30

    Tulisan yang bagus! terima kasih mbak Ida.

  4. atite  27 August, 2011 at 22:24

    siapa…? siapa…? mana Juwita?
    mbak Ida engkau sungguh penuh kejutan! sy sukaaa tulisan ini,,,! diriku hampir terlumat di dalamnya…
    salam…

  5. HennieTriana Oberst  27 August, 2011 at 20:56

    seremmm..

  6. bagong julianto  27 August, 2011 at 17:39

    Dulu ada Mrajak, pelakon Bagong di WO Sriwedari Solo tahun ’70an ‘ngalami hal yang sama…
    Digandrungi fansnya, digilai seseorang yang sukses mengajaknya ke satu tempat bervespa..
    Malam itu konon Mrajak melumat dan dilumat, dan me serta di yang lain….
    Fajar menyingsing, Mrajak terbangun memeluk Kijing/Nisan….
    Bagaimana ia bisa bervespa di antara Kijing?
    Ini sekedar cerita……..

    Suwunnn..

  7. J C  27 August, 2011 at 14:13

    Waduuuhhh…

  8. Linda Cheang  27 August, 2011 at 09:56

    ada hantunya, tuh.

  9. Lani  27 August, 2011 at 08:58

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.