Orat-oret

Mutaminah

 

Ini caraku menyembuhkan luka.

Mungkin ganjil bagimu, bahkan tak bisa kau terima, tapi kutegaskan sekali lagi bahwa ini caraku menyembuhkan luka.

Ketika waktu terus berdenyut, aku tak ingin terlarut di masa lalu, mendekap luka yang kian lama kian terasa perih. Aku harus melangkah seiring detak jantung dan nadiku. Tapi aku tak ingin menimbun dendam yang kan membusuk, menggerogoti pikiran dan jiwaku.

Maka, beri aku waktu untuk menyembuhkan luka ini. Sejenak. Untuk beristirahat dari lelah yang mengendap. Untuk menyeka tangis yang berlinang memecah kesyukuran. Untuk kembali bangkit.

Jangan kau pikir lukaku sesederhana perubahan siang dan malam. Ada yang membekas, dan terasa sulit kulenyapkan. Hingga terkadang aku merasa terlalu bosan untuk menangis.

Tapi resahmu dan resahku aku yakin akan berkesudahan. Setelah aku mampu membuat luka yang kau goreskan itu kembali sirna, aku akan kembali seperti aku mengenalmu tempo hari. Dan senyum untukmu itu bukan lagi keharusan, tapi ketulusan seperti semestinya aku tersenyum…

Dan saat itu akan tiba, tapi bukan sekarang…

 

 

14 Comments to "Orat-oret"

  1. Reca Ence AR  16 November, 2011 at 20:41

    oret2an pembasuh luka kah ?

  2. Dewi Aichi  16 November, 2011 at 20:26

    Mut…nah kan baru sadar…..udah aku tag lho…..

  3. mutaminah  16 November, 2011 at 18:55

    lho, kok tulisan ini ada disini ya?
    ada gambarnya lagi.
    lucu.
    hihihi

  4. T.Moken (perempuan)  29 August, 2011 at 03:15

    Bagus Pak Djoko, oret-oretannya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.