Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Orat-oret

Saturday, 27 August 2011

Viewed 919 times, 1 times today | 14 Comments |

Mutaminah

 

Ini caraku menyembuhkan luka.

Mungkin ganjil bagimu, bahkan tak bisa kau terima, tapi kutegaskan sekali lagi bahwa ini caraku menyembuhkan luka.

Ketika waktu terus berdenyut, aku tak ingin terlarut di masa lalu, mendekap luka yang kian lama kian terasa perih. Aku harus melangkah seiring detak jantung dan nadiku. Tapi aku tak ingin menimbun dendam yang kan membusuk, menggerogoti pikiran dan jiwaku.

Maka, beri aku waktu untuk menyembuhkan luka ini. Sejenak. Untuk beristirahat dari lelah yang mengendap. Untuk menyeka tangis yang berlinang memecah kesyukuran. Untuk kembali bangkit.

Jangan kau pikir lukaku sesederhana perubahan siang dan malam. Ada yang membekas, dan terasa sulit kulenyapkan. Hingga terkadang aku merasa terlalu bosan untuk menangis.

Tapi resahmu dan resahku aku yakin akan berkesudahan. Setelah aku mampu membuat luka yang kau goreskan itu kembali sirna, aku akan kembali seperti aku mengenalmu tempo hari. Dan senyum untukmu itu bukan lagi keharusan, tapi ketulusan seperti semestinya aku tersenyum…

Dan saat itu akan tiba, tapi bukan sekarang…

 

 

Share This Post

Posted by Saturday, 27 August 2011 on 07:25.

Categories: Pojok Sastra. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

14 Responses to “Orat-oret”

Pages: [2] 1 »

  1. 14
    Reca Ence AR Says:

    oret2an pembasuh luka kah ?

  2. 13
    Dewi Aichi Says:

    Mut…nah kan baru sadar…..udah aku tag lho…..

  3. 12
    mutaminah Says:

    lho, kok tulisan ini ada disini ya?
    ada gambarnya lagi.
    lucu.
    hihihi

  4. 11
    T.Moken (perempuan) Says:

    Bagus Pak Djoko, oret-oretannya

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)