Sambal Goreng Nyi Rohati

Dinanda Nuswantara Buwana

 

Aku mengingat masa kecilku,

Namaku Dani, tadinya namaku Deden, tapi sebelum disahkan lewat akte Kelahiran namaku kemudian diganti, karena aku memang bukan keturunan Raden, Hanya Mamaku saja yang anak pungut dari seorang bergelar Raden. Selain itu nama Deden juga akan menandakan bahwa aku bukan murni dari daerah ini.

Aku murid sebuah Sekolah Dasar Inpres angkatan pertama, aku duduk di Kelas 3. Aku berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki, karena sekolahku dekat dengan rumah, bahkan di daerah sepi ini, bunyi lonceng yang dipukul oleh pak Syamsiar masih dapat terdengar cukup jelas dari rumah. Saat jam istirahat aku masih sempat pulang untuk minum karena kehausan sehabis main petak umpet, sepakbola, atau perang-perangan. Abah dan Mama, sengaja menyekolahkanku di SD itu karena memang dekat, tidak alasan untuk mencari sekolah favorit yang jauh dari rumah agar aku memiliki daya saing dan belajar berkompetisi. Dalam pikiran mereka adalah aku bisa berjalan kaki ke sekolah dan tidak perlu memikirkan uang transport.

Saat itu pertengahan bulan Agustus, matahari panas menyengat, besok lusa sudah mulai masuk bulan Puasa. Pahumaan di pinggir dan belakang sekolah sudah selesai dipanen sejak tiga bulan lalu. Yang tersisa adalah batang –batang jerami yang berwarna kuning mendekati krem menghampar luas. Petani di sini tidak biasa memanen padi dengan sabit seperti kebanyakan petani di Pulau Jawa, tapi mengunakan ani-ani dengan silet bagian tengahnya, jadi batang-batang padi tetap berdiri, dan hanya sedikit rebah karena tiupan angin, atau karena injakan anak-anak saat mereka bermain petak umpet atau perang-perangan.

Sawah –sawah pasang surut itu kini menjadi kering, Ikan-ikan sepat dan Saluang sudah lama meninggalkan sawah ini, berenang mencari sungai atau rawa yang masih berair. Sawah-sawah sudah dapat dijadikan lapangan sepakbola, atau jalan pintas buat teman-temanku pulang sekolah. Tapi di sisi lain batang-batang padi yang mengering itu punya potensi untuk terbakar karena panas dan keringnya udara. Kebakaran lahan padi sudah sering terjadi, dan bahkan rumah-rumah dekat pahumaan ikut terbakar. Kudengar, bahkan di Sungai Tabuk sudah memakan korban jiwa.

Keadaan sawah seperti itu akan terjadi hingga bulan Oktober, saat batang-batang padi itu membusuk dan lapuk secara alami dan air mulai naik hingga hampir selutut anak-anak. Para petani akan mulai sibuk dengan bibit pesemaian jika banang-banang, yaitu benda putih yang menyerupai benang yang sangat lembut beterbangan di udara atau tersangkut di batang-batang pohon, karena banang-banang menandakan datangnya musim barat atau penghujan.

Tapi sekarang tanda-tanda itu belum datang, Bulan Puasa tahun ini tampaknya akan sangat Panas dan akan terjadi Landang. Apalagi Paman Surian yang tinggal di belakang rumahku mengatakan bahwa posisi matahari terbit agak kesebelah timur laut dibandingkan dengan posisi gugusan bintang Karantika.

 

Aku mengingat masa kecilku, ketika berbagai acara Kuliner menjadi Program unggulan di beberapa Stasiun TV,

Mama adalah Masterchef yang pertama dalam hidupku, semua masakannya adalah masakan istimewa buatku, dan tiap hidangan yang ada di meja adalah sebuah wisata kuliner. Semua bumbu dan rempah yang mix and match di cobek ataupun penggorengan adalah senyawa kimia yang komposisinya tidak akan pernah sama prosentasinya. Semua tergantung mood-nya. Tapi ya tetap enak menurutku.

Sepulang sekolah, ketika aku akan melemparkan sepatuku ke bawah meja, suara Mama terdengar dari dapur.

“Dan, coba lihat secarik kertas di atas meja itu”

“Iya Mam” kataku mengambil kertas yang ditindihi Vas Bunga.

Kertas itu rupanya sebuah instruksi tentang apa-apa yang harus kubeli.

“ Nanti Setelah Makan kamu pergi ke Warung Jalis ya”

“Tapi Mam…” kataku

“Sudah jangan membantah” kata mama suaranya terdengar nyaring karena kini dia sudah berdiri di sebelahku.

“Nih uangnya”

Rencanaku untuk bajukung dengan Iyal ,Udin, dan Hadi ke rumah Johan sepertinya akan tertunda sebentar. Dan Aku harus memberitahu mereka sambil lewat ke Warung Jalis. Pasti mereka sudah menunggu di bawah jembatan.

Setelah makan siang bersama mama dan ketiga Kakakku, sekali lagi aku lihat daftar yang harus kubeli di Warung Jalis.

Lengkuwas, Rp.25
Garam satu kotak
Gula Merah 2 Gundu
Bawang Merah Rp.100
Bawang Putih Rp.100
Lombok Merah Rp.100
Ketumbar Rp. 50
Merica Putih Bubuk 3 bungkus

Dengan melihat daftar itu maka fahamlah aku bahwa Mama akan membuat suatu menu istimewa dalam menyambut Bulan Puasa. Ya, Mama akan membuat Sambal Goreng Ati. Hore dalam hatiku berteriak girang, menu istimewa tahunan kembali hadir. Kentang, Pete, Ati Ayam dan rampela sepertinya akan dibeli sendiri oleh Mama di pasar Kuripan sepulang mengajar besok.

Bergegas aku menuju Warung Jalis, dengan menyeberangi sebuah jembatan. Yang punya warung memang bernama Jalis. Di wilayah kami, inilah satu satunya warung dalam radius 300 m. Agak jauh ke Utara ada juga Warung Budi. Warung Jalis cukup komplit, ada berbagai sembako, bumbu-bumbu masak, Lombok, Bawang-bawang, jajanan serta Es sirop.

Sesampainya di Warung cukup banyak pembeli, dan kulihat pula tetanggaku Rini dan Eni, sedang membeli jajanan dan Es sirop. Ku tahan langkahku sebentar hingga mereka berdua selesai membeli jajanan dan berlalu dari Warung itu. Tentunya aku tak mau jika mereka melihat aku membeli berbagai bumbu dapur, tentulah aku akan diledek mereka sambil cekikikan. Anak laki-laki kok beli bumbu dapur.

Setelah para Pembeli satu persatu berlalu, kuserahkan daftar yang kuterima dari Mama, bu Jalis membacanya sebentar lalu dengan sigap mengambil bumbu-bumbu dan bahan-bahan lain yang dimaksud. Kuletakan selembar uang ribuan bergambar Pangeran Diponegoro di atas Karung beras, sambil diam memandangi berbagai Jajanan.

“Nih bumbu-bumbu, Lombok, bawang dan garam“ Kata Bu Jalis sambil mengambil uang ribuan di atas karung beras.

“Ibumu pasti mau buat masakan istimewa ya?” bu Jalis bertanya sambil menyerahkan uang kembalian, Rp. 25.

“ Iya, Sambel Goreng Ati’ Jawabku dengan wajah berbinar.

“Oooh, masakan Jawa ya”?

“Iya barangkali” jawabku sambil ingin buru-buru beranjak.

“Eh tapi ibumu orang Bandung kan?”

“Iyaaaaaa” jawabku sambil buru-buru lari berbalik arah.

Tapi aku harus hati-hati berlari, karena semua belanjaan tadi hanya dibungkus koran bekas, dan aku harus mengenggamnya dengan dua tangan. Kalau tidak maka akan tercecer semua. Aku buru-buru karena Iyal, Udin dan Hadi tentunya sudah menunggu di bawah Jembatan dengan Jukung. Dan akupun sudah tak sabar ingin segera bergabung dengan mereka, mengayuh jukung menyusuri sungai depan SD kami, lalu berbelok kiri ke Barat menuju Sungai yang lebih besar yaitu sungai Pamurus menuju rumah Johan. Kami penasaran ingin melihat biawak yang baru saja ditangkap bapaknya. Johan Bilang Biawak itu lebih besar dari yang biasa kami lihat di Belakang Sekolah. Selain itu, di Rumah Johan kami juga akan mencari sebatang bambu yang diameternya cukup besar.

Tiba di rumah, semua belanjaan itu aku letakkan saja di Dapur, tanpa pamit pada Mama, aku langsung berlari menuju jembatan, dan uang 25 Rupiah itu aku bawa.

***

Pagi-pagi, setelah sarapan, dan menyeruput teh manis, ibu berpesan padaku,

“Dani, nanti pulang sekolah jangan main-main ya, diam di rumah saja, karena kalau kamu main-main sama temanmu, pulangnya selalu sore, ingat pesan Abah kemarin, bantu Mama, Mama mau minta tolong kamu anterkan masakan ke para tetangga”

Cerocos ibu tak memberi kesempatan padaku untuk membantah. Dalam hatiku memang aku harus membantu Ibu seperti apa yang tertulis di sebuah Postcard beberapa hari lalu. Abah mengirim postcard itu dari Brussel, di Gambarnya ada Manneken piss, patung anak kecil yang sedang kencing di Atas sebuah Kolam. Sudah menjadi kebiasaan Abah untuk mengirimi kami anak-anaknya, Postcard bergambar Kota yang dia kunjungi, dan secara rutin kami akan menerima postcard itu dua minggu sekali.

Ini adalah tahun kedua kami akan berpuasa dan ber-Hari Raya tanpa kehadiran Abah, dia mendapat beasiswa dari Leiden University untuk studi tentang Sosiolinguistik. Pada sebuah Postcard bergambar Miniatur Bandara Schipol tahun lalu, Dia bercerita padaku bahwa Abah berpuasa selama 18 Jam, dan jarak antara buka dan sahur juga dekat, karena Eropa sedang musim panas. Tapi seperti yang ku bilang pada Mama, biarpun berpuasa selama 18 Jam, toh tak akan sepanas dan sehaus di Sini. Mama hanya tersenyum waktu aku bilang begitu.

Di Sekolah, aku sudah tidak konsen, karena pikiranku sudah melayang pada persiapan menjelang puasa, bukan soal kopiah atau sarung. Sejak masuk, teman-teman sudah euphoria menyambut datangnya bulan puasa, apalagi mulai besok juga sekolah akan libur selama seminggu. Mereka sudah ribut tentang test Laduman mereka , bunyinya sangat menggelegar kata mereka, sementara aku, Iyal, Udin dan Hadi belum mendapatkan sebatang bambu yang besar untuk dijadikan Laduman. Di Rumah Johan kemarin, kami tidak menemukan Bambu yang cukup besar diameternya untuk dijadikan Laduman. Jika harus membeli pada Rakit bambu yang lewat di Sungai depan Sekolah, kami tidak sanggup karena harganya bisa mencapai 300 Rupiah perbatang, dan itupun terlalu panjang karena kami hanya membutuhkan sepanjang 2 Meter saja.

Tapi kali ini aku tidak bisa membantu mereka mencari bambu itu. Sejak pagi sebelum berangkat ke sekolah, Mama sudah mewanti-wanti agar sepulang sekolah aku diam di rumah, tugas sudah menanti. Aku harus mengantarkan masakan pada para Tetangga. Siap Mam!

Sepulang sekolah aku hanya diam saja di rumah, Iyal, Udin, dan Hadi sudah kuberitahu bahwa aku tak bisa membantu mereka mencari bambu. Setelah makan siang, aku ke halaman belakang memanggil Ayam-ayamku, memberi mereka bonus makanan berupa sisa-sia makananku, sambil dalam hati aku berucap bahwa sebulan lagi di antara mereka akan ada yang terpilih menjadi Opor Ayam lezat yang terhidang di Meja makan. Terasa membosankan sepulang sekolah hanya diam dirumah, dan akupun malas membaca beberapa komik dari perpustakaan keliling yang kupinjam minggu lalu. Padahal komik Petualangan Perjalanan ke Pusat Bumi dari Jules Verne belum selesai kubaca.

Hari ini Ibu datang lebih cepat dari hari biasanya. Seperti halnya sekolah lain, Sekolah tempat dia mengajar juga memulangkan murid-muridnya lebih cepat. Kulihat Ibu sudah mulai sibuk di Dapur, dibantu oleh dua Kakakku yang Perempuan. Masterchef dan para assisten sudah mulai beraksi rupanya

Menjelang Ashar, diawali bunyi chesssssssssss yang pertama, Mama mulai menggoreng kentang yang telah dipotong dadu. Bunyi itu cukup nyaring terdengar dari halaman belakang. Dan beberapa saat kemudian dari dapur terdengar bunyi chesssssssssss yang kedua, kali ini agak berbeda. Tidak sampai semenit tercium aroma sedap menggugah selera, wangi Lengkuas cukup kentara.

Perpaduan Lombok, bawang dan bumbu-bumbu yang ku beli kemarin di Warung Jalis sudah berkolaborasi dengan kompak di atas penggorengan. Di bawahnya api merah dari kompor minyak tanah tak kalah hebohnya menari-nari. Lalu bunyi chesssssssssss perlahan mereda, Kentang kini kembali masuk penggorengan dengan mengajak serta, Pete, Ati dan Rampela. Sepertinya Porsi yang dibuat Mama kali ini sangat besar. Cukup untuk beberapa Keluarga.

Dari Halaman belakang aku berlari masuk dapur, ingin melihat masakan istimewa tahunan ini diproses. Tapi Di pintu dapur, kakakku sudah mencegat dan berkata.

“Kamu anak laki, tunggu saja di luar, tugas kamu belum dimulai, siapkan saja sepeda kamu”

***

Rantang susun logam 4 tingkat, dengan anggun bersinggasana di atas meja Makan. Mama memanggilku ketika aku baru saja selesai Sholat Ashar dan melipat sajadah.

“Dan, kesini” kata Ibu.

Aku duduk di kursi makan, dan ibu melanjutkan.

“Kamu kirim Sambel Goreng Ati ini ya Ke Tetangga”

‘“Siapa saja Mam”? tanyaku sambil menyentuh rantang susun logam itu, terasa masih panas.

“Dengarkan ya baik-baik, yang paling bawah untuk Pak Haji Ifansyah, di atas nya untuk Pak Mansyur, di atasnya lagi untuk pak Aspan, dan yang Paling Atas untuk bu haji Dharma”

Petunjuk Mama terdengar jelas, dan tak perlu ada pengulangan.

Aku sendiri tidak mengetahui mengapa ada urutan seperti itu, apakah memang porsinya masing-masing berbeda untuk tiap keluarga, yang jelas urutan itu juga menunjukan rute yang harus ku tempuh dengan bersepeda. Artinya aku harus menuju Rumah Bu Haji Dharma terlebih dahulu, dan yang terakhir adalah rumah Pak Haji Ifansyah.

Inilah tradisi mengirim masakan pada tetangga menjelang Sahur pertama. Segera aku menenteng Rantang itu, dan memasukan pada keranjang bagian depan Sepedaku. Tugas delivery sudah dimulai. Pengiriman pertama, kedua dan ketiga lancar. Tapi pada pengiriman terakhir untuk Pak Haji Ifansyah, agak sedikit terhambat. Sepeda ku rem kira-kira 20 meter sebelum tujuan. Lagi-lagi gara-gara Rini dan Eni penyebabnya. Mereka keponakan dan cucu Pak Haji Ifansyah, sedang asik bermain congklak di beranda rumah. Tapi haruskah aku menunggu mereka sampai selesai bermain. Atau aku harus menahan rasa Maluku? Berbagai pertimbangan di kepalaku, antara malu, menunggu lama, atau malah dimarahi Mama.

Akhirnya pilihan jatuh pada menahan malu, Ku gowes sepedaku hingga ke depan Rumah itu, dan mengucap Assalamu’alaykum. Mereka terkejut dengan kedatanganku, menjawab Salam dan menghentikan permainan mereka. Sebelum ku utarakan maksud kedatanganku pun mereka sudah tahu, Eni memanggil ibunya.

Aku berdiri saja di halaman rumah itu sambil memegangi sepedaku, mencoba tersenyum pada Rini dan Eni, sambil menduga-duga apa reaksi mereka melihat aku menenteng rantang susun. Sebelum aku melihat reaksi mereka, ibu nya Eni datang.

“Oh dari Tante Ati ya?

Segera kubongkar Rantang berisi Sambel Goreng Ati untuk keluarga ini, Rantang yang tadinya berada pada bagian bawah kini berada pada bagian atas. Ibunya Eni mengambilnya lalu membawa masuk ke rumah. Hingga kira-kira 5 menit, aku diam saja tertunduk.

“Nih rantangnya” suara itu membuatku tengadah.

“Terimakasih ya buat Tante Ati” Katanya.

Ku terima rantang itu dan terasa tidak kosong, ada isinya, mungkin Isinya Soto Banjar atau Masak Habang aku tidak tahu.

“Kapan abah Pulang”?

“ Kurang Tahu Tante, kata Mama bulan Januari Tahun depan” Jawabku sambil bersiap-siap meraih sepeda.

“Permisi ya tante”

Aku pamit, sambil masih merasa malu pada Rini dan Eni. Dalam pikiranku mungkin mereka akan tertawa cekikikan melihat anak laki menenteng rantang Susun.

Tiba-tiba terdengar panggilan.

“Dan !!!”

Aku berbalik arah, kulihat Rini menghampiriku sambil menyodorkan sebatang Cokelat,

“Nih Dan ambil”

aku terkejut dan tak menduga, prasangkaku salah rupanya. Kuduga mereka akan meledekku dengan tertawa cekikikan, malahan mereka menghadiahiku sebatang cokelat, Camilan yang sangat mewah buatku. Aku menerimanya dengan tersipu. Sambil mengucap terimakasih, Kugowes lagi sepedaku. Hatiku sangat Riang sore ini, aku mengowes sepeda sambil menyanyi lagu Dodoli dodolipet-nya Adi Bing Slamet. Tugas tahunan selesai, yang lebih menggembirakan, aku mendapat sebatang cokelat pula dari si Anak Tomboy. Dan Rantang susun logam itupun tidak serta merta kosong begitu saja, di dalamnya tentu saja ada isinya. Lebih dari cukup sebagai menu makan Sahur pertama.

Aku mengingat mamaku, dan tradisi yang sudah mulai pudar itu,

Sebagai Orang Sunda di Perantauan, sosok Mamaku cukup dikenal di daerah ini. Mungkin karena Wajahnya yang berbeda dengan orang-orang pribumi, atau juga tutur katanya yang lembut. Mamaku mungkin berwajah menak Sunda. Tapi dia hanya anak angkat dari seorang yang bergelar Raden. Karenanya dia sama sekali tidak berhak menyandang Gelar itu.

Di Tanah kelahirannya di Bandung, Mama disapa Nyai, atau Nyi Rohati oleh para saudara, para bibi, para Mamang, para sepupu atau para tetangga. Di Banjarmasin, status panggilan Mama menjadi Tante Ati atau Bu Ati, Lebih keren kataku.

Aku tinggal bersama Mama hanya sampai Lulus SMP. Selanjutnya aku merantau ke Bandung. Namun Sambel Goreng Ati buatan Nyi Rohati selalu terkenang tiap menjelang Bulan Puasa tiba atau menjelang Lebaran. Aku memplesetkan kata Ati, pada Sambel Goreng Ati menjadi Nyi Rohati. Tidak tiap tahun aku bisa mecicipi masakan istimewa mamaku itu. Sejalan dengan itu tradisi mengantar masakan pada para tetangga pun kini sudah mulai pudar dan dianggap aneh utamanya di masyarakat kota. Dan akhirnya tugasku sebagai pengantar masakan pada para tetangga dinyatakan berakhir saat aku duduk dikelas 3 SMP.

 

Kampoeng Srempet Bogor, Agustus 2011

 

Keterangan :

Pahumaan : Sawah tadah Hujan

Landang : Kemarau Panjang

Jukung : Perahu kecil

Bajukung : Berperahu

Laduman : Lodong, Meriam Bambu

Menak : Keturunan Bangsawan

 

 

27 Comments to "Sambal Goreng Nyi Rohati"

  1. dinanda  5 September, 2011 at 15:31

    @Eni Ifansyah…,nah skrg di Den Haag terpuaskan dong hasrat maen sepeda lagi…,dan jgn lagi nge-gembosin sepedah tetangga ya. Eh kapan mulai lagi nulis? Cerita2 dong tentang Den Haag lewat tulisan2…,
    @Mas Dj, hehehehe masterchef nya nyonya DJ toh…,gud…,wah kok si Barep gak ada kumis nya?nice pic….,hatur nuhun pisan…

  2. Dj.  5 September, 2011 at 01:22

    dinanda Says:
    August 30th, 2011 at 10:53

    @Dj: wah hebat org Slovakia sampai jatuh cinta sama Sambel goreng,siapa yang bikinnya ya? Btw si barep siapa mas?

    Mas Dinanda….
    Yang bikin ya istri Dj.
    Dan yang Dj. maksud dengan si mbareb, itu anak Dj. si Dewo yang mana istrinya dari Slovakia….
    Dan inni photo saat mereka menikah tahun 2004 di Slovakia.
    Salam,

  3. Eni Ifansyah  5 September, 2011 at 01:05

    Sepedah nostalgia… Boleh dapet ngegembosin 1 kali,hihihi. Maap lahir bathin yaaaa.

  4. dinanda  1 September, 2011 at 13:35

    @TM: oh ya? Boleh boleh ,emang tinggal dimana bunda? Eh …,hehehe…,kompleks mana ta?
    @Lani: ndereng…,sering sih denger Radio, RRI…,serasa di desa…,
    @Hennie: cucok bow…,hehehe emoh ah,itumah nama samaran aja.

  5. HennieTriana Oberst  31 August, 2011 at 23:48

    Tuh jadi panggilan itu nggak salah kan

  6. Lani  31 August, 2011 at 23:32

    16 wakaka…….gelombang dan jam yg sama……koyok penyiar radio ae-ah……..mmg pernah jd penyiar radio ta?

  7. T.Moken (perempuan)  31 August, 2011 at 23:31

    OK, ku panggil dikau Nanda sayang. Ibu RT saya juga menyampaikan bahwa banyak orang-orang baru ketika saya melapor sebagi pendatang thn 2010. Kompleks saya berdiri mulai thn 1980. Yang tua-tua saat ini sudah pada duduk di kursi roda karena amputasi dan sakit-sakitan dialysis, glucoma, pensiun pulang ke kampung dsbnya. Prihatin saya akan kesehatan mereka.

    Dulu ada acara sillaturachmi, volley bersama, gotong royong cabut semak-semak dsbnya. Sekarang sudah cuek bebek, mungkin ini ciri-ciri generasi modern seperti di Barat. Jadi, ada perubahan dalam dinamika kehidupan. hahaha.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.