Fajar Hidayah di Gunung Kelud

Galuh Chrysanti

 

Rooney Smith senang bukan kepalang. Saat itu ia sedang tenggelam di lautan manusia yang sejak semburat matahari subuh merona langit, terus membanjiri punggung Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur.

“Absolutely exotic, I love this. It’s beautiful, maaaan! ” serunya pada Damara, pemandu wisata yang menemaninya. Damara mencoba tersenyum walau hanya mendengar awal kalimat Rooney, selebihnya lenyap ditelan gempita suara tetabuhan yang mengiringi upacara adat ritual sesaji bagi gunung Kelud, tradisi tahunan setiap bulan Suro bagi penduduk desa di lereng gunung itu.

Kelud memang gunung yang masih aktif. Sejarah mencatat, gunung ini telah mengalami 29 kali letusan mulai tahun 1000 masehi. Letusan dashyatnya mampu memporakporandakan ratusan desa di sekitarnya, menghancurkan ribuan hektar lahan pertanian dan memakan korban ribuan warga. Bahkan dalam lima letusan terakhirnya saja, terbaru 2007, Gunung Kelud telah menewaskan lebih dari 5000 jiwa.

Itulah sebabnya warga kaki gunung setiap tahunnya mempersembahkan sesaji untuk sang gunung lewat upacara adat ini, agar kemarahan Kelud teredam. Sebuah tradisi Hindu yang sudah ratusan tahun umurnya dan terus diwarisi warga setempat apapun agamanya.

Kalau saja Damara boleh memilih, ingin sekali ia pergi dari tempat ini. Kemana saja, asalkan jangan di sini. Aneh memang, di antara ribuan manusia yang menyemut ini ia merasa sendiri, sepi. Yang terasa adalah keterasingan. Yang terdengar hanyalah gemuruh suara hatinya sendiri, yang menandingi ramainya tetabuhan pengiring upacara tolak bala ini.

Damara tahu, bagi turis asal Canada tersebut, upacara larung sesaji ini tak lebih dari sekedar komoditas pariwisata belaka. Membuat Rooney hanyut dalam ekstase yang unik dari sebuah upacara adat nan eksotik nun jauh di ketinggian Kelud. “Tapi aku?” berontak nurani Damara, “Bagaimana mungkin aku sebagai muslim yang sehari semalam sujud 17 kali, bisa pura-pura menikmati adegan kemusyrikan seperti ini?”

Sungguh, Damara sangat bisa menerima kalau saudara-saudaranya kaum Hindu mengadakan upacara adat ini. “Lakum diinukum waliyadiiin, bagimu agamamu, bagiku agamaku,” sebuah prinsip yang dipegangnya erat.

Yang ia sesalkan adalah ketika saudara-saudara muslimnya juga meyakini tujuan upacara ini. Belum lagi keberadaannya sebagai pemandu wisata yang harus membawa rombongan turis yang dipimpinnya hanyut dalam antusiasme acara tersebut. Membuat ia merasa disayat rasa bersalah.

“Rasulullah saw hingga syahidnya terus memperjuangkan kalimat tauhid. Begitu pula para sahabat, rela menukar nyawa atas kalimat Lailaahaillallah,” bisik nurani Damara, “Mengapa dirimu bahkan seakan ikut dalam barisan pen-syiar kemusyrikan, wahai Damara?” terus-menerus fitrahnya bicara.

“Damara San, mengapa mereka dahulu menceburkan Lembu Suro ke dalam kawah yang menyala? Hihh..so scarry!” Kahoko Nagami bertanya, membuat Damara harus melupakan kekalutan hatinya. Di hadapan 10.000 wisatawan yang berdesak-desakan -20 diantaranya adalah turis asing yang dipandu Damara- sedang diperankan Lakon Rakaryan Lembu Suro.

“Lembu Suro adalah punggawa Kerajaan Majapahit yang gagal mempersunting Dewi Kilisuci, putri kesayangan Raja Kediri.” jawab Damara. “Karena usahanya gagal, Lembu Suro lalu naik pitam, mengumbar angkara murka,” jelasnya panjang lebar,”Itulah sebabnya pasukan kerajaan Majapahit yang berhasil memburunya kemudian membuangnya ke dalam kawah gunung Kelud ini,” tuntas Damara, membuat gadis bermata sipit itu menganggukkan kepala tanda mengerti.

“Mar,” suara Rooney berbisik di depan daun telinga Damara, ”Do you really believe this? Bahwa sesaji ini dapat membuat Gunung Kelud urung meletus?”

Lidah Damara kelu. Pertanyaan Rooney membuatnya tercenung. “Rooney yang atheis saja tidak percaya pada hal ini, bagaimana mungkin bapak kandungku yang muslim percaya bahwa ada yang berkuasa atas meletusnya sebuah gunung, selain Allah Subhana Wata’ala?”

Ketika sorenya Damara pulang ke rumah, di meja makan terhidang aneka buah-buahan.

“Kemaren Bapakmu ini belanja berlebih buat sesajen, Le, makanya banyak buah-buahan di meja,” bapak Damara menjelaskan tanpa ditanya.

“Pak,” jawab Damara, “Susunan tanah dan batu setinggi 1700 m di atas permukaan laut, yang muntahnya saja berupa lava dan lahar, masa iya makannya aneka buah?” katanya sambil menyungging senyum. Disanggahnya kalimat bapaknya dengan canda, agar hati sang bapak tak tersinggung.

“Husss, jangan keras-keras, dinding ini bisa mendengar,” sahut bapaknya, seorang sepuh enam puluh tahunan, “Nanti kita kualat, ‘Le …”, katanya penuh kekuatiran. Sang bapak sedang duduk di kursi sambil menonton tv.

Damara cuma menggeleng kepala. Tapi tiba-tiba secercah ide melintas di kepalanya, sebuah hikmah yang pernah dibacanya tentang percakapan para sufi. “Pak, Pak..,” kata Damara, kini jemarinya luwes memijit pundak bapaknya, “Damara mau tanya nih ya, apa yang harus kita lakukan saat kita akan diserang seekor anjing buas dan galak?”

“Yaa.. kabur, Le, “ jawab bapaknya spontan, meram melek menikmati pijitan anaknya.

Rooney Smith dan Eguchi Tappei yang tertarik pada percakapan bapak anak itu meminta Damara agar menerjemahkan pembicaraan mereka.

Kedua turis itu memang menginap di rumah Damara. Sudah jamak penduduk asli Kelud membuka penginapan bagi turis di rumah mereka, home stay namanya. Sewanya rata-rata Rp.200.000,- per malam.

“Jangan tersinggung, Sir,” Rooney ikutan nimbrung, “I think the dog is faster than you… hahaha,” candanya. Rooney memang ceplas-ceplos dan suka bergurau.

“Bagaimana kalau anjing yang menyerang itu kita beri umpan?” Eguchi si kalem mencoba menjawab pertanyaan Damara.

“Begitu umpannya habis, dia pasti kembali menerkam kita. Ya ‘kan Eguchi San?” jawab Damara, “Malah jadi sia-sia dan mubazir.”

“Jadi, apa yang harus kita lakukan kalau kita akan diserang anjing, Le?” tampaknya bapak Damara sudah penasaran akan jawaban pertanyaan anaknya.

“Kalau kita akan diserang anjing, “ kata Damara lambat-lambat, “Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah berteriak memanggil pemiliknya, minta agar ia menenangkan anjingnya. Am I right?” Damara menjelaskan.

“You’re right,” kata Eguchi, “Cuma pemilik anjing yang dapat mengendalikan anjing yang akan menyerang kita. Good answer, Damara San, “ Eguchi mengacungkan jempolnya tanda setuju.

Ucapan Eguchi membuat Damara tahu bahwa ia sudah berhasil mengarahkan logika ketiga pendengarnya ini ke titik yang sama. Momentum inilah yang ia tunggu-tunggu sejak tadi. Katanya kemudian, “Kalau diserang anjing saja kita harus minta tolong pada pemiliknya untuk menyelamatkan kita,” tutur Damara, “Masa untuk mencegah gunung Kelud meletus, kita malah menyuapi gunung dengan buah-buahan, alih-alih minta tolong pada SATU-SATUNYA pemilik gunung, sang Maha Kuasa?”.

Ruangan senyap. Pertanyaan Damara membuat bapak, Rooney dan Eguchi sibuk berdialog dengan pikiran mereka masing-masing.

 

Namanya adalah Jatmiko. Ditinggal istri yang berpulang karena sakit lima tahun lalu membuat dirinya bersyukur memiliki anak sebaik Damara. Kakak Damara sebetulnya ada dua, perempuan semua. Tapi setelah menikah semuanya ikut suami masing-masing, keluar dari Kediri.

Tanpa Damara, tak terbayangkan hari-harinya yang sepi. Syukurlah anak lelaki satu-satunya itu sangat pandai membuatnya tersenyum, juga membuatnya merasa berarti. Cuma satu ganjelan antara mereka berdua… dari dulu Damara selalu tak suka kalau ia melibatkan diri dalam upacara larung sesaji bagi Gunung Kelud.

Sejujurnya, nurani Jatmiko membenarkan pendapat Damara. Gunung cuma sekedar tumpukan tanah dan bebatuan, tak mungkin punya akal yang mengatur kapan dirinya akan meletus. Tapi kemudian Jatmiko, seperti warga desa lain, selalu berkelit, “Sesaji ini pada hakikatnya untuk Yang Maha Tinggi, sebagai tanda syukur kami ke hadirat Ilahi.”

Namun lagi-lagi tutur anaknya tadi membuat Jatmiko berpikir ulang. Kata Damara, “Pak, kalau besok pagi Damara bikinkan Bapak susu, dan bukan secangkir kopi pahit seperti biasanya, Bapak suka tidak?”

“Kamu tahu kan, Le,” kata Jatmiko,”Bapakmu itu bahkan lebih baik tidak ketemu nasi daripada tidak ketemu kopi…”.

“Berarti Bapak pasti setuju, bahwa lebih pas kalau Damara membuatkan Bapak, apa yang memang sesuai dengan keinginan Bapak, bukan?” kata Damara, “Begitu juga kalau memang sesaji itu kita niatkan karena Allah, Pak… Allah pasti lebih suka kalau makanan sesaji itu kita sumbangkan pada mereka yang kelaparan, daripada mubazir diletakkan di kaki kawah Kelud,” lanjut Damara. “Dan lagi, Allah kita itu pasti cemburu, Pak….”

“Hmm, maksudmu, Nak?” kali ini Jatmiko mendengarkan anak tersayangnya baik-baik, uraian Damara diakuinya memang banyak benarnya,”Cemburu kenapa, Nak?”

“Kalau kita memberikan sesaji pada Gunung Kelud, dengan niat agar Kelud tidak meletus,” kata Damara hati-hati, “Sama saja kita menyembah gunung… mengakui bahwa gunung itu berkuasa atas dirinya sendiri,” makin melambat Damara bicara, “Sungguh Pak, Gusti Allah pasti tidak senang dan cemburu, kalau kita menyembah yang lain selain DiriNya,” begitu papar Damara tadi sebelum mereka berdua sholat Isya bersama.

Kini di atas dipan tempatnya tidur Jatmiko terpekur. “Benarkah apa yang sudah kami lakukan bertahun-tahun ini adalah kemusyrikan, ya Gusti?” . Rasanya ia harus berani menguatkan nyali, untuk mampu menjawab pertanyaan hatinya itu dengan jujur.

 

Pemuda Jepang berusia 26 tahun itu, Eguchi Tappei, berbaring memandang langit-langit kamarnya. Ia adalah seorang agnostik, dan tadinya ia cukup puas dengan pilihan hidupnya itu. Agnostik adalah orang yang mempercayai adanya Tuhan namun memutuskan untuk tidak menganut agama manapun.

Kesibukan kerja Eguchi di bidang internet developer di sebuah perusahaan paling terkemuka di negaranya membuat hidupnya seperti mesin bernyawa. Satu-satunya yang menyala di tubuhnya hanyalah adrenalinnya, memacunya bekerja tak kenal batas. Hingga ia memutuskan untuk menghabiskan cuti per-lima tahunnya di Jawa Timur, Indonesia.

Toleransi beragama di Jepang amat tinggi, membuat Eguchi nyaman dengan status agnostik-nya itu. Tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut sejauh ia tidak mengganggu orang lain. Memang kadang terselip rasa hampa. Ruang kosong nun jauh di pelosok hatinya terasa makin membesar dan mengganggu pikirannya. Membuat Eguchi merasa kian tidak mengenali dirinya sendiri.

“SATU-SATUNYA pemilik Gunung Kelud… sang Maha Kuasa,” terngiang kata-kata Damara, “Siapakah Engkau sesungguhnya? Apakah itu Engkau, Tuhanku? Tuhannya Damara-kah, Tuhanku yang sesungguhnya?”

Baru kali ini Eguchi mendengar penuturan yang sangat bening tentang keesaan Tuhan. Di tengah kemajuan sains dan teknologi di negaranya, cara masyarakat Jepang memuja sang Ilahi justru membuat Eguchi bingung. Aneka bentuk peribadatan dan kepercayaan sudah dilihatnya di negeri matahari terbit itu, namun tidak satu pun yang memuaskan hati dan logikanya akan kebenaran tentang sang Pencipta. Mendengar tutur Damara tadi, perasaan Eguchi yang halus seakan bergetar. Bagaikan anak kunci yang menemukan pintunya, layaknya tutup botol yang bertemu mulut botol yang pas ukurannya. Sebuah rasa bernama ‘keyakinan’ yang selama ini dirindukannya, akhirnya datang mengetuk pintu hatinya. “Namun, apakah yang kurasakan ini, kebenaranMu… Tuhanku?”

Jarum jam terus berdetak… mata Eguchi tak juga terpejam. “Tuhan, kegelisahan ini, ternyata sangat melelahkan…,” desahnya. Sungguh, malam itu Eguchi sampai berpikir… jika kebingungan dapat membunuh seorang anak manusia, niscaya putuslah nyawanya malam itu. Darah Eguchi mengalir seperti arus sungai yang liar dan irama degup jantungnya seakan begitu nyata dentumnya bergema di gendang telinganya. Eguchi merasa energinya meluap-luap tak tertahankan, namun kelelahan mental menderanya tanpa ampun pada saat yang sama. Tanpa Eguchi sadari, air matanya mulai bercucuran membasahi sarung bantalnya…

Rooney Smith mengguyur tubuhnya dengan air yang sedingin es. Sudah setengah jam ia di kamar mandi. Tubuhnya gemetar. Bukan karena kedinginan, suhu di kaki Gunung Kelud masih kalah dibandingkan musim salju di tanah airnya. Tapi ada suatu sensasi asing yang tak bisa ia jelaskan. Jantungnya berderap kencang. Ucapan Damara tadi sore membuat Rooney tak bisa melewatkan malam dengan bercanda seperti biasanya.

Pembicaraan tentang analogi berlindung pada pemilik anjing itu saja sebetulnya sudah membuat jiwanya bagaikan tertohok. Apalagi obrolannya berdua Damara ketika tinggal ia dan Damara di depan tivi, sementara di layar kotak berantena itu sedang terputar pemandangan gempa dashyat di Haiti. Kata Damara padanya, “See Ron, ketika seorang anak manusia sedang menjelang ajal, atau sedang dalam kepanikan yang luar biasa… apapun ras atau agamanya, agnostik-kah, atau bahkan atheis-kah… cuma satu yang keluar dari mulut mereka: ‘OH MY GOD! Bukti bahwa semua manusia sebetulnya membenarkan, Tuhan itu NYATA adanya…”

Dibesarkan di sebuah keluarga atheis membuat Rooney hingga usianya yang menjelang 25 tahun itu jarang berdialog dengan hatinya. Kalau hati mulai menyeruak resah, Rooney selalu melarikan diri. Minum-minum di pub langganannya, atau ngebut di arena motor cross di pinggir kota kelahirannya. Mengguyur dirinya dengan air dingin malam itu sebetulnya adalah juga bentuk pelarian dirinya, ketika di kamar tidur pelupuk matanya terus membuka, diserang kegelisahan yang tak pernah terbayang sebelumnya.

Namun air dingin tak berguna. Kini, Rooney merasa tersedot masuk ke suatu area yang sangat asing, suatu wilayah yang belum pernah terperikan oleh pikiran dan hati atheis-nya sebelumnya. “Where am I? What happened to me?” Rooney menggugat dirinya sendiri. Rooney merasa, ia telah terdampar di depan suatu gerbang terbuka yang membuat hatinya menyala. Rooney bergidig ketakutan sekaligus meletup-letup penuh gairah, membayangkan ada medan pengembaraan tak terbatas terbentang di depan matanya. “I have to talk to Damara now!” putusnya sambil meraih handuk yang tergantung di balik pintu kamar mandi.

 

Damara belum tidur. Kegelisahan yang menghantui tiga penghuni rumah lainnya ternyata juga menyergap dirinya. Mengaji sebelum tidur sudah dilakukannya namun gundah masih juga mendera. Akhirnya Damara memutuskan untuk mengambil air wudhu dan mendirikan sholat sunnah witir.

Usai sholat, Damara berzikir menenangkan hati. Setelah melewati beberapa kali persimpangan dalam perjalanan hidupnya, Damara tahu, berpikir sesudah berzikir adalah satu-satunya pemberi solusi.

Walaupun hanya sekali setahun, menjadi pemandu turis di upacara adat ritual sesaji atas nama budaya dan pariwisata membuat Damara merasa mengoyak akidahnya sendiri. Tugas yang tak bisa dihindarinya sebagai pegawai di sebuah biro wisata lokal. Acara ini memang acara besar tahunan, pendongkrak utama PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kediri.

“Apa yang harus hamba lakukan, Allah? Hamba serahkan hidup dan mati hamba padaMu. Bantulah hamba memutuskan, apa yang terbaik untuk dunia dan akhirat hambaMu ini, Rabbi…” khusuk Damara berdoa.

Damara bersujud. Sujud yang panjang sekali. Merendahkan diri, berusaha mendekat pada Rabb-nya semampunya. Dikerahkannya segala pasrah. Dirasakannya, ketenangan dari Ilahi mulai melingkupi hatinya. Alhamdulillah.

Ketika Damara akhirnya membuka mata dan mengangkat kepalanya, Eguchi Tappei dan Rooney Smith tampak telah bersimpuh di sampingnya. Rupanya tadi ia telah membiarkan pintu kamarnya terbuka.

 

Rooney-lah yang tak dapat menahan lisannya lagi, “What are you doing, Damara?. Aku tahu kalian umat muslim sembahyang 5 kali sehari, tapi baru kali ini aku melihat orang melakukan… yang sedang kau kerjakan ini… lama sekali,” heran Rooney.

“Maksudmu SUJUD, Roon?” tanya Damara.

“Yes, menaruh benda yang paling terhormat dari tubuhmu di atas lantai itu!” kata Rooney lagi. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sama dengan mimik Eguchi, heran dan tidak terima.

“Guys, jika saja kalian tahu, betapa nikmatnya sujud,” ujar Damara, “Niscaya kalian akan enggan sekali untuk mengangkat kepala kalian, I guarantee that!”

“I swear, I will NEVER ever do that, thrust me,” kata Rooney. Namun semua tahu, itu hanya ucapan belaka. Nampak sekali bahwa sesungguhnya Rooney justru sangat ingin mencoba rasanya bersujud. Jelas bukan keahlian seorang Rooney untuk berpura-pura.

“Merendahkan diri kita di hadapan yang Maha Tinggi, adalah kemuliaan, bukan kehinaan,” papar Damara pada dua temannya itu.

“Maksudmu?” kini Eguchi yang bertanya.

“Bagaimana perasaanmu jika kau dijadikan staf oleh Kaisar Akihito, Eguchi San? Dan kau Rooney, bagaimana perasaanmu jika Barrack Obama mengangkatmu jadi salah satu asistennya?” tanya Damara.

“Of course I am flattered, TERSANJUNG,” jawab Eguchi.

“Yeah, me too..,” Rooney menimpali.

“Apalagi aku, teman. Bayangkan, betapa aku merasa SANGAT TERHORMAT, dipilih menjadi hamba dari zat yang mencipta alam raya ini, yang menciptakan diriku, yang Maha Kuasa, Maha Kaya dan tiap saat memberiku rizki. Can you imagine my feeling?” jelas Damara panjang lebar. “Sujud adalah salah satu bentuk pemujaan dan penyerahan diriku pada DIA, satu-satunya Tuhan yang aku sembah itu…,” suara Damara mendadak serak, menahan isak. Entah dari mana ia dapat dengan lancar menerangkan ini semua pada dua turis asing itu.

Bagaikan terbius oleh kata-kata Damara, Eguchi kemudian bertanya, “Apakah harus beragama islam dulu jika aku hendak mencoba bagaimana rasanya sujud, Damara San?”

“Absolutely NOT, just do it and rasakan nikmatnya,” jawab Damara meyakinkan.

Eguchi pun mulai bersimpuh, meletakkan kedua telapak tangan di atas sajadah, membungkuk, dan meletakkan kepalanya, persis seperti seorang muslim bersujud!

“Now,” bimbing Damara, “Hayatilah Eguchi San, bahwa kau sedang menghadap suatu zat yang Maha Tinggi. Engkau tak dapat melihatnya, tapi yakinlah, ketika tadi kita berbincang bertiga, Ia adalah yang keempat. Allah Maha Melihat dan kini ia sedang menatapmu serta mengetahui segala hal yang dipikirkan hatimu…,” penuh kelembutan Damara bertutur, membuat hanyut siapa pun yang mendengarnya. “Jangan ragu Eguchi San, lepaskan segala kalutmu, serahkan pada Dia yang Maha Kuasa. Pasrahkan jiwa ragamu, Eguchi San…”

Bahkan Damara pun tak menyangka, tampak pundak Eguchi San mulai bergetar, kian bergetar, lalu terguncang-guncang dengan hebatnya karena menangis. Dalam posisi masih bersujud, pemuda Jepang berpembawaan tenang itu terus menangis sambil mengucap serentetan kata dalam bahasa Jepang yang Damara tidak mengerti artinya. Subhanallah.

Rooney tampak bingung dan ketakutan. “Damara,” bisiknya, “Aku dapat merasakan, Tuhanmu nyata adanya. Hatiku merasakan, Ia memang sungguh ADA. Apa yang harus kulakukan Damara? I am so scared…selama ini, aku telah mengingkariNya…”

“Jangan takut, Roon…,” kata Damara lembut. “Allah Maha Baik, Maha Pengampun, Roon… Maukah kau..mm….bersujud, Roon? Bersujud adalah posisi di mana kita sebagai seorang hamba dapat berada sangat dekat dengan Tuhan kita. Would you, please ?”

Tak perlu dua kali bagi Damara untuk membujuk Rooney bersujud. Pemuda Canada yang baru lima menit lalu bersumpah tidak akan meletakkan kepalanya di lantai itu cuma memerlukan beberapa detik untuk melakukan posisi sujud sempurna, dan hanya beberapa detik juga untuk membuatnya tenggelam dalam tangis. Damara pun menyusul sujud teman-temannya, menyerah pada kekuasaan Allah Subhana Wata’ala. Subhanallah.

Sangat bersyukur bumi yang mereka pijak, dipilih Allah menjadi saksi kebesaranNya. Sujud tiga anak Adam malam itu menyatu dalam jamaah seluruh mahluk penghuni gunung Kelud yang berzikir pada Allah, memainkan rhapsody nada rindu akan hidayahNya.

 

Matahari pagi di balik punggung gunung Kelud mulai memanjat dinding langit. Kilap benang cahayanya mulai meronai awan-awan putih menjadi biru, merah jambu, atau lembayung berhias kuning kemilau. Panorama surga dunia yang memukau mata siapa pun yang melihatnya.

Tiga pemuda berlainan bangsa itu sedang menikmati sarapan pagi di teras rumah Pak Jatmiko, roti bakar beroleskan selai nanas produksi warga setempat. Wajah ketiganya berseri-seri, menambah cerahnya suasana pagi itu. Siang nanti Eguchi dan Rooney akan melanjutkan perjalanan mereka. Bukan menuju obyek wisata lain… tapi ke sebuah pesantren kondang di Jawa Timur untuk belajar mengenal indahnya Al Islam secara lebih mendalam. Dan siapa tahu, bersyahadat di sana? Amiin. Insya Allah.

Tahu-tahu Rooney menggebrak meja… DHUAR! Membuat dua rekannya menoleh kaget kepadanya.

“I am sorry, maan..,” kata Rooney si ekspresif itu, “I’ve got a brilliant idea, gagasan yang bagus sekali!” katanya tak memperdulikan ekspresi terkejut dua temannya.

”Damara, apa yang kami alami tadi malam, jauh lebih berharga daripada sekedar perjalanan wisata ke gunung Kelud. Am I right, Eguchi San?” tanya Rooney disambut dengan anggukan sepenuh hati Eguchi.

“Damara,” kata Rooney lagi,”apa istilahmu kemaren, untuk menyebut bahwa Tuhan itu tunggal?”

“Mmm…Tauhid?” jawab Damara, masih belum mengerti ke arah mana pembicaraan Rooney.

“That’s it,” mata Rooney berbinar penuh semangat, “Bagaimana kalau kau mendirikan biro wisata sendiri, yang khusus membawa turis menikmati obyek wisata di negaramu, tapi semua pembahasan obyek wisata dilihat dari sisi TAUHID?” lanjut Rooney, nafasnya memburu menunjukkan gairah dan semangat yang menyala, ”Buatlah para peserta tur bisa melihat bahwa SETIAP hal yang kau pertunjukkan pada mereka adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan Yang Esa, Damara…Come on!”

Eguchi dan Damara masih berlomba mengejar nalar, Rooney sudah berkata lagi, “Imagine this, guys : TAUHID TOURS and TRAVELS, Membuat Anda Mengagumi Keajaiban Penciptaan, terbuka untuk semua agama!”

Rooney belum selesai, ditepuknya pundak kedua temannya, “Aku yakin, guys, dipublikasikan via internet.. akan banyak peserta dari negaraku yang berminat,” katanya lagi. “Baru tadi malam aku menyadari, ada yang hilang dalam kehidupan kami di barat sana. Sesungguhnya tanpa sadar, kami memendam kerinduan akan sesuatu yang sangat besar, kebahagiaan sejati menjadi hamba … dari Tuhan Yang Maha Esa”.

Allahu Akbar. Jika saja kepala Rooney transparan, Damara yakin, segenap sinapsis otaknya sedang terang benderang saling berkiriman info ke seluruh penjuru benda lunak itu. Belum lagi qolbu Rooney, memancarkan cahaya hidayah Ilahi, membuat Damara sedikit ‘iri’. Namun tiba-tiba diingatnya sabda Rasulullah SAW : seseorang mendapat hidayah lewat dirimu, sungguh lebih baik daripada dunia dan seisinya. “Amiin, semoga demikian adanya, Rabbi…,” bisik hati Damara.

Kedamaian tak terperi tiba-tiba menjalar menyusupi urat dan nadi Damara. Dapat dirasakannya sensasi kejernihan berpikir yang luar biasa di kepalanya. “Tuhanku, apakah gagasan Rooney barusan…. cara Engkau menjawab doa dalam sujudku semalam?”

Setahun kemudian …

Damara baru saja selesai mengantar tamu-tamu asing menikmati keindahan sungai air panas di gunung Kelud yang selalu berselimut kabut putih pekat. Topi di kepalanya dibordir bertuliskan “Tauhid Tours and Travels”, melindunginya dari mentari sepenggalah yang mulai terik. Kini rombongan mereka akan memetik pepaya di kebun petani setempat, juga salah satu tujuan wisata andalan gunung Kelud. Pepaya di sana ditanam bertumpangsari dengan pohon nanas, membuat hasil panen jadi melipat.

“Ladies and gentlemen, “ kata pemuda ramah itu, “Di depan kita terbentang lahan pepaya dan nanas, dengan pupuk TERBAIK yang bisa dinikmati seorang petani di dunia ini : abu vulkanik pembawa kesuburan,” papar Damara. “Tuhan penguasa langit dan bumi, menjadikan setiap titik abu yang disemburkan gunung Kelud memiliki fungsi, “ katanya lagi. “Begitu juga diri ini, ladies and gentleman,” kata Damara, kata-katanya serasa hidup dan berenergi, “Selalu jadikan tiap diri kita, jalan kasih sayangNya untuk SEMESTA!”

 

–the end–

 

 

5 Comments to "Fajar Hidayah di Gunung Kelud"

  1. demang  25 January, 2012 at 23:59

    kalau menurut saya pribadi apapun bentuk keyakinan yang menjadikan suasana harmonis tidak jahiliyah tidak perlu dimusnahkan. Setahu saya nilai2 jawa berikut paket ritualnya telah memberikan keharmonisan dalam masyarakat. Mempunyai jatidiri budaya bangsa menjadikan bangsa lebih harmonis.
    Seperti Iran(persia), Pakistan(Hindustan), Afganistan yang kehilangan jatidiri bangsanya menjadi tidak harmonis dalam masyarakatnya sendiri. Masyarakat muslim Indonesia membuktikan sangat tentram dibandingkan daerah2 tersebut.

  2. J C  30 August, 2011 at 01:36

    Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1432 H…

    Setuju komentar pak Handoko…

  3. Dj.  29 August, 2011 at 22:49

    Mbak Galuh, terimakasih untuk ceritanya….
    Nah ya, namanya manusia, boleh menganbil budaya orang lain, tapi budaya sendiri, tak mungkin dilupakan.
    Salam Damai dari Mainz…..

  4. nu2k  29 August, 2011 at 13:17

    Mbak Galuh, terima kasih telah memberikan tayangan yang gamblang tentang friksi-friksi halus dalam agama dan aliran yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Memang kita bisa melihat bahwa banyak di antara pemeluk agama yang dalam kehidupan sehari-harinya juga masih melakukan upacara menurut keyakinan masing-masing. Upacara-upacara ini berasal dari ajaran / aliran animisme. Suatu Ajaran yang mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini (seperti beras, keris, patung , laut, gunung dll), mempunyai jiwa yang harus dihormati agar tidak mengganggu manusia. Dan kalau memungkinkan melalui upacara ini justru akan dapat membantu manusia dalam kehidupan sehari-harinya.
    Mbak Galuh, saya melihat dalam keluarga besar saya juga terjadi hal yang sama, walaupun mereka juga telah menunaikan Haji. Saya justru banyak melihat dan belajar dari segi positiefnya. Bagaimana tidak. Kalau hanya dengan membersihkan / memandikan keris peninggalan eyang sepuh, ketenangan jiwa para penghuni rumah pulih kembali… Mengapa tidak. Untuk saya selama semuanya dilakukan tanpa mengganggu orang lain, achhhhh.. Mengapa harus dilarang. Itulah kebudayaan dan adat istiadat yang memperkaya khasanah kehidupan yang ada…

    Nogmaals. Selamat Hari Idhul Fitri, 1 Syawal 1432 H. Untuk tulisan yang kadang tidak mengena di hati anda semua; untuk “sikap” yang mungkin telah menyakitkan; untuk hati yang kadang berprasangka dan untuk janji yang kadang terlupakan dan terabaikan… Mohon maaf lahir bathin…Groetjes, Nu2k

  5. Handoko Widagdo  29 August, 2011 at 09:05

    Galuh, benturan tradisi akan selalu ada di setiap komunitas manusia. Jika kita terjebak pada level ritual, maka kita tidak akan bisa melihat kemaha-agungan Allah yang muncul melalui ritual yang berbeda dari apa yang kita anut.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.