Seorang Sufi dan Seekor Lalat

Cechgentong

 

Seorang sufi sedang duduk termenung di depan jendela kamarnya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya. Tatapan matanya memandangi alam sekitar. Sungguh indah pemandangan di pagi hari ini pikir sang sufi.

”Ahh mengapa selama ini aku telah menyia-nyiakan hidupku ? Aku sibuk memikirkan kepuasan semu. Sementara di luar sana terpampang keindahan dunia dengan nilai-nolai keilahian ” ujar sang sufi dalam hatinya.

Layaknya pantas sang sufi melukiskan indahnya pagi itu dengan tulisan. Sudah sejam tangan sang sufi sibuk menulis. Beberapa lembar kertas telah dihasilkan. Dibiarkan lembar-lembar kertas berserakan di meja tau di lantai kamarnya.

Mengapa tinta di dalam botol tersebut cepat habis. Betapa terkejutnya sang sufi ketika melihat seekor lalat sedang menghisap tinta di dalam botol.

”Ohhh rupanya lalat itu yang telah menghabiskan tinta milikku dengan suka rianya. Apakah aku harus mengusirnya ? Kalau tidak aku akan kehilangan momen untuk menulis keindahan di luar sana. ” sang sufi berbicara dalam hatinya.

Kemudian sang sufi kembali lagi memperhatikan lalat yang ada di dalam botol tintanya.

”Tidak, aku tidak boleh mengusirnya. Sebetulnya Allah telah menunjukkan keindahan milikNya yang lain. Dan itu ada didekatku. Apakah aku pantas mengusirnya atau demi kepuasan nafsu keindahanku sesaat. Sementara justru aku menghalangi keindahan milik Ilahi lainnya untuk hidup. Padahal aku tahu hidup lalat itu tidak lama. Sedangkan aku masih mempunyai kesempatan lebih banyak waktu untuk menikmati dan meneruskan tulisan tentang keindahan alam yang ada di luar sana. “

Benar saja, beberapa menit kemudian lalat yang menghabiskan tinta milik sang sufi tersebut mati. Apakah lalat tersebut mati karena kekenyangan menikmati tinta tersebut. Atau memang sudah kehendak Ilahi. Wallahu a”lam Bishawab (Dan Allah lebih tahu atau Yang Maha Mengetahui)

Nb: terinspirasi oleh kisah Imam Ghazali saat menyelesaikan Kitab Ihya Ulumuddin

 

9 Comments to "Seorang Sufi dan Seekor Lalat"

  1. cechgentong  31 August, 2011 at 18:31

    Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum Ja’alanallahu minal aidin wal faidzin

  2. J C  30 August, 2011 at 01:36

    Renungan yang bagus banget Kang Cech…

    Selamat Idul Fitri 1 Syawa; 1432 H…

  3. HennieTriana Oberst  29 August, 2011 at 16:20

    Selamat Idul Fitri Cech.

  4. Linda Cheang  29 August, 2011 at 15:49

    Salam penuh damai untuk Kang Cech.. aku menulis enggak pakai dawat lagi, tapi pakai mao bi….

  5. Lani  29 August, 2011 at 15:04

    Selamat merayakan Idul Fitri…walau diperantauan……..ada ketupat Lebaran komplit ngga ya???? klu ndak ada ya aku bantuin ngileeeeeer wakakak……..

  6. cechgentong  29 August, 2011 at 13:49

    Terima kasih, Pak DJ. LEbih kasihan lagi makan pisgor trus ga dibayar hahaha

  7. cechgentong  29 August, 2011 at 13:48

    Terima kasih mas handoko

  8. Dj.  29 August, 2011 at 11:11

    Chech Gentong…..
    Selamat Pagi dan selamat Lebaran….!!!!
    Kasihan amat itu lalaz Chech Gentong bunuh dengan tinta……
    Kalau sebotol tinta habis diminum si lalat, pasti dia kekenyangan dan keracunan , badannya bisa sebesar botol tinta.
    Kalau sebelum dia minum , lalu diusir, ( bukan dibunuh ) dia pasti, masih hidup dan bisa menikmati pisang goreng yang di piring.

    Salam Damai dari Mainz….

  9. Handoko Widagdo  29 August, 2011 at 09:01

    Renungan yang hebat untuk menyambut Idul Fitri Cech. Mari berbagi dan memberi kesempatan kepada liyan dan tidak serakah. Selamat Idul Fitri!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.