Yunnan Agricultural University

Handoko Widagdo – Solo

 

Selama seminggu penuh, dari tanggal 7 sampai 14 Agustus saya menjadi tamu dari sebuah workshop yang diselenggarakan di Yunnan Agriculture University (YAU), Kunming, Yunan. Sebenarnya workshop ini adalah tentang sistim penyuluhan pada pertanian sayuran. Namun karena direktur proyeknya adalah seorang dosen dari departemen Animal Science and Technology, maka saya berkantor di departemen ini.

Program penyuluhan bertanam sayur bagi masyarakat Tibet di Yunnan adalah bagian dari proyek pengentasan kemiskinan masyarakat Tibet, dimana komponen ternak adalah yang utama. Itulah sebabnya direkturnya adalah seorang doctor bidang rumput wilayah savanna.

Saya tinggal di hotel milik YAU. Hotelnya bersih dan terkesan mewah dengan ruang santai dan ruang menerima tamu. Kamar tidur dan kamar mandi berada di ruang terpisah. Kamar mandinya berkelas. Sayang, koneksi internet sangat lambat dan tidak bisa dipekai bekerja pada siang dan malam hari. Hanya pada pagi hari dari jam 5 sampai jam 9 internet lancar.

 

Kampus yang asri dan mahasiswa yang casual

YAU menempati area yang sangat luas. Saat ini sedang dibangun (sudah lebih dari 90% selesai) kampus baru. Universitas yang memiliki mahasiswa sekitar 12 ribu ini asri dengan tanaman-tanaman peneduh yang rindang. Jalanan beraspal rapi. Tempat parkirnya menggunakan pohon sebagai pembatas. Di sana-sini terdapat tempat bagi mahasiswa untuk sekedar duduk beristirahat atau belajar. Sayangnya penempatan gedung-gedung agak kurang beraturan. Jadilah jalan-jalannya seperti labirin yang menyesatkan. Jangan pernah tersesat di kampus ini karena tidak ada penanda dalam bahasa Inggris. Orang-orang yang anda temuipun sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris, bahkan sering tidak ada.

Gedung-gedung masing-masing departemen terkesan friendly dengan berbagai ornamen eksterior yang indah. Masing-masing departemen memiliki ruang perpustakaan. Namun gedung perpustakaan utama adalah yang paling mengagumkan.

Sayangnya saat ini perkuliahan belum mulai. Sehingga hanya ada sedikit mahasiswa saja. Mahasiswa di YAU sangat casual. Mereka berpakaian sangat santai. Berbeda dengan kampus-kampus di India atau di Bangladesh, dimana mahasiswanya ber jas rapi, di sini para mahasisa berpakaian seenaknya.

Bahkan banyak mahasiswi yang bercelana amat pendek dan bersandal saja. Mereka juga tidak risih untuk bergandengan dan berpelukan di jalanan kampus. Ini kah akibat dari kebijakan satu pasangan satu anak? Apakah generasi yang cuek ini akan menghasilkan pemimpin sekokoh Mao dan Deng? Jika tidak apakah China masih akan tetap bisa bertahan? Wah saya jadi ngelantur.

 

Makan Rp 5.000 sup Rp 800.000

Kantin kampus cukup luas. Anda harus menggunakan kartu yang diisi deposit untuk bisa membeli makanan di kantin ini. Sebab kantin tidak terima uang kas. Harga makanan sangat murah. Sekali makan hanya menghabiskan biaya sekitar Rp. 5.000 saja. Jika bosan makan di kantin, Anda bisa keluar kampus. Di luar kampus banyak sekali restoran yang harganya juga terjangkau.

Membicarakan masalah makan, pada Selasa sore saya diundang kawan untuk makan malam di pusat kota Kunming. Kami berkunjung ke restoran yang menggunakan gedung bekas tempat para pedagang jaman dulu berkumpul. Bangunannya kuno dan beberapa bagian masih dipertahankan. Kami berdelapan makan malam di tempat ini. Pada saat akan membayar, ternyata teman saya mendapatkan masalah. Sebab ada sup jamur yang kami pesan harganya 88 USD (sekitar Rp 800.000) per porsi. Padahal kami makan 8 porsi. Ternyata sup ini terbuat dari jamur langka (Mastake?) yang hanya bisa didapatkan di pegunungan. Terjadilah percekcokan yang ramai karena kesalah mengertian tersebut. Teman saya mengira bahwa harga 88 USD adalah untuk 8 porsi, sementara pelayan dan manager restoran mengatakan bahwa 88 USD adalah untuk satu porsi. Seumur hidup saya, inilah sup termahal yang pernah saya makan.

 

Puasa di Kunming

Provinsi Yunan pernah dipimpin oleh seorang gubernur muslim. Namanya Sayyid Ajjal Syamsuddin. Syamsuddin memerintah Yunan pada tahun 1274, di era dinasti Yuan (Mongol). Dia adalah kakek moyang Laksamana Cheng He yang sangat terkenal itu.

Sebagai provinsi yang pernah diperintah oleh gubernur muslim, populasi warga yang memeluk Islam cukup banyak. Itulah sebabnya di Kunming banyak bertebaran restoran muslim. Beberapa restoran muslim memilih untuk tutup pada bulan Ramadhan ini, sementara lainnya tetap buka, khususnya saat menjelang berbuka.

Suasana puasa memang tidak terasa di Kota Kunming. Namun dari para pengikut Muhammad, mereka tetap menjalankan ibadahnya. Ini terbukti dari terdengarnya suara adzan magrib dari salah satu apartemen dosen di YAU, meski sangat lambat. Saat saya melintas di masjid kota, saya melihat gadis-gadis cantik berseragam gaun putih dengan sabuk merah tanpa jilbab berbaris mempersilahkan para pendatang untuk berbuka puasa bersama. Sayang karena saya melintas dalam taksi, maka saya tak bisa mengabadikan persiapan buka puasa di masjid Kota Kunming.

 

Dilarang sakit perut

Kembali ke kampus, setiap hari saya berjalan kaki saja dari hotel ke departemen. Jaraknya hanya kira-kira 300 meter saja. Hanya perlu 20 menit saja. Suatu saat saya ingin buang air kecil. Saya tanya kepada teman di kampus. Dia bilang bahwa gedung-gedung di kampus ini tidak memiliki fasilitas toilet. Jadi saya harus ke toilet umum. Ya ampun. Meski kampus ini megah dan asri, namun fasilitas toiletnya luar biasa jorok. Baunya bukan main karena tinjannya berkeliaran dimana-mana. Mereka buang air di saluran kering tanpa air. Jadilah sejak itu saya tidak pernah lagi mengunjungi public toilet.

Hal ini menjadi masalah besar bagi saya. Sebab saya harus buang air kecil secara rutin setiap 3-4 jam. Dan sering harus kembali ke toilet setelah sarapan pagi. Saya berupaya untuk mengatur minum dan makan supaya tahan di kampus lebih dari 4 jam. Namun perut dan kantong kemih tidak selalu bisa diajak kompromi. Jadilah kalau sedang datang serangan, saya berjalan bagai Bima yang mengejar Kurawa. Namun jika serangan telah mencapai pintu, saya harus berjalan bagai Sembadra yang merapatkan kedua paha. Serangan dari kantong kemih lebih menyiksa. Sebab jika saya jalan lebih cepat, maka serangan menjadi semakin dahsyat. Jika saya berjalan lambat, kadang tak mampu lagi untuk menyumbat. Ampun deh…rupanya kampus ini ikut mempertahankan tradisi China.

 

Menikmati malam

Sabtu malam, kami keluar makan bersama. Sebab ini adalah hari terakhir saya di kampus.

Setelah makan malam, salah satu rekan mengajak saya untuk ke Bar. Ternyata di seberang jalan di luar kampus terdapat banyak bar. Saya bilang kepada teman saya: ”no more alcohol for me”. Dia mengiakan. Kami masuk salah satu bar yang sangat ramai. Setelah masuk bar, mereka memesan dos bir (24 botol). Kami berdelapan, dua perempuan. Mereka mulai main kartu dan yang kalah harus minum dari gelas-gelas kecil. Tentu saja saya tidak ikut permainan ini.

Setelah dos pertama habis, mulailah mereka berceloteh dan bernyanyi –tepatnya berteriak-teriak sambil tetap main kartu. Saya ngeri menyaksikan mereka minum bir. Muka mereka merah, kaos diangkat sehingga perut yang kepanasan terlihat. Beginilah rupanya mereka mencari kesenangan saat week end.

Jam setengah sebelas kami keluar karena saya bilang bahwa saya perlu berkemas. Di luar bar mereka berdiskusi panjang. Teman saya yang bisa berbahasa Inggris mengatakan bahwa mereka mau melanjutkan minum-minum lagi. Saya bilang: ”maaf saya tidak bisa ikut”. Mereka berdiskusi kembali. Akhirnya mereka sepakat untuk mengantar saya pulang ke hotel dan kembali cari tempat untuk minum-minum. Saya bilang bahwa saya bisa pulang sendiri. Mereka tetap memaksa untuk mengantar saya. Sampai di hotel saya segera masuk kamar. Dan mereka melanjutkan petualangan malamnya. Saya tidur.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia.

Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

66 Comments to "Yunnan Agricultural University"

  1. awesome  9 September, 2011 at 14:49

    mungkin masing2 murid sudah punya pojokan/ pohon masing2 untuk berjahat, haha …. :p

  2. Handoko Widagdo  6 September, 2011 at 19:56

    Awesome, kalau di kota tentu ada. Tapi ini di dalam kampus. Jadi ya gak ada.

  3. awesome  6 September, 2011 at 17:48

    astaga … ndak ada wc berbayar toch?
    jaman tahun 90an waktu aku jalan2 ke sono lebih beruntung kalau begitu, di taman umum sempet menikmati wc berbayar seharga 1 atau 2 sen (waktu itu sangat murah sekali), lebih bersih dari wc mall di Jakarta, banyak sekali pekerja yg membersihkan wc. sampai kagum …. tentu saja wc umum yg gratis ya …. kondisinya ga jauh dengan ketenarannya :p

  4. Handoko Widagdo  4 September, 2011 at 17:00

    Lani, saya yakin keegoisan generasi China sekarang ini adalah akibat dari kebijakan satu anak satu keluarga.

  5. Lani  3 September, 2011 at 13:01

    HAND mungkin krn di cina penduduknya unthel2-an…….jd membuat lbh egois? hehehe……..

  6. Handoko Widagdo  2 September, 2011 at 08:07

    Pak Sumnggo, wah ya kalau sudah kebelet tentu saja tak bisa ditahan lagi. Bukannya ngempet kebelet itu lebih rumit daripada persoalan Obama mengatasi resesi ekonomi dunia?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *