Tuhan Membuatku Merasa Kaya Raya

Meitasari S

 

Miris aku memandang bu Asih (sebut saja namanya begitu), yang perutnya semakin lama semakin membesar. Aku takut sekali melihat dia berjalan tergopoh – gopoh seperti seorang pemain drumband tanpa stick.

Aku paling sedih jika melihat orang sakit, tapi tak bisa berobat karena kendala biaya. Rasanya aku ingin menjadi kaya raya, hingga bisa membantu orang – orang yang sakit itu. Tapi untunglah, walau aku belum kaya, tapi Bapaku yang di surga itu kaya raya. Ia punya banyak tangan. Dan Ia cuma membisikiku untuk pergi ke rumah Bu Asih, masalah yang lain nanti Aku yang bereskan, begitu Ia bicara padaku.

Hingga suatu sore aku tak tahan untuk mendatangi Bu Asih dan bertanya apakah gerangan sakitnya. Dengan tersendat menahan tangis Bu Asih bercerita,

“Bu Meita, saya sudah dua tahun menderita kista,” serak suaranya terdengar di telingaku.

“Lha kenapa tidak segera dibawa ke dokter, bu?” tanyaku ingin tahu.

“Emmm, tidaklah nanti merepotkan keluarga. Biar saja biaya untuk berobat ini untuk keperluan anak-anak bu,” sahutnya menahan tangis yang hampir tumpah.

Memang kehidupan Bu Asih ini menurutku pas-pasan walau tidak juga dikatakan miskin. Keluarga mereka hanya bersandar pada kepala keluarga yang sudah pensiun. Dengan tiga putri yang menginjak remaja, tentu biaya pendidikan sangat berat. Untung saja, di lingkungan kami mempunyai program Beasiswa. Dan Keluarga Bu Asih cukup terbantu dengan program bantuan beasiswa di lingkungan kami ini.

“Bu Asih, apakah ibu mencintai anak-anak ibu?”, tanyaku gemas.

“Ya tentu saja to, bu Meita. Tapi keadaan kami seperti ini. Saya harus bagaimana?” ujar Bu Asih bingung.

“Kalau ibu menyayangi mereka, ibu harus ke dokter ya. Besok saya antar. Sudah tak usah pikirkan dulu masalah biaya. Lagi pula kita bisa pakai kartu kesehatan suami ibu,” kataku.

Aku tahu suami bu Asih adalah seorang pensiunan pegawai negeri. Jadi untuk masalah kesehatan tentu saja Negara ikut menanggung sebagian. Sungguh tak habis ku mengerti mengapa bu Asih membiarkan kista diperutnya membesar hingga terlihat seperti seorang perempuan yang hamil sembilan bulan. Yang tak kumengerti lagi mengapa keluarganya pun juga diam saja, tak mencoba berinisiatif mengambil suatu tindakan menyelamatkan Bu Asih.

Akhirnya aku memutuskan akan mengantar Bu Asih besok. Masalah biaya pikirkan nanti. Sebetulnya sih aku juga tak ada duit lebih untuk pengeluaran ini. Tapi manalah mungkin Tuhan diam saja tidak membantuku. Aku cuma bergumam dalam hati.

“Tuhan, Kau yang bawa langkah kaki ku ke rumah ini. Engkau juga yang akan menyediakan biayanya. Aku tak tahu lho ya. Aku pasrah.” Setelah bicara sebentar padaNya hatiku makin mantap untuk membawa Bu Asih ke dokter.

Keesokan paginya, jam sembilan pagi aku ke rumah Bu Asih. Dia sudah bersiap menungguku. Kami berdua menuju ke Puskemas dulu untuk mendapat rujukan, sebelum akhirnya ke rumah sakit. Semua administrasi beres. Kami menuju ke rumah sakit di bawah terik matahari yang tak ramah. Sesampai di rumah sakit kami masuk ke ruang dokter spesialis kandungan. Dokter yang menangani sempat kaget dan ngeri melihat perut bu Asih ini. Sang dokter berkata,

”Ini harus segera diambil bu, kalau ibu tak mau terjadi hal yang lebih buruk.” Bu Asih menghela nafas panjang.

Lalu si dokter berkata lagi, “Ini saya siapkan surat untuk mondok, cek lab, dan operasi ya, bu. Terserah ibu mau masuk kapan.” Kami berlalu dari ruang periksa setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih.

Dalam perjalanan pulang, aku memberi semangat Bu Asih. “Bu, nanti sesampai di rumah, ibu segera berunding dengan suami ibu. Lalu sediakan semua persyaratan administrasinya. Masalah biaya, banyak jalan menuju Roma. Tak perlu khawatir. Yang penting ibu punya tekat untuk sembuh,” ujarku.

Bu Asih, terlihat bahagia. Wajahnya berbinar. Walaupun ada sedikit kecemasan, mungkin ia memikirkan masalah biaya itu.

Aku membiarkan Bu Asih berunding dengan keluarganya. Aku menunggu kabar dari dia. Sehari, dua hari tak ada kabar. Hari ketiga, aku sudah tak sabar lagi. Aku angkat telpon, dan menghubungi bu Asih menanyakan bagaimana rencana selanjutnya. Tapi justru yang kudengar adalah suara sesengukan.

“Bu Meita, suami saya tidak setuju. Saya disuruh berobat alternatif saja,” deras kalimat itu keluar dari mulutnya seolah melepas kejengkelan yang berkecamuk di dadanya.

Hatiku perih mendengar penjelasannya. Lalu aku berkata, “Bu, pengobatan alternative itu membutuhkan waktu yang lama. Kalau penyakit ibu itu yang dibutuhkan bukan obat, tetapi tindakan pengambilan. Dan harus segera. Tidak bisa ditunda lagi. Sekarang ibu begini saja, ibu berunding dengan keluarga pihak ibu. Dan minta dukungan. Saya akan bantu dengan menghubungi teman – teman untuk, mengumpulkan biaya. Tapi yang penting ibu bergerak dulu. Lagipula, sebagian besar biaya ibu sudah ditanggung pemerintah. ”

Akhirnya, Bu asih menghubungi pihak keluarganya. Sampai suatu hari telpon di rumahku berdering. Krrrrrrrrrrrrrrriingggggggggggggggg!

“Selamat pagi,” sapaku.

“Selamat pagi, bu Meita,” terdengar suara di seberang telpon. “Saya Ratri bu, mau memberi kabar, ibu akan operasi besok pagi.”

Hatiku senang sekali mendengar kabar dari Ratri, putri Bu Asih. Lalu kataku,

“Ya, Ratri, saya senang sekali, semoga semuanya besok berjalan lancar. Saya akan datang ya,” ujarku.

“Baik, Bu Meita, sampai besok,” kata Ratri menutup pembicaraan.

Keesokan paginya, aku datang ke rumah sakit untuk memberi dukungan Bu Asih, menghadapi operasi. Walau cemas, Bu Asih terlihat bahagia. Dia berkali – kali mengucapkan terimakasih padaku. Ah… padahal aku tak berbuat apa-apa, hanya mengantar dan sedikit provokasi ha ha ha…… Aku jadi malu sendiri, karena Bu Asih menganggap aku seperti dewa penolong saja. Aku mengajak keluarganya berdoa bersama sebelum Bu Asih dibawa ke ruang operasi.

Operasi berjalan lancar. Daging yang tumbuh di perutnya sudah diangkat. Kalau tidak salah ingat beratnya hampir mencapai 3 kilogram. Dan besarnya melebihi bola basket. Ho ho ho…….Ngeri bukan???

Aku menjenguk Bu Asih setelah ia kembali ke rumah. Senangnya melihat ia berusaha berjalan ke luar dari kamarnya tanpa membawa drum nya itu. Terimakasih Tuhan. Janjimu indah sekali. Aku yakin Tuhan mencukupkan biayanya. Karena Bu Asih tidak mengeluh padaku masalah biaya.

Sekarang Bu Asih sudah bisa bekerja. Ia membantu suaminya . Tuhanku memang ajaib. Aku memang tidak kaya. Tapi aku boleh ikut ambil bagian dalam kesembuhan Bu Asih. Kini ia bisa produktif. Setiap kali aku membeli sesuatu di warungnya, selalu ia bilang, “Saya sekarang bisa bekerja karena bu Meita.”

Sebenarnya aku malu kalau ia bilang begitu. Karena aku sungguh hanya mengeluarkan sedikit uang dan tenaga, juga saran yang provokatif saja. Tapi yang penting Tuhan sudah membuatku merasa kaya raya…… Ha ha ha……Terimakasih Tuhan buat kemurahanMu pada kami semua.

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Tuhan Membuatku Merasa Kaya Raya"

  1. selogiri  5 September, 2011 at 12:22

    small thing means everything..cheers..

  2. Meitasari S  1 September, 2011 at 09:27

    P. Sumonggo : ha ha nice word! Provokator kebahagiaan ., mari kt smua jd provokator kebahagiaan ….

  3. Meitasari S  1 September, 2011 at 09:24

    Mb Lani, aduh snangnya boleh mjd angel… Tx God 4 allowing me to be an angel. …

  4. Sumonggo  1 September, 2011 at 09:13

    Meitasari, sukses selalu menjadi provokator kebahagiaan, ha ha ……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.