Belajar Beda, Beda Belajarnya

Sumonggo – Sleman

 

Tahun ini kembali ada perbedaan antara tanggal Lebaran versi pemerintah dengan sejumlah ormas. Seorang kerabat mengaku, tak ambil pusing dengan perbedaan tersebut, baginya ada prinsip tersendiri, “Pokoknya kalau urusan lebaran, ikut yang paling awal saja”, jadi bukan karena keputusan Muhammadiyah, NU, Persis atau Arab Saudi. Boleh juga sih …

Dulu jaman Orde Baru, pernah juga terdapat perbedaan tanggal lebaran versi pemerintah dengan Muhammadiyah. Karena kala itu sedang ada tensi tinggi antara Pak Amien Rais dengan Pak Harto, beredar joke, “Yang lebaran hari A, berarti ikut Muhammadiyah, sedang yang lebaran hari B, berarti ikut Muhammad Soeharto. Kalau tidak salah belum lama waktu itu, Pak Harto baru saja menunaikan ibadah haji, dan namanya berubah menjadi “Haji Muhammad Soeharto”.

Sebenarnya ada sejumlah hikmah yang bisa diambil, saat merasakan perbedaan tanggal lebaran tersebut. Di antaranya adalah belajar menenggang rasa. Yang ingin menggelar pawai takbiran, tahu diri dengan yang masih menjalankan tarawih. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan. Tanpa sadar mungkin ada rasa “ngeh”, bagaimana takbiran tanpa mengganggu yang tidak takbiran. Yang sudah saatnya makan ketupat dan opor ayam, tahu diri menenggang rasa, masih adanya yang berpuasa. Sebenarnya kalau mau lebih “ngeh” lagi, bisa meningkat kesadarannya, bagaimana sebulan ini umat beragama lain telah cukup banyak bertenggang rasa untuk menghormati bulan puasa. Mungkin isi spanduk bertuliskan “Hormatilah bulan puasa” yang banyak bertebaran di jalan, perlu di-upgrade lagi menjadi “Hormatilah bulan puasa, di antaranya dengan menghormati yang tidak berpuasa”

Kalau semuanya sama tak ada yang beda, tentu rasa itu terasa kurang nendang. Tepo seliro, itulah sifat alami, yang mulai tereduksi, berganti dengan tradisi “razia dan sweeping” yang entah darimana asalnya. Sebuah kabar memprihatinkan, film “?” karya Hanung Bramantyo, yang akan diputar oleh suatu stasiun televisi swasta, hendak didemo oleh ormas tertentu. Kurang kerjaan saja, lebaran begini, lebih enak makan ketupat ketimbang demo, kan?

Kembali ke perbedaan soal tanggal lebaran tersebut, seperti pendapat sejumlah tokoh agama, tidak perlu dipertentangkan secara sengit. Masak sudah saatnya maaf-maafan malah sibuk bertengkar lagi? KH Hasyim Muzadi, pernah menyatakan:

“Orang orang Barat sudah pergi ke bulan, tapi kita masih bertengkar mengenai mengintip bulan.” Memang dalam sejumlah diskusi dan ceramah agama, selalu muncul ungkapan kegelisahan mengenai perbedaan tanggal lebaran tersebut. Hal itu wajar saja. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menyikapi perbedaan tersebut secara bijak. Bila ada yang menyatakan, perbedaan tersebut membuat umat bingung, mungkin saat ini yang diperlukan adalah mendewasakan umat sehingga tidak mudah bingung dan tidak mudah ikut-ikutan. Ujungnya, tidak mudah terprovokasi dan tidak mudah terpancing konflik.

Dalam kondisi bangsa saat ini, masih banyak hal-hal lain yang lebih perlu memperoleh prioritas untuk digelisahkan. Mungkin bila Gus Dur masih ada beliau akan berucap, “Lebaran beda saja kok repot …..” Memang untuk bisa belajar menerima perbedaan, beda belajarnya. Mungkin kita masih harus banyak belajar.

Akhirnya, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakannya. Selamat mudik, bagi yang berkesempatan mudik. Selamat menikmati liburan, bagi yang sedang libur. Dan, selamat bertugas, bagi yang tetap harus menjalankan tugas.

SURAT PERMOHONAN MAAF

No : 01/Syawal/1432/H.

MENIMBANG:

Banyaknya Dosa.

MENGINGAT:

Seringnya Salah & Khilaf.

MEMPERHATIKAN:

Datangnya Idul Fitri 1432 H.

MEMUTUSKAN:

Mengucapkan: Selamat Hari Raya IduL Fitri.

MENETAPKAN:

MOHON MAAF LAHIR & BATHIN

“MinaL Aidin WaL Faidzin”.

DENGAN CATATAN:

Apabila ada kekeliruan dengan ini, dan atau perbedaan persepsi penetapan 1 syawal, sekali lagi mohon dimaafkan.

Sleman, 30 Romadlon 1432 H.

 

 

15 Comments to "Belajar Beda, Beda Belajarnya"

  1. Sumonggo  4 September, 2011 at 06:20

    Pak Handoko, Anoew, Mas Josh Chen, mohon maaf lahir batin

  2. Handoko Widagdo  3 September, 2011 at 09:00

    Pak Sumnggo, monggo kemawon, silahkan pilih hari mana yang dianggap cocok untuk merayakannya. memang diperlukan tepa sarira untuk menikmati perbedaan. Sugeng Riyadi

  3. anoew  2 September, 2011 at 22:30

    Orang orang Barat sudah pergi ke bulan, tapi kita masih bertengkar mengenai mengintip bulan.

    Hehehe… Pengen nyengir pas baca kuotasi ini.

    Sugeng Riyadi Kang, hangaturaken ggung pangaksami.

    Sik, tak nginjen disik.

  4. J C  2 September, 2011 at 11:14

    Mas Sumonggo, ada yang sampai sekarang masih tidak bisa “bersatu” dan “berdamai”, yaitu Merah dan Biru… kalau Kuning sekarang mau tak mau kudu berdamai dengan pemenang, soalnya kalau tidak si Kuning sudah tanggung tidak di atas tidak di bawah, mau tak mau kudu…tapi kalau Merah sama Biru rasanya persis Tom and Jerry…

    Minal Aidin Wal Faizin nggih…

  5. Sumonggo  2 September, 2011 at 09:38

    Linda Cheang: yang terpenting adalah kemampuan menyikapinya dengan bijak
    [email protected]: hijau karena ketupatnya, tapi kemana-mana bertemu opor ayam dan sambel goreng, akhirnya cari selingan bakso
    Mbak HennieTriana Oberst: sesuai semboyannya Pak JK, lebih cepat lebih baik, ha ha
    Diajeng Lani: lebih baik lagi adalah Pelangi di matamu, seperti kata grup musik Zamrud ha ha ..
    Pak Inakawa: salam sejuk dari Sleman
    Atite: mohon maaf lahir bathin
    T. Moken: sepakat
    Pak Djoko: salam damai dari Sleman
    Mbak Dewi Aichi: wah…wah …. titip salam buat Mas Hanung ya …. Mesakke itu bocah-bocah kalau pada sungkeman tempat sampeyan, baru buka toples sudah dipleroki … ha ha ….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.