Para Asisten Rumah Tangga dan Idul Fitri 1432 H

Yeni Suryasusanti

 

Bagi para wanita yang memilih untuk berkarier di luar rumah dan menyerahkan hampir seluruh urusan domestik rumah tangga kepada asisten rumah tangga, beberapa hari menjelang dan pasca Hari Raya Idul Fitri merupakan ujian bagi kemampuan beradaptasi dari kerja kantoran dan hanya memanage rumah tangga menjadi kerja rumahan secara penuh :)

Selama ini saya cukup beruntung mengenai asisten rumah tangga. Dengan satu asisten yang menginap – Yanti – untuk berbelanja ke pasar, memasak dan menemani Ifan dan Fian selagi saya belum pulang kerja, dan satu lagi asisten yang datang setiap pagi – Sri – untuk menyapu, mengepel, mencuci dan menyeterika, saya terhindar dari “konflik antar asisten” yang terkadang menyebabkan salah satu memutuskan untuk berhenti bekerja.

Dengan tidak bersama sepanjang hari, kekesalan-kekesalan kecil yang terjadi tidak terlalu memanas karena mereka memiliki hal lain untuk mengalihkan fokus dari perbedaan karakter yang jika dibiarkan bisa menjadi bom waktu.

Yanti dan Sri, kebetulan memiliki kelebihan dan kekurangan di bidang yang berbeda sehingga alhamdulillah mereka bisa saling melengkapi :)

Sesuai dengan bidang yang mereka geluti, Yanti piawai dalam memasak dan betah menemani Fian bermain. Dengan Ifan meskipun kurang bisa berjalan seirama, namun dengan sering membuat masakan kegemaran Ifan sehingga membuat Ifan senang, ketidakcocokan tersebut tidak terlalu sering menjadi masalah :)

Perhatiannya terhadap kebiasaan dan selera makan saya juga luar biasa. Menyiapkan segala kebutuhan rutin saya tanpa diminta menjadi keunggulannya juga, seperti menyiapkan 3 butir kurma dalam plastik klip dan sebotol kecil air mineral setiap hari Senin dan Kamis ketika saya berpuasa.

Sebagai pengimbang kelebihannya, Yanti cenderung memiliki sifat “moody”, juga sedikit “bossy” terhadap rekan kerjanya, di samping memiliki kelemahan dalam hal membereskan, menata, baik kulkas, lemari, dapur dan segala isinya. Intinya beres-beres tidak dilakukan secara rutin serta bahan makanan dan bumbu dapur tidak ditata dengan rapi sehingga “mubazir” akibat adanya bahan makanan yang terlanjur kadaluarsa terkadang terjadi.

Ketika saya punya waktu, maka saya akan mengajaknya untuk membongkar kulkas dan lemari dapur dan mengaudit segalanya. Namun karena keunggulannya bukan di bidang manajemen barang-barang, dalam waktu yang tidak terlalu lama segalanya akan menumpuk dan berantakan kembali :D

Sementara Sri, alhamdulillah memiliki stok kesabaran yang sangat tinggi dalam menghadapi sifat Yanti, mungkin karena faktor usia yang lebih dewasa dan sudah berkeluarga pula :)

Juga sesuai dengan pekerjaan yang saya pilih untuknya, Sri memiliki keunggulan dalam membereskan barang-barang, bekerja cepat dan tidak membuang-buang waktu dengan menonton TV sambil bekerja.

Meskipun terkadang “pelupa”, alhamdulillah Sri tidak pernah cemberut jika ditegur atau diingatkan oleh saya :)

Sejak bekerja dengan kami hampir 2 tahun yang lalu, setiap tahun Sri tidak ikut mudik lebaran ke kampungnya di Jawa Tengah.

“Ongkosnya mahal, Bun, mending saya mudik pas Rahma (putrinya) libur sekolah aja…” demikian pertimbangannya.

Dan Sri memanfaatkan ketidakmudikannya dengan menawarkan jasa tenaga Infal maksimal di 3 rumah untuk berberes, mencuci dan menyeterika agar mendapatkan nafkah tambahan. Dia hanya mengambil libur pada Hari Raya Idul Fitri pertama saja. Untuk saya, Sri tidak memberikan tarif, “Terserah seikhlasnya Bunda aja…” katanya.

Jadi, sudah 2 tahun ini saya juga menggunakan jasanya selama Yanti pulang kampung, tetap dengan pekerjaan rutinnya dan terkadang membantu saya memasak untuk Idul Fitri.

Pagi ini, setelah shalat subuh, Yanti pulang ke kampungnya di Bogor.

Seperti biasa, hal pertama yang saya lakukan begitu Sri datang adalah meminta bantuannya untuk membongkar dan membersihkan kulkas sekaligus memeriksa isinya, juga melakukan audit bahan masakan di dapur. Tentu saja tujuan utamanya adalah agar saya bisa menata kulkas dan dapur sesuai keinginan saya, sehingga saya mengetahui dimana letak segalanya dan dengan mudah mengambilnya jika saya membutuhkannya :D

Tepat seperti dugaan saya, begitu banyak bahan makanan yang kadaluarsa. Selai, keju, butter adalah beberapa di antaranya.

Kripik kentang pedas yang tetap di kantong plastik sejak awal dibeli, bolu gulung yang tetap berada di kemasan mika, ayam panggang yang belum habis dimakan, dan berbagai makanan yang awet bertumpuk-tumpuk tidak rapi sehingga tidak terlihat isinya.

Sri mengeluarkan semua isi kulkas dan mencuci bersih kulkasnya. Kemudian saya mulai memeriksa isi kulkas tersebut satu demi satu, dengan bantuan Sri memindahkan makanan yang di kemas dengan koran atau plastik namun tidak diikat rapat ke dalam kemasan kedap udara yang bening agar terlihat apa isinya, membagi makanan yang sudah siap disajikan yang saya rasa terlalu banyak untuk kami sekeluarga konsumsi untuk Sri dan keluarganya, dan dengan terpaksa – dan sangat menyesal karena mubazir – membuang semua yang sudah kadaluarsa :(

Kini, saya siap bekerja di dapur saya yang sudah tertata :)

Namun, bukan hanya tentang audit isi kulkas dan bahan makanan yang ingin saya ceritakan kali ini.

Melainkan rasa haru dan syukur saya karena memiliki kedua asisten yang luar biasa meskipun tak lepas dari kekurangannya.

Sekitar seminggu yang lalu, Yanti menanyakan rencana saya di Hari Raya Idul Fitri. Apakah saya akan berlebaran di rumah, atau menginap di rumah Ibu mertua seperti tahun lalu.

Saya berkata bahwa saya baru akan berkunjung dan menginap di rumah Ibu mertua saya siang hari setelah shalat Idul Fitri.

“Berarti Bunda masak untuk lebaran di rumah dan antar tetangga ya Bun?” tanya Yanti memastikan. Saya mengangguk.

Karena sudah bekerja dengan saya selama 4 tahun, Yanti sudah mengerti tradisi di komplek perumahan kami adalah mengantarkan masakan lebaran kepada tetangga kiri kanan dan depan rumah :)

“Masak opor ayam, sambal goreng hati kentang dan sayur labu untuk kuah lontong nanti ya Bun?” tanya Yanti.

“Iya, nanti kamu giling bumbu aja sama potong-potong bahannya kecuali kentang trus masuk kulkas. Nanti Bunda yang masak. Kalo nggak sempat bikin lontong, nanti paling pesan dengan tetangga Sri…” jawab saya.

Karena kulkas saya memiliki 2 pintu dengan freezer terpisah, saya memang biasa berbelanja bahan sekitar 1 – 2 minggu sebelum lebaran sebelum harga melonjak tinggi, kemudian menyimpan stok ayam / daging / ikan di freezer.

Hari ini, saat habis sahur, Yanti menghampiri saya di meja makan.

“Bun, lontong udah aku pesan ke mbak Sri, nanti sehari sebelum lebaran diantar, sambal goreng hati kentang sudah aku buat, aku masukkan ke dalam tupperwear di kulkas, opor ayam udah aku masak, aku taruh di 2 plastik dan masuk freezer, sayur labu dengan tetelan juga udah aku buat, aku taruh di 3 plastik dan masuk freezer juga. Udah beku semua. Jadi nanti tinggal Bunda turunkan ke kulkas bawah hari sehari sebelum lebaran, biar nanti bunda tinggal ngangetin aja semuanya… Abis kebayang pasti Bunda repot sama Fian nanti nggak bisa ngapa-ngapain…” jelasnya.

Subhanallah… Alhamdulillah… Wa syukurillah…

Saya tidak akan pernah berkata bahwa saya adalah majikan yang sempurna. Meskipun dalam banyak hal saya mentolerir kekurangan para asisten rumah tangga saya, namun saya juga menetapkan beberapa standard yang cukup tinggi di beberapa prioritas pekerjaan rumah tangga diantaranya pengasuhan anak-anak dan kebersihan ruangan, serta kesopanan dalam berkata-kata terutama ketika di depan anak-anak.

Hanya saja, selama ini saya dididik oleh orang tua saya untuk tidak membedakan status “majikan dan pembantu” dalam pemberian baik itu makanan maupun perlengkapan rutin bulanan.

Mereka makan beras dan lauk pauk yang kami sekeluarga makan, mereka minum air mineral dari dispenser seperti juga kami sekeluarga minum. Jika mereka sakit, mereka juga akan saya berikan obat yang baik, sama seperti anggota keluarga lain jika sakit pula.

Kebutuhan seperti pembalut, sabun, shampo, sikat gigi, odol, lotion, cologne / parfum yang saya masukkan ke dalam “jatah” bulanan Yanti saya belikan sesuai dengan merk pilihannya. Yanti memilih menggunakan Laurier, sabun Lux batangan, shampo Pantene, Pepsodent, Citra dan Pucelle untuknya, dan saya memenuhi permintaannya sebagai tanda penghargaan saya padanya.

Saya yakin, setiap keikhlasan dan cinta akan berbuah kebaikan pula…

Jadi, kepada beberapa sahabat yang sempat bertanya kepada saya, bagaimana bisa asisten rumah tangga yang bekerja dengan saya rata-rata masa kerjanya minimal 4 tahun dan begitu pengertian dengan tepat waktu kembali setelah cuti hari raya (Yanti mudik tanggal 27 Agustus 2011 dan akan kembali pada tanggal 3 September 2011 – “Biar Bunda bisa istirahat tanggal 4 sebelum tanggal 5 masuk kerja…” katanya -, maka saya akan menjawab : “Sesungguhnya saya tidak tahu pasti mengapa, namun mungkin karena hati saya menyayangi mereka, dan saya memperlakukan mereka juga dengan penuh cinta…”

Jelang Hari Raya, saya ingin mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H kepada seluruh teman yang merayakan, dan menghaturkan mohon maaf lahir batin atas segala kekhilafan yang pernah saya lakukan :)

 

Jakarta, 27 Agustus 2011

Setelah beberes dapur dan sambil menunggu Fian bangun tidur :D

Yeni Suryasusanti

 

15 Comments to "Para Asisten Rumah Tangga dan Idul Fitri 1432 H"

  1. Dewi Aichi  5 September, 2011 at 21:58

    Ibu saya kok malah sering bikinin teh manis buat mbak yang akan bersih2 rumah, dan setrika tiap harinya. Memang sih ngga nginep..masak juga berdua sama ibu saya…nyaman aja…

  2. Yeni Suryasusanti  5 September, 2011 at 18:16

    Ahhhh……… baru sempat buka baltyraaaa…………
    maaf teman2, terlambat responnya

    Selamat hari raya idul fitri utk yg merayakan, mohon maaf lahir batin utk semua

    Hennie, sama seperti kita dulu waktu kecil. Ada si mbak, tetep dapet giliran cuci piring hihihi… kalo Ifan dan Fian sekarang, minimal mereka harus meletakkan piring dan gelas kotor di bak cuci piring sendiri, nggak meninggalkan di meja makan

    Atite, moga2 si mbak balik lagi

    Oom DJ, ketika suami sedang makan di rumah, biasanya mereka nggak ikut satu meja, sepertinya segan Tapi kalau hanya saya dan anak2 yg makan, si mbak selalu gabung di meja. kadang kalau suami belum pulang, anak2 udah makan, dan saya baru sempat makan belakangan, si mbak malah suka nemenin di meja makan. moment itu dipakai utk “curhat” ttg pribadinya hehehehe…. disitulah kedekatan hati kami mulainya, karena saya suka bertanya, si mbak suka “curhat” keluarga

    JC, kalau di resto, iya sama, kita gabung meja lah… aneh aja kalo sampe pisah meja makan di resto sama si mbak dan supir kalo lagi sama supir ke luar kota

    Lanie, hehehhe…. emang standard kadang jadi masalah, makanya kudu ikhlas atau ikut turun tangan heheheh

    Anoew, maaf lahir batin juga yaaaa

  3. anoew  2 September, 2011 at 22:47

    Kebutuhan seperti pembalut, sabun, shampo, sikat gigi, odol, lotion, cologne / parfum yang saya masukkan ke dalam “jatah” bulanan

    Sama dong.., asisten rumah tangga di rumah juga menyediakan “perlengkapan perang” selama sebulan di hutan buat saya.. Isinya? Ya gk jauh beda lah dengan kebutuhan sehari-hari, tapi tanpa dingklik.

  4. anoew  2 September, 2011 at 22:36

    Selamat Idul Fitri Yeni, maaf lahir batin kalau ada sale-sale kate / posting.

  5. Dj.  2 September, 2011 at 22:29

    DImas….
    Dj. sangat setuju dengan komentar nr. 7

    Kalau dikeluarga kaka Dj. itu dimolai dari orang tuanya yang jadi asisten dirumah kaka.
    Setelah orang tuanya tidak ada, maka anaknya yang meneruskan dan memang sudah menjadi seprti keluarga jadinya…..
    Jangankan makan di Restaurant, dirumahpun ya sama-sama…
    Bedanya, asisten itu yang menyiapkan semua makanan dan mengatur meja.
    Tapi makanan tidak ada bedanya, yang dimakan kaka sekeluarga, itupun yang dimakan asistennya.
    Setelah makan, malah kaka ipar membantu bersihkan meja….

    Dj. jadi ingat saat petama kali ke kota Mataram ( P.Lombok ).
    Sewa mobil dengan sopirnya, saat kami makan di restaurant, sopirnya kami ajak makan bersama.
    Dia bilang, sayang uangnya, biar dia dikasi uangnya saja dan makan ditempat lain.
    Kami bilang, kalau mau makan bersama kami, maka nanti uangnya juga akan dkasi.
    Tapi kalau tidak mau makan bersama kami, maka uangnya juga tidak akan kami kasi….
    Dia garuk kepala dan akhirnya mau ikut makan dan selama makan dia selalu senyum-senyum sendiri….

    Salam manis untuk keluarga dirumah ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.