Tutut Kraca – Keong Sawah Yang Kaya Gizi

Linda Cheang – Bandung

 

Bulan Ramadhan akan segera berakhir dan semoga saja saya masih punya kesempatan atas tulisan untuk  tayang sebelum Lebaran tiba.

Di Bulan Ramadhan, selalu ada hal-hal yang umumnya tidak atau jarang kita dapati di bulan-bulan lainnya. Begitupun dengan urusan permakanan banyak santapan dan hidangan yang mendadak tampil pada bukan ini dan sulit untuk ditemukan pada bukan-bulan selain Ramadhan.

Salah satu hidangan khas Ramadhan yang saya sukai adalah olahan dari keong sawah. Orang Sunda menyebutnya sebagai Tutut, sementara  yang berbahasa Jawa,  menyebutnya sebagai Kraca. Olahan ini menjadi oase buat saya di tenah-tengah hidangan khas untuk berbuka puasa yang umumnya didominasi hidangan yang manis-manis, kadang rasa manisnya sampai keterlaluan untuk saya yang memang kurang suka rasa manis. Olahan Kraca yang cukup terkenal ada dari daerah Banyumas, namun olahan Kraca alias Tutut yang saya tampilkan ini adalah olahan a la Sunda dengan bumbu-bumbunya adalah kemiri, merica, kunyit dan sedikit cabai, makanya terasa ada pedasnya.

Benar, bahwa makanan olahan ini dari keong sawah, makanya terkesan menjijikkan, tetapi siapa yang sdangka bahwa dibalik tampilannya yang menjijikkan, tertnyata memiliki kandungan gizi yang luar biasa. Warga yang  sedang dalam kondisi paceklik uang sehingga tak sanggup membeli daging sapi untuk sumber protein hewani, sebenarnya bisa memanfaatkan keong sawah ini sebagai salah satu sumber protein hewani yang  mumpuni.

Dikutip dari situs Kulinologi.biz, berikut nilai gizi yang terkandung di dalam olahan keong sawah:

Nilai gizi keong Keong (Inggris: snail) atau yang dalam bahasa Perancis disebut Escargot, merupakan jenis hewan moluska yang ditemukan di pantai, air tawar, dan tanah. Keong memiliki sekitar 100 spesies dan tergantung pada jenis lokasi yang berbeda digunakan sebagai sumber makanan. Biasanya keong yang dimakan adalah dari jenis Helix pomatia dan Helix aspersa.

Keong telah lama digunakan sebagai salah satu menu konsumsi untuk manusia karena terkenal lezat, tidak saja di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara lain. Orang Perancis terkadang menyajikan keong sebagai appetizer; sedangkan di Amerika dan Australia, keong yang mereka sebut abalone pada umumnya dikonsumsi sebagai makanan utama, misalnya dalam masakan Spaghetti with escargots dan Abalone in oyster sauce

Keong kaya akan protein, tetapi rendah lemak (loihat tabel terlampir) sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif makanan tinggi protein yang rendah lemak. Dalam seratus gram bagian yang dapat dimakan terdapat 16 g protein sehingga apabila kita mengkonsumsi 100 g kraca, tubuh kita sudah mendapat 32% protein dari kebutuhan sehari-hari. Protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh dan juga berperan dalam proses kekebalan tubuh. Konsumsi protein hewani dalam makanan sehari-hari diperlukan oleh tubuh disamping protein nabati.

Lemak dalam 100 g kraca terdapat dalam jumlah 1,4 g. Lemak yang terdapat dalam keong merupakan asam lemak essensial dalam bentuk asam linoleat dan asam linolenat. Sebuah studi di Brazil menunjukkan bahwa 75% persen lemak dalam keong merupakan asam lemak tidak jenuh yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Asam lemak tidak jenuh tersebut 57% tersusun dari asam lemak tak jenuh ganda dan sisanya merupakan asam lemak tak jenuh tunggal.

Kandungan vitamin pada keong cukup tinggi dengan dominasi vitamin A, vitamin E, niacin dan folat. Vitamin A berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama di malam hari, sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina serta menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Niacin atau vitamin B3 berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein.

Di dalam tubuh, vitamin B3 memiliki peranan penting dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo. Vitamin E berperan dalam menjaga kesehatan berbagai jaringan di dalam tubuh, mulai dari jaringan kulit, mata, sel darah merah hingga hati. Vitamin E juga merupakan sebagai senyawa antioksidan alami. Folat berfungsi membantu pembentukan sel darah merah, mencegah anemia, sebagai bahan pembentukan bahan genetik sel, dan sangat esensial selama kehamilan karena mencegah timbulnya kecacatan tabung saraf pada bayi. Apabila kita mengkonsumsi 100 gram kraca, maka kita dapat memenuhi kebutuhan 2%
vitamin A, 23% vitamin E, 7% niacin dan 66% folat.

Mineral merupakan zat yang berperan penting pada tubuh manusia untuk pengaturan kerja enzim-enzim, pemeliharaan keseimbangan asam-basa, membantu pembentukan ikatan yang memerlukan mineral seperti pembentukan haemoglobin. Kandungan mineral yang utama pada keong berupa kalsium, zat besi, magnesium, kalium dan fosfor. Apabila kita mengkonsumsi 100 g kraca, maka sudah memenuhi 17% kalsium dan 13,5% zat besi untuk kebutuhan tubuh sehari-hari.

Peran utama kalsium adalah untuk pembentukan dan pemeliharaan tulang dan gigi. Kekurangan kalsium mengakibatkan terjadinya osteoporosis (keropos pada tulang). Zat besi mempunyai fungsi utama memproduksi hemoglobin dan mioglobin. Zat besi yang berasal dari produk hewani atau disebut juga sebagai besi-hem, akan lebih mudah diserap oleh tubuh. Zat besi pada keong berjumlah 3,5 mg, lebih tinggi daripada zat besi pada daging (2,5 mg) atau ikan (2,4 mg).

Beberapa teman mengaku selain keong sawah itu menjijikkan, juga ditengarai bisa membuat penyantapnya cacingan. Yang jelas, saya pribadi berani membantah anggapan bisa cacingan tsb, selama memasak kraca dikerjakan sampai benar-benar matang. Namun, benar, untuk menghasilka masakan tutut atau kraca yang lezat, diperlukan waktu yang lama dan bumbu-bumbu yang tepat untuk membuat lidah tidak henti menikmati enaknya rasa tutut. Berikut contekan caranya dari situs yang sama :

Pertama kali keong dipecahkan ujung cangkangnya atau dalam bahasa Jawa disebut dithithiki (bagian belakang rumah keong dipukul hingga berlubang). Pemecahan ujung cangkang dilakukan untuk membuang kotoran yang masih terdapat pada keong serta memudahkan bumbu meresap ke tubuh keong saat proses pemasakan. Proses ini juga berfungsi untuk memudahkan kita untuk mengkonsumsi keong nantinya.

Selanjutnya adalah mencuci keong tersebut, minimal selama empat kali. Pencucian bertujuan untuk menghilangkan aroma lumpur yang biasanya menjadi tempat hidup keong. Apabila pencucian tidak sempurna, akan terasa pahit saat dikonsumsi. Setelah pencucian, dilakukan perendaman selama semalam untuk menghilangkan lendir yang terdapat pada tubuh keong. Pada waktu proses perendaman tersebut dipisahkan keong yang berkualitas jelek yang akan terapung di permukaan air perendam. Setelah perendaman, dilakukan pencucian lagi selama empat sampai lima kali untuk memastikan bahwa lendir dan kotoran sudah benar-benar hilang dari tubuh keong.

Tahap pengolahan dilanjutkan dengan proses sangrai bumbu-bumbu berupa bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe merah, cabe rawit, jahe, kunyit, daun salam, lengkuas, dan sereh. Selain untuk menimbulkan aroma yang enak dan menghilangkan aroma amis dari keong, bumbu-bumbu tersebut juga berfungsi sebagai antioksidan dan beberapa fungsi yang menguntungkan tubuh. Setelah tercium aroma harum pada saat proses sangrai, kraca dimasukkan dan diaduk rata serta ditambahkan air dan dimasak sampai air mendidih, kemudian ditambahkan garam, gula dan santan encer. Keong kemudian dimasak selama 2-3 jam. Setelah itu kraca yang khas, lezat dengan tekstur lunak siap untuk disajikan.

Biasanya setelah membeli tutut yang sudah siap saji, saya mengolahnya lagi dengan mengukus tutut menggunakan panci kukus bertekanan tinggi, agar bumbu-bumbu lebih meresap ke dalam daging keong dan tentu saja daging keong menjadi lebih lunak, lebih mudah untuk dikunyah. Kemudian ketika hendak menyantapnya, bagi Anda yang mungkin amat kuatir bentuk mulut menjadi monyong karena kebanyakan menyedot keong, gunakan saja tusuk gigi untuk mencungkil daging keong dari cangkangnya. Cara ini kesannya sedikit lebih elegan. :D

Semoga setelah disajikan artikel ini, tidak perlu lagi kita memandang sebelah marta atas nilai gizi dari keong sawah yang kesannya menjijikkan itu. Siapa tahu saja selain gizi tercukupi, menikmati kraca membantu penampilan tetap awet muda. Satu hal yang pasti, di hari terakhir puasa, saya tentu akan menikmati tutut sebelum nanti menghilang dari pasaran, kecuali kalau mau mencarinya ke Purwokerto.

Selamat Idul Fitri buat teman-teman yang merayakannya.

 

Salam,

Linda Cheang

 

Sumber : Kulinologi.biz

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

59 Comments to "Tutut Kraca – Keong Sawah Yang Kaya Gizi"

  1. Linda Cheang  27 May, 2013 at 09:17

    Salam kenal ilmuku.

    Setahuku, kalau mengolah keong itu, harus dicongkel dulu ujung cangkangnya, dibersihkan di bawah air mengalir sampai lendirnya benar-benar tak bersisa, baru kemudian direbus. Karena kalau tidak begitu, ketika disantap, akan berbau tanah dan terasa pahit.

  2. ilmuku  27 May, 2013 at 09:11

    kalau keong emas kan agak besar, misalnya direbus dulu baru diconkel trus dimasak biar lendir bisa bersih di apain ya gan?masih bingung….

  3. novi  11 February, 2013 at 00:46

    tutut sama gak dg keong emas?

  4. riza  26 November, 2012 at 19:47

    salam, Pak
    gmn cara pasang iklan banner?

    Solusi Bau Mulut, Masalah Berat Badan, Rambut dan Penyakit Kronis

  5. sujana  27 September, 2012 at 15:40

    Hidup….Tut – tut…!!

  6. ima  6 August, 2012 at 22:37

    Awalnya sy ragu untuk mencoba tapi begitu mencoba jadi ketagihan trus jadi sering banget masak sendiri dαπ bereksperimen dngn bumbunya hasilnya teman-teman pada ketagihan dαπ akhirnya sy buka usaha tutut sendiri……selain bisa makan sepuasnya jadi punya penghasilan juga

  7. Linda Cheang  19 April, 2012 at 19:00

    Rhevie wios atuh, da abdi oge Urang Sunda…

  8. Rhevie  19 April, 2012 at 11:24

    karesep abdi tah nu kieu teh, hampir unggal poe atawa burit ngasakan tutut. untung bumi abdi caket ka kulah sareng sawah, jadi gampil milari na, teu kedah meser, tinggal aya kahoyong, sabari ngurek ge tiaSA. he he

    maaf bilih bingung bacana, Abdi orang Sunda, tepatna orang sukabumi.
    hidup Tutut. ulah punah ah !!!

  9. Linda Cheang  11 February, 2012 at 15:03

    dewi : kalau ke Kota Bogor ada di dekat pasar-pasar besar. Di kota Bandung, ke Jalan Sudirman dekat toko obat china…

  10. dewi  11 February, 2012 at 09:14

    pengen tp ni ada nya di mana??

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.