Kereta Terakhir ke Solo

Ki Ageng Similikithi

 

Musim kering tahun 72. Kami bergegas masuk peron. Terdengar peluit keras berbunyi. Kereta akan segera diberangkatkan. Saya bersama Emi bergandengan tangan berlari sambil menjinjing tas ke arah kereta. Kereta Kuda Putih, Yogya Solo. Seperti dalam film-film roman Indonesia atau India. Selalu ada saja adegan lari-lari sambil berpegangan tangan. Untung tak ada krew televisi waktu itu. Tak ada paparazzi.  Yang ada hanyalah para makelar dan penjual makanan. Tak perlu GR. Siapa mau mengabadikan, kami hanya anak-anak pondokan yang sedang jatuh cinta.

Itu kereta terakhir ke Solo. Sudah lewat jam lima. Baru saja siangnya kami selesai ujian semester. Tingkat 4. Emi terus pulang ke Solo. Dari Mangkubumen tadi saya menemani pulang ke pondokannya di jalan Suryotomo, Ngampilan. Jam empat ke stasiun Tugu. Sudah setahun lebih kami berhubungan dekat. Belum bisa dikatakan pasangan tetap, tetapi sudah serius. Sudah ada pernyataan verbal. Sudah berciuman bibir. Tetapi belum punya rencana pasti.

Siang itu tak banyak yang kami bicarakan. Lebih banyak diam. Beberapa hari memang tidak begitu hangat pembicaraan di antara kami berdua. Tak tahu sebabnya. Emi segera naik ke gerbong. Duduk menghadap jendela. “Wis ya, ati-ati. Sampai ketemu”. Hanya itu yang dikatakan. Saya menjabat tangannya “Selamat liburan”. Kereta bergerak pelan meninggalkan stasiun. Tak sempat saya memperhatikan ketika kereta menghilang. Saya juga cepat cepat ingin pulang ke Ambarawa. Naik becak ke jalan Magelang. Naik bis jurusan Semarang.

Saya menghabiskan hari hari libur di Ambarawa. Sepi di desa. Setiap siang menatap gunung di depan sana. Gunung Telomoyo dan Gadjah Mungkur. Sejak kecil dua gunung itu selaalu di sana tak pernah pindah, tak pernah berubah. Mesra bersanding. Kadang-kadang angan angan melayang ke balik gunung, ke balik awan. Sedang apa Emi di Solo ? Apa yang dia pikirkan tentang kami berdua. Tentang masa depan. Tak tahulah. Masa depan urusan kemudian. Yang penting saya sudah lulus semua ujian semester. Walau harus mengulang satu. Kedokteran Kehakiman. Dikasih nilai dua. Saya mengerjakan pakai tinta warna hijau. Sang dosen yang berwibawa itu tak mau membacanya. Tak bisa tidur beberapa hari. Tetapi ujian ulangan berhasil.

Kira-kira empat minggu saya liburan di Ambarawa. Sengaja tak ke mana-mana. Pengin istirahat benar. Satu tahun terakhir ngurusi majalah mahasiswa. Begitu menguras tenaga daan waktu. Belajar tak konsentrasi. Hampir saja tak naik kelas. Acara pacaran sering terbengkelai. Pengin istirahat sepenuhnya. Saya sempatkan menulis surat ke Emi. Dua kali. Tak ada balasan. Mungkin juga sibuk. Di akhir minggu ke empat saya kembali ke Yogya. Sampai di pondokan di Patangpuluhan sudah lewat jam tujuh malam. Ada keinginan ke tempat Emi malam itu. Niat itu saya batalkan. Sudah kelewat malam. Besok pagi pagi kan ketemu di ruang kuliah. Esoknya pagi pagi saya sudah berangkat. Langsung ke tempat kuliah di Mangkubumen. Tak mampir ke tempat Emi, walau rumah kostnya terlewati.. Pengin cari tempat duduk yang enak di hari pertama kuliah. Saya ingat pakai baju putih dan celana kuning kesayangan saya.

Masih sepi ketika tiba di ruang kuliah. Saya ambil dua tempat duduk di baris kedua. Emi belum datang juga. Menjelang jam tujuh dia muncul. Langsung ambil tempat duduk di seberang. Mungkin tidak tahu jika saya sudah datang duluan. Saya dekati. Saya ulurkan tangan menyalami. ”Gimana liburannya?” Jawabannya singkat ”So so”. Tangannya dingin. Sikapnya dingin. Tatapan matanya aneh, menusuk nanar. Saya beritahu jika ada tempat duduk kosong di barisan depan. Dia pindah duduk di samping saya selama kuliah. Lupa kuliah apa waktu itu. Jika tak salah ingat Kesehatan Anak. Emi terkesan gelisah. Tak seperti biasanya rajin mencatat. Kali ini hanya main main pena coret-coret kertas kosong. Sebelum kuliah berakhir dia menulis sesuatu di kertas kecil. Kertas itu dilipat dan dikasihkan saya. ” I want to tell you something baby”. Dua jam kuliah berakhir. Dia pamit ingin pulang. Tak enak badan katanya. ”Nanti malam datanglah ke rumah”. Pesannya singkat.

Tak tenang saya mengikuti kuliah hari itu. Ada apa dengan Emi?. Tak sabar menunggu hari malam rasanya. Habis kuliah jam satu. Saya terus ke Bulak Sumur, naik sepeda. Jaga praktikum Farmakologi. Sudah setahun lebih asisteren di sana. Jaga pratikum juga nggak tenang. Mahasiswa tingkat tiga. Ramainya nggak karuan. Mereka dua tahun di bawah saya. Sebagian juga sudah kenal dengan baik. Pikir saya, mau gaduh silahkan, mau gagal silahkan. Pikiran saya baru tidak tenang. Praktikum selesai jam lima sore. Saya langsung pulang ke selatan.

Jam setengah enam lewat rumah kost Emi di Ngampilan. Rencana malam nanti mau datang ke sana. Tetapi tiba-tiba saja pikiran saya berubah. Saya langsung mampir. Emi juga nggak terkejut ketika saya datang. Hanya sikapnya tetap saja diam tak banyak ngobrol seperti biasanya. Kami bicara formalitas saja. Dia kelihatannya menghindar jika ditanya tentang liburannya. Ketika akhirnya saya katakan ”Katanya mau cerita, kok diam saja?”. Dia terdiam sejenak.

Kemudian dengaan pelan dia bilang ” Maaf Ki, saya dengan mas Hepi sudah resmi kawin liburan kemarin”. Haaa, kaget luar biasa saya. Tak ada petir, tak ada kilat. Mas Hepi adalah mantan pacarnya dulu. Dua tingkat di atas kami. Kuliah di Hukum. ”Kok gitu?” pertanyaan saya tertahan di kerongkongan. ” Saya tidak bisa menolak ketika ditanya sama ibu. Habis kau nggak kasih kepastian. Malah kenalan sama anak Pekalongan itu”. Kenalan sama gadis lain kan bukan pengkhianatan tingkat pertama. Walau hati saya berdesir jika ingat gadis Pekalongan itu, tetapi hanya berdesir thok. Belum ada tindakan apa-apa. Kok langsung di vonis, edan enggak? Saya hanya mengucapkan moga-moga dia selalu bahagia. Tak berlama-lama saya di sana. Duduk rasanya seperti di atas paku. Tak lebih sepuluh menit saya pamit. Terus pulang ke pondokan di Patangpuluhan.

Teman-teman kost baru duduk duduk di depan kamar ketika saya datang. ” Gila nggak, Emi liburan kemarin sudah kawin. Saya baru saja tadi diberi tahu”. Khavid, adik kelas saya dua tahun langsung menukas ” Tenang Ki. Saya tadi juga dengar di kampus. Mau bilang situ kok sudah langsung ke Bulak sumur”. Batin saya menggerutu. Ada berita tak enak kok pada diam. Sore itu kami ramai-ramai keluar. Makan bakmi Panut di Gerjen. Saya tetap saja galau. Tetapi Anton bilang. ”Laki-laki pantang patah hati. Patah tumbuh hilang berganti”. Habis makan bakmi jalan-jalan. Pas ada sekaten. Beli galundeng sekalian. Masih ada juga yang komentar ” Kalau ada yang patah hati tiap minggu dari kita, lumayanlah.

Beberapa minggu berlalu. Saya memberanikan diri berkunjung ke tempat kost Lina, mahasiswi AKUB yang saya kenal beberapa bulan lalu. Bukan pelarian. Bukan pengungsian. Ternyata jatuh hati benar-benar. Wantek sampai sekarang setelah lewat hampir empat puluh tahun. Setelah kereta terakhir sore itu.

 

Salam damai

Ki Ageng Similikithi

Manila, 27 Agustus 2011

 

22 Comments to "Kereta Terakhir ke Solo"

  1. Dewi Aichi  7 September, 2011 at 08:56

    Waaaaaaaaaaa..Ki…saya baru lahir tahun segitu….! Tapi tulisan Ki selalu membawa suasana ke tahun yang telah berlalu…ahh..begitu ya jaman Ki masih muda…eh sekarang juga masih muda kok he he…tau begitu kan aku minta dilahirkan dari dulu, biar ikutan bersaing ha ha…pura-pura kost di Babarsari aja…atau deket-deket Mirota Kampus situ…wkwkwk…

  2. Lani  5 September, 2011 at 00:38

    HENNIE ngakak aku wakakakak………ediaan, PAM-PAM dibandingkan dgn CHIARA………wahahahah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *