Gula Perindu

Vera Ernawati – Jakarta

 

“Dan kamu, indah. Seperti biasa, tidak berubah,” ucap si lelaki pada perempuannya.

”Kamu pun masih sama, sederhana. Aku suka,” balas si perempuan tak mau kalah.

Di luar mendung. Langit begitu kelabu. Hujan baru saja usai, tapi tetesannya masih menyisa di etalase kaca sebuah kedai. Hari itu mereka bertemu untuk yang kedua kali, tanpa disutradarai.

Kali ini si perempuan tak lagi malu-malu seperti lalu. Begitu juga si lelaki, terlihat tenang dengan segelas kopi panas dalam genggaman. Harum kopi menguar. Pada sebuah meja bundar mereka duduk saling hadap, begitu akrab.

“Apa yang kamu bawa di dalam sana?” tanya si perempuan.

“Di mana?”

“Di kantung sakumu.”

Si lelaki kebingungan sambil melihat isi kantung saku bajunya.

“Tiket kunjungan cintakah?” tanya si perempuan, sambil mengerling nakal.

Si lelaki tertawa.

“Kunjungan cinta tlah usai. Tapi aku punya banyak tawa dan cinta di dalam sana,” ucap si lelaki balas menggoda perempuannya.

Tak berani berucap. Bibir si perempuan pun terkunci rapat. Tangannya sibuk memutar cangkir yang masih berisi penuh teh panas tawar. Roti isi di hadapannya pun masih utuh, belum tersentuh. Ada senyuman malu-malu, bersembuyi di antara gula-gula perindu.

Lamat-lamat si lelaki menatap perempuannya. Lekat.

Tiba-tiba wajah perempuannya mendekat, hingga berjarak satu jengkal.

”Ambil mataku, simpan, ikat dalam diammu,” bisik si perempuan tanpa ragu.

Di antara suara riuh pengunjung kedai yang tengah bermain halma, asap rokok dan udara panas, ada tatapan rindu lelaki yang membingkai habis bola mata perempuannya.*

 

 

About Vera Ernawati

tiga satu perempuan senang mengikat kenangan dengan cara menuliskannya

Arsip Artikel

10 Comments to "Gula Perindu"

  1. elnino  7 September, 2011 at 05:57

    Ah, Vee…kata2mu selalu indah… Romantis abis!!

  2. Lani  6 September, 2011 at 23:00

    VERA, DA : betoooooooool……….msh malu2 kuciang…….nyosor kok pake pertemuan yg ke selusin??????? wakakak wes bener2 kuno tenan iki………

  3. Vee  6 September, 2011 at 21:48

    ahahaha, adegan ciuman ya? ini baru pertemuan kedua. masa langsung nyosor? tapi sudah aku noted request-nya. terima kasih ya buat apresiasi dari teman2ku semuanya *kiss2

  4. Dewi Aichi  6 September, 2011 at 21:41

    Mawar haiyaaaaa….iya nih…mana adegan ciumannya yaa….Vera….next time yang lebih berani dong wkwkw…

    Oya Vera…kumcer nya Rama Dira…Kucing Kiyoko sudah ada di Gramedia lho….!

  5. Mawar09  6 September, 2011 at 21:15

    Vera: fotonya indah banget. Terima kasih ya artikel singkat soal cintanya, mulai berani tapi kurang greget.
    Seperti yg DA komentarkan……….!!! ha…ha….

  6. Dj.  6 September, 2011 at 01:28

    Mbak Vera….
    Terimakasih, untuk cerita yang bikin Dj, malah jadi bingung, tidak tau mau kasi komentar apa…???
    Hahahahahahahahaha….!!!
    Salam mansi dari Mainz……

  7. Dewi Aichi  5 September, 2011 at 20:35

    Aku komentar tulisannya ahhh…Vera…tulisanmu sungguh sangat mewakili….hati…..ku…..ehem….tapi kurang berani….cium napa…udah deket juga….!

  8. Lani  5 September, 2011 at 14:57

    aaaaaaah……..semakin banyak aja yg sdg kejatuhan sang cinta………..hehehe

  9. HennieTriana Oberst  5 September, 2011 at 13:49

    Vera, asyik nih. Selain fotonya memang selalu indah.
    Juga romantis dan cinta ini yang berlanjut terus. Menunggu episode berikutnya.

  10. J C  5 September, 2011 at 12:54

    Hhhhhmmm…

    Aku komentar fotonya aja ah…Mbakter of Reflection and B&W memang muanteeeeppp…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.