Long Distance Relationship

Edy Harjito

 

Banyak pasangan yang menjalani kehidupan berumah tangga nya berjauhan, dipisahkan oleh ruang dan waktu, kebanyakan semata-mata karena alasan pekerjaan atau sekolah. Mereka  tidak setiap hari bertemu, ada yang seminggu sekali bila hanya dipisahkan beda kota dalam satu negara.

Jenis pekerjaan yang mengharuskan menjalani LDR ini ternyata beragam dan banyak sekali saya temui. Selama di Indonesia saya sudah heran ketika bekerja dengan teman yang siklusnya PJKA (Pulang Jumat kembali Ahad), waktu itu saja saya mbatin kenapa istri nya tidak dibawa saja sekalian. Ternyata  Di Qatar saya malah bertemu banyak pasangan LDR yang lebih lama durasi/siklusnya, misal nya ABK kapal/ pelaut yang bisa berkumpul dengan keluarga tiap 6 bulan selama 2 bulan (siklusnya 6-2 month, 6 month bekerja, 2 bulan libur ), pekerja  di anjungan minyak di tengah laut/ hutan/pulau yang harus bekerja 1-2 bulan berturut-turut, baru libur 1 bulan berikutnya,  ada juga yang siklusnya 1-1 ( 1 minggu on 1 minggu off) atau 2-2, tergantung perusahaannya. Kemudian ada juga tentara yang sering tugas ke medan perang, seperti tentara AS di Afganistan/Iraq saat ini (ini saya tidak tau siklusnya), atau saudara kita para TKW/TKI yang mendapat jatah cuti dari majikannya setiap 2 tahun sekali saja.

Berjauhan dengan pasangan untuk waktu yang lama dan tertentu tentu akan  membawa dampak psikologis bagi diri dan pasangan nya, gejolak rasa dan emosi jiwa akan berbeda-beda di setiap cycle perubahan tersebut.

 

Stage 1: Anticipation of loss

Typically occurs four to six weeks before the partner leave, and is a period marked by increasing tension – which allows emotional distance between two.

Stage 2: Detachment and withdrawal

Happens in the final days before departure. Couple feels that they should be enjoying the last few days but feel a sense of despair and hopelessness. Sexual intimacy can be difficult, and partners often feel that they want to get on with the leaving part.

 

Stage 3: Emotional disorganization

The first six weeks after departure. Initial sense of relief, followed by guilt, numbness, aimlessness, and loss of purpose for one left behind. New routines must be established – feelings of being overwhelmed and difficulty sleeping/excessive sleeping are common. The deployed partner feels loneliness and frustration.

 

Stage 4: Recovery and stabilization

The partner at home starts to cope, and adopt the role of “single spouse”. New freedoms emerges, stress  levels drop and the separation becomes bearable.

 

Stage 5: Anticipation of homecoming

Happens up to six weeks before homecoming. Can be a time of mixed emotions, such as apprehension or excitement. Those returning may be worried how they will be accepted. Restlessness and confusion may occur.

 

Stage 6: Renegotiation of marriage

Occurs up to six weeks after reunion. Couples are together physically, but not necessarily emotionally. Some left behind may feel a loss of freedom and independence. There may be feelings of being disorganized and out of control. Sexual relations may seem frightening. Couples need time together to become reacquainted before they can expect true intimacy.

 

Stage 7: Reintegration and stabilization

Happens six to 12 weeks after homecoming. New routine have been established, spouses feel relaxed and comfortable together again.

 

Saya sendiri tidak pernah mengalamai LDR yang sedemikian lama seperty cycle di atas, tapi juga mengalami perasaan yang sama seperti di atas hanya berbeda durasi saja. Karena sekolah anak yang libur panjang sementara jatah cuti saya sedikit, terpaksa lah saya menjalani LDR ini setiap tahun selama kurang lebih 1 bulan. Biasanya July sampai September dan yang LDR  ini banyak sekali di Qatar. Dalam waktu 1 bulan LDR ini , cycle tersebut nampaknya ada benarnya juga.

Di awal-awal perpisahan bertelepon seperti minum obat, bisa 3 kali sehari, tagihan telephon membengkak, untungnya zaman sekarang komunikasi bisa dilakukan berbagai cara denagn cara yang murah, ada internet, bbm, facebook, smartvoip, skype, dll nya.  Jadi walaupun dipisahkan ruang dan waktu, hubungan hati terasa lebih dekat, jadi merasa menyesal teringat akan kesalah pahaman dulu saat bersama, teringat merepotkan pasangan karena kejorokan kita, teringat marahan karena sambelnya kepedasan, teringat akan keegoisan muter music dengan volume kencang, dll nya.

Saya jadi ingat ajaran agama saya tentang nasihat pasangan yang mau bercerai untuk pisah ranjang dulu, hal ini untuk instropeksi sebelum  mengambil keputusan besar tersebut. Seharus nya gejolak rasa dalam cycle di atas bekerja sempurna dan hasil nya adalah rindu yang menggunung untuk segera bertemu pasangan, akhirnya ketika bertemu seperti pengantin baru.

So, kalau mau  jadi  pengantin baru lagi, maka LDR lah barang 1-2 bulan saja…  huehehehehe…

 

 

58 Comments to "Long Distance Relationship"

  1. Lani  13 September, 2011 at 13:33

    DIMAZ EDY : Saya tetap setuju dg pendapatmu dan sesuai kesepakatan di Baltyra , Cantik itu relatif, Jelek itu mutlak.
    +++++++++++

    naaaaah, akhirnya kita mencapai satu kata persetujuan/kesepakatan………….dan aku 100%+++++++ se7777777 banget dgn ungkapan dimaz diatas wakakakak………

    tp yg jelasssssss aku CANTIK lo ya……..wakakak……..njur ngalem awak-e dewe…..drpd ora onok sing ngalem hehhehe

  2. Edy  13 September, 2011 at 13:09

    jeng Lani :
    Pria Indonesia? yo jelas toh, tapi yg sudah pernah ketemu lebanese dan normal lho ya. wkwkwk
    Pria local? yo jelas toh, sampai banyak yg beli property di beirut sana.
    Pria bule? wah ternyata turis terbanyak yg datang ke beirut adalah dr USA (baru baca bbrp minggu lalu)

    Saya tetap setuju dg pendapatmu dan sesuai kesepakatan di Baltyra , Cantik itu relatif, Jelek itu mutlak.

  3. Lani  13 September, 2011 at 12:56

    DIMAZ EDY : para pria???? pria yg mana? pria INDONESIA? pria local setempat?????? ato dr ras apa??????? wakakak……..aku tetep ngeyel dgn pendptku…….bhw cantik, gagah, RELATIF krn segi pandang masing2 org berbeda beda……contohnya masalah kulit saja, ada yg suka putih, kuning, coklat, hitam…….belum yg lain2nya wakakakak

  4. Edy  13 September, 2011 at 12:42

    jeng Lani : Dari 10 wanita lebanon, yg 11 cantik semua, itu juga kesepakatan pria normal disini

  5. Edy  13 September, 2011 at 12:40

    Jeng Lani : Itu menurut kesepakatan para pria

  6. Edy  13 September, 2011 at 12:39

    Osa KI :
    ketika saya dulu sering bertemu dengan teman2 yang punya waktu libur 1 bulan penih di Indonesia, saya suka ngiri dan berniat cari cari kerja yang spt itu. Kok enak banget sebulan libur, bisa bangun siang, merintis bisnis, jalan2, kuliner, dll. Kerja nya yg sebulan sih tidak masalah, yg berat kan jauh dar istri dan anak2 tsb.
    Akhirnya mimpi tsb saya kubur dalam dalam sebulan lalu saat menjalani LDR bulan ke-2

  7. Lani  13 September, 2011 at 12:38

    DIMAZ EDY : 51 aku mo nanya, apanyakah dr LEBANESE women sampai kau bilang THE MOST GORGEOUS WOMAN IN THE WORLD?????

    soale bagiku, kecantikan, kegantengan, wanita/pria itu relatif……..krn tiap org punya segi pandang ber-beda2 kkkkkk

  8. Edy  13 September, 2011 at 12:34

    Yeni :
    Saya rasa kalau LDR nya di papua tidak perlu ada yang dikhawatirkan wkwkwkwk.
    Yang berat tuh kalau di Qatar/Dubai/Kuwait, negara kaya raya , banyak banget imigrant dari Lebanese yg siap mengurus pria pria yg menjalani LDR. Menurutku wanita Lebanon adalah the most gorgereus woman in the world

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.