Namaku Sekarang Siska, Mbak…!

Hennie Triana Oberst – Jerman

 

Suatu sore di hari Sabtu yang santai aku habiskan waktu di ruang tamu tempat kosku sambil membaca satu buku yang baru saja kubeli kemarin malam. Tak lama seseorang mengetuk pintu, seorang wanita muda berdiri di depan pintu sambil tersenyum manis dan menanyakan apakah Risa (teman kosku) ada di rumah atau tidak. Risa tak lama ke luar karena mendengar namanya disebut.

Elisabet, ayo masuk“, Risa langsung menyambut tamunya.

Hen, kenalin ini Elisabet“, kalimat itu dilontarkan Risa padaku sambil menunjuk tamunya.

Aku menyambut uluran tangan Elisabet, dan menyebut namaku.

Mbak, namaku sekarang Siska“, begitu Elisabet berujar pada Risa dengan sedikit nada protes mengingatkan. Kemudian dia tersenyum padaku.

“Oh Siska ya, hallo”, aku sapa dia sambil tersenyum.

Maaf Siska, aku lupa“, Risa tergelak sambil memohon maaf atas kekeliruannya.

Mereka berdua memasuki kamar Risa. Sepertinya mereka tidak mau mengganggu keheningan ruang tamu dengan diskusi mereka yang kedengarannya rame.

Malam harinya aku dan Risa menyantap makan malam bersama-sama. Menikmati Sate dan Nasi Goreng yang kami beli dari si Cak, tukang dagang keliling langganan kami.

“Hen, itu tadi tamuku salah satu TKW yang akan berangkat ke Taiwan”, Risa membuka percakapan kami malam itu. Risa bekerja pada salah satu agen tenaga kerja ke luar negeri yang ada di Jakarta.

“Ini kali ketiga dia akan berangkat ke Taiwan. Untuk ke negara itu kontrak kerja hanya 2 tahun tanpa ada perpanjangan, semua harus kembali ke tanah air. Jalan satu-satunya mereka harus berganti paspor dengan nama berbeda“. Begitu Risa menjelaskan hal tersebut padaku.

Hal yang sangat menarik bagiku, karena aku memang tak mengetahui seluk beluk peraturan Tenaga Kerja ke luar negeri.

“Makanya tadi dia bilang namanya sekarang Siska. Periode sebelumnya nama dia Elisabet, sedangkan nama aslinya adalah Tina”, penjelasan Risa berikutnya, yang semakin membuatku ingin tahu.

“Jadi waktu pembuatan paspor baru, gimana dengan akte kelahirannya?”, tanyaku sedikit heran.

“Gampang Hen, ada yang urus semuanya. Yang penting ada imbalannya”, jawaban enteng Risa sambil tertawa kecil.

Siska bahagia bekerja di negeri yang jauh itu, selain gajinya juga besar dia bisa menabung dan menghidupi keluarganya di kampung. Selama masih memungkinkan jalur tersebut akan dilaluinya.

Jakarta, di satu hari Sabtu beberapa tahun yang lalu.

 

60 Comments to "Namaku Sekarang Siska, Mbak…!"

  1. HennieTriana Oberst  8 September, 2011 at 16:23

    DSW, terima kasih sudah mampir.
    Iya memang sebetulnya aku juga nggak heran. Cuma deg-degan membayangkan orang seperti Siska ini jika dia masuk ke negara lain dengan identitas berbeda.
    UUD = Ujung-Ujungnya Duit.

  2. HennieTriana Oberst  8 September, 2011 at 16:20

    Lani, malah nama yang lain bisa dijadikan nama untuk urusan lain kan. Seperti kebanyakan penulis sering punya nama khusus. Kapan-kapan satu nama bisa jadi bahan pertimbangan kalau ada teman/keluarga yang minta saran kasih nama untuk anaknya ya hehehe

  3. Dwi Setijo Widodo  8 September, 2011 at 16:13

    Mbak Hen,
    Aku baru tau ya… Tapi kalo soal kemudahan mengganti ini itu dengan UUD di negara kita tercinta ini, kayaknya kita semua gak terlalu heran… Hehehe…

  4. Lani  8 September, 2011 at 13:20

    AKI BUTO : dasar wong ediaaaaan……le ngawur ngiwutttttt………..wakakakak

    HENNIE : yg kupakai dilembaga resmi cm nama ganti WNI

  5. HennieTriana Oberst  8 September, 2011 at 13:16

    LANI, jadi nama banyak gitu nggak bingung? Atau dipakai semua sebagai identitas di dokumen resmi seperti paspor atau surat-surat lainnya?

    JC, kalo nama ini mungkin nama khusus untuk Baltyra…

  6. J C  8 September, 2011 at 12:41

    Halah, siapa bilang Lani gak punya nama tengah? Lani Gemblung van Kona. Given name: Lani, middle name: Gemblung, family name: van Kona…

  7. Lani  8 September, 2011 at 11:59

    HENNIE : aku malah ndak punya nama tengah/middle name, jd cm namaku dan nama keluarga saja, nama Hawaiiku Lei Lani, kebetulan mmg pas dgn nama Indonesiaku heheh…….

  8. HennieTriana Oberst  7 September, 2011 at 16:06

    Lani, kalau di Jerman seringnya nama panjang-panjang juga nggak dipajang hehehe..
    Kalau nulis nama juga umumnya hanya Nama depan & nama keluarga (nama tengah jarang disertakan) kecuali dokumen resmi seperti paspor, atau pendataan pertama seperti bank, asuransi dan sejenisnya.
    Kalau di US dulu namaku nggak pernah cuma “HO” saja, pasti “HTO” (aku lebih suka yang HTO ini).
    Kalau nama panjangku satu kata lagi, aku nggak pakai, terlalu panjang.
    Jadi nama Hawaii-mu siapa?

  9. HennieTriana Oberst  7 September, 2011 at 15:50

    Mas Bagong,
    sepertinya praktek seperti ini sudah biasa ya, yang penting ada yang “memberi jalan” dan ada imbalannya. Tapi bisa jadi suatu saat tidak akan memungkinkan lagi, terutama ke luar negeri, yang pelan-pelan mulai mencatat identitas tertulis di dokumen dan juga merekam sidik jari.
    Cuma berharap hal seperti ini menghilang di Indonesia.
    Suwun.

  10. Lani  7 September, 2011 at 15:01

    MAWAR, HENNIE : ya iyalah……..aku dan Mawar kan WNI keturunan, jd mau tdk mau dipaksa utk berganti nama…….ya malah seneng tambah panjang saja namanya……..la coba to, punya nama cina, indo, nama baptis……..dan ditambah saiki duwe nama Hawaii………..wakakakakak……org yg aku kasih tau sampai gedeg2…..deleg2………mumetttttttttt

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *