Hukum

Anwari Doel Arnowo

 

Seorang ahli hukum yang sudah senior memberitau saya bahwa setiap warganegara itu dianggap tau atau faham mengenai Hukum. Waktu saya dengar kalimat tersebut saya terdiam dan berfikir diam-diam tanpa memberi reaksi apapun. Dia malah menambahkan bahwa di seluruh negara-negara yang ada di dunia, sama berpendapat seperti itu: semua orang mengerti masalah hukum.

Saya tentu saja terdiam karena terkejut, sebab pertama kali itulah saya mendengar hal seperti itu. Mengapa saya terkejut? Pada kenyataannya saya lihat dengan jelas bahwa di sekitar saya banyak yang tidak mengetaui soal hukum, utamanya yang saya ketaui dengan pasti adalah diri saya sendiri: TIDAK TAU, TIDAK MENDALAMI DAN TIDAK MENGHAYATI HUKUM. Saya belum pernah membaca satu bukupun mengenai hukum. Bahkan satu halamanpun buku mengenai hukum, belum pernah saya baca dengan serius. Jadi apabila saya dipandang dan dianggap mengenali hukum, maka saya akan jawab saya tidak mengetaui apapun mengenai hukum.

Itu bagi saya adalah fakta yang nyata-nyata benar.

Saya sering mengatakan bahwa semua warganegara itu wajib tunduk kepada hukum yang berlaku, tanpa tau hukumnya bagaimana. Meskipun dikatakan di mata Hukum, saya harus tau dan mengerti, maka saya berani menjawab bahwa saya tidak tau dan tidak mengerti apapun mengenai hukum. Saya tidak merasa berdosa mengenai hal ini. Apalagi sambil tersenyum saya ini bisa saja bertanya: “Eh, Hukum itu ada matanya toh? Di mana, yaaa??”

Sudah sekian puluh tahun saya hidup di Repoeblik Indonesia, dan di dua negara yang lain untuk waktu yang cukup panjang, saya juga berani mengatakan yang sama. Di dalam benak saya, hukum itu hanya perlu saya hadapi apabila saya terkait dengan masalah hukum, dan untuk itu saya pasti akan menghubungi seorang ahli hukum yang bisa mewakili saya, dan saya akan bersedia mengeluarkan biaya dan ongkos apabila nanti sampai waktunya untuk hal itu.  Saya bersedia membayar biaya dan ongkos itu karena saya memang tidak mengerti dan memahami hukum. Memang kebetulan, saya seorang yang amat beruntung sekali, oleh karena saya tidak pernah menghadapi masalah hukum, apalagi sehingga saya telah terpaksa harus menunjuk seseorang lain yang akan mewakili saya dalam masalah hukum.

Semoga sisa hidup saya akan tetap seperti ini.

Karena saya tidak pernah ingin ikut memilih atau memberikan suara di dalam pemilihan umum, itu semata-mata karena saya pernah membaca di media, bahwa warga negara Indonesia tidak diharuskan ikut memberikan suaranya, kalau tidak bersedia. Bunyi hukumnya seperti apa, saya tidak tertarik mencarinya apalagi membacanya. Saya harap saja saya tidak diberi setempel bahwa saya “berani” melawan hukum.

Barangkali ini bisa sesuai dengan ungkapan: What You Do Not Know Will Not Hurt You – Apa yang tidak anda ketaui itu tidak akan menyakiti anda.

Yaa, moga-moga saja benar begitu seterusnya bagi diri saya.

Kalau benar begitu cara pandang Negara-Negara di seluruh dunia yang dalam hal ini diwakili oleh pemerintahan-pemerintahannya melalui aparat-aparatnya, maka itu berarti khabar buruk bagi diri saya yang tidak mengenal, tidak mendalami dan tidak meminati untuk memahami bidang yang satu ini.

Setelah berpikir beberapa jenak dan beberapa hari, saya mungkin akan memilih membuat diri saya mawas diri dengan mencari sebab mengapa saya telah mengalamai seperti itu mengenai hukum. Pertama-tama, saya sejak sekolah di tingkat paling dasar saja memang tidak merasa kenal dengan apa yang disebut dengan hukum.

Bahasa Jawanya: ORA MOEDENG !!

Saya tidak merasa malu sedikitpun mengenai hal ini.

Saya mencari akar masalahnya mengapa Negara melalui pemerintahannya dan melalui aparat-aparatnya berpandangan seperti ini, tetapi terasa bagi saya: karena tidak menyosialisasikanya kepada rakyat jelata. Sosialisasinya mungkin hanya sampai dikalangan aparat-aparatnya yang terendah yang di tingkat Kelurahan saja. Sampai di situ. Sebenarnya hal itu apabila dijalankan dengan benar, tentu bermanfaat. Tetapi apakah aparat Kelurahan menyosialisasikannya kepada Rakyat Jelata, di mana saya ini berada?? Saya sih, terus terang saja, tidak merasa pernah disosialisasi oleh aparat yang manapun. Saya juga mempunyai anak dan menantu yang Sarjana Hukum. Tetapi saya lihat mereka amat sedikit berbicara soal hukum dengan mereka yang berada di sekitarnya, termasuk dengan saya yang ayahnya dan ayah mertuanya.

Yaa, begitulah Hukum itu ada tetapi tidak pernah saya tengok dengan serius.

Apa pengalaman anda, para pembaca?

Berlawanan dengan yang saya alami?

Atau kira-kira sama saja?

Silakan menuliskannya …….

Terima kasih dan wassalam,

 

Anwari Doel Arnowo – 2011/08/30 Iedul Fitri

 

12 Comments to "Hukum"

  1. Dewi Aichi  8 September, 2011 at 00:54

    Saya sepakat dengan Pak Anwari dan mas Jc, saya memang buta hukum perdata maupun pidana. Seandainya terpaksa berurusan dengan hukum, saya serahkan ke ahlinya, dan saya sebagai client saja. Hanya ada beberapa hal yang perlu diketaui ini dikarenakan kebutuhan. Hukum ataupun PP(peraturan perundang-undangan) atau perpem dll, seperti kasus saya tentang kewarganegaraan dan keimigrasian, saya wajib untuk mengetahui…

  2. Linda Cheang  7 September, 2011 at 22:20

    ya, begitulah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.