Kue Lebaran Untuk Mas Didi

Ida Cholisa

 

Ada lima macam kue yang telah kubungkus rapi. Kue lebaran yang lezat dengan tampilan menarik itu sungguh menawan hati. Sengaja aku memesannya untuk sahabat tercinta, Mas Didi. Ia pasti menyukainya. Lelaki bersatus duda satu anak itu menggemari kue-kue dengan cita rasa manis. Hm, ia pasti senang menerimanya.

“Terima kasih, Ina,” ia begitu gembira saat aku bertandang ke rumahnya, dengan parcel kue lebaran kesukaannya.

“Kau membuat sendiri?” ia bertanya.

“Haha, mana sempat?” aku menjawab ringan.

“Kue lebaran ini selalu mengingatkanku pada mendiang istriku. Semasa hidupnya ia rajin sekali membuat kue. Aku pikir tak ada pembuat kue mana pun yang bisa menandingi kehebatan almarhumah istriku,” ia diam sejenak.

“Andai kau bisa membuat kue seperti istriku, Ina….,” tiba-tiba ia bergumam.

 

Kupandangi wajah lelaki itu. Wajah teduh yang selalu memancarkan aura cinta. Wajah tenang yang menyiratkan kelembutan dan kasih sayang. Wajah tampan yang diam-diam membuatku jatuh dalam harapan tak berkesudahan…

Aku janda tanpa anak yang ditinggal mati suami, sungguh jatuh hati pada duda tampan ini…

 

“Ina, aku selalu merindukan perempuan yang mahir membuat kue. Seperti mendiang istriku. Bisa kau mencarinya untukku?”

“Kau serius?” aku bertanya.

“Tentu saja,” ia memandangku lekat.

Aku menggigit bibir. Seandainya aku mahir membuat kue…

“Oke Ina, aku serius. Carikan aku wanita yang mahir membuat kue.”

Kutinggalkan rumah besar Mas Didi dengan langkah gontai.

 

Tiba di rumah, aku langsung menuju dapur. Kalimat Mas Didi terngiang-ngiang di telingaku. “Carikan aku wanita yang bisa membuat kue”.

Aku duduk termenung. Membuat kue, sungguh keahlian yang sama sekali tak aku miliki. Memasak, apalagi membuat kue, adalah aktivitas yang selama ini paling tak aku sukai. Tapi entah mengapa, permintaan Mas Didi agar aku mencarikan ia wanita yang mahir membuat kue sedikit mengulik rasa ingin tahuku; bagaimana sebenarnya membuat kue lezat itu?

Maka aku gemar bertandang ke toko buku. Membeli buku resep makanan, terutama resep membuat kue-kue lebaran. Tak hanya itu aku pun rajin mendatangi sahabatku yang ahli membuat kue. Bahkan aku tertantang untuk mengikuti kelas khusus membuat kue. Dengan satu impian; aku bisa menjadi wanita yang mahir membuat kue. Aku bisa menjadi wanita impian yang bakal dipersunting Mas Didi. Hm!

 

“Bagaimana, Ina? Sudah kau dapatkan wanita yang kucari itu?” Mas Didi mengirim sms padaku.

Aku tertegun. Mesti berkata apa aku, sebab kenyataannya aku tak pernah mencari sosok wanita yang diinginkannya itu. Aku tengah berusaha menjadi wanita yang ia impikan. Aku tak ingin ada seorang pun yang masuk kriteria wanita impian Mas Didi, kecuali aku. Maka dengan segala cara aku akan berusaha semampuku, sebisaku, untuk menjadi wanita impiannya itu.

 

“Ssssst…., Rinda…., sini….!” aku memanggil anak perempuan Didi yang kebetulan melintas di depan rumahku.

“Ada apa, Tante?” gadis kecil berumur tujuh tahun itu mendekat padaku.

“Tolong bawa kue ini, ya? Kasih untuk papa kamu. Jangan bilang ini suruhan tante, ya? Tolong tanyakan sama papamu, kuenya enak, nggak? Ngerti?”

“Ngerti, Tante.”

Aku tersenyum puas melihat bocah kecil itu berlalu sambil menenteng satu stoples kue. Mudah-mudahan Mas Didi suka, amien. Aku komat-kamit berdoa.

 

Aku bolak-balik melirik jam di pergelangan tangan. Sudah mendekati maghrib. Sebentar lagi waktu buka puasa. Hm, tak sabar rasanya aku mendengar celoteh Rinda, anak semata wayang Mas Didi. Aku ingin tahu bagaimana respon lelaki itu terhadap kue bikinanku. Mudah-mudahan enak, mudah-mudahan….!

Jelang sholat tarawih, tak juga muncul seraut wajah Rinda. Biasanya tiap mau tarawih ia selalu memanggil namaku untuk pergi ke mushola bersama-sama. Kami memang dekat sejak mama Rinda wafat.

 

“Tanteeee….!”

Aku tersentak. Kuburu suara itu.

“Papa belum pulang, Tante. Ini kuenya Rinda balikin.”

Aku ternganga.

“Belum pulang? Ke mana papamu?”

“Tadi sore katanya mau cari kue lebaran buat Rinda. Tapi sekarang belum balik.”

“Kamu sudah makan?”

“Belum, Tante. Tadi Papa bilang mau cari makanan juga buat buka puasa. Tapi sampai sekarang Papa belum pulang.”

“Sudah kamu telpon?”

“Sudah, tapi nggak diangkat…”

Tiba-tiba saja hatiku dilanda cemas…

 

“Rinda makan dulu ya di rumah tante? Ayo tante temenin…”

“Rinda maunya makan bareng Papa, Tante. Rinda nunggu Papa pulang…”

Aku menatap mata anak kecil itu. Kubujuk ia lagi.

“Sekarang makan dikit dulu. Biar nggak sakit perut. Nanti kalau Papa pulang, kamu makan lagi. Oke?”

Akhirnya bocah kecil itu pun menurut. Ia makan dengan sangat lahap. Tiba-tiba ia menangis.

“Lidah Rinda kegigit, Tante, sakit….!”

Kubuka mulutnya. Darah menyembul di ujung lidah. Ah ada-ada saja…

 

“Terusin makannya, ya?” aku membujuk lagi.

“Enggak, Tante. Sakit. Rinda nunggu Papa.” Ia duduk di kursi makan sambil memainkan ujung sendok.

“Ya sudah, kita sholat tarawih dulu, yuk. Nanti Tante antar kamu pulang sambil bawa kue Tante lagi buat papamu.”

“Iya, Tante.”

Kami pun berjalan beriringan menuju masjid. Baru beberapa langkah kami berjalan, seseorang berteriak memanggil Rinda.

“Rindaaaa…., tunggu!”

 

“Ada apa, Pak RT?” tanyaku pada lelaki setengah baya yang tiga tahun ini menjabat sebagai ketua RT di kompleks kami.

“Ibu, emmmm…., bagaimana ya…, mmm…., mari kita ke rumah sakit…”

“Rumah sakit?!!” aku sedikit berteriak.

“Papa Rinda Bu…, papa Rinda mengalami kecelakaan….”

Gadis kecil di sampingku berteriak histeris. Kutenangkan dia, bergegas kami memburu rumah sakit di mana papanya berada…

Rinda tak bisa menyembunyikan tangisnya demi dilihatnya sang papa dalam kondisi sekarat…

 

“Papaaaa…., jangan tinggalin Rinda, Papa! Jangan pergi, Papa…! Rinda tak punya mama, Papa jangan pergi…, Papa banguuuun……..”

Air mataku membuncah bagai banjir bandang. Kesedihan begitu mencekam. Rinda meraung memanggil sang papa, terus dan terus tanpa ada siapa pun yang mampu menghentikannya…

Tiba-tiba mata lelaki itu terbuka.

“Rin….da….”

“Papaaaa…., bangun., Papaaaa….!”

“In….In…a….”

“Iya, Mas Didi….”

“Ti…tip… Rin….da…”

Kemudian ia berhenti, berhenti, untuk selamanya…

Mas Didi berpulang, menyusul istrinya yang telah wafat tiga tahun silam.

Tangis Rinda meledak, tangis kami menyeruak….

Kupeluk erat bocah kecil itu, sementara para suster membawa jenazah menuju kamar mayat…

Bumi serasa berputar. Kue lebaran untuk Mas Didi masih tertahan. Lelaki itu belum sempat mencicipinya. Hatiku dipenuhi sedih yang begitu menghantam…

 

Rinda berada dalam pelukanku, untuk seterusnya. Amanat Mas Didi kupegang teguh. Cintaku putih adanya. Kujaga buah hatinya, kusayang Rinda sebagaimana aku menyayangi papanya.

Kue lebaran masih tertahan, belum sempat aku mengirimkannya pada lelaki yang diam-diam membuatku tertawan…***

Bogor, Agustus 2011

 

9 Comments to "Kue Lebaran Untuk Mas Didi"

  1. Evi Irons  8 September, 2011 at 01:24

    Ini kisah nyata atau fiksi? Saya sudah senang2 membaca diawalnya tapi diakhirnya membuat kaget Dan sedih. Semoga ketemu jodohnya, ya!

  2. HennieTriana Oberst  7 September, 2011 at 17:16

    Sedih…. kasihan Rinda

  3. Mawar09  6 September, 2011 at 23:19

    Bu Ida: sedih baca ceritanya. Sayang pertanyaan Mas Didi lewat sms tidak dijawab, harusnya bilang……..” calon sudah ada tapi sedang melatih keahlian membuat kue biar lebih mahir dulu”. Terima kasih ya artikelnya.

  4. Dewi Aichi  6 September, 2011 at 22:45

    BU Ida…..hiks…membaca cerita ini, aku jadi meneteskan air mata…..sedih …

  5. nu2k  6 September, 2011 at 22:07

    Ibu Ida dear, aduuuuhhh.. Daripada kuenya hanya dipajang untuk dilihat di Baltyra….Saya mau kalau dikirimi nastar sama kue putri saljunya.. Hmmmm… Atau saya juga mau diundang ngrewangi icip-icip kuehnya…..Sudah lama tidak pernah membuat dan makan kue-kue kering… Sekering stoples yang ada di lemari dapur… ha, ha, haaaa… Gr. Nu2k

  6. J C  6 September, 2011 at 15:02

    Waduh, tidak happy ending…

  7. Lani  6 September, 2011 at 13:04

    wadooooooh……..tragis sekali……cintanya terputus ditengah jalan…….yah, seandainya………mmmm, ndak ada ya seandainya…….la wong kenyataannya……ah sedih sekali

  8. Handoko Widagdo  6 September, 2011 at 12:15

    Luar biasa ceritanya. Thanks Bu Ida Cholisa

  9. Imeii  6 September, 2011 at 12:08

    jalan ceritanya bikin sedih, tapi kue lebarannya bikin ngiler

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.