Kartu Undangan

Sokanindya Pratiwi Wening

 

Perempuan itu duduk diam. Wajahnya tanpa ekspresi dengan mata menatap kosong, jauh. Dibolak-baliknya kartu undangan di tangannya.

Sesaat, matanya tertumbuk lagi pada kartu undangan itu. Dibacanya kembali tulisan di sudut kanan kulit luar undangan.

 

KALAM CINTA

Kekasih, di depanku terbentang kehidupan yang dapat kuciptakan menjadi keagungan dan keindahan. Hidup yang bermula dari pertemuan pertama kali, akan berjalan terus menuju keabadian.

Aku tahu, karena engkaulah aku menerima berkah kekuatan dari Tuhan, untuk dijelmakan ke dalam kata-kata dan perbuatan luhur, bahkan selagi mentari menyibakkan kembang-kembang di padang. Karena itu cintaku padamu akan hidup selamanya.

(Kahlil Gibran)

Kartu undangan itu sudah berumur  dua puluh tahun lebih. Itu adalah kartu undangan  saat ia menikah dulu, yang dia kerjakan sendiri bersama teman-temannya di tim kreatif tempatnya bekerja, di sebuah Advertising Agency.

Perempuan itu memang menyisakan beberapa lembar untuk disimpan sebagai kenang-kenangan. Kemarin terlihat lagi saat ia dan anak-anaknya beberes isi rumah karena ingin menyambut Lebaran yang tinggal beberapa hari lagi.

Dibacanya kembali bait kedua syair indah Kahlil Gibran itu. Aaahhh… tulisan itu hanya terbuktikan selama tiga belas tahun. Setelahnya, semua berubah saat pangeran pengantinnya memutuskan meninggalkannya dan memilih hidup bersama perempuan lain yang lebih muda dan cantik.

“Duh… mana dia?” Hatinya sesaat mencari.

“Mengapa ia tega melakukan semua ini. Mengingkari dan mengkhianati ikrar suci atas nama Tuhan itu. Meninggalkan aku yang setia menjaga rumah dan marwahnya. Meninggalkan anak-anak yang manis dan tumbuh sehat?”

“Mana lelaki sederhanaku dulu, yang wajahnya sedikit memucat sepulang kerja, namun tetap teguh menjalankan ibadah puasa. Wajah yang saat itu terlihat sangat tampan di mataku?”

“Mana… Mana…. Di mana dia saat ini?”

Perempuan itu tersadar dari sejuta pertanyaan akan pengantin lelakinya, saat matanya mulai terasa memanas dan merebak.

Sontak ia berdiri. Menepis rasa sakit yang mulai terasa melilit dan menggigit.

“Tidak!” katanya sendiri. “Inilah kenyataan hidup. Semua pasti berubah. Aku tidak boleh larut. Tidak boleh sakit lagi karena kepergiannya.”

“Aku mesti tetap hidup dengan gembira. Karena pada hidupku bergantung kebahagiaan dan masa depan anak-anakku. Ini bukan tanggung jawab yang sederhana. Ini membutuhkan kekuartan fisik dan psikis.”

“Esok masih ada hari, di mana akan kutemui kebahagiaan bersama anak-anak dan seorang lelaki yang lebih baik buatku. Lelaki yang peluknya hangat melindungi. Aku yakin!”

Bergegas perempuan itu menuju dapur.Bersiap akan memasak untuk hidangan berbuka dan makan malam.

Dikenakannya celemek dapur. Dibukanya kulkas untuk mengeluarkan bahan makanan yang ingin ia masak.

Lamat, dari kamar anaknya, terdengar lagu Ariel Peter Pan. ” Tak ada yang abadi….. Tak ada yang abadi….”

Praaakkk…. Dikepreknya bawang putih di atas talenan. Tangannya lincah mencincang.

Hatinya kembali riang.

 

Tj. Morawa, 28/08/2011

(menuju hari kemenangan)

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Sokanindya…make yourself at home. Ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih Dewi Aichi yang mengenalkan Sokanindya ke Baltyra.

 

 

18 Comments to "Kartu Undangan"

  1. Sokadindya Pratiwi Wening  15 September, 2011 at 08:38

    @NSC: Terima kasih, Kang. Yuuuu…. semangat selalu.
    Maaf, komenya telat. Heheheee….

  2. Sokadindya Pratiwi Wening  10 September, 2011 at 07:55

    @Komelya: Untuk membangun rumah tangga yang utuh dibutuhkan dua orang di dalamnya, namun untuk menghancurkannya…cukup satu orang saja. Jika usaha maksimal tak jua membauhkan hasil, ya lebih baik sendiri saja.

    @Dewi Aichi: Terima kasih, Adikku, sudah memperkenalkan Mba dengan rumah ini.

    @Mainz: Salam kenal kembali. Terima kasih sudah mendo’akan perempuan itu agar mendapat pendamping yang terbaik. Ini hanya sebuah cerita.

    @Mawar: Salam kenal dari Medan, ya.

    @Linda Cheang: Hati yang gembira bisa membuat panjang usia, ya.
    Suamiselingkuh, baiknya ditendang aja? Heheheee… tetapi mengapa banyak para suami selingkuh, ya? Apa ngga takut ditendang? Hehehee…

    @Lani: Terima kasih. Salam jabat erat selalu.

  3. Lani  9 September, 2011 at 21:39

    halaah kang CECH iki loooooooo 3………namanya pendatang baru ya dikasih salam kenal to……..ya ndak cm kenal ama diriku aja, dgn dirimu jg dan yg lainnya………

  4. NSC  9 September, 2011 at 20:49

    Selamat berkarya mba Wening
    Semangaaaaaaaaattttttttttttttttttt

  5. Linda Cheang  9 September, 2011 at 03:43

    hati yang gembira adalah obat. suami selingkuh? tendang ajah, hahaha

  6. Mawar09  8 September, 2011 at 23:06

    Mbak Soka : selamat bergabung di Baltyra dan salam kenal. Ditunggu artikel yang lainnya ya !

  7. Dj.  8 September, 2011 at 22:56

    Mbak Tiwi….
    Terimakasih, satu cerita yang sangat bagus….
    Semoga akan mendapat pendamping yang lebih bijak.
    Salam kenal dari Mainz.

  8. Dewi Aichi  8 September, 2011 at 21:51

    Mba Soka…terima kasih sudah masuk ke baltyra….senang sekali bisa berkumpul di rumah tanpa dinding ini, kita seret mba Roesmi yuk….sudah kelihatan nge like tuh he he

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.