[Serial Masa Terus Berganti] Donat

Dian Nugraheni

 

Ini cerita soal Donat, kue manis bundar dengan bolong di tengah, dengan berbagai hiasan di atasnya. Ada yang atasnya “dicelup” coklat cair, atau, dicelup coklat cair kemudian dihiasi dengan meses warna-warni, atau kemudian ditaburi remukan kacang yang disangrai terlebih dahulu, atau atasnya dikasih krim lalu ditaburi parutan keju yang baanyaaak…, dan lain-lain.

Atau juga Donat yang enggak pakai bolong di tengahnya, bentuknya tetap bundar, tapi kemudian di”suntik” isi ke dalamnya dengan berbagai macam selai, ada selai Blueberry, Rasberry, Durian, Lemon, Srikaya, dan seterusnya. Hampir semua orang, tua, muda, apalagi anak-anak, pastinya menyukai kue Donat ini.

Awal tahun 90an, di Indonesia, Kedai Donat yang paling terkenal waktu itu, tentu saja Dunkin Donat, Donat asal negeri Bule yang membuka gerainya di banyak kota besar di Indonesia.

Kalau sudah bicara makanan atau minuman “franchise” dari luar negeri, maka kita akan bicara bahwa makanan atau minuman itu, biasanya, pada awalnya, akan hanya bisa ditemui di kota-kota besar di Indonesia macam Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, Medan, dan lain-lain. Begitu juga dengan si Dunkin Donat ini, singkatnya, kita-kita yang ada di “daerah” atau kota kecil, apalagi di kampung, tentu saja harus datang ke kota-kota besar itu untuk sekedar makan Dunkin Donat. Atau.., menunggu kalau ada Saudara datang dari kota besar yang membawakannya sebagai oleh-oleh.

Begitu juga dengan diriku. Tahun 90an adalah awal-awal aku kuliah di Jogjakarta. Tapi, kuliahnya orang miskin, tentulah keuangan serba terbatas. Jangankan berpikir soal Dunkin Donat, untuk makan genap 3 kali sehari saja susah rasanya. Dan saking kupernya, aku pun nggak pernah tau, apakah ada Gerai Dunkin Donat di Jogjakarta, waktu itu.

Nahh, tiba suatu saat, aku dan adik sepupuku, laki-laki,yang berusia beberapa tahun lebih muda dariku, mengantar Eyang Kakung dan Putri kami berlibur ke Jakarta menengok salah satu anaknya, alias Paklik kami. Selama seminggu di Jakarta, Paklikku tidak sempat membawa kami jalan-jalan, karena dia bekerja dari Senin sampai Jumat, berangkat pagi pulang agak malam.

Hanya satu hari, yaitu hari Sabtu, kami sempat diajak jalan-jalan, di sebuah toko swalayan di daerah Blok M, dan itu pun hanya sebentar saja, karena aku dan sepupuku akan pulang kampung dengan naik kereta malam dari Stasiun Gambir hari itu juga. Tiket sudah dibelikan, nggak boleh telat tentu saja. dan…, di sinilah kisah tentang si Donat itu terjadi….

Dari Jakarta, aku dan sepupuku pulang ke kampung hanya berdua, karena Eyang Kakung dan Putri kami diminta tinggal lebih lama di rumah Paklikku. Sebelum pulang, Paklikku memberikan beberapa lembar uang di tanganku, “Ini sangu buat kalian, dibagi dua yaa…” Aku mengangguk, dan bilang terimakasih.

Tentu saja sungkan kalau aku harus terang-terangan menghitung di depan Paklikku, berapa jumlah uang yang diberikannya, tapi, sekilas aku agak merasa pasti bahwa itu uang kertas limapuluh ribuan tiga lembar, alias seratus limapuluh ribu rupiah. Segera aku masukkan dompet, kemudian aku sembunyikan di anakan tas di dalam ransel gunung yang selalu menemani aku bepergian. Aman, pikirku. Copet pasti akan susah tau kalau di sini ada dompet.

Seratus limapuluh ribu waktu itu, mahasiswa miskin pula.., tentu jumlah yang sangat besar bagiku. Meski yaa, nanti ini akan kubagi dua dengan sepupuku…better than nothing, kalau bahasa Enggresnya…ha2…

Di Gambir, aku bicara pada adik sepupuku, “Dek, mau beli makanan buat sangu di kereta nggak..? Nanti kalau beli di restorasi kereta, suka mahal, lho…”

Adikku menjawab, “Nggak uasah, Mbak, cuma sepuluh jam ini, tidur aja di kereta nggak usah makan, sayang-sayang duitnya. Entar duit yang dikasih Paklik mau aku pake buat beli jins baru dan kaos polo..”

“Aku pengen banget beli Dunkin Donat, aku baru sekali nyobain, itu juga cuma separo waktu teman kosku dibawain oleh-oleh itu dari Jakarta..,” kataku.

“Alaaaahhh, sayang, Mbak, duitnya…!Kita kan nggak tau berapa harganya, kalau mahal, gimana..? Sudahlah, nggak usah beli..!! Yaa, meski aku sebenere pengen juga sih,” kata adikku lagi. Akhirnya aku ngalah, nggak beli makanan atau minuman apa pun untuk bekal perjalanan kami.

Singkat cerita, akhirnya kami sudah duduk di dalam sebuah gerbong. Kereta tentu tak terlalu penuh karena bukan Hari Besar. Kereta sudah mulai merangkak ketika kami mencari-cari nomer kursi kami. Nahh, di sini tempatnya.., kami segera duduk.Di hadapan kami, sudah duluan duduk dua orang pemuda yang cukup ganteng.

Ehh, tau nggak, kedua Mas tadi sedang makan Dunkin Donat sambil ngobrol. Langsung, tanpa basa-basi, timbul air liurku..cleguk..!! Langsung juga nyesel, kenapa tadi nggak beli Dunkin Donat. Kutengok muka adik sepupuku, dia tersenyum, seolah mengerti bagaimana perasaanku ketika menatap Dunkin Donat dalam kardus yang terbuka, dan ditaruh di “meja” yang menempel di dinding gerbong kereta tersebut.

Satu jam perjalanan, dua jam, tiga jam.., dan jam-jam selanjutnya, kedua Mas di depan kami tak bosan-bosannya saling melempar cerita. Tapi aku bener-bener nggak memperhatikan, apa yang mereka bicarakan. Yang ada di pikiranku cuma satu, aku pengen Dunkin Donat, titik..!! Saking pengennya, bener-bener hampir saja aku “nembung” bilang minta sama Mas-mas di depanku. Tapi untunglah bisa aku tahan, aku urungkan niatku. Aku coba untuk memejamkan mata, tidur, dan berharap melupakan si Dunkin Donat. Tapi, dasar otak lagi nggak tenang, teteeep aja yang terbayang si Dunkin Donat.

Aku melek lagi, kutatap kedua Mas di depanku, berharap salah satunya menawarkan Donat yang ada di kotaknya yang terbuka, sehingga membuat si Dunkin Donat itu makin “ngawe-awe”, alias bikin semakin pengen…Tapi tak satu pun dari keduanya mengeluaran kata-kata tawaran, meski mestinya kedua Mas itu paham, karena sesekali, secara naluriah, seperti tanpa sengaja, jelas-jelas mataku menatap kotak Donat itu.

Kemudian aku membisiki ke telinga adikku, “Dek, kamu pengen Donat itu nggak..?”

Adikku balas membisik di telingaku, “Iya Mbak..asem ki, karduse kok ya dibuka, tambah ngiming-ngimingi…”

Bisikku lagi, “Salahmu, tadi aku bilang beli, kamu bilang enggak…”

Gantian adikku membisik, “lahh, kan nggak tau harganya berapa.., ntar kalau duit sangunya habis, kan sayang…”

Kedua mas di depanku berhenti sejenak dari ngobrolnya, dan menatap kami sesaat, seolah mereka tau kalau mereka lah yang kami obrolkan dalam bisik-bisik. Aku dan adikku berhenti berbisik-bisik. Saling menatap, dan ketawa cekikikan, masih sambil menelan air liur, masih sangat kepengen ditawarain Dunkin Donat.

Demikianlah, karena ngantuk, akhirnya aku dan adikku sempat tertidur. Bangun-bangun ketika terdengar orang rame-rame bersiap turun. “Sebentar lagi sampai stasiun Kutoarjo..,” terdengar seseorang bicara agak keras. Itu stasiun tujuan akhir kami. Dan kedua Mas di depanku, ternyata juga bersiap untuk turun. Secara otomatis, mataku, tetap aja mengarah pada kardus berisi Dunkin Donat di meja tempel kereta. Masih ada, dan masih tetap terbuka kardusnya.

Dan ketika kereta berhenti, para penumpang sudah pada berdiri bersiap turun. Dan si Mas berada di depan kami untuk turun juga. Tapi kardus Dunkin Donatnya enggak dia bawa, sisa, dua buah Donat dibiarkan ditinggal di meja tempel kereta. Aku njawil adikku, membisiki di telinganya, “Dek, Dunkinnya ditinggal..”

Adikku balas membisiki sambil ketawa cekikikan menggodaku, “Ambil..”

“Wegaaahhhh, nggak mauuu…,” bisikku lagi sambil ketawa. Dan kami berdua bergandengan mencari angkot untuk segera sampai di rumah, pengen segera membagi uang sangu yang moga-moga beneran seratus limapuluh ribu, jadi dapet tujuhpuluhlimaribuan seorang. Aku mau beli sepatu kets Bata warna putih…, seperti yang dipakai teman kuliahku di Jogja, dan aku juga pengen banget punya…he..he..he…

Bertahun kemudian, setelah aku lulus kuliah, kerja di Jakarta, maka Dunkin Donat menjadi tempat ampiranku setiap saat aku pengen. Bukan karena balas dendam, tapi karena memang, rasanya, Donat ini enak bener. Kalau sudah makan donat yang bertabur keju, sekaligus aku bisa melahap 3 buah, plus kopi secangkir.

Dan sekarang, setelah aku tinggal di Amerika, aku jadi tau bahwa banyak sekali pilihan tentang donat. Setelah dengar info sana sini, setelah coba ini itu, maka, Donat favoritku sekarang malah donat-donat yang “home-made” alias enggak bermerek yang banyak dijual di kedai-kedai roti. Kalau ditanya kenapa, jawabku, entahlah.., rasanya lebih “fresh” aja.., perkara enak, mah..selera…he..he…

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Rabu, 7 September 2011, jam 7.38 petang

(Mengenang masa lalu, banyak yang lucu, dan bikin terbahak-bahak kalau dibahas saat ini…he2…)

 

12 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Donat"

  1. [email protected]  12 September, 2011 at 11:47

    donut…. slurp….

  2. SU  10 September, 2011 at 07:40

    Nyokap dulu sering bikin donat.

    Tidak bisa makan banyak2 donut. Biar itu donut Krispy Kreme. Coba kasih saya getuk singkong atau ongol2 atau cenil…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *