Cinta di Gerbang Kematian

Yuni Astuti

 

Malam begitu hening di sekitar Situ. Udara seolah berhenti, angina mendadak sunyi. Mang Jarot seperti biasa, akan berkeliling ke Situ, menuju tempat semedinya yang selama dua tahun ini sudah menjadi kebiasaannya untuk mencari “kehidupan yang lebih baik”. Agar rakyat simpatik padanya, sehingga mereka akan memilihnya sebagai anggota dewan di daerahnya.

Istri pertamanya tengah tertidur pulas di samping dua anak lelakinya yang tergolek kekenyangan makan sate kambing tadi sore. Anak sulungnya entah pergi ke mana, ia tak tahu. Setiap malam, anak sulungnya tak pernah tidur di rumah. Seraya memakai jaket tebalnya, Mang Jarot masih menghisap rokok di mulutnya tanpa bantuan tangan.

Ia pun keluar rumah.

***

“Airnya tumben tenang ya A’? Tak beriak seperti biasanya.” Ujar Ningsih pada kekasihnya, di pinggiran Situ.

“Anginnya juga semakin dingin…” Abeng mendekatkan badannya kepada Ningsih. Tangannya membelai rambut halus Ningsih.

“A’… Ningsih takut pulang…Takut dimarahin Bunda… Soalnya udah malem banget…”

Tangan kekar Abeng kini meremas bahu Ningsih, “Bersama Aa’, Ning gak usah takut. Aman pokoknya mah…”

Ningsih berusaha percaya, meski sebenarnya ia lebih dikuasai rasa takutnya. Suasana begitu gelap, ini karena Abeng memilih tempat yang paling jauh dari tempat pengunjung biasa datang. Air yang begitu tenang, seakan mengisyaratkan tiadanya kehidupan. Nyamuk pun tak terdengar suaranya. Hanya, yang membuat Ning takut adalah suara burung-burung aneh yang berkeliaran di sekitarnya. Seperti mengincar dirinya, bersiap menangkap tubuh gadis itu.

“A’…. Ning takut….”

***

Mantan janda itu masih berdiri gelisah di ruang tamunya. Anak gadisnya belum juga pulang sejak sore tadi pamit untuk kerja kelompok di rumah temannya. Ia mengizinkan saja lantaran anaknya itu penurut dan tidak pernah macam-macam. Pintar dan selalu juara kelas. Setidaknya itu yang ia ketahui tentang anak gadis satu-satunya itu. Ia tak pernah pulang selarut ini, kalaupun mau menginap di rumah temannya, orangtua temannya selalu mengabarkan.

Ia gelisah sendiri, berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Pikirannya berkecamuk, memikirkan yang aneh-aneh tentang anaknya. Mungkinkah anaknya pergi bersama pacarnya? Mungkinkah kini keduanya lupa jalan pulang? Mungkinkah anaknya diculik? Atau bersama pacarnya telah melakukan hal-hal yang diinginkan?

Ia pun menghubungi semua teman anaknya, hasilnya nol. Tak ada yang tahu keberadaan Ningsih. HP-nya sendiri, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan…

“Duh….Ning, ke mana perginya kamu?”

***

Tak hanya Ningsih dan Abeng yang tengah memadu kasih di Situ itu, ada banyak pasangan muda-mudi lainnya yang tengah asyik-masyuk mengekspresikan cinta mereka dengan cara yang salah. Cinta yang sejatinya adalah hasrat untuk saling melindungi, berubah menjadi alat untuk menerkam makhluk indah bernama wanita. Tak sedikit yang akhirnya takluk pada tangan buas lelaki, yang tak lain adalah kekasih mereka sendiri.

“Bah, rasanya malam ini beda sekali suasananya. Lebih ngeri…” ujar Mak Wok, penjaga warung kopi. Semakin malam ia menyaksikan semakin banyak muda-mudi yang masuk ke area paling gelap. Tiap malam ia menyaksikan semua itu dengan prihatin, tapi karena harga kebutuhan pokok semakin mahal, ia terpaksa berjualan di tempat itu sampai pagi. Mengais rezeki dari gelas-gelas kopi dan mie rebus yang biasa dibeli anak-anak muda yang tengah pacaran.

“Beda gimana?” sahut suaminya yang sedang mencuci gelas-gelas kotor.

“Lebih…merinding…” jawabnya sambil meraba-raba sendiri tengkuknya, dan matanya liar menatap sekeliling.

“Ah, itu mah perasaan kamu aja…”

“Hah si Abah ini gak percaya amat! Dengerin tuh suaranya, burung gagak! Jangan-jangan di sekitar sini sudah bersiap-siaga para malaikat maut untuk… hiiiyyy jadi takut Bah!”

Suaminya tertawa. “Kamu seperti baru sekali dua kali saja jualan di sini. Biasanya juga begini. Sudah tidur sana duluan, biar Abah yang jaga warung ini.”

Namun istrinya masih dicekam rasa takut yang menurut suaminya tak beralasan. “Bagaimana kalau tanggul Situ ini jebol Bah? Perumahan yang di bawahnya tentu akan hancur dan hanyut. Termasuk kita ini juga akan mati….”

“Husy! Ngomong apa kamu ini!” bentak suaminya, yang sedikit menunjukkan rasa takutnya. “Tidur sana!”

Meski mata Mak Wo terpejam, batinnya terus menggerutu, jangan-jangan akan terjadi sesuatu. Ya Allah, jagalah kami. Apa yang kami lakukan di tempat ini hanya berjualan… Sumpah. Bukan ikut melakukan hal-hal terlarang…

Dari kejauhan, di kegelapan di antara semak-semak, Abah bisa melihat kejadian yang lazim di tempat itu. Hatinya menggelegak, muak melihat keadaan itu. Katanya kota religius, tapi maksiat terjadi dibiarkan saja. Huh.

***

Ning berjalan tergesa menuju warung Mak Wok. Abah tengah tiduran dib alai-balai. Melihat kedatangan gadis yang rambutnya acak-acakan itu, ia duduk. Diperhatikannya wajah gadis yang kalut itu. Sepertinya habis menangis.

“Kenapa Neng nangis?” tanya Abah, basa-basi. Berganti melihat kepada lelaki di samping gadis itu, yang kancing kemejanya belum terkancing semua. Masih ingusan!

“Pesen kopi dan mie rebus dua Bah!” kata lelaki itu. Kemudian membujuk Ningsih agar mau berdamai dengannya.

“Aa’ tega banget sih!!!”

“Ning…jujurlah, kamu suka kan?”

“Katanya Aa’ cinta Ning? Kenapa Aa’ lakukan itu?”

“Ning, Aa’…khilaf…”

“Hancur masa depan Ning, A’!” ujarnya, berbisik-bisik. Abah sudah sangat maklum pada sketsa tersebut. Begitu banyak gadis yang mengatakan hal tersebut, padahal beberapa jam sebelumnya, semenjak sore, gadis-gadis itu telah dengan sadar menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk diterkam pacarnya sendiri. Pakaian minim yang menantang, dandanan yang memancing, sikap yang menggoda. Mereka bagaikan bidadari terbalut setan. Indah namun hina.

“Aa’ akan bertanggung jawab!” tegas Abeng sambil menatap mata Ning. Itu adalah kalimat yang sama ia ucapkan kepada gadis-gadis selain Ning di tempat itu, beberapa malam yang lalu, yang lalu, sebelum malam ini, bermalam-malam yang lalu. Selalu begitu.

“Ning cinta sama Aa’, tolong jangan kecewain Ning. Cuma Aa’ satu-satunya lelaki yang Ning harapkan. Demi cinta Ning sama Aa’, Ning mau melakukan apa yang Aa’ minta. Pokoknya, jangan sampai Ning terluka…”. Kalimat serupa juga telah diucapkan banyak gadis kepada Abeng, bermalam-malam sebelum malam ini hingga Abah pun hafal. Cinta yang salah. Gumamnya.

***

Saat sedang hangat-hangatnya menikmati kopi, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang mencekam. Disertai dengan gelombang air Situ yang naik. Tak lama kemudian, tersapulah semua yang berada di sekitar Situ, hanyut bersamaan dengan teriakan makhluk manusia yang masih terjaga. Sedangkan penduduk perumahan di bawah Situ yang sedang pulas tidur, belum sempat menyelamatkan diri sudah terbawa arus. Berteriak minta tolong pun belum sempat.

Situ Gintung marah!

Mak Wok berusaha keras mencari pegangan. Susah payah ia menggapai-gapai apapun yang ada di sekitarnya. Ia terus berputar dalam arus air yang tak tentu. Mencari suaminya dalam deras arus air pun menjadi hal yang mustahil. Bernafas menjadi sesuatu yang tak mungkin dilakukannya. Tenaganya melemah. Hal terakhir yang diingatnya adalah suasana seram yang terjadi sebelum air meluap.

Ningsih beruntung, ketika ia sadar pada pagi harinya. Ia berada di atas pohon, nyangkut rupanya. Dengan sisa-sisa kesadaran ia turun, dan mencari jalan pulang. Dengan airmata berderai, ia menyesali apa yang telah terjadi semalam. Abeng tak tentu keberadaannya. Anak pejabat baru itu mungkin sudah terbenam dalam Lumpur, atau terbawa arus sampai ke liang lahad. Ning hanya menangis. Ia salah memaknai cinta. Cinta yang tak sengaja dilabuhkannya pada Abeng kini menjadi petaka. Masa depannya hancur, kehormatannya telah terenggut dengan sukarela.

Mungkin para “penunggu” Situ marah melihat ulah kami. Ia bergumam sendiri. Lalu hatinya berontak, mengapa tak sekalian saja Kau ambil nyawaku Tuhan! Aku sudah tak lagi punya makna hidup di dunia ini. Aku sudah kotor sekotor-kotornya. Aku telah menjadi pelacur!

Hanya desau angin pagi yang menjawab…

***

Para penduduk perumahan di bawah Situ sedang berduka. Mereka menangisi bencana yang terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya itu. Mendadak hingga tak sempat seorang pun dari mereka bisa menyelamatkan harta benda mereka. Peristiwa yang terjadi menjelang Subuh itu seakan menampar semua orang: bencana yang terjadi di darat dan di laut adalah karena ulah tangan-tangan manusia!

Sementara itu, karena sekarang sedang musim pemilu, maka banyaklah pejabat yang datang menengok atau memberi bantuan. Ada seorang pejabat baru yang tidak datang menengok apalagi memberi bantuan, justru dialah yang kini teronggok kaku di antara benaman Lumpur menjadi salah satu korban bencana. Dialah Mang Jarot, beserta putra sulungnya Abeng tamatlah riwayatnya.

Di tempat lain, di rumah seorang mantan janda, ia menangis karena tak hanya kehilangan suami barunya. Ia juga kehilangan keperawanan anak gadisnya: Ningsih.

***

 

Kramatwatu, 23 Desember 2010

 

5 Comments to "Cinta di Gerbang Kematian"

  1. yuni  16 September, 2011 at 10:20

    thx all….

    sumonggo, oke juga judulnya/./
    anggap aja cinta juga mewakili semua.

    cinta dunia, cinta kekuasaan, cinta yang salah…..

  2. J C  12 September, 2011 at 14:01

    Jadi ingat bencana Situ Gintung yang memedenikan itu…

  3. P@sP4mPr3s  12 September, 2011 at 12:00

    Waw… menarik kisahnya

  4. Linda Cheang  10 September, 2011 at 18:31

    ???

  5. Sumonggo  10 September, 2011 at 12:20

    Bencana manakah yang lebih besar?
    Yuni, mungkin lebih cocok judulnya, “Nafsu di gerbang kematian”, termasuk nafsu kekuasaan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)