Berkelotok di Tanjung Puting

RM

 

Hello pencinta Baltyra…

Terima Kasih untuk mas Handoko Widagdo yang sudah sharing tentang Tanjung Puting beberapa tahun yang lalu…

Menggapai mimpi, lumayan lama kami berharap agar punya kesempatan berkunjung ke Tanjung Puting, suatu kawasan Taman Nasional di Kalimatan Tengah. Sungguh tak terbayangkan bagaimana rasanya tinggal di hutan barang sejenak. Kami tinggal di pulau Jawa membayangkan  seperti apa ya..kawasan hutan yang masih perawan. Hutan yang pernah kami lewati adalah Alasan Roban dan Wonosari, keduanya merupakan hutan kayu jati dan banyak kendaraan yang lalu lalang melewati jalan raya yang membelah kawan hutan jati tersebut, suasana hutannya kurang greget gitu loh..

Seperti biasanya, kami susun itinerary supaya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui…Tema perjalanan kali ini adalah berkaitan dengan kawasan Taman Nasional, supaya efisien persiapannya. Salah satu yang kami persiapkan adalah minum obat malaria sebagai upaya preventif aja, supaya pulang travelling badan tetap sehat.

Perjalanan menuju kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Kami memulai perjalanan dari Jakarta menuju  Semarang dilanjutkan Pangkalan Bun (P.Bun), dari P.Bun ke teluk Kumai disambung kapal kecil atau masyarakat setempat menyebutnya kelotok, menyusuri sungai sekitar 1,5 jam menuju tempat kami menginap di Rimba Lodge..lumayan lama. Ada sich alternatif transportasi yang lebih cepat pake speedboat…sayangnya kami ga punya nyali naik speedboat.

Menyusuri sungai dengan kelotok sangat nyaman…tenang ga ada ombak, bener-bener menikmati suasana hutan yang perawan. Tidak ada jalan darat, satu-satunya akses ya..jalur sungai, menyusuri sungai Sekonyer dan Leaky. Kawasan ini juga merupakan daerah pasang surut…sore hari air pasang dan paginya surut. Di sini juga sangat pas bagi mereka yang ingin menikmati suasana hening karena kawasan ini juga termasuk kawasan bebas sinyal…saat yang tepat untuk mengistirahatkan jari tangan dari gadget.

O, ya…perjalanan kami lewat Semarang karna pada waktu itu dari Jakarta hanya 3 kali flight/minggu sore hari dan nyampe P.Bun sudah malam…rasanya ga sreg dech masuk kawasan hutan malam hari, ga bisa liat-lihat penghuni hutan. Sedangkan dari Semarang ada daily flight siang hari.

Di Tanjung Puting, kami melihat orangutan yang hidup di habitat aslinya. Ada tiga camp tempat melihat orangutan yaitu Tanjung Harapan, Pondok Tanggui dan Leaky. Dari tempat kami menginap menuju ke camp yang paling jauh yaitu Leaky ditempuh dengan menggunakan kelotok sekitar 2,5 jam.

Bagaimana caranya bertemu dengan orang hutan? Di tiap camp ada acara feeding pada jam tertentu, pada saat itulah ranger akan menyiapkan menu santapan untuk orangutan berupa buah-buahan dan susu, ranger akan memanggil orangutan dengan suara panggilanya yang khas dan orangutan pun menanggapi panggilan itu. Tetapi bila di hutan sedang musim buah, orangutan lebih senang makan buah di hutan yang dalam…seperti yang kami alami hanya bertemu 13 orangutan.

Orangutan memiliki nama mengikuti garis ibu alias matrilineal, karena biasanya bapaknya satu dan beristri lebih dari satu alias penganut poligami. Untuk memudahkan silsilah huruf pertama yang dipakai sebagai pedoman misal ibunya bernama Uning anaknya namanya Ukren, ibunya Peta anaknya Petra. Dari semua orangutan yang kami temui ada 2 nama yang tidak bisa kami lupakan yaitu Tom, si raja orangutan…badan besar rambutnya panjang..dhiwut-dhiwut, bener-bener macho dech…dan Siswi, orangutan yang paling ramah, gampang diajak foto bareng…tapi Siswi juga pernah gigit orang jadi  mesti tetep hati-hati.

O ya…kami berjalan kaki menuju feeding area, menyusuri jalan setapak dari tempat kelotok bersandar di pinggir sungai sampai ke feeding area. Masing-masing camp mempunyai jarak yang berbeda, seperti camp Leaky lebih jauh dibandingkan Pondok Tanggui. Dan jangan kaget..pada saat berjalan kaki di tengah jalan bertemu dengan binatang lainnya selain orangutan. Dan yang pasti nyamuknya gede-gede dan banyak, nyamuknya termasuk nyamuk gaul…ga takut dengan manusia.

Menikmati makan siang di atas kelotok yang sandar di pinggir sungai Leaky. Rasanya sangat nikmat..menu resto lewat dech…hehe…Mengingat perjalanan dari satu camp ke camp yang berikutnya lumayan lama waktu tempuhnya, sebagian besar waktu dihabiskan untuk menyusuri sungai maka cara yang praktis adalah makan siang di atas kelotok. Sekadar info air sungai Leaky warna hitam menurut keterangan guide disebabkan oleh akar pohon, seperti warna jamu rebusan.

Perjalanan ke Tanjung Puting memang rada ribet. Tetapi kepuasan yang didapat  melebihi keribetannya. Mungkin kita pernah lihat orangutan di kebun binatang…tapi beda lho…rasa dan suasananya kalo kita melihat orangutan di habitat aslinya…ya sebagai aktualisasi cinta pada negeri sendiri, apa yang dipunyai negeri ini kita nikmati…dan dijaga kelestariannya.

Di Tanjung Puting pernah menjadi tuan rumah konferensi tingkat internasional tentang Kera Besar.

 

 

54 Comments to "Berkelotok di Tanjung Puting"

  1. RM  16 September, 2011 at 09:36

    @Pak Edy

    sorii ternyata gagal lagi imelnya..ijin numpang di sini y http://www.borneowisata.com/aboutus.php

    Admin Baltyra klo ini tidak sesuai dg aturan, setelah Pak Edy baca tolong delete aja, thx a lot

  2. ilhampst  15 September, 2011 at 10:26

    Wah, ada warik bungasnya

    Kapan2 main kesana deh, belum kesampaian sampai sekarang

  3. RM  15 September, 2011 at 07:17

    @Pak Edy…

    dah tak coba kirim imel tp failed…sori y lama nunggu…uda tak coba lagi…

    cheers..

  4. Sasayu  14 September, 2011 at 03:50

    Pas banget, abis pulang nonton RIse of the Planet of the Apes

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.