Mengundurkan Diri

Anwari Doel Arnowo

 

Wah saya sendiri terkejut ketika saya selesai mengirim email ke seorang teman saya yang tinggal di Amerika Serikat, kemudian membacanya kembali, yang saya tulisi antara lain dengan kalimat:  

…… Saya tidak memasukkan generasi keempat di dalam keluarga ayah saya untuk saya tuntun dan bimbing secara langsung ….. eh, berani-beraninya saya mengatakan yang seperti  begini??

Iya memang, barangkali menurut standard orang-orang tua seperti saya sendiri, hal ini tidak bersesuaian, karena saya masih menambahinya dengan:  …….. Biarlah mereka mampu untuk mengatur dunia mereka sendiri; sudah seharusnyalah mereka amat bisa mendalami kehidupannya sendiri, yang pasti dan tentu tidak mirip dan tidak sama dengan dunia kita yang selama ini kita alami dan geluti…. .

Setelah merenung beberapa lama saya sempat melihat siaran Televisi tadi pagi ( 2011/09/08),  yang membicarakan mundurnya bekas aktor Dicky Chandra dari jabatannya selaku Wakil Bupati Daerah Garut, Jawa Barat Selatan. Pembawa acara Teve memujinya setinggi langit dengan mengatakannya bahwa tindakannya itu sebagai satu-satunya pejabat yang pernah meninggalkan jabatan empuk dan nyaman itu.

Ah itu tidak benar, saya masih ingat bahwa Boeng Mohammad Hatta, salah satu dari dua orang Pencetus dan Penanda Tangan Proklamasi Kemerdekaan Negara Repoeblik Indonesia, juga berani pada tahun 1956, minta berhenti dari jabatannya selaku Wakil Presiden. Meskipun saya tidak setuju dengan tindakan beliau ini, karena menganggap Boeng Karno dan Boeng Hatta adalah DWI TUNGGAL, saya tetap mencatat dengan baik peristiwa ini dan tetap hormat kepada Boeng Hatta atas sikap dan tindak tanduk kesederhanaannya. Mungkin sekali Bapak Wakil Presiden ini juga bukan orang pertama yang mengundurkan diri dari jabatan empuk.

Wakil Presiden berikutnya yang berbuat sama adalah Sultan Hamengkubuwono ke IX yang juga mengundurkan diri, dengan alasan kesehatan, dari jabatan Wakil Presiden ketika masa jabatan Presiden Suharto. Saya melihat koran keesokan harinya menampilkan foto beliau yang sedang mengemudikan mobil pribadinya sendirian saja.

Saya juga kemudian teringat kepada Pak Sjafroedin Prawiranegara.

Silakan baca excerpts yang saya kutip dari Wikipedia:   Jabatan pemerintahan

Syafrudin Prawiranegara pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Keuangan, dan Menteri Kemakmuran. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada tahun 1946, Menteri Keuangan yang pertama kali pada tahun 1946 dan Menteri Kemakmuran pada tahun 1947. Pada saat menjabat sebagai Menteri Kemakmuran inilah terjadi Agresi Militer II dan menyebabkan terbentuknya PDRI.

Seusai menyerahkan kembali kekuasaan Pemerintah Darurat RI, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI pada tahun 1949, kemudian sebagai Menteri Keuangan antara tahun 19491950. Selaku Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta, pada bulan Maret 1950 ia melaksanakan pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas, sehingga nilainya tinggal separuh. Kebijaksanaan moneter yang banyak dikritik itu dikenal dengan julukan Gunting Syafruddin.

Syafruddin kemudian menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia yang pertama, pada tahun 1951. Sebelumnya ia adalah Presiden Direktur Javasche Bank yang terakhir, yang kemudian diubah menjadi Bank Sentral Indonesia.

Pak Sjafroedin Prawiranegara ditelepon oleh ayah saya yang menganjurkan agar beliau itu mengajukan permintaan mundur dan meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia, karena keputusan mengenai sanering (silakan membuka link dan membacanya di: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=17580 ), tidak dikonsultasikan terlebih dahulu kepada Pak Sjafroedin, oleh Presiden Soekano dan Perdana Menteri Djuanda. Ayah saya itu amat hormat kepada Soekarno sebagai teman masa kecilnya, tetapi ayah saya berbuat seperti itu karena ini adalah masalah pemerintahan dan itu tidak disangkut-pautkan dengan persahabatan. Memang saya tidak mendengar bahwa beliau mengundurkan diri, tetapi ayah saya juga sempat bercerita bahwa Pak Sjafroedin amat geram hatinya.

Begitulah, sebenarnya sudah ada precedent pada jaman dahulu kala ketika Repoeblik kita masih muda belia.

Dicky Chandra, apapun urusan dan alasannya, dia bukan yang pertama kali.

Seorang diplomat karir yang bekas Duta Besar di tiga Negara, New Zealand, belanda dan Jepang, juga mengundurkan diri pada beberapa tahun yang lalu, Pak Abdul Irsan (AI), sudah dalam memasuki masa pensiun sewaktu sedang menjabat jabatan aktif di belanda, sewaktu sedang bersiap meninggalkan tempat tugasnya, Menteri Luar Negeri Hassan Wirayudha memberitahu dia, bahwa Kepala Negara meminta Pak AI mau menerima jabatan sebagai Duta besar Jepang. Dia bilang bahwa kalau itu berupa perintah maka dia mau menjalani, tetapi dia tidak meminta atau memohon.

Sampai di Tanah Air Pak AI harus melalui sebuah proses fit and proper test oleh dpr RI. Di dalam proses ini Pak AI dicecar oleh pertanyaan aneh yang dikemukakan oleh salah satu Yang Terhormat Anggota dpr.

Ini bunyi pertanyaannya: Apakah Policy anda bilamana menjabat Duta besar di Jepang. Pak AI ini menjawab bahwa sebagai Duta Besar dia tidak berpolicy, karena policy seorang Duta Besar diberi petunjuk garis besarnya dari Menteri Luar Negeri selaku atasannya.

Saya terheran-heran mendengar kejadian ini, yang dengan jelas menunjukkan Yang Terhomat Anggota dpr itu tidak menguasai masalah kedalaman dalam dunia diplomasi. Ternyata fit and proper test ini tidak meluluskan Pak AI sebagai Duta Besar untuk Jepang. Tetapi karena Pemerintah Jepang bersikeras untuk meminta seorang Duta Besar dari Republik Indonesia yang sudah senior, maka Pemerintah Indonesia melalui Presidennya tetap menunjuk Pak AI dan melantiknya menjadi Duta Besar di Jepang. Pak AI adalah seorang Duta besar yang memang senior dan memang sudah pensiun sebagai Pegawai Negeri.

Itulah suatu keputusan Presiden RI yang teguh dan sadar, yang saya acungi jempol, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia memang negara dengan sistem pemerintahan Presidential bukan Parlementer. Ketika masa jabatan Pak AI akan berakhir di Jepang, hanya kurang dari dua bulan, muncullah kasus yang disebabkan oleh bawahannya yakni Kepala Bidang Keimigrasian bersama-sama dengan pegawai lokal berkebangsaan Jepang yang memungut uang sejumlah tertentu dari setiap turis yang wisatawan asal negara Jepang ke Indonesia.

Pak AI memanggilnya menghadap dan menyelidiki dan memang benar terjadi yang seperti itu, diakui oleh bawahannya tersebut, dan dengan segera dia perintahkan pegawai tersebut untuk secepatnya hari itu juga  pergi menghadap atasannya di Ibu Kota RI di Jakarta. Yang mengejutkan banyak pihak adalah Pak Duta besar AI ini segera mengajukan Permintaan Pengunduran Dirinya dari jabatan Duta Besar sebagai ungkapan rasa ikut bersalah, karena perbuatan yang nyata-nyata dilakukan oleh orang lain yang dua orang bawahannya pelaku tersebut di atas. Permintaan Pengunduran Diri ini banyak yang menanggapinya dengan sinisme, seperti orang yang sok suci, toh karena hanya kurang dari dua bulan saja masa jabatannya habis.

Saya menanggapinya yang penting Pak AI bisa memiliki Clean Conscience pada masa pensiunnya.

Saya sendiri juga pernah mundur dari jabatan yang empuk dan nyaman.

Pada waktu puncak karir saya selaku seorang pengusaha, gaji dan fasilitas besar dan nyaman, saya minta berhenti. Ini sudah pernah saya kemukakan di dalam salah satu tulisan saya yang lalu, karena alasan pribadi dan kepedulian saya mengenai kondisi  kesehatan tubuh sendiri. Apa yang memicu keluarnya keputusan saya itu?

Salah seorang partner saya seorang Canadian, bernama Ian Park, pernah mengatakan kepada saya sebagai tanggapan mengenai keluhan-keluhan saya yang merasa amat terbebani dengan sekian puluh Perseroan Terbatas, yang hampir kesemuanya saya duduk sebagai Direktur Utamanya. Sebelas di antara semua perusahaan itu telah memiliki kontrak yang ditandatangani dengan Pemerintah Republik Indonesia dalam bidang pertambangan mineral dan pengikutnya.

Apa tanggapan Ian Park ini?? Dia bilang: “Well, Pak Anwari, I understand your position for I had an experience similar to yours. I suggest you do like I did before: FIRE YOURSELF”

Meskipun saya terperanjat, tetapi saya langsung setuju saja. Tidak lama kemudian saya membuat pernyataan bahwa saya ingin berhenti bekerja pada saat saya sampai kepada umur saya yang 60 tahun. Sedikit bising para karyawan berbicara, muncul pula gosip-gosip yang jelas tidak benar. Alasan saya yang benar adalah saya mengalami lapse of memory waktu menginap di Hotel Grossvenor di London dan sekali lagi, yang sama persis, terjadi di Hotel Kapuas di Pontianak pada dua minggu sesudahnya. Badan saya “terasa” remuk di dalam, seperti kondisi brittle di dalam susunan molekul sebuah metal. Dan saya sering menjawab atas semua pertanyaan mengenai masalah ini, sering-sering dengan: “Saya ingin tetap dalam keadaan sehat walafiat sepuluh tahun sejak sekarang (1998)”.

Periode ini telah saya lalui dan sekarang saya sudah berumur lebih dari 73 tahun, masih sehat dan bergas serta cergas.

Thank God., you gave me second chances  …. .

And now each and everyday I try to be a good person  ……..

Saya katakan kata-kata ini secara berulang-ulang selama ini.

 

Anwari Doel Arnowo – 2011/09/08

 

20 Comments to "Mengundurkan Diri"

  1. Sakura  14 September, 2011 at 08:11

    Wajar kalau dubes Indonesia buat Jepang harus mengundurkan diri, ini memang harus dan wajib, karena korupsinya amit-amit, bukan hanya turis Jepang yang kena, bahkan para pelajar yang meminta stempel KBRI untuk dokumen-dokumen penting juga dikenakan biaya. Syukurlah akhirnya telah mengundurkan diri.

  2. Rosda  14 September, 2011 at 04:28

    Menarik !!
    Ibarat perang, mundur selangkah (dalam pekerjaan) tapi maju sepuluh langkah (dalam kesehatan).

  3. nu2k  14 September, 2011 at 02:48

    Kangmas Anwari, mijn beste. Artikel meniko toch.

    Menteri Mundur karena “Keseleo Lidah”
    Menteri Perdagangan Jepang yang baru Yoshio Hachiro mengundurkan diri Sabtu (10/9/2011) lalu hanya karena salah omong.

    SOAL menteri-menteri yang salah omong bukan hal baru di Jepang. Namun, harga yang mereka bayar bergantung pada bagaimana rentannya pemerintahan dan siapa yang mereka singgung. Menteri Perdagangan Yoshio Hachiro mengundurkan diri pada akhir pekan.

    Hal ini terjadi setelah media memberitakan bahwa dia bergurau dengan para wartawan mengenai radiasi di PLTN Fukushima yang dilumpuhkan tsunami.

    Hari Senin (12/9), Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda memilih seorang mantan jubir top pemerintah, Yukio Edano, sebagai menteri perdagangan yang baru untuk membatasi dampak pada kabinet barunya setelah Hachiro mundur.

    Sebelum itu, ada menteri-menteri lain yang harus mundur karena salah omong, antara lain, menteri yang membuat marah para korban bom atom atau mereka yang menyangkal kesalahan masa perang Jepang.

    ”Mungkin (apakah seorang menteri harus mengundurkan diri) itu merupakan fungsi seberapa kekuatan kabinet pada saat itu, dan siapa yang tersinggung,” kata profesor Universitas Chuo, Steven Reed.

    Pada mulanya, Hachiro tampaknya bisa mengatasi kritik setelah meminta maaf pada hari Jumat karena menyebut daerah yang ditinggalkan dekat PLTN Fukushima sebagai ”kota kematian”.

    Namun, laporan media bahwa dia menggosokkan lengan bajunya pada seorang wartawan dan bergurau bahwa dia menyebarkan radiasi terbukti tak termaafkan bagi PM Yoshihiko Noda, yang dilantik pekan lalu dan menghadapi parlemen yang terpecah di mana partai-partai oposisi bisa merintangi RUU. Hari Sabtu, Hachiro mundur.

    ”Keputusan Hachiro erat hubungannya dengan fakta bahwa Noda takut akan jalan buntu di parlemen,” kata profesor Universitas Sophia, Koichiro Nakano. ”Salah omong itu sendiri bukan merupakan penyebab pengunduran diri, tetapi (menjadi demikian) karena bahaya perintangan oleh oposisi.”

    Hachiro adalah menteri kedua dari Partai Demokrat Jepang (DPJ) yang berkuasa yang mengundurkan diri setelah pernyataan yang dipandang memburukkan para korban bencana 11 Maret, yang menyebabkan 20.000 orang tewas atau dianggap tewas karena tsunami dan memaksa sekitar 80.000 warga mengungsi dari daerah dekat PLTN Fukushima.

    Seorang menteri rekonstruksi yang baru ditunjuk, Ryu Matsumoto, mundur dari kabinet PM waktu itu, Naoto Kan, pada bulan Juli setelah komentar yang dipandang kasar bagi warga wilayah-wilayah yang terkena bencana.

    Komentar yang ofensif pada korban pengeboman atom Hiroshima dan Nagasaki juga menarik tindakan segera, seperti halnya upaya seorang menteri kehakiman tahun 1994 untuk menghapus agresi militer masa lalu Jepang.

    Komentar yang menghina kaum perempuan bisa menimbulkan kritik keras. Namun, tidak menyebabkan menteri mundur. Hal itu, misalnya, menteri kesehatan waktu itu, Hakuo Yanagisawa, yang membuat berang banyak orang Jepang ketika dia menyebut perempuan ”mesin penghasil bayi” tahun 2007. Namun, dia bertahan setelah meminta maaf dan mengatakan dia telah diomeli istrinya.

    Walau lama terbiasa dengan salah omong kaum politisi, para pemilih Jepang mungkin menjadi semakin kurang memaafkan komentar-komentar yang tampak mencerminkan tak hanya ketidakpekaan tetapi juga ketidakmampuan. ”Semakin lama semakin perlu untuk tampak punya kemampuan memerintah,” kata Reed, Guru Besar Universitas Chuo. (Reuters/DI)

    * Kangmas, sebetulnya dalam budaya kita juga dikenal budaya malu, bukan? …Hanya akhir-akhir ini sangat banyak orang tidak mengabaikannya lagi. Sayang sekali karena budaya malu sesungguhnya bisa menjadi semacam “REM” bagi kita semua untuk tidak melakukan hal-hal yang negatief. *
    Salam, Nu2k

  4. Jhony Lubis  13 September, 2011 at 17:11

    Pak Anwari… salah satu hal yg paling mengejutkan saya adalah ketika si kecil bilang…. “Papi… jangan kerja terus… aku ingin diantar papi sekolah (SD kelas 1)…..” padahal salah satu tujuan kerja saya adalah untuk menyiapkan kemapanan finansial putri saya…. tetapi akhirnya bimbang… bila kerja saya mengakibatkan jarak hubungan relasi dgn kehidupan putri saya…. lalu apa tujuan saya bekerja..?? bingung…*smile.

  5. nu2k  13 September, 2011 at 07:47

    Kangmas Anwari, Kompas e-paper halaman 9? Saya akan coba membukanya…Matur nuwun, Nu2k

  6. Anwari  13 September, 2011 at 07:39

    Dear Lani dan Ibu Nunuk,
    Hari ini ada cuplikan di koran Kompas halaman 9 dengan subject: BUDAYA MALU DI JEPANG.
    Itu luar biasa. Kalau browsing kompas.com artikel pendek ini layak dibaca.

    Salam,
    Anwari – 2011/09/13

  7. nu2k  13 September, 2011 at 07:22

    Kangmas Anwari, mungkin kemapanan segi ekonomi , kesiapan mental dan kebijakan juga diperlukan untuk dapat mengambil keputusan itu… Beruntung di jaman sekarang kalau kita dapat memutuskan sendiri tentang hal itu. Bukan apa-apa. Hanya seperti yang terjadi dalam lingkungan di sekeliling saya. Tidak pernah terpikirkan sama sekali kalau krisis keuangan yang ada akan singgah dan mencekam begitu dalam di dunia pendidikan. Karena krisis ini, banyak di antara kami (para pengajarnya, termasuk saya di dalamnya) yang TIDAK mendapat cukup mahasiswa di kelasnya. Untuk itu banyak sekali jurusan ( spt jurusan bahasa Indonesia, jurusan bahasa Jawa dll, dll yang sejak bom Bali KURANG sekali peminatnya) dan terjadilah penutupan jurusan. .. Akibatnya para pengajarnya dipindahkan ke bagian lain atau di rumahkan atau bekerja Part Timer.. Kalau tidak siap semuanya, waaaahhhhh bisa bubar semuanya….
    Seperti kangmas katakan, inilah roda kehidupan yang harus dialami oleh setiap orang….. Dan inilah “takdir” yang juga sudah dituliskan oleh Yang Maha Kuasa bagi setiap umatNya….. Yang penting TIDAK berputus asa dan tetap tegar menghadapinya… Dan tetap tertawa….Ha, ha, haaa
    Werkt ze en tot weer schrijven, Nu2k

  8. Lani  13 September, 2011 at 04:09

    PAK ANWARI : aku se777777 dgn uraian 11….aku tdk pernah merasa mencapai pucuk/puncak sekali, tp jg ndak pernah sampai keplindessss sampai flat………bagiku, jalani saja…….mmg lika liku kehidupan spt itu to pak????? naik turun, kdg pakai belok sana, sini, berkerikil…….beriak, berombak……….

  9. Dj.  12 September, 2011 at 22:14

    Cak Doel….
    kalau memang ada kemungkinan untuk resign, mengapa tidak.
    Jadi masih banyak waktu untuk menikmati hidup dengan santai.
    Tapi sayangnya tidak semua bisia demikian.
    Di Jerman, sebagai pekerja ( buruh ), harus bekerja sampai umur 65 tahun.
    Generasi muda, malah harus bekerja sampai 67 tahun.
    Coba lihat , apa hasilnya, seprti di Yunani , banyak yang baru umur 50 sudah pensiun.
    Lenih banyak yang pensiun daripada yang bayar pajak pensiun, bagaimana ini negar tidak bankrut.
    Lebih besar pasak daripada tiang, untuk sebuah negara, mana bisa maju.
    Berbahagialah mereka yang bisa pensiun dini dan sehat…!!!
    Salam,

  10. Anwari Doel Arnowo  12 September, 2011 at 16:46

    Dear Lani,
    Saya juga pernah mendapat nasihat dari seorang ras China di Singapura ketika saya berumur 30an dan dia hampir 80 tahun. Grafik kehidupan itu naik dan turun, jadi kalau sedang turun jangan panik, akan tetapi waspada secara ekstra. Kalau turun di bawah axis horizontal yang nol, dan mencapai titik nadir, itu sudah saatnya akan naik. Seperti perumpamaan paling kuno: kehidupan seperti roda pedati, bukankah titik nadir itu adalah titik di mana roda bersentuhan dengan permukaan tanah/jalan? Nah, roda mau maju atau mundur, maka titik itu akan naik juga kan? Sebaliknya kalau sampai dititik optimum, maka sudah waktunya turun. Jadi kalau sedang sukses seratus persen, maka siap sedialah kalau terjadi penurunan karir !! Karena itulah mengikuti gerak grafik sinus dan cosinus itu baik. Jangan yang tangent dan cotangent !!
    Kirim salam,
    Anwari Doel Arnowo – 2011/09/12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.