Saya dan Bapak

Wesiati Setyaningsih

 

Tiba-tiba saya merasa saya sudah berada di tempat yang sama dengan bapak saya waktu seusia saya. Waktu itu saya kelas 5 SD waktu ibu sering kali marah pada bapak gara-gara bapak saya masuk aliran kejawen. Saya baru sadar sekarang bahwa itu adalah klimaks. Bertahun sebelumnya saya sudah melihat berbagai buku terserak di mana-mana. Buku-buku kristen, katolik, hindu, budha, lalu buku stensilan berisi ilmu-ilmu kejawen. Saya sudah melihat itu semua bertahun-tahun sebelumnya. Dan bapak saya membacanya.

Tapi kelas 5 SD itu saya melihat pertengkaran yang makin sering terjadi karena bapak saya dengan berani mengatakan bahwa beliau tidak mau menjadi Islam serta merta karena itu bukan pilihannya. Itu adalah agama yang beliau dapat dari lahir waktu belum tahu apa-apa. Jadi beliau bilang, beliau tidak lagi mengakui sebagai Islam.

Waktu itu ibu marah besar. Buat ibu, perkataan bapak sungguh dosa besar dan tak terampunkan. Padahal kalau sekarang saya pikir, ibu sendiri pasti tidak tahu apakah Tuhan akan mengutuk bapak habis-habisan atau malah akan memaafkan bapak begitu saja karena Tuhan sungguh Maha Pengampun.

Saya sendiri waktu itu yang hanya tahu dari guru agama bahwa orang yang mengaku keluar dari Islam itu murtad dan dosa besar, ikut-ikutan takut bapak saya jadi kerak neraka. tapi saya bisa apa?

Kalau sekarang, dengan pemahaman saya, sungguh saya baru sadar bahwa cara bapak saya itu adalah cara yang paling bagus untuk memilih sesuatu. Keluar dulu dari sesuatu itu, untuk melihat benar dari luar, bagaimana sebenarnya sesuatu itu, baru ketika yakin, beliau masuk lagi.

Saya tidak seberani bapak saya. Saya tidak mungkin bilang saya keluar dari Islam meski saya tak lagi memahami agama saya seperti dulu. Tapi toh saya juga membaca banyak buku dan mempelajari banyak hal dari ‘agama-agama’ lain. Saya membaca buku-buku Anthony de Mello. Saya melihat video-video seminar de Mello yang banyak diupload di you tube. Kemudian saya menemukan buku Ajahn Brahm. Saya jadi suka juga ajaran Budha. Lalu saya menemukan novel tulisan Deepak Chopra, judulnya “budha”. buku bagus tentang perjalanan hidup Budha.

Saya hitung-hitung usia bapak saya waktu mulai benar-benar memutuskan untuk ‘keluar’, kira-kira saya kelas 5 SD. Usia saya sekitar 10 tahun. Saya lahir ketika bapak berusia 29. Jadi bapak sekitar usia 39 ketika itu. Sama dengan usia saya saat ini.

Saya juga baru sadar akhir-akhir ini bahwa pencarian bapak saya waktu itu berada di usia yang sama dengan pencarian saya saat ini. Buat orang lain mungkin apa yang dilakukan bapak waktu itu, juga saya lakukan saat ini, sama sekali enggak penting. tapi saya senang saja dengan semua ini.

Seperti juga bapak yang waktu itu ditentang habis-habisan oleh ibu, saya juga dimarahi karena membaca buku-buku ‘aneh’ itu. buat ibu, Al Qur’an itu cukup. Selesai. Tapi buat saya, ibarat seekor ikan, dia tak akan tahu betapa aquarium tempat dia tinggal itu sungguh indah kalau dia tak pernah punya kesempatan untuk melihatnya dari luar. Sepertinya begitu.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

17 Comments to "Saya dan Bapak"

  1. wesiati  20 September, 2011 at 21:25

    mas widodo : hehe…. iya juga ya. padahal belum tentu bisa mendapat ketenangang yang dicari…

  2. Meitasari S  15 September, 2011 at 07:22

    Mb nu2k. He he ya berbahagia jg hdup di indo mbak. Bnyk yg cari jalan. Jadi sering ketemu di jalan. Drpd di negeri seberang jalan nya sepi. Pada kmana ya? Ha ha ha

  3. Dwi Setijo Widodo  14 September, 2011 at 16:09

    Mbak Wesiati,
    Membicarakan agama dan keyakinan ini selalu menarik. Beberapa waktu lalu saya beserta teman-teman sedang berkumpul di Bali. Topik kita saat itu adalah keyakinan. Seorang teman dari Jerman yang berprofesi sebagai pengajar teologi dan agama menanyakan ke teman saya yang orang Bali tentang keyakinannya. Dia dengan lugas mengatakan, dulu saya dari Hindu, sekarang saya memilih universal. Karena ternyata “banyak holiday” di Bali… Kami semua tertawa memahami makna di balik kalimat teman saya itu.

  4. nu2k  14 September, 2011 at 15:05

    Mbak Meitasari dear, bukannya di Indonesia sejak dulu sudah demikian adanya. Seorang muslim yang menjalankan segalanya juga percaya dan melakukan upacara kejawen adalah hal yang biasa di indonesia…. Untuk saya pribadi, meditasi dengan cara seperti yang saya dapatkan dari oom saya, menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan ketenangan dan ketenteraman dalam meniti kehidupan yang ada… Semoga sudah mendapatkan yang dibutuhkannya….Salam, Nu2k

  5. wesiati  14 September, 2011 at 14:51

    ini tulisan dari note di facebook. jadi tak heran kalo pak joko seperti sudah pernah baca. mungkin ada yang pernah saya tag atau share di wallnya. memang bapak saya pernah keluar dari agama dan masuk saya. tapi saya tidak seberani itu. saya cukup tahu banyak hal tentang agama lain, atau bahkan tentang agama saya dari orang2 di luar agama saya. tapi saya rasa saya tidak akan keluar. bukan apa2, saya cuma tahu hal2 tentang agama ini. agak susah aja untuk menyesuaikan diri dengan hal2 baru. meski saya tak lagi memahami agama saya seperti pemahaman saya yang lama.
    terima kasih banyak atas komentar2nya teman2….

  6. Dj.  14 September, 2011 at 11:12

    aimee Says:
    September 13th, 2011 at 19:49

    Saya ingat membaca buku zen. Ada dialog begini :
    Ombak kecil : aku sedih, aku begitu kecil. Sedang yg lain begitu besar
    Ombak besar : kenapa harus sedih krn kita ini sama
    Ombak kecil : bagaimana bisa sama, jelas jelas kita berbeda
    Ombak besar : Kita ini sama, kita hanya mengambil bentuk ombak, yg kadang kecil terkadang besar. Tapi ketahuilah sesungguhnya kita sama. Sama sama AIR ketika tidak menjadi ombak.
    ————————————————————————————————————————————————-

    Aimee…..

    Satu dialog yang menjadi renungan yang sangat indah….
    Betapapun kita berbeda bentuk, namun sajatinya kita sama ya…..

    Salam manis dari Mainz dan cium sayang untuk Rein.

  7. Meitasari S  14 September, 2011 at 09:45

    Buat saya agama adalah jalan. Jalan untuk sampai ke rmh abadi.

    Ada yg mau cpat lwt jln tol. Ada yg mau nyante lewat gunung dulu smbil motret2. He he he. …

    Kata peramal nantinya agama2 akan runtuh bganti satu kepercayaan saja pd Sang Pencipta ,.. Love your way!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *