Yesus Tak Pernah Tertawa?

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul Buku       : The Name of The Rose

Penulis              : Umberto Eco

Penerbit            : Jalasutra

Tahun terbit      : 2004 (Edisi 2)

Halaman: xliv + 731

Apa benar Yesus tak pernah tertawa? Bagaimana jika Yesus tak pernah tertawa? Apa akibatnya jika Yesus tak pernah tertawa? Bagaimana jika ada orang yang begitu yakin bahwa Yesus tak pernah tertawa?

Bermula dari kecurigaan Ordo Fransiskan yang melakukan praktik bidah, Burder William dari Baskerville dan asistennya Abo dari Melk ditugaskan untuk melakukan investigasi di sebuah biara Fransiskan. Bukannya menyelidiki kebidahan, Bruder William malah asyik menyelidiki beberapa kematian (pembunuhan?) yang terjadi di biara ini.

Mula-mula ditemukan mayat yang terjatuh ke jurang dari salah satu jendela biara (bunuh diri? Dibunuh dan dilemparkan?). Belum lagi kematian misterius ini terungkap, ditemukan kembali mayat dalam tong darah babi. Pada mayat ini ditemukan jejak jari dan lidah yang berwarna hitam. Kematian-kematian terus berlanjut. Ciri-ciri kematian ini mengikuti pola yang ada di Kitab Wahyu, kitab terakhir Injil.

Apa hubungannya kematian-kematian ini dengan praktik homoseksual di biara? Apakah kematian-kematian ini berhubungan dengan barter pelayanan seks oleh para perempuan desa dengan para biarawan yang memberi imbalan makanan?

Jika ini adalah pembunuhan, siapa pembunuhnya? Apakah tanda hitam di jari dan lidah beberapa mayat berhubungan dengan Severinus si ahli botani yang sangat paham tentang racun?

Untuk menyelidiki misteri tersebut, William diberi kebebasan oleh Abo si kepala biara untuk memeriksa semua ruang, kecuali perpustakaan yang terletak di lantai atas Aedificium. Apa hubungannya dengan Abo si kepala biara atau Malachi si kepala perpustakaan? Mengapa mereka melarang William ke perpustakaan? Apakah ada hubungannya dengan teks tertentu yang tersimpan di perpustakaan? Atau ada sesuatu yang disembunyikan di perpustakaan tersebut?

Apa hubungannya peristiwa-peristiwa kematian tersebut dengan Yesus tidak pernah tertawa?

Dengan setting abad pertengahan dan kehidupan biara pada abad tersebut, Umberto Eco mengajak pembaca untuk mengikuti Bruder William yang menggunakan tanda-tanda untuk memecahkan misteri kematian yang berturut-turut. Novel ini bukan sekedar novel detektif. Melalui novel ini kita bisa mengetahui berbagai pandangan filsafat dan pandangan theologi abad pertengahan. Kita bisa mengetahui praktik-praktik biara dan arsitektur.

Novel ini dilengkapi dengan sebuah makalah berjudul “Semiotika dan Enigma The Name of The Rose” karangan Yasraf Amir Piliang, dan diakhiri dengan post script tulisan Umberto Eco: “Judul dan Maknanya”; Apendiks yang berisi dua tulisan, yakni: “Sang Pengarang dan Para Penafsirnya”, tulisan Umberto Eco dan “Peta, Labirin, Dan Moster: Ikonografi Perpustakaan Dalam The Name of The Rose Karya Umberto Eco” tulisan Adele J. Haft. Keempat tulisan tersebut sangat penting dan wajib dibaca. Namun saya menyarankan untuk membacanya setelah anda menemani Bruder William dan Abo memecahkan misteri Yesus tak pernah tertawa.

Terima kasih kepada Joseph Chen yang sudah memberikan buku ini.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

94 Comments to "Yesus Tak Pernah Tertawa?"

  1. Handoko Widagdo  18 September, 2011 at 10:55

    Betul, ternyata Yesus bisa menjungkir-balikkan meja dan kursi

  2. Lani  17 September, 2011 at 22:44

    HAND hehehe……tuh sdh dikoreksi sama mas DJ……..jd bukan aku sj yg bs menjempalikan dingklik…….malah Jesus meja yg dijempalik-kan

  3. Handoko Widagdo  15 September, 2011 at 07:52

    Nev, PASPEMPRES dan JC, Yesus juga tak pernah ganti kamera

  4. Handoko Widagdo  15 September, 2011 at 06:52

    Mas DSW, semoga bukunya bisa didapat di Maumere.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.