Karma Tak Ke mana-mana

Rosda

 

Ketika ke Bali beberapa waktu yang lalu, supir yang mengantarkan kami kemana-mana mengatakan, masyarakat Bali secara umum takut akan karma. “Mungkin karma perbuatan buruk kita tidak menimpa kita….tapi bisa saja anak cucu kita yang akan mengalaminya.

Sementara ketika hal itu terjadi pada anak-anak kita, kita sudah tua, tak bisa berbuat apa-apa. Menyesalpun tak ada gunanya. Dan terasa lebih sakit………andai bisa, ingin rasanya karma itu di jatuhkan pada kita saja, jangan ke anak cucu…karena hal itu lebih menyakitkan dibandingkan kalau kita sendiri yang mengalaminya”. Hal itulah yang menjadikan mereka selalu mencoba untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam kehidupan sehari-hari, aku juga mencoba mengamati hal itu. Dalam tempo 20 tahun, aku mencoba melihat kilas balik dari orang-orang  terdekatku. Walaupun aku tidak men-judge mereka, tapi sepertinya karma memang ada. Selalu ada timbal balik dari perbuatan kita. Selalu ada side effect terhadap apa yang kita lakukan. Baik itu perbuatan buruk, maupun perbuatan baik. Bang Iwan Kamah, pernah mengatakan di salah satu komennya di facebook, “Orang baik itu seperti  parfume, wanginya tercium kemana-mana”. Aku terkesan dengan kata-kata itu…….dan ingin menjadi………heheheeeee…

Melihat tingkah polah pejabat kita di televisi, sering aku bertanya pada diri sendiri, “Apa mereka nggak mikir sebelumnya apa akibat perbuatannya nanti ?? Apa mereka nggak mikir, bahwa perbuatan mereka yang ‘tak senonoh’ (baca: korupsi) itu akan membuat mereka menjadi seperti sampah ?? Tak usahlah dulu memikirkan akibat dari perbuatannya untuk bangsa dan negara, apa mereka nggak mikir bagaimana perasaan anak, istri, suami, ayah, ibu dan keluarga besar mereka lainnya ketika melihat mereka (sang pejabat koruptor ) di gelandang bak hewan berwujud manusia ??

Hewan yang sesungguhnya saja tak diperlakukan seperti itu. Lihat tuh anjing chiwawa…kemana-mana digendong dengan penuh kasih sayang sama pemiliknya. Atau seperti sapi yang dimandikan dan dicium-cium sama yang membersihkannya (iklan di TV).

Pernahkah mereka (para koruptor) berfikir, bila ibu mereka ketika berdoa bilang seperti begini : “Tuhan, apa yang harus kulakukan melihat perbuatan anakku?? Dimana salahku mendidiknya ya Tuhan ??

Alangkah malunya aku atas perbuatannya…sampai-sampai aku tak berani keluar rumah, aku tak berani melihat matahari. Seakan semua orang mengejekku. Andai waktu bisa di putar ya Tuhan…dan aku tahu dia akan menjadi seorang koruptor, ijinkan aku agar aku tak pernah melahirkannya. Aku malu luar biasa padaMu ya Tuhan. Menangis darahpun aku, tak ada gunanya, karena sekarang dia telah melakukan perbuatan tak senonoh (korupsi). Maafkan aku Tuhan”.

Alangkan malangnya nasib bila ibu kita sendiri merasa menyesal telah melahirkan kita.

Dan si anak koruptor mengadu kepada Tuhan. “Ya Tuhan..aku masih kecil…aku tak tau apa yang terjadi pada Papa/Mamaku. Kata teman-temanku, Papa/Mama ku koruptor. Aku nggak mau sekolah lagi…aku malu diejek terus-terusan. Aku ingin pindah sekolah…tapi kemana ya Tuhan ?? Aku takut, kalau pindah sekolah, aku tak punya teman seperti teman-temanku yang di sini. Tuhan, kenapa Papa/Mamaku jadi koruptor ??”.

Sementara, akibat perbuatan koruptor, rakyat miskinlah (termasuk aku) yang menanggung akibatnya. Apa-apa mahal luar biasa. Harga gula yang seharusnya Rp 1000/kg, menjadi Rp 9000/kg sesampainya di tangan rakyat. Karena sudah disunat RP 100/kg oleh pejabat berwenang. Belum lagi biaya birokrasi, biaya transport  dan lain-lain. Begitulah kira-kira ceritanya kenapa jadi mahal sesampainya di tangan rakyat.

Biaya sekolah, fantastis luar biasa mahalnya. Sarana dan prasarana sekolah/kampus  yang seharusnya tersedia, masuk ke kantong sang pejabat koruptor. Akibatnya, orang tua murid/mahasiswa yang menanggung akibatnya, mengeluarkan uang dari kocek sendiri untuk pengadaan kebutuhan sekolah/kampus yang seharusnya sudah menjadi hak siswa/mahasiswa untuk mendapatkannya.

Lagi-lagi rakyat  yang ketiban sial akibat perbuatan koruptor…….siapa yang tidak kesal dan marah dengan keadaan ini ?? Sama saja halnya dengan mengumpamakan : Orang miskin dilarang sekolah !!!!!!

Biaya berobat, apalagi. Meminta perlindungan hukum ?? Jangan mimpi !! Hukum hanya milik penguasa.

Aku jadi kehilangan rasa percaya pada bangsa dan negaraku sendiri. Alangkah sedihnya….

Sungguh aku tak suka menjadi begini.

Melihat kasus-kasus korupsi yang dilakukan para pejabat di negara ini, tak seorangpun berani tunjuk tangan untuk bertanggung jawab atas  perbuatannya. Semua pada tak mengaku. Permainan di sana-sini. Hari ini bilang A…besok bilang B. Dan yang paling ampuh, mereka bilang: “Tidak tahu..”. Atau yang lainnya mengatakan: “Sudah lupa…” Sehingga kasus pun tak dapat ditelusuri atau malah didiamkan begitu saja….menguap bersama waktu. (Tapi aku yakin, suatu waktu tetap akan terungkap).

Susah untuk menemukan seorang pejabat yang bersih di zaman ini. Siapa yang bersih, harus disingkirkan…karena dianggap tak kompak, tidak setia kawan…..malah dianggap sebagai batu sandungan. Awan gelap sedang berkuasa di negaraku. Aura kegelapan menguasai bangsaku. Sulit bagi cahaya terang untuk unjuk diri. Menjadi lilin ??….hohohohohoooo….dibutuhkan mental baja !!

Herannya…banyak juga teman-temanku yang tak berani meneriakkan kebenaran. Mereka takut tak punya kelompok, takut tak punya teman…..takut disingkirkan…..takut tak dicinta….hahahahaaaa.  Atau mereka punya kepentingan dan mendapat keuntungan dari ketidak benaran di hadapan matanya ?? Entahlahh……

Sungguh aneh bukan ?? Padahal mereka rajin dan taat beribadah. Setahuku, dalam agama apapun diajarkan agar kita menegakkan kebenaran, berpihak pada jalan yang benar. Tapi ,mana buktinya ?? Janganlah hanya hafal ayat-ayat kitab suci, tapi prakteknya NOL BESAR. Itu sama saja dengan mengundang amarah Tuhan. Di hadapanNYA, kita begitu takjim ketika membaca kitab suci atau berdoa……tapi dalam praktek di kehidupan sehari-hari, kita adalah seorang pecundang. Meng-amin-kan tindakan tak senonoh.

Andai tak bisa mendobrak kebobrokan yang besar-besar….ya cobalah membereskan hal-hal kecil yang tak benar. Kita mulai dari lingkungan terdekat kita.  Agar ‘setetes air bersih’ tetap tersedia di bumi pertiwi. Kasihan anak cucu kita kelak, jika merekapun harus menjalani kehidupan seperti yang kita alami sekarang. Hidup di negara yang acak kadut, kusut masai.

 

40 Comments to "Karma Tak Ke mana-mana"

  1. Wahnam  16 September, 2011 at 12:35

    Artikelnya sangat bagus Bu Rosda

    Seseorang (Koruptor) mengetahui perbuatan yang dilakukan tidak baik, tetapi mengapa masih melakukan hal yg tidak baik tersebut ? Karena… diantara KEINGINAN untuk berbuat kebaikan dan KENYATAAN melakukan kebaikan itu ada sesuatu (transformator) yang rusak. Otak (rasio)mereka dijadikan budak oleh minat atau keinginan mereka sendiri…

  2. Rosda  15 September, 2011 at 12:58

    Pak Dj…..senang mengetahui keadaan David.

    Juga melihat foto itu….

  3. Dj.  14 September, 2011 at 21:47

    Rosda Says:
    September 14th, 2011 at 21:34

    Pak Dj…terima kasih.

    Sependapat…bahwa ibadah yang sejati adalah perilaku.
    Salam untuk David…sudah sebesar apa dia sekarang ??
    Pasti sudah tambah tinggi…

    Horas Rosada…..!!!
    Kalau dengar nama Rosda, jadi ingat di Ciloto…..
    David tahun depan sudah harus masuk sekolah ( kelas 1 SD ).
    Sebenarnya tahun ini, tapi mamnya dan juga omanya, tidak setuju, karena masih senang main.
    Jadi biar saja main nya dipuaskan, nanti kalau sudah di SD, sudah harus sedikit serius.
    Dia paling senang dan bangga, kalau Dj. ajak keliling dengan speda motor, walau hanya keliling didepan garasi saja….
    Karna untuk dijalanan, dia belum boleh ikut naik spedamotor…
    kalau di Indomesia bebas, bahkan bayipun boleh di gendong dan naik spedamotor.
    Di Jerman bisa kena denda sangat besar dan rebewes akan dicabut…
    Salam manis untuk abang dan anak-anak dirumah ya…

  4. Rosda  14 September, 2011 at 21:39

    Nev…ayo atuh…aku juga pingin menyelam…..heheheheee
    Apa kabar ??

  5. Rosda  14 September, 2011 at 21:37

    Karena percaya karma, aku mencoba hati-hati dalam bersikap.
    Salam kembali untuk dua jagoan di rumah dan mama mereka ya Bang….

  6. Rosda  14 September, 2011 at 21:34

    Pak Dj…terima kasih.

    Sependapat…bahwa ibadah yang sejati adalah perilaku.
    Salam untuk David…sudah sebesar apa dia sekarang ??
    Pasti sudah tambah tinggi…

  7. Rosda  14 September, 2011 at 21:22

    Benar yang Mbak Kornelya katakan…..aku juga bisa melihat hal itu…..*tarik nafas.

  8. Rosda  14 September, 2011 at 21:21

    Mbak T. Moken….pertama kali saya mencoba belajar memahami karma adalah dari resiko menebang hutan sembarangan …kerusakan alam terjadi….dan kita sendiri yang mengalami akibatnya.

  9. Rosda  14 September, 2011 at 21:13

    Mbak Dewi Aichi…jika rakyat sudah putus asa, bisa saja hal itu akan terjadi…merasa tak tau lagi harus bagaimana, maka mereka bersatu dan bertindak !!
    Resiko soal nanti !!

  10. Rosda  14 September, 2011 at 21:05

    Atite…terima kasih…saya jadi kepingin baca hasil penelitian itu…..

    salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.