Seni & Budaya Tenun Ikat di Flores (1)

Dwi Setijo Widodo

 

MERUNUT SEJARAH TENUN IKAT DI FLORES

Keberadaan tenun ikat di Flores mempunyai sejarah yang sangat panjang. Tidak ada catatan secara khusus memang bagaimana awalnya budaya tenun ikat hadir dalam tradisi keseharian masyarakat Flores.

Tenun ikat, melihat dari jejak-jejak sejarahnya di dunia, tersebar tidak saja di masyarakat Asia, namun hingga Amerika Tengah dan Selatan, juga Jepang, bahkan masyarakat yang berada dalam jalur perdagangan „Jalan Sutera“ mengenal dan mewarisi hingga saat ini apa yang dinamakan kain tenun ikat. Dengan keberadaannya yang tersebar di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, meski dengan keunikan teknik maupun motif yang berbeda, tenun ikat dapat dikatakan merupakan warisan budaya bersama masyarakat dunia.

Tenun ikat sejak lama telah digunakan sebagai pakaian sehari-hari oleh masyarakatnya. Tenun ikat juga diperjualbelikan karena nilainya. Secara tradisional, tenun ikat berfungsi sebagai simbol status, kekayaan, kekuasaan, dan martabat. Oleh karena itu, ikat dibuat begitu unik dan khusus dikaitkan dengan simbol-simbol tersebut. Dalam setiap lembar kain ikat, motif menjadi tidak hanya sekadar gambar.

Motif mempunyai makna yang sangat dalam yang merupakan bentuk pengejawantahan dari sebuah simbol etnis, religius, ritual adat, hingga simbol-simbol khusus yang menjadikan sebuah motif ikat adalah representasi dari masyarakatnya.  Bergulir bersama waktu, dikaitkan dengan motif, teknik, proses pembuatan, dan asalnya, sebuah kain ikat bagi masyarakatnya dapat dianggap mempunyai kekuatan magis tertentu dan  penggunaannya hanya boleh dikaitkan dengan ritual-ritual adat dan oleh pemangku adat.

Tidak berbeda dengan tenun ikat Flores. Dengan etnis-etnis yang berbeda, setiap tenun ikat Flores merupakan representasi lugas dari masyarakatnya. Setiap etnis mempunyai motif dan teknik sendiri yang menjadi pembeda antara satu etnis dengan etnis yang lainnya.

Bahkan untuk satu etnis, mereka mempunyai motif-motif khusus yang dipakai hanya untuk klan tertentu saja. Bagi orang awam, melihat tenun ikat Manggai, Ngada, dan Nagekeo tidak akan menemukan bedanya. Keduanya sama memadukan songket dalam kain tenunnya. Namun, bila diamati lebih jeli dan secara keseluruhan, motif-motif mereka mempunyai perbedaan khusus.

Oleh karena itu, melihat tenun ikat pada akhirnya tidak saja sebuah kain, namun merupakan sebuah perjalanan sejarah dimana kita dapat menelusuri dan mempelajari sebuah masyarakat dengan berbagai nilai-nilai hidup yang begitu unik, dalam, dan penuh makna.

 

 

32 Comments to "Seni & Budaya Tenun Ikat di Flores (1)"

  1. Juwita  15 September, 2011 at 05:02

    Artikel apik…

    *tak jempoli

  2. Dwi Setijo Widodo  14 September, 2011 at 16:49

    JC,
    Terima kasih infonya. Dulu sering mampir ke Glodok untuk beli banyak film. Sekarang rasanya saya semakin “menjauhi” Jakarta karena lebih menikmati blusukan di kampung… Hehe… Semoga di Bali serial ini bisa ditemukan.

    Saya setuju kain ulos Batak bikin ngiler juga. Sepertinya saya segera memilikinya karena teman dari Medan menjanjikan memberikan sebuah kain ulos khas daerahnya…

    Saya waktu dulu di Kanada, seorang teman menunjukkan apa yang dia bilang sebagai batik. Kurang ingat juga tepatnya berasal dari mana. :-p Kami sempat bertanya saat itu. Setelah mendapatkan penjelasan, kami manggut-manggut karena kain tradisional bermotif batik ini proses pembuatannya memang hampir sama dengan batik kita.

    Ngomong-ngomong, baru saja saya ditunjukkan oleh teman saya bahwa di Papua juga ada batik. Menarik kan? Tidak menutup kemungkinan tradisi ini memang berasal dari daerah lain. Namun, batik Papua memiliki kekhasan motif sendiri kata teman saya. Motif binatang besar-besar menghiasi kain batik asal Papua.
    Dari sebuah kain, ternyata membawa begitu banyak cerita.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *